NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 - Diperhatikan Secara Diam

Hari-hari setelah insiden di hutan tidak benar-benar kembali seperti semula bagi Alverion Dastan. Dari luar, ritme akademi tetap berjalan dengan pola yang sama, latihan berlangsung teratur dan kelas tetap dipenuhi suara instruktur yang menjelaskan materi. Namun di balik itu semua, ada perubahan yang tidak terlihat jelas, seperti arus halus yang mengalir di bawah permukaan tanpa menarik perhatian langsung.

Namanya mulai muncul lebih sering, tetapi bukan dalam percakapan terbuka. Bisikan pelan menggantikan ejekan yang dulu mudah terdengar, dan setiap kali namanya disebut, nada suara yang digunakan selalu ditahan seolah ada kehati-hatian yang tidak perlu dijelaskan.

Di sudut aula makan, dua murid tingkat atas duduk berhadapan sambil menundukkan suara mereka. Mereka tidak berani menatap langsung ke arah Alverion, tetapi posisi tubuh mereka menunjukkan dengan jelas siapa yang sedang dibicarakan.

“Itu dia.”

“Yang kemarin?”

“Iya. Yang bikin formasi mereka berantakan.”

Yang satu tampak ragu, tangannya berhenti di atas meja sebelum kembali bergerak.

“Aku pernah lihat dia latihan. Gerakannya biasa saja.”

“Makanya aku bilang ini aneh.”

Percakapan itu terputus saat Alverion melewati mereka, dan meskipun mereka berusaha terlihat santai, bahu mereka sedikit menegang. Tidak ada yang berani menatap terlalu lama, tetapi perhatian itu tidak benar-benar hilang bahkan setelah ia duduk di tempat biasanya.

Alverion mengambil makanannya tanpa terburu-buru, gerakannya tetap tenang seperti hari-hari sebelumnya. Ia tidak mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan di sekitarnya, juga tidak menunjukkan tanda bahwa ia terganggu oleh bisikan yang semakin sering terdengar.

Namun ia menyadari satu hal dengan jelas. Cara orang memandangnya telah berubah, dan perubahan itu tidak bisa diabaikan hanya dengan berpura-pura tidak melihat.

Lysera Virel duduk beberapa meja darinya, kali ini tanpa buku di tangan. Ia tidak langsung berbicara, hanya mengamati dengan tatapan yang lebih lama dari biasanya, seolah mencoba memahami sesuatu yang belum sepenuhnya terlihat.

“Kamu jadi pusat perhatian sekarang.”

Alverion tetap fokus pada makanannya sejenak sebelum menjawab.

“Perhatian itu cepat berpindah.”

Lysera menyandarkan tubuhnya ke kursi, ekspresinya tidak berubah.

“Tidak kalau yang dilihat belum selesai dipahami.”

Nada suaranya tenang, tidak mengandung tekanan, tetapi cukup untuk membuat kalimat itu terasa lebih dalam dari sekadar komentar biasa.

Di sisi lain ruangan, Varian Zevran berdiri bersama kelompoknya. Ia tidak lagi menunjukkan sikap santai seperti sebelumnya, dan meskipun tidak mendekat, pandangannya beberapa kali mengarah langsung ke Alverion tanpa berusaha menyembunyikannya.

Perubahan itu kecil, tetapi cukup jelas bagi siapa pun yang memperhatikan.

Caelis Rhydor juga berada di sana, berdiri dekat jendela dengan posisi yang tidak mencolok. Ia tidak terlibat dalam percakapan, tetapi kehadirannya tetap terasa, seperti seseorang yang tidak perlu bergerak untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Alverion menyelesaikan makanannya tanpa terburu-buru, lalu bangkit dan meninggalkan aula tanpa menarik perhatian tambahan. Ia tidak mencoba mempercepat langkah, tetapi juga tidak memperlambatnya, menjaga ritme yang sama seperti biasanya.

Namun perasaan diawasi itu tetap ada, bahkan ketika ia sudah jauh dari keramaian.

Latihan hari itu berlangsung di aula utama dengan instruktur yang sama seperti sebelumnya, tetapi suasananya sedikit berbeda. Ia lebih banyak diam, membiarkan murid bergerak sendiri, sementara matanya sesekali mengamati dengan fokus yang lebih tajam dari biasanya.

Beberapa kali, tatapannya berhenti di satu titik yang sama.

Alverion.

“Demonstrasikan teknik dasar yang kemarin.”

Permintaan itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk menarik perhatian murid lain. Beberapa dari mereka saling melirik, mencoba membaca maksud di balik instruksi tersebut.

Alverion melangkah maju tanpa menunjukkan keberatan. Ia berdiri di tengah ruang latihan, menarik napas pendek sebelum mulai bergerak mengikuti pola yang sudah diajarkan sejak awal.

Gerakannya bersih dan terkontrol, tidak cepat, tetapi juga tidak lambat. Setiap langkah memiliki tujuan, dan setiap perpindahan dilakukan tanpa gerakan yang terbuang.

Tidak ada yang mencolok bagi mata yang tidak terlatih, tetapi bagi mereka yang memahami dasar teknik itu, perbedaannya terasa.

Instruktur menyipitkan mata.

“Ulangi.”

Alverion mengangguk sedikit, lalu mengulangi gerakan yang sama dengan ritme yang sedikit lebih cepat. Perubahan itu tidak besar, tetapi cukup untuk menunjukkan sesuatu yang sebelumnya tersembunyi.

Beberapa murid mulai memperhatikan lebih serius, dan suasana di dalam aula perlahan berubah menjadi lebih hening.

Varian menyilangkan tangan tanpa mengalihkan pandangan. Lysera duduk dengan tubuh sedikit condong ke depan, sementara Caelis memiringkan kepala seolah menemukan detail yang menarik.

Setelah selesai, Alverion kembali berdiri diam menunggu.

Instruktur tidak langsung berbicara, membiarkan beberapa detik berlalu sebelum akhirnya mengangguk.

“Kembali.”

Tidak ada komentar tambahan, tetapi keputusan untuk tidak mengatakan apa pun justru membuat situasi terasa lebih berat. Murid lain kembali ke latihan mereka, tetapi fokus mereka tidak sepenuhnya kembali seperti sebelumnya.

Di tempat lain, jauh dari aula pelatihan, sebuah ruangan tertutup menyimpan suasana yang berbeda. Dindingnya dipenuhi simbol dan catatan, menunjukkan bahwa ruangan itu tidak digunakan untuk aktivitas biasa.

Salah satu sosok berdiri di dekat meja, memegang beberapa lembar laporan dengan ekspresi datar.

“Laporan sudah lengkap.”

Sosok lain berdiri di dekat jendela, memandang ke arah halaman akademi dari ketinggian.

“Dan?”

“Nama yang sama muncul berulang.”

Ia meletakkan laporan di atas meja dengan gerakan tenang.

“Alverion Dastan.”

Hening sejenak sebelum sosok di dekat jendela akhirnya berbalik.

“Yang sebelumnya tidak dianggap?”

“Ya.”

Tatapannya menjadi lebih tajam, tetapi tidak menunjukkan emosi yang jelas.

“Apa yang berubah?”

“Bukan kekuatan yang paling terlihat,” jawab yang pertama. “Melainkan efisiensinya. Terlalu rapi untuk seseorang di tingkat itu.”

Ia menggeser salah satu laporan ke depan.

“Ada juga insiden lain.”

“Lanjutkan.”

“Malam setelah ujian praktik, ia disergap oleh beberapa murid tingkat atas.”

Sosok di dekat jendela tidak bergerak, tetapi perhatian penuh tertuju pada penjelasan itu.

“Mereka tidak berhasil.”

Jawaban itu singkat, tetapi cukup untuk mengubah suasana di dalam ruangan.

“Tanpa teknik mencolok,” lanjutnya. “Setidaknya itu yang dilaporkan.”

Sosok di dekat jendela mengambil laporan tersebut dan membacanya dengan cepat, matanya bergerak dari satu baris ke baris lain tanpa berhenti terlalu lama.

“Menarik.”

Sementara itu, di sisi lain akademi, Ravian Kestrel berdiri bersama seorang pria yang tidak dikenal oleh murid biasa. Wajah pria itu tenang, tetapi ada tekanan yang tidak terlihat dari sikapnya.

“Kamu yakin dengan penilaianmu?”

Ravian mengangguk tanpa ragu.

“Aku melihatnya langsung.”

“Dia menahan diri?”

“Ya.”

Ravian menatap ke arah jauh, seolah mengingat kembali setiap detail pertarungan itu.

“Dan itu bukan karena dia tidak mampu.”

Pria itu tersenyum tipis, tetapi matanya tetap dingin.

“Orang seperti itu biasanya lebih berbahaya dari yang terlihat.”

Ravian tidak menjawab, tetapi ekspresinya menunjukkan bahwa ia setuju.

Kembali ke halaman akademi, Alverion berjalan sendirian menuju area yang lebih sepi. Langkahnya stabil, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya tenang. Ia bisa merasakan perubahan itu semakin jelas, bukan hanya dari murid lain, tetapi juga dari sesuatu yang lebih dalam.

Seolah ada perhatian lain yang mulai tertuju padanya.

Sistem di dalam dirinya tetap diam, tetapi kehadirannya tidak pernah benar-benar hilang. Sensasi samar itu masih ada, seperti sesuatu yang menunggu momen yang tepat tanpa terburu-buru.

Di ruangan tinggi yang sama, dua sosok itu kembali berdiri dalam keheningan. Salah satu dari mereka akhirnya membuka suara setelah beberapa saat.

“Kita perlu pengamatan lebih dekat.”

“Sudah berjalan.”

“Jangan sampai terlihat.”

“Tentu.”

Percakapan itu singkat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa keputusan sudah diambil.

Sosok di dekat jendela kembali menatap ke arah halaman akademi, matanya berhenti pada satu titik di antara keramaian yang tidak terlihat berbeda bagi orang lain.

Tatapannya tidak bergeser.

“Anak itu…”

Ia berhenti sejenak, seolah menimbang sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah.

“…tidak sesuai dengan yang seharusnya.”

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!