Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Perjuangan Raznalira
Gerimis mulai menyapa malam itu, membasahi atap seng rumah sederhana yang berada di perbatasan kota. Angin berhembus pelan di sela-sela jendela yang sedikit terbuka, membawa hawa dingin yang merayap masuk ke dalam sebuah kamar seorang wanita yang tengah merintih menahan nyeri dalam perutnya.
Hawa dingin yang Raznalira Utami (28 tahun) rasakan bukanlah hal yang paling menyiksa malam ini. Rasa sakit itu datang lagi. Ia meringis, tangannya refleks memegangi perutnya yang membesar. Setiap kali kontraksi itu menyerang, napasnya tertahan, lalu terlepas dalam desahan panjang yang bergetar.
“Ahh… Allahu Akbar…” lirihnya hampir tak terdengar.
Keringat mulai membasahi pelipisnya meski udara dingin. Ini bukan sekadar sakit biasa. Dia sangat paham waktu persalinan sudah tiba.Seraya mengusap perutnya dengan lembut.
"Tenang Sayang, kamu akan lahir. Kita akan berjumpa sebentar lagi..." gumamnya menatap perutnya yang tegang.
Dengan susah payah, Raznalira mencoba bangkit dari tempat tidur, berpegangan pada dinding. Kakinya gemetar, tubuhnya terasa berat, seolah setiap langkah harus ia bayar dengan sisa tenaga yang ia punya. Dia menghela nafasnya dengan berat saat melihat suaminya sedang asik bersama ponselnya.
Cahaya ponsel memantul di wajah suaminya yang datar. Jari-jarinya bergerak cepat, tenggelam dalam dunianya sendiri. Tersenyum sendiri saat menerima chat dari seseorang. Sudah biasa pemandangan itu terlihat setiap hari. Sejak suaminya terkena PHK seminggu yang lalu.
“Mas…” suara Raznalira pecah, lemah namun penuh harap.
Ragil (30 tahun) tidak merespon panggilan istrinya. Dia seolah tidak mendengar apa-apa di sekitarnya.
Razna mencoba memanggilnya lagi, kali ini lebih keras, meski suaranya bergetar menahan nyeri yang datang seperti gelombang namun tetap ia paksakan juga.
“Mas Ragil… tolong… aku…"
Ragil hanya melirik sebentar lalu kembali menatap ponselnya seakan ponsel lebih penting daripada istrinya yang sedang berjuang menahan sakit demi melahirkan anaknya.
"Maaaas....ssshhhh. Sepertinya aku mau melahirkan. Tolong bawa aku ke rumah sakit sekarang Massss!" pintanya lagi.
Ragil menghela napas panjang mulai terganggu. Ia melirik lagi sekilas, hanya sekilas, lalu kembali pada layar di tangannya.
“Lebay kamu! Paling juga kontraksi biasa, nanti juga ilang lagi. Lagian melahirkan tuh ga usah jauh-jauh ke rumah sakit segala. Cukup pake dukun paraji aja, beres. Manja banget pengen ke rumah sakit segala. Biaya rumah sakit itu mahal. Aku ga punya uang buat bayarnya. Lagi pula dari pada buat biaya rumah sakit mending buat hal lain yang lebih penting, contohnya ya ini, main sebentar bisa dapat duit," ujarnya serius tanpa menatap istrinya yang tampak pucat.
Kata-kata itu jatuh seperti pisau belati yang langsung menghujam hatinya. Terasa perih.
Raznalira terdiam. Suaminya sering berkata pedas seperti itu. Dia sudah terbiasa untuk mengalah. Hanya air mata penyesalan yang hinggap dalam hatinya. Kini dia menyadari bahwa dirinya bukanlah orang penting lagi dalam hidup suaminya. Rasa sakit hati selalu ia terima dengan terpaksa. Hatinya terlalu lelah untuk menanggapi ataupun melawan.
Kontraksi berikutnya datang lebih kuat. Dia hampir jatuh, tangannya mencengkeram meja untuk bertahan. Nafasnya memburu, matanya berkaca-kaca. Air mata perlahan jatuh tanpa suara.
“Mas… aku mohon…antar aku ke rumah sakit, sssshhhh aku sudah ga kuat....” kini suaranya nyaris seperti bisikan yang patah,
Sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seolah sedang menghitung setiap detik penderitaannya.
Ragil tidak bergerak, tidak menoleh dan tidak peduli.
Di dalam dada Raznalira sesuatu terasa retak. Bukan hanya karena rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya, tapi karena harapan terakhirnya runtuh begitu saja. Hatinya terasa sangat sakit. Dia menatap suaminya lama. Mencoba mencari sedikit saja kepedulian di wajah itu. Namun dia tidak menemukan sosok suami yang dulu ia idamkan.
Akhirnya, ia mengerti. Malam ini dia benar-benar merasa sendiri. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Raznalira melangkah menuju pintu. Setiap langkah terasa seperti melawan tubuhnya sendiri. Rasa sakit menjalar dari perut hingga ke punggung, membuatnya harus berhenti berkali-kali untuk sekadar mengatur napas.
Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu. Sebelum membuka, ia sempat menoleh sekali lagi. Menatap suaminya yang tetap diam tak merubah posisi. Seolah kepergiannya tidak berarti apa-apa.
"Baiklah, kalau Mas tidak mau mengantarku ke rumah sakit, aku akan pergi sendiri…" katanya lirih.
Suaranya tak mampu membuat hati suaminya tergerak untuk menolongnya. Pintu terbuka perlahan, menimbulkan bunyi berderit panjang yang memecah keheningan malam. Itu pun tidak membuat Ragil terpancing untuk melihatnya. Telinga Ragil seolah sudah ditulikan oleh ponsel yang dipegangnya.
Udara luar yang dingin langsung menyambutnya dengan tamparan lembut. Raznalira melangkah keluar berharap ada orang yang dengan tulus menolong dirinya.
"Ya Allah hanya kepada-Mulah aku berlindung, dan hanya kepada-Mulah aku meminta pertolongan. Kun fayakun...apa pun yang terjadi malam ini, semua atas kehendak-Mu..."
Bibirnya terus merapalkan doa kebajikan untuk dirinya dan bayi dalam kandungannya. Dia terus melangkah menuju perjalanan rumah sakit.
Langit gelap tanpa bintang. Sepertinya malam itu akan turun hujan, apalagi petir sesekali menggelegar mengguncang jiwanya. Jalanan sepi. Hanya lampu-lampu redup yang menerangi aspal kosong.
“Bertahan ya, Nak. Kamu harus kuat....” bisiknya sambil memeluk perutnya, air mata mengalir tanpa henti.
“Jangan tinggalin Mama sendiri. Kita harus hidup bersama..." sesekali punggung tangannya mengusap air mata yang jatuh tanpa kompromi.
Langkahnya mulai goyah. Dia hampir saja terpeleset di genangan air yang membuat aspal terasa licin, namun ia tetap memaksakan diri untuk berjalan. Sesekali langkahnya terhenti, meringis saat nyeri di perutnya kembali menyerang secara bertubi.
Disaat yang tepat tiba-tiba dari sebuah rumah yang ia lewati terdengar suara seorang wanita memecah keheningan malam.
“Mbak Razna?”
Seorang wanita berlari mendekat, wajahnya sangat panik saat melihat kondisi Raznalira yang sudah kepayahan.
Raznalira mengangkat wajahnya, menatap wanita setengah baya yang sangat berpengaruh di kampungnya.
"Bu RT...." lirih Razna menggigit bibir bawahnya masih menahan nyeri di perutnya.
“Ya Allah… kamu mau melahirkan? Kenapa sendirian, mana suamimu!" tanya wanita itu sambil melihat kekiri dan ke kanan, tidak ada siapapun di sana.
Raznalira menggeleng tak mampu menjawab. Ia hanya menangis, tubuhnya hampir ambruk. Tubuh Raznalira akhirnya tak lagi mampu bertahan. Lututnya lemas, dan ia hampir jatuh jika saja tangan Bu RT tidak sigap menangkapnya.
“Ya Allah, sabar Razna… tarik napas lalu buang secara perlahan..." ucap wanita itu panik, menopang tubuhnya yang gemetar.
“Pak....Pak! Cepat ke sini!” teriaknya memanggil orang yang ada di dalam rumah.
Seorang pria paruh baya keluar dengan tergesa, wajahnya langsung berubah pucat melihat kondisi Raznalira yang semakin lemah.
“Cepat, kita bawa ke mobil! Ini sudah tidak bisa ditunda! Kita bawa Mbak Razna ke rumah sakit," ujar pak RT sigap.
"Tapi kita harus beritahu suaminya dulu, Pak!" ujar Bu RT mengingatkan.
"Nanti saja. Ini darurat. Jangan sampai warga kita kenapa napa. Sebentar Bapak ambil kunci mobil dulu."
Pak RT langsung masuk rumah lagi untuk mengambil kunci. Tidak lama kemudian Pak RT kembali keluar dan langsung membukakan pintu mobil.
"Ayo Bu Razna, kami antar ke rumah sakit ya!" Bu RT memapah Razna yang masih meringis kesakitan.
Hujan yang sejak tadi hanya mengancam, kini benar-benar turun. Rintiknya berubah deras dalam hitungan detik, seolah langit ikut menumpahkan kegelisahan malam itu. Petir menggelegar, membelah langit.
Kemudian Razna menghentikan langkahnya, menjerit pelan, tubuhnya melengkung menahan kontraksi yang datang semakin teratur.
“Aaahh…!” tangannya mencengkeram lengan Bu RT kuat-kuat.
“Ya Allah Bu...sudah pembukaan itu… cepat Pak!” ujar Bu RT panik, dia pernah berada di posisi warganya.
Dengan susah payah, mereka mengangkat Raznalira ke dalam mobil tua yang terparkir di depan rumah. Pintu ditutup dengan cepat, mesin dinyalakan dengan tangan gemetar.
Mobil melaju membelah hujan. Membawa Razna ke rumah sakit. Akankah Razna dan bayinya selamat?
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...