NovelToon NovelToon
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Anak Genius / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
​Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
​Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
​Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
​Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
​Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Aroma yang Tak Biasa

Suara denting spatula yang beradu dengan wajan penggorengan bergema di area dapur mansion Alexander yang biasanya sunyi senyap. Aku mengikat rambutku asal, menyingsingkan lengan kemeja sutra mahal ini hingga ke siku. Sebagai mantan pegawai bank yang terbiasa hidup mandiri dan hobi memasak demi menghemat gaji, memegang pisau dapur adalah hal yang sangat alami bagiku.

Namun, tidak bagi orang-orang di rumah ini.

Aku bisa merasakan belasan pasang mata menatapku dari balik pintu dapur. Para pelayan, termasuk Kepala Pelayan berkumis tebal yang biasanya sangat kaku, kini mematung dengan mulut setengah terbuka.

"Nyonya... Anda benar-benar tidak butuh bantuan kami?" tanya salah satu pelayan wanita dengan suara bergetar, seolah takut aku akan melemparkan wajan panas ke arahnya.

Aku menoleh sekilas sambil membalikkan daging sapi bumbu lada hitam. "Tidak perlu. Kalian istirahat saja. Aku hanya ingin memasak makanan yang layak untuk anak dan suamiku."

Bisik-bisik langsung pecah di antara mereka. Aku hanya tersenyum tipis. Blair yang asli mungkin tidak tahu cara menyalakan kompor, tapi Blair yang sekarang tahu persis bagaimana cara membuat masakan rumah yang hangat.

Setelah masakan matang, aku tidak berhenti di sana. Aku mengambil kain lap, membersihkan sisa bumbu yang tercecer di meja dapur, dan mencuci sendiri peralatan masak yang kotor. Jiwa mandiri karyawan bankku tidak bisa melihat tempat berantakan sedikit pun.

Di meja makan, suasana terasa luar biasa aneh. Axelle duduk di kursinya, menatap sepiring nasi goreng spesial dan daging lada hitam di depannya seolah-olah itu adalah ranjau darat yang siap meledak.

Liam, yang baru saja mandi dan mengenakan kaus santai, terdiam seribu bahasa. Ia menatapku, lalu menatap dapur yang kini tampak mengkilap—bahkan lebih bersih daripada saat ditinggalkan para koki profesional tadi siang.

"Kau... yang memasak semua ini?" suara Liam terdengar serak.

[Apa yang terjadi? Dia memasak? Dia bahkan membersihkan dapur sendiri? Di mana Blair yang biasanya hanya tahu cara memesan makanan hotel bintang lima dan memaki jika rasanya tidak sesuai seleranya? Ya Tuhan, aroma masakan ini... sangat harum. Kenapa dia terlihat sangat cantik saat sedang menyajikan makanan seperti ini?]

"Makanlah. Aku tahu kau lelah setelah bekerja seharian," ucapku sambil menyendokkan nasi ke piring Liam, lalu ke piring Axelle.

Axelle ragu sejenak, namun akhirnya ia menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Matanya tiba-tiba membelalak. Ia makan dengan lahap, seolah-olah ini adalah makanan terenak yang pernah ia cicipi seumur hidupnya.

"Enak?" tanyaku lembut.

Axelle tidak menjawab, namun ia mengangguk pelan tanpa menoleh. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Liam mulai mencicipi masakanku. Ia mengunyah dengan pelan, wajahnya tetap kaku tanpa ekspresi. Tapi di kepalaku, suara hatinya sedang berteriak histeris.

[ENAK SEKALI! Bagaimana bisa rasanya jauh lebih enak dari masakan koki bintang lima? Apa dia menaruh ramuan cinta di dalamnya? Jantungku... tolong berhenti berdebar. Aku ingin memujinya, tapi mulutku rasanya terkunci. Aku takut jika aku terlalu memujinya, dia akan besar kepala dan kembali menjadi Blair yang jahat.]

Aku menahan tawa sekuat tenaga. "Liam, kalau enak, bilang saja. Tidak usah ditahan begitu."

Liam berdehem kaku. "Lumayan. Bisa dimakan."

[BOHONG! Ini luar biasa! Aku ingin menghabiskan semuanya! Blair, kau benar-benar membuatku gila!]

Setelah makan malam yang "tenang" namun penuh kejutan itu selesai, aku naik ke lantai atas. Aku bersiap untuk beristirahat setelah hari yang panjang dan melelahkan sebagai transmigran. Namun, saat aku keluar dari kamar mandi dengan piyama satin, aku melihat Liam berjalan melewati pintu kamar utama kami.

Ia membawa bantal dan selimut, lalu melangkah menuju kamar tamu yang terletak di ujung lorong.

Aku mengernyitkan dahi. "Liam? Mau ke mana?"

Langkah Liam terhenti. Ia berbalik dengan wajah yang terlihat sangat canggung. "Aku... aku tidur di kamar tamu malam ini."

"Kenapa? Ini kan kamarmu juga," sahutku heran.

Liam menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Biasanya kau akan mengunci pintu dari dalam atau melempar lampu tidur ke arahku jika aku mencoba masuk ke kamar ini. Aku hanya tidak ingin... memicu pertengkaran malam ini. Suasana hatiku sedang bagus karena masakanmu tadi."

Aku tertegun. Separah itu hubungan mereka? Sampai tidur di kamar sendiri saja harus takut dilempar lampu?

[Sebenarnya aku sangat ingin tidur di sana. Aku ingin memeluknya, mencium aromanya yang seperti mawar. Tapi aku takut ditolak. Aku takut dia akan berteriak kalau aku menjijikkan. Lebih baik aku tidur di kamar tamu daripada harus melihat tatapan benci itu lagi.]

Suara hatinya terdengar begitu sedih dan rendah diri. Aku merasa gemas sekaligus kasihan. Aku berjalan mendekatinya, merebut bantal dari pelukannya.

"Tidak ada kamar tamu malam ini, Ralph Liam Alexander," ucapku tegas. "Masuk ke kamar. Sekarang."

Liam mematung. Matanya membelalak lebar. "Blair, apa kau sadar apa yang kau katakan?"

"Sangat sadar. Cepat masuk sebelum aku berubah pikiran dan benar-benar melempar lampu tidur ke arahmu," ancamku dengan nada bercanda.

Liam masuk ke kamar dengan langkah ragu, seolah-olah ia sedang memasuki kandang singa. Ia duduk di pinggir ranjang besar itu, sementara aku merebahkan diri di sisi lain. Jarak di antara kami masih cukup luas, namun ketegangannya terasa sangat nyata.

[DIA MENYURUHKU MASUK! APA INI NYATA? Aku tidur di satu ranjang dengan Blair tanpa ada teriakan cerai? Ya Tuhan, jantungku... tolong, jangan berdetak terlalu keras, dia bisa mendengarnya! Apa aku boleh menyentuh tangannya? Tidak, tidak, Liam, jangan lancang. Tetaplah diam atau dia akan mengusirmu!]

Aku membelakangi Liam, menyembunyikan senyum lebarku di balik bantal. Suara hatinya benar-benar sangat berisik! Pria ini, yang di luar terlihat seperti raja iblis yang kejam, ternyata di dalamnya hanya seorang pria malang yang sangat mendambakan cinta istrinya.

"Selamat malam, Liam," ucapku pelan.

[Selamat malam, cintaku... selamat malam, duniaku. Terima kasih sudah tidak mengusirku malam ini. Aku mencintaimu, Blair... sangat mencintaimu.]

Aku memejamkan mata dengan perasaan hangat. Menjadi Blair mungkin tidak seburuk yang kubayangkan, jika suaminya sebucin ini.

1
umie chaby_ba
jadi mau Lo apa heh maxim??? kudu nya si Blair Sama Liam gituan didepan mata Lo?
Ariska Kamisa: oopsss.. 🤭🤭🤭🤭
sabar kak.. maxim lagi menguji kesabaran Blair dan Liam 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kan ga jadi cerai iiihh... Maxim ngeselin!
Ariska Kamisa: iyah Maxim ini resek yaa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
ceritanya ini tentang transmigrasi gitu yaa...
semoga bisa menghibur semuanya...
umie chaby_ba
waduh... ada LG aja nih musuhnya /Shy/
umie chaby_ba
kasian banget nasib penulis 🤣🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
good job Axelle👍👍👍👍👍
umie chaby_ba
Elodie pengen banget si Blair mati kayanya 🫣
umie chaby_ba
Axelle lucu nih pembela mama nya banget
umie chaby_ba
ngeselin Liam /Panic/
umie chaby_ba
sweet banget🤭🤭🤭
umie chaby_ba
bagus Blair....
umie chaby_ba
bagus Axelle 👍👍👍
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/
umie chaby_ba
Adeline pelakor
umie chaby_ba
dih bimbang sih Liam /Sleep/
umie chaby_ba
penulis emang seenaknya sih 🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: aku dong....🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
wow ada karakter baru nih
umie chaby_ba
sang penulis dibuat ketar-ketir 🫣
Ariska Kamisa: iyah hehehe
total 1 replies
umie chaby_ba
so sweet😍
umie chaby_ba
penulisnya kewalahan
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
wwiihh keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!