NovelToon NovelToon
GOMA: THE REBORN

GOMA: THE REBORN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Action
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama Diatas Kristal Ungu

Episode 31

Aku berdiri diam di depan mulut gua yang kini dikelilingi oleh pemandangan yang sangat asing bahkan bagi standar Gehenna sekalipun. Tanah pasir abu abu yang sebelumnya terlihat gersang kini tertutup oleh lapisan kristal tipis berwarna ungu transparan yang berkilauan di bawah cahaya redup langit pasca badai. Setiap butiran kristal tersebut adalah residu energi esensi yang memadat akibat tekanan atmosfer yang luar biasa saat badai mencapai puncaknya tadi. Aku melangkahkan kaki kananku keluar dari lubang perlindungan merasakan suara gemeretak halus saat bantalan daging telapak kakiku menghancurkan lapisan kristal tersebut menjadi debu bercahaya.

Dug... dug... dug...

Jantung esensi ku berdetak dengan ritme yang sangat kuat memberikan sensasi tenaga yang meluap ke seluruh jaringan ototku yang kini telah pulih seratus persen. Aku merasakan bagaimana sirkulasi darah hitamku membawa energi hangat menuju ke ujung ujung syaraf di kulit metalik ku. Sebagai seorang pendaki aku selalu menghargai momen setelah badai berlalu karena biasanya udara menjadi lebih stabil meskipun medan yang ditinggalkan menjadi lebih licin dan berbahaya. Aku mencoba menarik napas panjang merasakan udara yang kini terasa sangat murni seolah olah seluruh polusi jiwa di wilayah ini telah disapu bersih oleh badai tadi.

"Goma jangan terlalu lama terpaku melihat keindahan palsu dari kristal esensi ini. Meskipun mereka terlihat cantik namun kristal kristal ini sangat tajam serta bisa mengiris kulit mahluk kelas bawah dalam sekejap jika kau tidak berhati hati," ucap Kharis yang kini melayang di samping kepalaku sambil mencoba menyentuh salah satu dahan pohon tulang yang juga tertutup kristal.

Aku tidak menjawab ucapan Kharis dengan kata kata. Aku justru lebih tertarik untuk menguji sejauh mana stabilitas tubuhku setelah melewati proses regenerasi di dalam tidur dalam tadi. Aku mencoba melakukan gerakan peregangan yang lebih ekstrem. Aku mengangkat kaki kiriku hingga setinggi bahu kemudian memutar pergelangan kakiku yang sudah dilapisi logam Black Iron. Gerakannya terasa sangat halus tanpa ada hambatan sedikit pun pada jaringan otot betis ku yang sekarang tampak sangat padat dan berurat.

[ SISTEM: MEMULAI PEMINDAIAN MOTORIK PASCA STABILISASI ]

[ SISTEM: KEKUATAN FISIK: TINGKAT MENENGAH (STABIL) ]

[ SISTEM: KELENTURAN JARINGAN: 98 % ]

[ SISTEM: STATUS SINKRONISASI JIWA: 55 % ]

[ SISTEM: PERINGATAN: TERDETEKSI PENURUNAN SUHU LINGKUNGAN SECARA DRASTIS ]

Suhu dingin ini justru menguntungkan bagiku. Kulit metalik ku bekerja lebih baik dalam suhu rendah karena ia bisa mengunci panas jantung esensi ku tetap berada di dalam lapisan dermis.

Aku mencoba melakukan satu lompatan ke depan. Aku mengerahkan sedikit tekanan pada otot pahaku kemudian meledakkannya saat ujung jari kakiku menyentuh tanah.

Wusss!

Tubuhku melesat ke udara setinggi lima meter dengan sangat ringan seolah olah gravitasi Gehenna telah kehilangan sebagian kekuatannya padaku. Saat aku melayang di udara aku melihat pemandangan Hutan Rusuk dari ketinggian. Banyak pohon tulang raksasa yang roboh membentuk jembatan jembatan alami di antara gundukan pasir. Aku melakukan gerakan salto di udara untuk menyeimbangkan posisi jatuh ku kemudian mendarat dengan kedua kaki secara bersamaan.

Brak!

Pendaratan ku menciptakan retakan besar pada lapisan kristal ungu di bawah kakiku namun aku tidak merasakan guncangan yang menyakitkan pada tulang belakangku. Otot otot intiku di bagian perut dan pinggang bekerja dengan sangat sempurna meredam seluruh energi kinetik dari lompatan tersebut. Aku berdiri tegak kembali sambil menyapu debu ungu yang menempel pada jubah pelayanku yang kini sudah terlihat lebih seperti jubah petarung karena banyaknya robekan yang berpola.

"Luar biasa Goma! Kau mendarat seperti seekor kucing hutan yang tidak memiliki berat badan sama sekali!" Kharis bersorak dengan semangat sambil terbang berputar putar di atas kepalaku.

"Ini adalah hasil dari sinkronisasi yang sempurna Kharis. Sekarang aku merasa benar benar menguasai tubuh ini. Aku bukan lagi sekadar menumpang di dalam kerangka tulang namun aku adalah pemilik sah dari setiap inci daging ini," jawabku dengan suara yang jernih dan penuh dengan kepercayaan diri.

Aku berjalan menuju ke arah sebuah pohon tulang yang roboh. Aku ingin melihat apakah sistem deskripsi peta dimensiku mengalami kemajuan setelah menyerap sebagian energi badai tadi. Aku memfokuskan pikiranku ke arah layar transparan yang muncul di depan pandanganku.

[ SISTEM: STATUS DESKRIPSI PETA DIMENSI TERRA ]

[ SISTEM: PROGRES: 45 % ]

[ SISTEM: KOORDINAT TERKUNCI: LEMBAH API ABADI (VALLEY OF ETERNAL FIRE) ]

[ SISTEM: KETERANGAN: PINTU GERBANG UTAMA TERLETAK DI PUSAT LEMBAH TERSEBUT ]

Lembah Api Abadi. Nama itu terdengar sangat berlawanan dengan kondisi suhu dingin yang sedang kurasakan saat ini. Jika gerbang itu berada di sana maka aku harus bersiap menghadapi panas yang jauh lebih ekstrem daripada suhu didihan limbah esensi di istana Lord Valos tadi.

"Kharis apa kau tahu tentang Lembah Api Abadi. Peta ini menunjukkan bahwa itu adalah lokasi gerbang menuju Terra."

Kharis mendadak berhenti terbang. Tubuh asapnya sedikit mengecil tanda bahwa ia sedang merasa ketakutan atau merasa tidak nyaman dengan nama tempat yang ku sebutkan. "Lembah Api Abadi... itu adalah wilayah terlarang di bagian paling selatan Gehenna Goma. Tempat itu tidak dihuni oleh iblis iblis seperti di Oksidian melainkan oleh entitas entitas kuno yang terbuat dari magma dan api esensi. Suhu di sana bisa melelehkan tulang iblis kelas atas dalam hitungan menit."

Aku menyipitkan mata kuning keemasan ku menatap ke arah selatan cakrawala. "Jika para dewa membuang ku ke dasar neraka maka sudah sepantasnya jalan pulangnya dijaga oleh api yang membara. Aku tidak takut pada panas Kharis. Aku sudah pernah terbakar saat proses pertumbuhan ototku serta aku berhasil melewatinya."

"Tapi ini berbeda Goma! Api di sana adalah api pemurnian jiwa! Kau butuh perlindungan esensi air yang sangat kuat jika ingin mendekati gerbang itu tanpa berubah menjadi tumpukan abu," ucap Kharis dengan nada bicara yang sangat serius dan penuh peringatan.

Aku meraba saku jubahku memastikan gulungan peta fisik yang kuambil dari Lord Valos masih ada di sana. Meskipun sistem sudah menyalin datanya namun gulungan fisik ini mungkin memiliki fungsi kunci atau segel yang akan dibutuhkan saat aku sampai di depan gerbang nanti. Aku merasa sangat beruntung karena keputusan untuk menyusup ke istana itu membawa hasil yang sangat sepadan dengan risikonya.

[ SISTEM: SARAN PERJALANAN ]

[ SISTEM: RUTE TERCEPAT MENUJU SELATAN ADALAH MELEWATI JALUR BAWAH TANAH HUTAN RUSUK ]

[ SISTEM: ESTIMASI WAKTU TEMPUH: 12 JAM SIKLUS ENERGI DENGAN KECEPATAN KONSTAN ]

[ SISTEM: PERINGATAN: TERDETEKSI AKTIVITAS MAHLUK SCAVENGER PADA JARAK 500 METER ]

Aku menajamkan indera pendengaranku yang kini sudah didukung oleh jaringan syaraf yang lengkap. Dari arah balik reruntuhan pohon tulang di depan aku mendengar suara gesekan benda keras yang sangat berirama. Srek... srek... srek... Suara itu menyerupai suara kuku kuku tajam yang sedang menggali permukaan kristal ungu. Aku segera merendahkan posisi tubuhku bersembunyi di balik batang tulang yang besar.

"Ada tamu yang sedang mencari sarapan pasca badai Kharis. Mari kita lihat apakah mereka bisa memberikan tambahan energi untuk perjalanan panjang kita nanti."

Dari balik bayangan pohon muncul tiga mahluk berbentuk menyerupai monyet namun memiliki lengan yang sangat panjang hingga menyentuh tanah. Seluruh tubuh mereka tertutup oleh kulit yang tebal dengan duri duri kalsium yang mencuat dari sendi sendi mereka. Mereka adalah Frost Scavengers mahluk yang hanya muncul setelah badai esensi untuk memakan kristal energi yang mengendap di tanah.

Mahluk mahluk itu terlihat sangat sibuk menjilati permukaan kristal ungu dengan lidah mereka yang panjang dan kasar. Mereka tidak menyadari keberadaan ku karena arah angin saat ini bertiup membelakangi ku sehingga bau jiwaku tidak tercium oleh hidung mereka yang sensitif.

Tiga mahluk. Tingkat energi mereka terlihat lebih rendah dari Iron Crusher namun mereka memiliki kelincahan yang tinggi. Ini adalah latihan yang bagus untuk menguji koordinasi otot baruku.

"Kharis aku akan menyerang yang paling besar di tengah. Kau siapkan asapmu untuk mengalihkan perhatian dua lainnya jika mereka mencoba mengeroyokku."

"Mengerti Tuan Pendaki. Aku akan membuat mereka buta sesaat."

Aku mematangkan pijakan kakiku pada tanah kristal yang licin. Aku memfokuskan aliran energi dari jantung esensi ku menuju ke arah otot otot betis ku. Aku tidak ingin menggunakan Burst Dash secara berlebihan agar tidak membuang energi namun aku akan menggunakan kekuatan ledakan otot murni ku untuk melakukan serangan kejutan.

Satu tarikan satu dorongan. Fokus pada target utama.

Dalam sekejap aku melesat keluar dari persembunyianku. Gerakanku sangat senyap hampir tidak menimbulkan suara angin yang berarti. Mahluk monyet duri itu hanya sempat menoleh sesaat sebelum tinju kiri Black Iron ku menghantam wajahnya dengan kekuatan penuh.

BOOM!

Suara benturan logam dengan tulang wajah mahluk itu menggema di seluruh area hutan yang sunyi. Mahluk tersebut terpelanting sejauh sepuluh meter menghantam pohon tulang hingga hancur. Dua mahluk lainnya menjerit kaget serta mulai memamerkan taring taring mereka yang tajam siap untuk menyerang balik penyusup yang mengganggu waktu makan mereka.

Aku berdiri tegak di tengah tengah area kristal ungu yang kini mulai berhamburan ke udara. Aku menatap dua mahluk yang tersisa dengan pandangan yang dingin dan datar. Aku tidak merasa takut sedikit pun justru aku merasakan rasa lapar yang mulai bangkit kembali dari dalam rongga dadaku.

"Ayo mahluk rendahan. Mari kita lihat seberapa banyak energi yang kalian simpan di dalam tubuh duri kalian itu."

Malam pasca badai di Hutan Rusuk baru saja dimulai dengan tumpahan darah pertama. Goma sang pendaki kini telah menjelma menjadi pemangsa puncak yang tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi jalannya menuju pintu pulang ke Bumi. Setiap tarikan napas ku sekarang adalah persiapan untuk pendakian pulang yang paling berdarah.

Ibu Widya aku sedang bergerak ke arah selatan. Aku sedang bergerak menuju jalan yang akan membawaku kembali ke sisimu. Dan aku akan memakan seluruh neraka ini jika itu memang diperlukan untuk mencapainya.

1
diy
tetap semangat 💪
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
diy
hmmm menarik☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semakin menarik ☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semangat author💪
M Agus Salim: selalu 💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!