Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecupan Lama
Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden linen berwarna krem di kamar utama. Cahayanya membentuk garis-garis tipis yang menari di atas sprei sutra yang masih berantakan. Rania menggeliat pelan, merasakan kehangatan yang menjalar di punggungnya. Sebuah lengan kokoh melingkar di pinggangnya, menariknya lebih dekat ke dalam dekapan yang sudah sangat familiar selama tiga tahun terakhir.
"Sudah bangun, Sayang?" suara berat nan serak khas bangun tidur itu berbisik tepat di telinganya.
Rania tersenyum tanpa membuka mata. Bau maskulin yang bercampur dengan aroma sabun cendana tercium kuat dari tubuh suaminya. "Emm... lima menit lagi, Damar. Jadwal operasi pertamaku baru jam sembilan."
Damar terkekeh, getaran di dadanya terasa sampai ke punggung Rania. Ia mendaratkan kecupan ringan di bahu istrinya yang terbuka. "Dokter bedah tidak boleh malas. Pasienmu butuh tangan yang stabil, bukan mata yang masih mengantuk."
Dengan enggan, Rania berbalik badan, kini menghadap suaminya. Wajah Damar tampak begitu tenang. Rahangnya yang tegas tertutup jenggot tipis yang selalu Rania sukai teksturnya. Mata cokelat pria itu menatapnya dengan binar pemujaan yang tidak pernah pudar sejak hari pertama mereka bertemu di kantin rumah sakit tempat Rania menjalani residensi dulu.
"Kamu sendiri? Bukankah ada pertemuan dengan klien di proyek baru itu?" tanya Rania sambil merapikan rambut Damar yang sedikit berantakan.
"Ya. Kontraktor juga tidak boleh terlambat. Bangunan tidak akan berdiri sendiri jika bosnya masih meringkuk di bawah selimut," jawab Damar santai. Ia bangkit dari tempat tidur, memperlihatkan tubuh tegapnya yang atletis. Bagi Rania, Damar adalah gambaran pria sempurna—bertanggung jawab, pekerja keras, dan entah bagaimana selalu punya waktu untuk memasak sarapan untuknya.
Rania memperhatikan punggung suaminya saat pria itu berjalan menuju kamar mandi. Ada sesuatu yang sangat menenangkan dari rutinitas ini. Hidup mereka mungkin tidak bergelimang kemewahan seperti rekan-rekan dokter Rania yang lain, namun rumah ini—sebuah hunian bergaya minimalis yang didesain sendiri oleh Damar—terasa sangat penuh. Penuh dengan cinta, penuh dengan tawa, dan penuh dengan janji masa depan.
Dua puluh menit kemudian, aroma kopi yang baru diseduh dan roti panggang mulai memenuhi udara rumah. Rania sudah rapi dengan kemeja kerjanya, menyisir rambut hitamnya yang sebahu di depan cermin besar di ruang makan. Damar sedang berdiri di depan pemanggang roti, mengenakan kaos polo biru tua dan celana kain yang rapi.
"Telur mata sapi dengan pinggiran renyah, sesuai pesanan Ibu Dokter," ujar Damar sambil meletakkan piring di depan Rania.
"Terima kasih, Chef," balas Rania dengan kerlingan mata. "Kamu tidak makan?"
"Aku sudah minum protein shake tadi. Aku harus berangkat lebih awal karena ada material yang datang jam delapan tepat. Lokasinya agak jauh di pinggiran kota," Damar duduk sebentar di hadapannya, menyesap kopinya sendiri.
Pagi itu terasa sangat normal. Terlalu normal, hingga tak ada satu pun firasat yang mengetuk pintu hati Rania. Mereka mengobrol tentang banyak hal kecil—tentang keran air di dapur yang sedikit merembes, tentang rencana liburan akhir tahun yang masih dalam tahap wacana, hingga tentang tanaman monstera Rania yang mulai menguning daunnya.
"Jangan lupa siram tanamanmu kalau pulang nanti. Sepertinya mereka merindukan perhatianmu," canda Damar.
"Aku akan mencobanya, tapi kau tahu kan jadwalku hari ini padat sekali," keluh Rania sambil mengunyah rotinya.
Damar bangkit, meraih kunci mobil dan tas kerjanya yang tergeletak di kursi sebelah. Ia berjalan mendekati Rania yang masih duduk. Pria itu membungkuk, menumpukan tangannya di sandaran kursi Rania, lalu menatap wajah istrinya dalam-dalam. Sesaat, Rania merasa tatapan itu sedikit lebih lama dari biasanya. Ada semacam kehangatan yang intens, seolah-olah Damar sedang mencoba merekam setiap inci wajah Rania ke dalam ingatannya.
"Ada apa?" tanya Rania, sedikit heran. "Ada sesuatu di wajahku?"
Damar menggeleng pelan. Sebuah senyum tipis—senyum yang paling manis yang pernah Rania lihat terukir di bibirnya. "Tidak. Hanya baru sadar kalau aku beruntung sekali memiliki istri sepertimu, Rania."
Rania tertawa kecil, pipinya sedikit merona. "Tiba-tiba sekali gombalnya? Sudah, cepat berangkat nanti kamu terlambat."
Damar tidak langsung bergerak. Ia mengecup dahi Rania dengan lembut. Kecupan itu lama, penuh perasaan, dan terasa begitu hangat. Kemudian, ia turun ke bibir Rania, memberikan sebuah ciuman perpisahan yang singkat namun sangat berarti.
"Aku mencintaimu, Ran. Selalu ingat itu, ya?" bisiknya tepat di depan bibir Rania.
"Aku juga mencintaimu, Damar. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut," sahut Rania sambil membetulkan kerah baju suaminya.
Damar berjalan menuju pintu depan. Rania mengikutinya dari belakang, menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu saat melihat suaminya masuk ke dalam mobil SUV peraknya. Mesin mobil menderu halus. Sebelum memundurkan mobil keluar pagar, Damar sempat menurunkan kaca jendela, melambaikan tangan, dan melempar sebuah kecupan jauh (blow kiss) ke arah Rania.
Rania membalas lambaian itu dengan senyum lebar hingga mobil itu menghilang di tikungan kompleks perumahan mereka. Ia menarik napas dalam, menghirup udara pagi yang segar, merasa bahwa hari ini akan menjadi hari yang baik. Tidak ada awan mendung, tidak ada burung yang berkicau dengan nada sumbang. Semuanya tampak harmonis.
Kembali ke dalam rumah, Rania membereskan piring sarapan. Ia melihat cangkir kopi Damar yang masih menyisakan sedikit ampas di dasarnya. Ia tersenyum mengingat betapa suaminya itu sangat membenci jika kopinya terlalu manis. Ia juga melihat dompet cadangan Damar yang tertinggal di atas meja kecil dekat pintu, namun ia pikir itu hal biasa. Damar sering meninggalkan barang-barang yang tidak terlalu penting jika sedang terburu-buru.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Rania bersenandung kecil mengikuti lagu di radio. Ia bahkan sempat mengirimkan pesan singkat pada Damar saat di lampu merah.
“Semangat kerjanya, Sayang! Kabari kalau sudah sampai lokasi proyek ya.”
Pesan itu terkirim. Tanda centang dua terlihat di layar ponselnya. Rania memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas tanpa menunggu balasan, karena ia tahu Damar sangat patuh pada aturan tidak menggunakan ponsel saat menyetir.
Setibanya di rumah sakit, Rania langsung tenggelam dalam rutinitasnya yang padat. Pasien pertama, seorang pria paruh baya dengan masalah batu empedu, sudah menunggunya. Ia melakukan prosedur bedah selama dua jam dengan tingkat fokus yang tinggi. Keluar dari ruang operasi, ia memeriksa ponselnya.
Belum ada balasan.
Rania mengernyit sedikit. Biasanya, Damar akan membalas dengan emoji singkat atau setidaknya kata "Ok" dalam waktu satu jam setelah sampai. Mungkin sinyal di lokasi proyek sedang buruk, pikirnya mencoba rasional. Lokasi pembangunan di pinggiran kota memang sering kali sulit dijangkau jaringan seluler.
Jam istirahat makan siang tiba. Rania mencoba menelepon.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...”
Suara operator yang datar itu entah mengapa membuat dada Rania sedikit berdesir. Ia mencoba sekali lagi, namun hasilnya tetap sama. Ia mencoba berpikiran positif. Mungkin baterai ponsel Damar habis dan ia lupa membawa pengisi daya. Damar adalah pria yang sangat sibuk jika sudah berada di lapangan; ia sering kali lupa segalanya jika sudah berhadapan dengan gambar teknis dan para pekerja.
Sore hari menyapa. Langit Jakarta mulai berubah warna menjadi oranye kemerahan. Pekerjaan Rania telah selesai. Ia sudah melepas jas putih dokternya dan bersiap untuk pulang. Ia menatap layar ponselnya lagi. Masih nihil. Pesan yang ia kirim pagi tadi masih tetap berada di status "terkirim" tanpa tanda telah dibaca (centang biru tidak aktif, namun biasanya Damar selalu membalas dengan cepat).
Rania mencoba menghubungi kantor Damar.
"Halo, dengan kantor PT Bangun Sejahtera? Saya Rania, istri Pak Damar. Apakah Pak Damar masih di sana?"
"Oh, selamat sore Ibu Rania. Pak Damar tadi pagi memang izin langsung ke lokasi proyek di area Cikarang, Bu. Beliau tidak mampir ke kantor hari ini," jawab staf administrasi dengan sopan.
"Apakah ada staf lain yang ikut bersamanya?" tanya Rania, berusaha menekan nada cemas di suaranya.
"Setahu saya beliau berangkat sendiri, Bu. Katanya ingin mengecek beberapa hal secara personal sebelum tim besar datang besok. Ada apa ya, Bu?"
"Oh, tidak apa-apa. Hanya memastikan saja. Terima kasih ya," Rania menutup telepon dengan tangan yang sedikit gemetar.
Ia segera melajukan mobilnya pulang. Di pikirannya, ia membayangkan Damar mungkin sudah ada di rumah, sedang mandi atau mungkin tertidur karena kelelahan, dan ponselnya mati karena benar-benar kehabisan daya. Ia membayangkan suaminya akan menyambutnya di depan pintu dengan permintaan maaf karena lupa memberi kabar.
Namun, saat mobil Rania memasuki halaman rumah, jantungnya seolah berhenti berdetak. Pagar rumah masih tertutup rapat, persis seperti saat ia meninggalkannya pagi tadi. Garasi mobil di sebelah rumah kosong melompong. Tidak ada SUV perak di sana.
Rumah itu gelap. Lampu teras yang biasanya dinyalakan Damar jika ia pulang lebih awal, masih padam. Rania masuk ke dalam rumah dengan kunci cadangannya. Keheningan menyambutnya seperti tamparan dingin di wajah.
"Damar?" panggilnya. Suaranya bergema di ruang tamu yang sunyi.
Tidak ada jawaban.
Rania memeriksa dapur. Piring bekas sarapan yang ia cuci pagi tadi masih tertata rapi di rak. Tidak ada gelas tambahan atau tanda-taman bahwa ada orang yang masuk ke rumah ini sejak ia pergi. Ia berlari ke lantai atas, ke kamar mereka. Semuanya masih sama. Sprei yang sedikit kusut, aroma parfum Damar yang mulai menipis, dan pakaian tidurnya yang tersampir di kursi.
Ia kembali mencoba menelepon. Berkali-kali. Namun hanya suara operator yang terus menyambutnya dengan nada yang semakin terdengar mengejek di telinganya.
Rania duduk di tepi tempat tidur, menggenggam ponselnya erat-erat. Ia teringat kembali pada kecupan dahi itu. Kecupan yang lama. Kata-kata "Aku mencintaimu, Ran. Selalu ingat itu, ya?".
Saat itu, kata-kata itu terdengar seperti ungkapan cinta biasa. Namun kini, di tengah kegelapan rumah yang sunyi, kata-kata itu mulai terdengar seperti sebuah salam perpisahan. Rania menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran buruk yang mulai merayap masuk.
Tidak mungkin. Damar tidak akan pergi begitu saja. Dia mencintaiku. Dia bahagia bersamaku. Ini pasti hanya masalah pekerjaan. Mobilnya mogok, atau dia kecelakaan?
Pikiran tentang kecelakaan membuat Rania segera menghubungi Aris, sahabat masa kecilnya yang bekerja di kepolisian.
"Aris... tolong aku. Damar belum pulang. Ponselnya mati. Tolong cek apakah ada laporan kecelakaan mobil SUV perak dengan plat nomor B 1234 DMR hari ini," suara Rania pecah.
Pagi yang begitu biasa, dengan kecupan yang begitu manis, tiba-tiba berubah menjadi awal dari sebuah labirin panjang yang akan mengubah hidup Rania selamanya. Di luar, malam mulai jatuh sepenuhnya, membawa serta ketakutan yang belum pernah Rania rasakan sebelumnya. Suaminya yang lembut, yang bertanggung jawab, yang menciumnya dengan penuh perasaan pagi tadi, kini telah hilang seolah-olah ditelan oleh bumi.