Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.
Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Peta Berdarah
Pondok kayu rampasan dari Faksi Serigala Hitam itu bau apek dan lantai papannya berderit, namun bagi pengembara Era Keruntuhan Surga, memiliki atap tanpa lubang adalah sebuah kemewahan.
Malam semakin larut. Di sudut ruangan, Bao Tuo duduk bersila sambil memeluk lututnya, tersenyum bodoh menatap token kayunya yang kini berisi lebih dari dua ratus Poin Kontribusi hasil rampokan dari Wang Lei dan anak buahnya. Di tengah ruangan, Zeng Niu bermeditasi. Dadanya naik turun dengan ritme pernapasan yang aneh, menekan sisa-sisa energi liar di tulangnya.
Tiba-tiba, jendela kayu pondok itu terbuka tanpa suara. Sesosok bayangan kecil melompat masuk seringan daun jatuh. Itu adalah Lin Xiaoyu. Jubah kebesarannya penuh dengan noda tanah segar, namun wajahnya memancarkan kepuasan seorang pencuri yang baru saja kembali dari panen raya.
"Dunia ini lebih gila dari yang kita duga, Tuan Pembunuh," bisik Xiaoyu, melemparkan sebuah kendi kecil berisi air bersih ke arah Bao Tuo yang langsung ditangkap si gendut dengan panik.
Gadis penipu itu duduk di atas meja kayu yang rapuh, menyilangkan kakinya. "Aku baru saja berkeliling menggunakan ilusi penyembunyi aura, menguping dari pondok murid senior dan membeli sedikit informasi dari penjaga gerbang kantin dengan setengah keping perak. Kalian pikir Akademi Jiannan ini adalah surga pendidikan ortodoks yang suci?"
Zeng Niu membuka matanya perlahan. Pupil gelapnya menatap Xiaoyu, mengisyaratkannya untuk melanjutkan.
"Akademi ini terlihat netral, seolah-olah hanya fokus mendidik generasi muda untuk melawan monster," Xiaoyu merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan mistis. "Faktanya, ini adalah saringan raksasa. Mereka mengumpulkan bakat, membiarkan kita saling bunuh di pelataran luar, untuk mencari 'manusia-manusia unggul'. Lebih parah lagi, rumor di bawah tanah mengatakan akademi ini sengaja menangkap monster hidup-hidup untuk eksperimen rahasia, dan murid luar sering dijadikan umpan hidup untuk menguji keganasan mutasi mereka!"
Bao Tuo tersedak air yang baru diminumnya. "A-apa?! Jadi kita masuk ke dalam kandang monster secara sukarela?!"
"Diam dan dengarkan, Babi Gendut," potong Xiaoyu. Ia lalu mengeluarkan sebuah perkamen usang dan menggambar beberapa simbol dengan arang. "Di luar akademi, benua utara ini dikendalikan oleh kekuatan yang saling memangsa. Yang pertama, Sekte Pedang Langit. Mereka adalah sekte ortodoks terbesar, selalu berteriak tentang kehormatan dan keadilan Surga. Tapi mereka sangat munafik. Diam-diam, mereka menanam mata-mata di antara Murid Inti di sini, mencoba merebut kendali Akademi Jiannan dari dalam."
"Lalu ada Sekte Iblis Darah," lanjut Xiaoyu, matanya bergidik ngeri. "Mereka menempuh jalur gelap. Terang-terangan brutal, meminum darah gadis perawan untuk kultivasi. Tapi anehnya, banyak kultivator liar menyukai mereka karena mereka tidak berpura-pura. Mereka jujur dalam kekejaman. Jika mereka ingin membunuhmu, mereka akan langsung menebas lehermu, tidak seperti Sekte Pedang Langit yang akan memberimu ceramah moral dulu sebelum menusukmu dari belakang."
Zeng Niu mendengus pelan, nyaris tak terdengar. Ia setuju dengan prinsip Sekte Iblis Darah. Kehormatan adalah ilusi bagi mereka yang belum pernah kelaparan.
"Kemudian, yang memegang urat nadi benua ini... Aliansi Dagang," Xiaoyu menunjuk simbol koin di perkamennya. "Kultivasi mereka rata-rata rendah, tapi mereka mengontrol hampir seluruh sumber daya, pil, senjata, dan informasi. Paviliun Penukaran di dalam akademi ini pun disuplai oleh mereka. Dalam politik dan perang, mereka adalah racun yang paling berbahaya."
"Dan yang terakhir..." Suara Xiaoyu tiba-tiba bergetar, seolah menyebut nama pantangan. "Ini hanya mitos di jalanan Kota Debu, tapi kudengar para Tetua akademi sangat menakutinya. Faksi Dewa Tersembunyi. Eksistensi misterius yang tidak pernah menampakkan wujud. Banyak yang percaya, merekalah dalang sesungguhnya di balik Era Keruntuhan Surga, pion dari 'para dewa' gila di atas langit yang menurunkan Bencana."
Keheningan yang mencekam turun di dalam pondok kayu itu. Peta kekuatan dunia yang brutal telah terbentang di depan mereka. Menjadi semut di antara raksasa-raksasa ini berarti mati tanpa kuburan.
"Cerita yang bagus," ucap Zeng Niu akhirnya, suaranya sedingin bilah pedang. Ia berdiri, meregangkan tubuhnya hingga tulang-tulangnya berderak seperti logam beradu.
Xiaoyu berkedip. "I-itu saja reaksimu? Tuan Pembunuh, kita berada di pusaran konspirasi mematikan!"
"Kata-kata tidak bisa menangkis pedang. Konspirasi tidak bisa membunuh monster Tingkat Raja," balas Zeng Niu datar. Ia menatap telapak tangannya sendiri.
Meskipun ia telah mencapai Penempatan Tubuh Tahap 4 dan kekuatannya mampu menghancurkan pilar giok, Zeng Niu tahu batasannya. Untuk mencapai Tahap 5 Tahap Pemadatan Sumsum tubuhnya membutuhkan energi yang sepuluh kali lipat lebih masif dari Inti Tingkat Brutal sebelumnya. Tanpa Dantian untuk memutar Qi secara alami, tubuh fananya adalah tungku api yang terus-menerus kelaparan. Jika ia tidak segera mendapatkan sumber daya tingkat tinggi, tubuhnya akan mengering, memakan energi kehidupannya sendiri.
Zeng Niu menoleh ke arah Bao Tuo. "Berapa Poin Kontribusi yang kita miliki?"
Bao Tuo segera merapikan duduknya, berperan sebagai bendahara setia. "Dua ratus empat belas poin, Saudara Niu! Menurut buku panduan akademi yang kutemukan di kamar Wang Lei, satu pil Penguat Tulang tingkat rendah harganya sepuluh poin. Sedangkan inti monster Tingkat Rendah harganya dua puluh poin."
"Tidak cukup," potong Zeng Niu. Inti monster Tingkat Rendah tidak akan memberikan efek apa-apa bagi tubuhnya sekarang. Ia butuh sesuatu yang lebih kuat. Ia butuh bahan kultivasi yang diperuntukkan bagi Foundation Establishment, atau setidaknya inti monster Tingkat Brutal kelas atas.
Zeng Niu menatap Bao Tuo lekat-lekat. "Di dalam cincin penyimpananmu, ada berapa Kristal Roh yang bisa kita gunakan tanpa menarik perhatian Tetua?"
"T-tiga ratus Kristal Roh kelas rendah, dan dua belas Kristal Roh kelas menengah," bisik Bao Tuo, berkeringat dingin membayangkan kekayaan itu. "Tapi Saudara Niu, menukar Kristal Roh di Paviliun Penukaran resmi akan dicatat! Jika Murid Luar sekelas kita tiba-tiba mengeluarkan ratusan Kristal Roh, Faksi Murid yang lebih besar atau bahkan para guru akan langsung menargetkan kita untuk 'diperas'!"
Zeng Niu mengangguk kecil. Ia sudah memperhitungkan itu. Di tempat di mana aturan berpihak pada yang kuat, kekayaan tanpa kekuatan perlindungan adalah surat undangan kematian.
Ia beralih pada Lin Xiaoyu. "Kau pandai menyusup dan mencari informasi. Di akademi ini, pasti ada tempat yang tidak tersentuh aturan. Tempat di mana Murid Dalam atau bahkan Tetua menjual barang gelap tanpa dicatat."
Mata Xiaoyu berbinar licik. "Pasar Hantu! Tepat di ujung Lembah Hukuman. Dibuka setiap tengah malam pada pertengahan bulan. Murid-murid menggunakan jubah penyamar dan topeng penahan persepsi roh untuk berdagang. Aliansi Dagang diam-diam mengatur tempat itu!"
"Bagus," Zeng Niu menyentuh gagang belati besinya. "Besok malam, kita pergi ke Pasar Hantu. Bao Tuo, siapkan Kristal Roh kelas menengah. Aku butuh sumber daya yang mengandung energi kehidupan paling liar."
"T-tapi Saudara Niu, bagaimana jika kita ketahuan?" rengek Bao Tuo.
Tatap dingin Zeng Niu kembali hadir, membuat hawa pondok itu anjlok. "Jika kita ketahuan bertransaksi, kita bayar dengan Kristal Roh. Jika mereka mencoba merampok..."
Zeng Niu menatap ke arah luar jendela, ke arah kegelapan Lembah Hukuman.
"...kita bayar dengan darah."