Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 25
Baling-baling helikopter medis AgustaWestland AW139 membelah udara malam dengan suara deru yang memekakkan telinga.
Di dalam kabin yang terang benderang oleh lampu darurat, Yvone duduk berlutut di lantai helikopter, tangannya masih menekan erat kain kasa yang menutupi luka tembak di bahu kiri Dylan. Darah suaminya telah meresap menembus jaket kulit Yvone, mewarnai tangannya dengan warna merah pekat yang mengerikan. Bau tembaga dan mesiu memenuhi udara sempit itu.
"Tekanan darahnya sedikit turun, tapi detak jantungnya stabil," lapor seorang paramedis yang bertugas, menyuntikkan cairan pereda nyeri dan koagulan ke dalam infus yang terpasang di punggung tangan kanan Dylan.
Dylan sendiri bersandar di brankar, wajahnya pucat dan rahangnya mengeras menahan pedih, namun mata kelamnya tak pernah lepas dari wajah Yvone yang berlinang air mata. Tangan kanan pria itu terangkat, mengelus pipi Yvone dengan sentuhan yang sangat lemah.
"Berhenti menangis, Yvone," bisik Dylan, suaranya parau karena menahan sakit di atas deru mesin. "Aku belum mati. Kau tidak akan menjadi janda malam ini."
"Berhenti bercanda!" isak Yvone marah, tangannya gemetar. "Kau tertembak karena melindungiku! Jika kau bergerak sedikit saja lebih lambat... peluru itu akan menembus jantungmu!"
"Maka itu adalah kematian yang paling pantas untukku," jawab Dylan tanpa ragu, matanya memancarkan kesungguhan yang mengoyak hati Yvone. "Lebih baik aku yang tertembus peluru seribu kali daripada melihatmu terluka satu goresan pun."
Yvone menunduk, mencium tangan Dylan yang berada di pipinya, air matanya membasahi telapak tangan pria itu.
Helikopter itu mendarat di helipad atap Menara Alexander lima belas menit kemudian. Langit ibu kota menjelang subuh masih gelap dan diguyur gerimis.
Tim medis elit yang dipimpin oleh Dr. Amanda dokter pribadi keluarga Alexander yang telah mengabdi selama bertahun-tahun langsung mengambil alih. Brankar Dylan didorong dengan cepat menuju fasilitas medis rahasia yang berada satu lantai di bawah penthouse.
"Luka tembak through-and-through (tembus) di deltoid kiri, tidak mengenai tulang atau arteri utama, tapi kehilangan cukup banyak darah," lapor Dr. Amanda dengan cekatan sambil memotong sisa kemeja turtleneck Dylan. Dokter wanita paruh baya itu menatap Yvone yang berdiri mematung di sudut ruangan dengan pakaian berlumuran darah.
"Nyonya, Anda sebaiknya menunggu di luar. Kami harus membersihkan lukanya dan menjahitnya," ucap Dr. Amanda lembut namun tegas.
"Tidak. Aku tidak akan ke mana-mana," Yvone menggeleng kuat. Matanya menatap tajam, menolak diintimidasi oleh situasi ruang operasi. "Aku akan berdiri di sini sampai kau selesai menjahitnya, Dok."
Di atas ranjang tindakan, Dylan tersenyum tipis menahan perih. "Biarkan dia di sana, Amanda. Istriku keras kepala."
Selama empat puluh menit berikutnya, Yvone berdiri mematung, melihat bagaimana Dr. Amanda dan perawat mengeluarkan sisa serpihan kain dari luka Dylan, mendisinfeksi, dan menjahit robekan otot suaminya. Dylan tidak mengerang sedikit pun, pria itu hanya mengatupkan rahangnya dan menatap langit-langit, mempertahankan harga dirinya sebagai sang tiran yang tak bisa dihancurkan.
Ketika perban putih akhirnya membalut bahu dan dada kiri Dylan, Dr. Amanda menghela napas lega.
"Beliau sangat beruntung. Jika sudut pelurunya melenceng satu sentimeter ke dalam, kita akan berbicara tentang kerusakan paru-paru," Dr. Amanda membereskan alat-alatnya. "Saya sudah memberikan antibiotik dosis tinggi. Beliau harus istirahat total selama setidaknya tiga hari. Tidak ada aktivitas berat, tidak ada stres."
"Terima kasih, Dok," bisik Yvone, tubuhnya akhirnya sedikit rileks hingga ia harus berpegangan pada pinggiran meja.
Dr. Amanda mengangguk hormat. "Saya akan berjaga di ruangan sebelah jika ada apa-apa."
Begitu pintu tertutup, Yvone berjalan mendekati ranjang. Ia meraih kursi dan duduk di samping Dylan. Pria itu kini bertelanjang dada dengan sebagian bahu hingga dada kirinya diperban tebal. Wajahnya yang pucat membuat garis rahangnya terlihat semakin tajam.
Yvone mengambil waslap hangat dari meja medis, lalu dengan sangat lembut, ia mulai membersihkan sisa cipratan darah di leher dan dada suaminya.
"Tadi itu... adalah hal paling menakutkan yang pernah kualami seumur hidupku, Dylan," bisik Yvone, suaranya bergetar. "Saat aku melihat tubuhmu terdorong peluru itu... sebagian dari jiwaku rasanya ikut mati."
Dylan mengangkat tangan kanannya yang sehat, menyusupkan jari-jarinya ke rambut Yvone.
"Duniaku adalah dunia yang berdarah, Sayang," ucap Dylan pelan. "Itulah sebabnya aku selalu berusaha mendorongmu menjauh di awal. Karena aku tahu, siapa pun yang berada di dekatku akan ikut terkena percikannya."
"Aku tidak peduli," Yvone menghentikan usapannya. Ia mencondongkan tubuhnya dan mencium kening Dylan dengan penuh pemujaan. "Aku lebih suka berada di tengah medan perang bersamamu, daripada duduk aman di istana tanpa dirimu."
Mata kelam Dylan berkilat oleh cinta yang begitu dalam hingga terasa menyakitkan. Pria itu menarik kepala Yvone, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lembut namun sarat akan rasa syukur karena mereka berhasil bertahan hidup.
Pukul 07.00 WIB. Fajar Menyingsing di Ibu Kota.
Cahaya matahari pagi Jakarta menembus kaca jendela penthouse. Badai semalam telah berlalu, menyisakan langit yang bersih.
Dylan Alexander Hartono tidak menuruti perintah dokternya untuk beristirahat. Meskipun lengan kirinya disangga oleh sling medis (gendongan tangan) dan bahunya berdenyut nyeri, pria itu berdiri di ruang kerjanya. Ia hanya mengenakan celana bahan hitam, bertelanjang dada dengan perban putih yang melilit pundaknya, menyeruput kopi hitam panas di tangan kanannya.
Di seberangnya, Yvone berdiri dengan pakaian yang sudah diganti menjadi sweater longgar dan celana tidur yang nyaman. Di atas meja, kotak logam berkarat dari Lembang telah terbuka, dokumen-dokumen mematikan itu telah di- scan dan disalin.
Pintu ganda terbuka. Marco melangkah masuk dengan langkah cepat dan wajah yang memancarkan adrenalin murni.
"Bos! Waktunya tiba," Marco meletakkan iPad di atas meja. "Kepala Staf Kepresidenan baru saja mengonfirmasi penerimaan paket dokumen kita. Beliau membacanya sepuluh menit yang lalu bersama Presiden dan Panglima TNI. Ketika mereka melihat cetak biru bunker ilegal yang ditandatangani oleh Hadi Suwarno... istana meledak."
Sebuah senyum iblis yang sangat puas terbit di bibir Dylan. "Dan soal bukti aliran dana dari perusahaan cangkang Nadia?"
"Sudah kami serahkan langsung ke tangan Ketua KPK. Lengkap dengan pengakuan tertulis Yanto sang mandor dan bukti bahwa direktur keuangan Pramudya hanya dijadikan kambing hitam," Marco menyeringai lebar. "Ini bukan sekadar kasus korupsi lagi, Bos. Ini ancaman keamanan nasional tingkat tinggi dan pencucian uang."
Yvone menahan napasnya. "Lalu apa yang terjadi sekarang?"
"Sekarang," Dylan berbalik menatap jendela, melihat hamparan kota Jakarta yang sebentar lagi akan menyaksikan sejarah. "Kita menonton mereka terbakar."
Dylan menyalakan televisi layar datar berukuran raksasa di dinding ruang kerja.
Pukul 08.15 WIB, seluruh stasiun televisi nasional menghentikan siaran reguler mereka. Tulisan BREAKING NEWS berkedip merah di bagian bawah layar.
Kamera berita menyorot langsung ke gerbang kediaman mewah Menteri Hadi Suwarno di kawasan Menteng. Pemandangannya sungguh mengejutkan. Bukan hanya mobil KPK yang terparkir di sana, melainkan truk-truk lapis baja milik Polisi Militer dan pasukan khusus.
"Pemirsa, informasi mengejutkan datang dari kawasan Menteng pagi ini. Menteri Hadi Suwarno baru saja dijemput paksa oleh tim gabungan KPK dan aparat keamanan negara. Beredar kabar bahwa penangkapan ini tidak hanya terkait dugaan korupsi, melainkan indikasi kuat keterlibatan sang Menteri dalam sindikat penyelundupan barang ilegal berskala internasional menggunakan fasilitas negara..."
Di layar, tampak Menteri Hadi Suwarno, pria tua yang dulu selalu tersenyum angkuh dan licik, kini diseret keluar dari rumahnya dengan wajah pucat pasi. Tidak ada lagi setelan jas mewahnya; rambut peraknya berantakan. Ia ditendang jatuh dari takhtanya oleh kebenaran yang tertunda selama lima belas tahun.
Yvone menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru menggenang di pelupuk matanya. "Ayahmu... Ayahmu akhirnya mendapatkan keadilannya, Dylan."
Dylan menatap layar itu dengan rahang terkatup rapat. Tidak ada sorak sorai darinya. Hanya ada tarikan napas panjang, sangat panjang, seolah beban seberat gunung yang menindih pundaknya sejak ia remaja akhirnya terangkat dan menguap ke udara. Hantu masa lalunya telah dikalahkan.
Namun berita itu belum selesai.
Kamera beralih ke lokasi lain. Kali ini, sebuah gedung apartemen super mewah di kawasan SCBD.
"Selain penangkapan Menteri Hadi, gelombang kejut juga menghantam keluarga Menteri Dalam Negeri. Pagi ini, putri dari sang Menteri, Nadia Pramudya, resmi ditetapkan sebagai tersangka utama dalam kasus penipuan, sabotase proyek infrastruktur swasta, dan pencucian uang korporasi."
Di layar televisi, Nadia Pramudya keluar dari lobi apartemennya dikawal ketat oleh penyidik wanita dari Bareskrim Polri. Sosialita angkuh itu mengenakan masker hitam dan kacamata hitam besar, berusaha menutupi wajahnya dari kilatan kamera wartawan. Ia tampak menunduk, menangis, dan berlari kecil masuk ke dalam mobil tahanan. Dinasti Pramudya hancur berkeping-keping karena arogansi seorang putri yang salah memilih lawan.
"Bagaimana dengan Sinta Wijaya?" tanya Dylan dingin tanpa menoleh.
"Suami Sinta berada dalam faksi terdekat Hadi," jawab Marco dengan nada geli. "Suaminya langsung dicekal ke luar negeri pagi ini dan rekeningnya dibekukan. Sinta terlihat menangis histeris di bandara tadi subuh saat pihak imigrasi menahannya terbang ke Singapura."
Rangga di penjara, Nadia diseret ke pengadilan, Hadi tamat, dan Sinta kehilangan semua kekuasaannya. Papan catur telah bersih. Raja dan Ratu Alexander telah memenangkan peperangan mutlak.
"Marco," panggil Dylan pelan.
"Ya, Bos?"
"Cabut semua pengamanan lapis dua di luar. Biarkan para penjaga beristirahat. Kirimkan bonus lima kali lipat gaji bulanan kepada seluruh tim taktis yang ikut ke Lembang semalam. Dan pastikan keluarga dari dua pengawal yang gugur dulu dalam insiden helikopter ayahku mendapatkan santunan penuh seumur hidup," perintah Dylan.
"Dilaksanakan, Bos. Dan... selamat, Bapak Dylan. Anda berhasil membalaskan dendam keluarga." Marco menunduk hormat dengan sangat tulus, sebelum memutar tumitnya dan keluar dari ruangan, membiarkan suami istri itu menikmati kemenangan mereka.
Begitu pintu tertutup, Yvone tidak bisa menahannya lagi. Ia menghambur ke pelukan Dylan, memeluk pinggang pria itu dengan hati-hati agar tidak menekan lengan kirinya yang terluka. Ia menangis tersedu-sedu di dada suaminya tangis kebahagiaan, kelegaan, dan pembebasan.
"Sudah berakhir, Dylan," isak Yvone bahagia. "Ayahku bebas. Musuh-musuh kita sudah hancur. Kita menang."
Dylan membalas pelukan Yvone dengan lengan kanannya. Ia menundukkan wajahnya, membenamkan hidungnya di rambut Yvone.
"Kita menang," gumam Dylan, suaranya dipenuhi kedamaian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. "Ayahmu sedang diurus oleh tim legal kita pagi ini. Dalam hitungan jam, status tersangkanya akan dicabut sepenuhnya, dan nama baiknya akan dipulihkan di seluruh media nasional."
Yvone mendongak, menatap pria yang telah mempertaruhkan nyawa dan kerajaannya demi dirinya.
"Terima kasih," bisik Yvone dengan segenap hatinya. "Terima kasih karena tidak pernah menyerah padaku."
"Meninggalkanmu bukanlah sebuah pilihan sejak hari pertama kau melangkah masuk ke ruanganku dengan kemeja kebesaranmu itu, Sayang," goda Dylan dengan senyum tampannya yang kini bebas dari bayang-bayang kelam masa lalu.
Malam Harinya. Penthouse Alexander.
Jakarta telah kembali tenang. Hiruk-pikuk berita politik masih mendominasi televisi, namun di lantai 65 Menara Alexander, dunia seakan berhenti berputar, hanya menyisakan dua manusia yang tengah merayakan awal baru.
Yvone keluar dari kamar mandi utama, mengenakan robe sutra putih. Udara di dalam kamar terasa sejuk dan wangi oleh aroma lilin terapi lavender.
Dylan duduk di tepi ranjang. Pria itu baru saja dibantu oleh perawat untuk mengganti perbannya sebelum perawat itu diizinkan pulang. Pria bertelanjang dada itu menatap Yvone yang berjalan mendekat.
"Lukamu berdenyut?" tanya Yvone lembut, duduk di samping suaminya.
"Hanya sedikit," jawab Dylan. Matanya menyusuri wajah cantik istrinya yang bersih dari riasan. "Jauh lebih baik saat melihatmu ada di sini."
Yvone tersenyum, tangannya terulur menyentuh pipi Dylan, menelusuri rahang pria itu dengan penuh kasih sayang.
Dylan meraih tangan Yvone, mengecup telapak tangannya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata istrinya dengan keseriusan yang membius.
"Semuanya sudah selesai, Yvone," ucap Dylan pelan. "Hadi dipenjara. Ayahmu bebas. Musuh-musuh kita telah lenyap."
Dylan menelan ludah, sebuah tindakan yang jarang dilakukan oleh sang miliarder yang selalu penuh percaya diri. "Kontrak kita... kontrak yang menyatakan pernikahan ini sebagai tameng politik satu tahun... kontrak itu kehilangan dasar hukum dan tujuannya malam ini."
Yvone mematung. Jantungnya tiba-tiba berdegup tidak karuan. Kata 'kontrak' terasa seperti benda asing yang sangat tidak relevan dengan apa yang mereka miliki sekarang.
"Lalu?" bisik Yvone, napasnya tertahan. "Apakah kau mau membatalkannya?"
Dylan bergeser, memutar tubuhnya hingga berhadapan penuh dengan Yvone. Lengan kanannya terangkat, mengelus rahang Yvone dengan ibu jarinya.
"Aku membakar salinan fisik kontrak itu di perapian kantorku pagi ini," aku Dylan tanpa sedikit pun penyesalan. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku tidak ingin ada selembar kertas pun yang membatasi hakku atas dirimu."
Mata Dylan menatap Yvone dengan intensitas yang membakar.
"Aku tidak menginginkan istri kontrak selama satu tahun, Yvone Larasati," geram Dylan pelan, suaranya serak dan dipenuhi oleh cinta yang posesif. "Aku menginginkanmu untuk selamanya. Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku. Aku ingin kita bertengkar soal warna tirai di rumah kita. Aku ingin meresmikan pernikahan kita di altar yang nyata, di depan semua orang yang kita sayangi."
Air mata haru kembali menetes di pipi Yvone, namun kali ini disertai dengan senyum kebahagiaan yang sangat lebar.
"Itu lamaran yang sangat memaksa, Tuan Hartono," bisik Yvone, air matanya jatuh ke tangan Dylan.
"Itu bukan lamaran. Itu adalah ancaman. Kau tidak punya pilihan selain mengatakan 'iya'," balas Dylan dengan seringai predatornya yang mematikan, namun matanya dipenuhi oleh kerentanan yang murni.
Yvone tertawa pelan, mengalungkan kedua lengannya di leher Dylan, berhati-hati dengan bahu kiri suaminya. Ia menarik pria itu mendekat hingga dahi mereka bersentuhan.
"Iya," bisik Yvone, tepat di depan bibir suaminya. "Aku mencintaimu, Dylan. Selamanya."
Kata 'cinta' yang keluar dari bibir Yvone seakan meruntuhkan pertahanan terakhir Dylan. Pria itu tidak menunggu sedetik pun lagi. Ia menundukkan wajahnya dan meraup bibir istrinya dengan ciuman yang memabukkan dan menuntut.
Ciuman itu begitu dalam, menghapuskan segala sisa kepahitan dari masa lalu dan membakar gairah yang telah lama tertahan oleh peperangan mereka. Lidah Dylan menguasai rongga mulut Yvone, menyesap setiap erangan manis yang keluar dari bibir istrinya.
Tangan kanan Dylan yang kokoh merengkuh pinggang Yvone, menarik tubuh wanita itu hingga berada di pangkuannya.
"Kau harus berhati-hati dengan lukamu..." desah Yvone di sela-sela ciuman mereka, saat Dylan mulai menciumi lekuk lehernya, memberikan gigitan-gigitan kecil yang menggetarkan kewarasannya.
"Persetan dengan lukaku," geram Dylan posesif, tangannya dengan cekatan menarik tali robe sutra yang Yvone kenakan. Pakaian berbahan halus itu meluncur jatuh dari bahu Yvone, mengekspos kulit putih mulusnya di bawah temaram lampu kamar.
Dylan membaringkan Yvone di atas ranjang dengan sangat lembut, menindihkan separuh tubuhnya tanpa memberikan beban pada bahunya yang terluka. Matanya menatap tubuh Yvone dengan pemujaan layaknya menatap sebuah mahakarya tak ternilai.
"Kau adalah hal paling nyata dalam hidupku," bisik Dylan, sebelum menyatukan bibir mereka kembali.
Malam itu, di dalam penthouse yang menjadi saksi bisu dari awal kebencian dan intrik mereka, kontrak kertas itu sepenuhnya digantikan oleh ikatan jiwa yang tak terpatahkan. Penyatuan mereka malam itu dipenuhi oleh kelembutan yang menyembuhkan, gairah yang membakar, dan janji abadi dari seorang pria yang telah menemukan ratunya. Kehancuran musuh-musuh mereka hanyalah awal dari mahkota kehidupan yang sesungguhnya.