NovelToon NovelToon
GUMIHO

GUMIHO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.

Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.

Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.

Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.

Sementara Rahasia lain telah menantinya.

Bagaimana kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Yang Beda

Keesokan paginya, Zoe membuka matanya yang terasa ringan, seolah beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya telah menguap bersama kabut fajar.

Dia terbangun dari tidurnya saat cahaya pagi mulai menyelinap masuk melalui celah-celah tirai beludru, melukis garis-garis emas di atas sprei.

Namun, ketenangan itu terusik saat ingatannya ditarik paksa kembali ke insiden mengerikan kemarin malam—tentang bagaimana Steven datang dengan tatapan lapar, berniat merenggut paksa kekuatan nya yang kini bersemayam di dalam tubuhnya.

Zoe perlahan mengangkat kedua tangannya ke depan wajah. "Apa rubah licik itu benar-benar sudah berhasil mendapatkannya?" bisiknya pada keheningan kamar, suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya.

Dia memejamkan mata, memusatkan seluruh sirkulasi napasnya ke telapak tangan. Tiba-tiba, sebuah cahaya keperakan yang murni memancar, memenuhi ruangan dengan aura yang hangat namun mengintimidasi.

Zoe menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan. "Ternyata kekuatannya masih ada padaku... tapi aku tidak boleh lengah. Aku harus tetap waspada terhadap rubah berbulu domba itu. Dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan."

Zoe turun dari ranjang, langkah kakinya tidak lagi ragu saat ia berjalan menuju cermin untuk membasuh wajah. Pagi ini bukan sekadar pagi biasa--- sebuah sayembara besar akan dibuka.

Kediaman Erlangga membutuhkan orang baru. Zoe telah menyebarkan brosur lowongan pekerjaan itu dengan strategi yang matang. Saat memeriksa ponselnya, deretan notifikasi dari nomor tak dikenal membanjiri layarnya, menanyakan tentang posisi di rumah megah itu.

"Kali ini, tidak akan ada ruang untuk pengkhianat," gumamnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin. "Aku akan memastikan bahwa akulah satu-satunya penguasa mutlak di rumah ini. Setiap pelayan di dapur, setiap koki, hingga bodyguard yang berdiri di depan gerbang, semuanya harus sesuai kriteriaku. Bahkan jika mungkin... aku akan merekrut mereka yang memiliki keahlian 'khusus' untuk menjadi sekutuku. Masa depan memerlukan bidak yang tepat."

Setelah mengenakan gaun bergaya romantic yang elegan namun tetap fungsional, Zoe menoleh ke arah sudut ruangan. "Milo! Kau ingin ikut denganku menyaksikan awal dari segalanya?"

Milo mendongak dengan mata berbinar. "Tentu, Nona. Lagipula, aku juga sudah bosan terus-menerus mengurung diri di kamar yang sunyi ini," sahut Milo sembari menggoyangkan ekornya dengan penuh semangat.

"Ayo," ajak Zoe tegas.

Mereka berjalan keluar kamar. Langkah Zoe terdengar tenang dan anggun, bergema di sepanjang koridor luas.

Sangat kontras dengan Zoe yang dulu—Zoe yang selalu berjalan dengan penuh kehati-hatian seolah takut bumi akan runtuh jika ia salah melangkah, Zoe yang selalu menundukkan kepala untuk menyembunyikan ketakutan nya.

Zoe yang baru telah lahir---- dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menatap lurus ke depan dengan tatapan yang tajam. Setiap langkahnya memancarkan otoritas, seolah-olah setiap inci lantai yang ia pijak secara resmi telah mengakui bahwa dialah sang penguasa yang sebenarnya.

Saat Zoe sampai di lantai bawah, kesunyian menyambutnya. Rumah itu tampak sepi, nyaris seperti tak berpenghuni. Matanya menyipit tajam, menelusuri bayangan di balik pilar-pilar besar, mencari sosok yang seharusnya ada di sana.

"Ke mana mereka?" gumam Zoe, suaranya rendah namun penuh selidik. Ruang tamu mewah itu kosong melompong. Tina, Dika, Siska, dan Maudy. Sama sekali tidak terlihat. "Apa mereka benar-benar pergi? Melarikan diri hanya karena tidak mau bekerja?" Zoe menduga-duga dalam hati.

Namun, sesaat kemudian, sebuah senyum tipis—senyum yang lebih mirip sebuah seringai dingin—muncul di sudut bibirnya. "Tanpa uang?" gumamnya penuh misteri."Dasar orang-orang benalu."

"Zoe!" sebuah suara memanggilnya, memecah keheningan.

Zoe mengenali suara itu dengan sangat baik. Itu adalah Nindi. Mulai hari itu, Nindi resmi bekerja sebagai asisten pribadinya--- lebih tepatnya membantu Zoe.

Hubungan mereka memang rumit--- Nindi pernah menyimpan kemarahan dan kekecewaan yang mendalam karena fitnah Zoe di masa lalu yang telah membuatnya didepak dari sekolah.

Namun, hidup memiliki cara yang aneh untuk memutar balik nasib. Jika bukan karena bantuan dari Zoe yang 'baru', mungkin ibu Nindi sudah meninggal di ranjang rumah sakit yang dingin. Nindi memilih untuk mengubur egonya demi membalas budi.

Lagi pula, Zoe sudah berjanji bahwa Nindi akan kembali masuk ke sekolah itu. Meskipun Nindi sudah tertinggal banyak pelajaran. Namun untung nya. Nindi adalah gadis yang pintar, jadi tidak sulit untuk melakukan tes padanya.

"Semuanya sudah siap di halaman, tidak ada yang berani terlambat," kata Nindi sambil melihat layar tablet di tangan nya.

"Bagus. Ayo!" Zoe melangkah lebih dulu tanpa menoleh lagi, diikuti oleh Nindi yang berjalan satu langkah di belakangnya dengan patuh.

Sesampainya di halaman depan mansion, suasana berubah drastis. Halaman yang luas itu kini tampak hidup dan penuh energi yang tegang.

Beberapa pria berpakaian jas rapi berdiri dengan sikap sempurna, seolah-olah mereka sedang menunggu inspeksi militer.

Di sisi lain, deretan wanita mengenakan pakaian formal yang sopan, wajah-wajah mereka menunjukkan campuran antara harapan dan rasa takut. Semuanya hadir karena brosur yang disebarkan Zoe beberapa hari lalu.

Begitu mata para pelamar itu melihat sosok Zoe muncul di ambang pintu, suasana seketika menjadi hening. Secara refleks, mereka segera berbaris rapi. Laki-laki dan wanita berdiri dengan jarak yang diatur sedemikian rupa.

Zoe berjalan menuju sofa tunggal berbahan kulit mahal yang sudah disiapkan di tengah teras, lalu duduk dengan kaki menyilang yang elegan. Nindi mengambil tempat di kursi kayu di sampingnya.

"Semuanya ada di sini, Zoe. Data diri, rekam jejak, hingga referensi mereka semua tersimpan rapi," kata Nindi sambil menyodorkan sebuah tablet digital kepada Zoe.

Zoe mengambil tablet itu, jemarinya bergerak lincah menyapu layar yang menyala. Tanpa mengalihkan pandangan dari data di hadapannya, ia mulai berbicara dengan suara yang lantang namun dingin, menjangkau setiap telinga yang ada di halaman itu.

"Aku ingin melihat kemampuan kalian satu per satu. Ingat satu hal, aku tidak butuh orang yang hanya bisa bekerja. Aku butuh kesetiaan total. Aku akan membagi kalian sesuai dengan bagian yang kalian inginkan, namun keputusanku adalah mutlak. Mari kita mulai."

Zoe berhenti sejenak, memberikan jeda agar kata-katanya meresap ke dalam pikiran setiap orang yang hadir, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih menantang. "Yang pertama... untuk bagian dapur, mencakup posisi koki dan pelayan. Aku tidak ingin sekadar mencicipi makanan yang enak. Jadi, aku akan mengadakan kompetisi memasak yang sangat ketat untuk memperebutkan posisi kepala chef. Selain rasa, aku ingin melihat bagaimana tangan kalian bekerja dengan kecepatan tinggi namun tetap memiliki presisi yang luar biasa, tanpa menimbulkan satu pun kerusakan atau kekacauan sekecil apa pun. Jika kalian tidak bisa menguasai dapur, bagaimana kalian bisa menguasai keadaan di bawah tekanan yang lebih besar?"

BERSAMBUNG

1
Kusii Yaati
si rubah belum nyerah ternyata, semangat ya stev jangan sampai kamu yang bertekuk lutut sama Zoe ya!😁
Kusii Yaati
ternyata Zoe adalah masa lalunya Steven,wah tambah seru nih... lanjut Thor 💪😁😘
Kusii Yaati
ya ampun stev bikin aq ngakak aja sih🤣🤣🤣
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘
Rosmawaty Limbong
penyampaian cerita sangat menarik membuat pembaca ingin terus membaca kelanjutan ceritanya sampai selesai.
Kusii Yaati
alamak gimana selanjutnya, berhasil kah Steven mengambil kekuatannya kembali... lanjut Thor seru banget ini💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
waduh Steven sudah datang aja, gimana nasibnya zoe😱
Kusii Yaati
keputusan bagus Zoe,buat apa pertahankan hubungan yang hanya kamu saja yang mencintai.lanjut Thor 💪💪💪😘
falea sezi
lanjut donk
Kusii Yaati
lanjut Thor ceritanya bagus banget lho...💪💪💪
Kusii Yaati
bagus Zoe sudah saatnya kau menunjukkan taring mu biar para benalu itu sadar diri
Kusii Yaati
sadar diri woyyy ibu tiri laknat, yang benalu di sini tu kamu dan buntut mu/Curse/...lah dah miskin nggak tahu diri pula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!