NovelToon NovelToon
JALANGKUNG JATUH CINTA

JALANGKUNG JATUH CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cintapertama / Mata Batin
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
​Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persaingan Sengit dengan Kapten Basket

Setelah rentetan kejadian mistis yang menguras energi dan mental, Satria sempat berharap hidupnya akan kembali ke jalur "normal" remaja SMA pada umumnya. Namun, ia lupa satu hal: musuh paling berbahaya di sekolah tidak selalu transparan atau berbau tanah kuburan. Terkadang, mereka memakai jersei nomor satu, punya tinggi badan 185 cm, dan memiliki senyum yang membuat para siswi lupa cara bernapas.

​Dia adalah Reza, kapten tim basket SMA Wijaya Kusuma.

​Reza adalah personifikasi dari kesempurnaan yang menyebalkan. Ia tampan, kaya, dan yang paling penting bagi Satria, Reza adalah mantan pacar Arini di kelas X yang kini tampaknya sedang mencoba "reklamasi" hati sang Ketua OSIS.

Persaingan ini meledak di hari Rabu siang, saat jam olahraga gabungan antara kelas XII-IPA dan XII-IPS. Matahari sedang semangat-semangatnya memanggang lapangan basket sekolah.

​"Sat, lo beneran mau ikut tanding?" tanya Budi dengan nada khawatir, sambil melirik tubuh Satria yang—jujur saja—lebih cocok untuk lomba lari dari kenyataan daripada main basket.

​"Gue nggak punya pilihan, Bud. Lihat tuh si Reza," Satria menunjuk ke arah tengah lapangan.

​Reza sedang melakukan dunk pamer di depan Arini yang duduk di bangku penonton. Setelah mencetak angka, Reza sengaja berjalan melewati Satria dan membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh telinga indigo.

​"Lo mungkin jago main dukun-dukunan di lab, Satria. Tapi di lapangan ini, lo cuma butiran debu yang menghalangi pandangan Arini. Stay in your league, Ghost Boy."

​Satria mengepalkan tangan. Ia tidak takut pada Genderuwo, apalagi cuma pada kapten basket yang terlalu banyak pakai pomade.

Pertandingan dimulai. Tim Satria (yang isinya kaum marjinal seperti Budi dan dua anak klub catur) melawan tim inti basket pimpinan Reza. Dalam lima menit pertama, skor sudah 20-2. Satria terengah-engah, keringatnya bercampur debu lapangan.

​Tiba-tiba, di samping ring basket, muncul sosok yang sangat familiar. Ucok.

​“Sat! Mau saya bantu nggak? Saya bisa gelantungan di ring supaya bola mereka mental semua!” tawar Ucok dengan semangat sambil membawa ketapel ghaib.

​"Jangan, Cok! Ini urusan harga diri laki-laki! Jangan pakai cara curang!" bisik Satria sambil mencoba melakukan dribble yang berakhir dengan bola mengenai kakinya sendiri.

​“Tapi Sat, si Reza itu pakai jimat!” Ucok menunjuk ke pergelangan tangan Reza.

​Satria menyipitkan mata. Benar saja. Di balik balutan wristband Reza, ada aura kemerahan yang tipis. Itu bukan bakat murni; itu adalah Mustika Kelancaran. Sebuah benda mistis yang biasanya dipakai oleh atlet yang frustrasi untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan.

​"Meneer! Anda lihat itu?" Satria memanggil Meneer Van De Berg yang sedang duduk santai di atas tiang ring, seolah sedang menonton pertandingan gladiator.

​“Ya, Anak Muda. Si Kapten itu menggunakan jalan pintas. Itu tidak ksatria. Di zaman saya, orang seperti dia akan saya tantang duel anggar!” ujar Meneer dengan nada menghina.

​"Bantu saya netralisir jimatnya aja, Meneer. Sisanya biar gue yang urus," pinta Satria.

Meneer Van De Berg melayang turun. Saat Reza hendak melakukan lay-up, sang Meneer hanya meniup pergelangan tangan Reza dengan hawa es dari zaman kolonial. Seketika, aura merah dari jimat itu membeku dan meredup.

​Bola yang seharusnya masuk dengan mulus justru mental jauh dan mengenai kepala wasit.

​"Woy! Fokus, Rez!" teriak anggota timnya.

​Sekarang giliran Satria. Ia merasa energi di lapangan berubah. Para penghuni sekolah lainnya—Mbak Suryani dari atas pohon kamboja, Profesor Hans dari jendela Lab, hingga Pocong Dudung yang entah kenapa muncul di balik papan skor—semuanya memberikan dukungan moral.

​Satria berlari membawa bola. Langkahnya terasa ringan. Saat Reza mencoba melakukan block, Satria melakukan gerakan putar yang tidak masuk akal. Bukan karena ia jago, tapi karena Pocong Dudung diam-diam memberikan sedikit dorongan pada bahu Satria.

​SYUUUT! Bola masuk. Skor berubah menjadi 20-4.

​"Kebetulan!" teriak Reza emosi.

​Namun "kebetulan" itu berlanjut. Satria seolah memiliki mata di belakang kepala. Ia bisa melihat posisi teman-temannya (dengan bantuan instruksi dari Mbak Suryani yang berteriak dari pohon: "Ke kiri, Sat! Budi lagi melongo di kiri!").

Skor menipis menjadi 38-36. Reza mulai panik. Wajah tampannya memerah dan penuh keringat. Ia menyadari jimatnya tidak berfungsi lagi.

​"Arini! Lihat nih!" Reza mencoba melakukan tembakan tiga angka terakhir.

​Tapi tepat saat bola lepas dari tangannya, Profesor Hans yang hobi fisika muncul di udara. Sang Profesor tidak menyentuh bola, ia hanya menghitung sudut aerodinamika secara ghaib dan menciptakan tekanan udara kecil yang membelokkan arah bola.

​Bola melesat jauh dari ring, tepat ke arah tempat sampah di pinggir lapangan. Plung!

​Satria mengambil bola liar itu. Waktu tersisa lima detik. Ia berdiri di tengah lapangan. Jaraknya sangat jauh. Arini berdiri dari bangkunya, matanya menatap Satria dengan penuh harap.

​"Lakuin, Sat!" teriak Arini.

​Satria menutup matanya sejenak. Ia tidak meminta bantuan Ucok atau Meneer kali ini. Ia hanya membayangkan seluruh perjuangan mereka menyelamatkan sekolah ini. Ia melempar bola dengan seluruh kekuatannya.

​Bola melambung tinggi, melewati jajaran pohon kamboja, melintasi bayangan ghaib yang memenuhi sekolah, dan...

​SWISH!

​Bola masuk tepat saat bel berbunyi. Skor berakhir 38-39 untuk kemenangan tim Satria.

Lapangan mendadak hening. Tim basket inti kalah dari tim "Indigo dan Kawan-kawan". Reza membanting bolanya ke lantai dan berjalan mendekati Satria.

​"Lo curang, Satria! Gue tahu lo pakai sesuatu!" teriak Reza sambil menunjuk wajah Satria.

​Arini berjalan ke tengah lapangan, masuk di antara mereka berdua. "Yang curang itu kamu, Rez. Kamu pikir aku nggak tahu apa yang ada di balik pergelangan tanganmu itu?"

​Arini menarik wristband Reza, memperlihatkan sebuah batu merah kecil yang diikat benang hitam. Batu itu kini sudah retak dan tidak bercahaya.

​"Reza, aku kagum sama bakat basket kamu yang dulu. Tapi sekarang, kamu cuma orang yang nggak percaya diri sampai harus pakai bantuan begini," ujar Arini dingin. "Dan buat informasi kamu, Satria menang karena dia punya seluruh penghuni sekolah ini di pihaknya—baik yang hidup maupun yang nggak."

​Reza terdiam. Malunya tidak tertolong. Ia mengambil tasnya dan pergi meninggalkan lapangan diikuti sorakan kecil dari para hantu yang merasa puas.

Satria terduduk di lantai lapangan, napasnya tinggal satu-satu. Rasanya lebih capek daripada dikejar Intel Ghaib semalaman.

​"Hebat banget, Sat. Tadi itu tembakan paling keren yang pernah aku lihat," Arini duduk di samping Satria, menyerahkan handuk kecil.

​"Makasih, Rin. Tapi jujur, gue nggak mau main basket lagi seumur hidup. Jantung gue mau copot," keluh Satria sambil nyengir.

​Meneer Van De Berg muncul di depan mereka, memberikan hormat dengan topinya. “Kemenangan yang bersih, Satria. Meskipun saya tadi sedikit membantu soal cuaca, tapi keberanianmu melemparkan bola itu adalah murni milikmu.”

​“Iya, Sat! Dan berkat kemenangan ini, saya dapet taruhan tiga butir kelereng ghaib dari tuyul sekolah sebelah!” timpal Ucok kegirangan.

​Satria hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia menatap Arini yang sedang tersenyum menatap langit sore. Di bawah cahaya senja, SMA Wijaya Kusuma tampak lebih damai. Persaingan dengan Reza bukan hanya soal basket, tapi soal pembuktian bahwa kejujuran dan dukungan dari "sahabat" (dalam bentuk apapun) jauh lebih kuat daripada jimat manapun.

​"Rin," panggil Satria.

​"Ya?"

​"Nanti kalau kita lulus, lo bakal tetep inget kejadian di lapangan ini nggak?"

​Arini menoleh, matanya berbinar terkena sinar matahari. "Aku bakal inget semuanya, Sat. Termasuk bau keringat kamu yang... ya ampun Sat, kamu bau banget! Sana mandi!"

​Satria tertawa lepas, mengejar Arini yang berlari menjauh menuju koridor. Di belakang mereka, para hantu sekolah ikut tersenyum. Hari itu, Satria belajar bahwa musuh nyata mungkin lebih menyebalkan, tapi kemenangan atas mereka memberikan rasa lega yang tak tertandingi di dunia nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!