NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Ledakan dan Kontraksi

Api, serpihan besi, lalu kegelapan. Maureen tewas di tengah ledakan pabrik.

Hawa panas mencairkan kulitnya dari tulang. Udara di sekitarnya berubah menjadi racun mematikan yang merobek paru-paru setiap kali ia menarik napas.

Gelombang kejut dari bahan peledak C4 melempar tubuhnya menabrak pilar beton. Suara tulang rusuk yang patah tenggelam di bawah raungan api.

Darah menyumbat tenggorokannya. Ia memuntahkan gumpalan merah pekat ke lantai besi yang membara.

"Vincent," ucap Maureen, suaranya parau tertahan darah.

Pria jangkung berjas hitam itu berdiri aman di balik kaca antipeluru di ruang kendali lantai atas. Mata elangnya menatap lurus ke bawah.

Wajahnya sedingin bongkahan es. Tidak ada senyum kemenangan, tidak ada jejak penyesalan. Vincent Santoso menganggap emosi adalah kelemahan, dan ia baru saja membuktikan prinsip dasar itu dengan mengorbankan partner terbaiknya.

Pria itu menekan tombol merah terakhir.

Lantai di bawah kaki Maureen runtuh.

Mati.

Napas tersentak. Udara dingin masuk paksa ke tenggorokan.

Bau tembaga dan bensin hangus lenyap seketika. Aroma apak, debu tebal, dan lumut basah langsung menyerbu indra penciumannya.

Matanya terbuka lebar. Kegelapan total menyambut pandangannya.

Belum sempat otaknya memproses anomali ruang dan waktu ini, siksaan mengerikan menghantam perutnya.

Bukan panas api. Bukan patah tulang akibat ledakan.

Ini adalah robekan dari dalam.

Otot-otot di perut bagian bawahnya memilin, mengeras, dan menekan organ dalamnya dengan kekuatan brutal. Tulang panggulnya serasa ditarik paksa oleh mesin derek dari dua arah berlawanan.

Keringat dingin membanjiri dahi. Rahangnya mengatup rapat.

Insting pembunuh bayarannya langsung mengambil alih kendali. Evaluasi ancaman. Pengecekan fungsi motorik.

Tangannya meraba perut.

Membesar. Bulat sempurna. Keras bagai bongkahan batu di bawah gaun sutra yang robek dan lembap.

Hamil.

Rentetan memori asing menghantam sel otaknya dengan kecepatan peluru.

Sabrina Tanjung. Pewaris utama grup konglomerat keluarga Tanjung. Lemah, penakut, terlalu mudah memercayai senyum palsu. Ia dijebak, dibius saat makan malam, lalu disekap di vila tua terbengkalai di lereng gunung oleh kakak angkatnya sendiri, Kania Tanjung.

Kania membenci Sabrina. Perempuan itu menginginkan kendali atas warisan keluarga Tanjung secara mutlak. Kania menginginkan Sabrina mati perlahan tanpa jejak.

Dan anak yang sedang menendang keras mencari jalan keluar dari rahim ini adalah bayi dari Adrianus Halim. Pria paling ditakuti di lingkaran bisnis bawah tanah. Sang predator arogan yang menganggap wanita tidak lebih dari inkubator pencetak ahli waris.

Sabrina mengingat tatapan merendahkan Adrianus sesaat setelah Sabrina terbangun di ranjangnya. Pria penganut patriarki absolut yang mengendalikan setiap inci hidup Sabrina tanpa pernah memberikan sedikit pun ruang bernapas.

Maureen menarik napas pendek. Ia sekarang terjebak di dalam cangkang rapuh wanita malang, dan sedang meregang nyawa di gudang kotor.

"Sialan," umpatnya tanpa suara. Vokal yang keluar dari tenggorokannya terasa asing. Lembut, cengeng, khas perempuan yang selalu dilindungi dinding kaca dan penjagaan ketat.

Maureen tidak pernah gagal dalam misi. Misi kali ini adalah bertahan hidup.

Suara gemerisik sepatu bot memecah kesunyian malam. Langkah berat itu terhenti tepat di balik pintu kayu jati berukir di sisi kanannya.

"Berapa lama lagi kita harus berjaga di sini, Haryo?" Suara serak bertanya.

Pemantik api bergesekan. Bau tajam tembakau kretek murahan menyelinap dari celah bawah pintu, menembus bau anyir darah di dalam ruangan.

"Sampai perempuan itu berhenti bernapas," sahut pria kedua. Suaranya sedikit melengking. "Nona Kania bilang biarkan saja dia mati berdarah di dalam. Toh, dokter keluarga Tanjung sudah dibayar lunas untuk membuat laporan gagal jantung akibat komplikasi kehamilan."

"Tapi dia sedang melahirkan. Bayinya anak Halim," sanggah pria bersuara serak. Ada getar panik jelas dalam nadanya. "Kau tahu persis kelakuan Halim kalau dia tahu darah dagingnya mati di gudang busuk ini. Pria itu bisa menguliti kita hidup-hidup dan membuang sisa tubuh kita ke laut."

"Justru karena itu anak Halim, Nona Kania mau keduanya lenyap malam ini juga." Haryo mengembuskan asap rokok panjang. "Anak itu kunci saham gabungan Tanjung dan Halim. Kalau anak itu lahir dan bernapas, Kania habis. Paham kau?"

"Berapa bayaran kita untuk risiko gila ini?"

"Dua miliar. Tunai dalam koper."

"Bagus. Kalau begitu kita tunggu di sini sampai tidak ada lagi suara tangisan dari dalam sana."

Langkah kaki mereka mundur beberapa langkah, disusul suara decitan kayu saat dua kursi diseret dan diduduki.

Dua musuh. Berjaga di luar. Kemungkinan besar bersenjata tajam atau pistol rakitan. Kondisi fisik prima.

Satu pintu kayu padat terkunci rapat dari luar.

Dan tubuhnya saat ini sama sekali tidak memiliki massa otot tempur. Tubuh Sabrina terlalu lembek akibat gaya hidup mewah tanpa aktivitas fisik.

Kontraksi berikutnya datang menghantam, jauh lebih buas dan tanpa jeda istirahat.

Maureen menggigit bibir bawahnya keras-keras. Rasa asin darah segar membasahi lidahnya, sengaja ia lakukan untuk mengalihkan fokus otaknya dari rasa nyeri hebat di area panggul.

Teriakan adalah pantangan mutlak malam ini. Suara erangan sekecil apa pun akan memancing dua penjaga itu masuk lebih cepat dari jadwal, dan ia tidak memiliki kapasitas fisik untuk melawan konfrontasi langsung dalam kondisi terbaring.

Tangan kirinya meraba ubin dingin dan kotor di sekelilingnya. Matanya mulai beradaptasi dengan minimnya cahaya bulan yang masuk dari celah sempit ventilasi udara di atas.

Pecahan kaca. Tumpukan kayu lapuk. Ember plastik berbau pesing peninggalan kuli bangunan.

Jemarinya menyentuh sesuatu yang kasar, bertekstur tajam, dan berdebu.

Gulungan kawat berkarat.

Ia menarik ujung kawat itu dan melilitkannya erat-erat ke telapak tangan kirinya. Gesekan logam tajam langsung merobek kulit telapak tangannya. Sensasi perih menyengat dari luka luar itu efektif menekan sinyal sakit dari organ dalamnya. Itu taktik dasar menahan siksaan interogasi tingkat tinggi yang diajarkan di kamp pelatihan Ordo Sutra.

"Bertahanlah, Bocah," bisik Maureen pelan, memposisikan kedua lututnya agar tertekuk lebar. "Ibumu yang lemah itu sudah pergi. Sekarang kau berurusan denganku."

Cairan hangat merembes deras membasahi paha dalamnya. Gaun sutra putih mahalnya kini basah lengket oleh campuran darah dan cairan ketuban.

Waktunya habis. Anak ini menolak menunggu satu detik pun.

Maureen mengatur ritme pernapasan. Tarik napas dalam dari hidung, tahan di dada selama tiga detik, hembuskan perlahan lewat bibir yang terbuka sedikit. Ritme penembak runduk. Ritme pembunuh sebelum menarik pelatuk jarak jauh.

Tubuh ini terus gemetar di luar kendali. Kehilangan terlalu banyak cairan dalam waktu singkat membuat suhu tubuhnya menurun drastis. Embusan angin malam lereng gunung dari celah ventilasi terasa seperti sayatan belati es di kulit basahnya. Hipotermia adalah pembunuh senyap kedua setelah pendarahan pasca melahirkan. Ia harus segera bergerak memanaskan darahnya sendiri.

Ia butuh senjata. Sesuatu untuk memutus urat nadi dua bajingan di luar sana segera setelah urusan kelahiran bayi ini selesai.

Tangan kanannya yang bebas menyapu lantai kotor. Merayap perlahan menembus debu tebal, sarang laba-laba, dan serpihan kayu berjamur.

Ujung telunjuknya menabrak sebuah logam pipih panjang di bawah tumpukan balok.

Ia menarik benda itu mendekat ke depan wajahnya. Paku besi berukuran lebih dari sepuluh sentimeter, kotor, tebal, dan sedikit melengkung di bagian ujungnya akibat hantaman palu yang salah.

Sempurna. Benda berkarat ini mampu menembus jaringan kulit dan memutus arteri karotis atau merusak kornea mata manusia dalam hitungan detik jika ditusukkan dengan akurasi maksimal.

Cengkeramannya pada paku itu mengerat, memastikannya menancap di sela jarinya agar tidak terlepas oleh telapak tangan yang licin karena keringat dingin.

"Haryo, kau dengar sesuatu dari dalam sana?" Suara dari luar kembali merusak konsentrasi tempurnya.

"Tidak ada apa-apa," jawab Haryo santai, diselingi suara menguap malas. "Itu cuma suara tikus atap atau angin gunung. Perempuan manja seperti Sabrina pasti sudah pingsan dari tiga jam yang lalu. Tubuhnya tidak pernah terbiasa merasakan sakit."

"Kita cek ke dalam sekarang sekalian memastikan?"

"Jangan cari masalah dengan Nona Kania. Dia melarang kita masuk sebelum yakin target benar-benar tewas mendingin. Kita tunggu tiga puluh menit lagi. Kalau tidak ada suara bayi menangis, kita dobrak masuk dan bersihkan semuanya tanpa sisa."

Tiga puluh menit.

Waktu terus menipis dan berdetak mundur.

Tiga puluh menit untuk melahirkan nyawa baru, mempertahankan nyawanya sendiri dari ancaman hipotermia, dan menghabisi nyawa musuh tanpa ampun.

Otot rahimnya mendadak menegang keras seperti papan baja. Nyeri tajam menyayat dari ulu hati hingga menembus ke dasar tulang belakangnya.

Dorongan kuat itu datang begitu saja secara alamiah. Tidak bisa ditahan dengan kekuatan pikiran, tidak bisa dilawan dengan rasionalitas taktis.

Insting primitif tubuh mamalia mengambil alih sistem sarafnya untuk mengeluarkan keturunannya secara paksa.

Tubuh Sabrina Tanjung tidak merespons seperti yang ia mau. Kepala bayi mulai turun.

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!