NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Bisnis

Malam turun perlahan di atas gedung-gedung pencakar langit Jakarta, menyelimuti kota dengan selimut cahaya lampu neon yang dingin. Di lantai eksekutif Mahardika Group, Erlangga akhirnya menutup laptopnya dengan suara klik yang tegas. Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Ia menyandarkan tubuhnya sejenak ke kursi kulit, mengusap wajahnya yang tampak pucat. Hari itu terasa sangat panjang, dan lelah yang ia rasakan kali ini berbeda, seperti ada beban tak kasat mata yang menekan pundaknya sejak kejadian di danau tempo hari.

Tanpa banyak pikir, ia berdiri, menyambar jas hitamnya, dan berjalan menuju basement. Mobil sport hitamnya terparkir sunyi di sudut khusus. Tanpa supir, Erlangga masuk ke kursi kemudi, menyalakan mesin yang menderu halus, dan meluncur keluar. Malam ini, ia ingin memegang kendali penuh atas hidupnya, meski hanya dalam bentuk putaran setir dan injakan gas.

Perjalanan menuju café bar mewah di Jakarta Selatan itu berlangsung dalam diam. Setibanya di sana, Erlangga keluar dari mobil dan memberikan kunci kepada petugas valet dengan gerakan mekanis. Di depan pintu masuk, seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas abu-abu sudah menunggunya.

"Selamat malam, Mr. Erlangga. Silakan lewat sini, Mr. Dong sudah menunggu di ruangan paling privat kami," ucap asisten itu sembari membukakan pintu.

Mereka berjalan menyusuri lorong temaram yang sunyi, dihiasi ornamen kayu mahoni dan lampu dinding yang redup. "Mr. Dong sangat mengapresiasi kesediaan Anda untuk bertemu di waktu selarut ini," asisten itu mencoba membuka percakapan kecil.

"Saya tidak datang untuk berbasa-basi," jawab Erlangga dingin, langkah kakinya berdentum mantap di atas karpet tebal. "Pastikan saja Mr. Dong siap dengan proposalnya dan jawaban yang logis."

Begitu pintu jati ruangan privat dibuka, aroma cerutu dan parfum mahal langsung menyambutnya. Mr. Dong duduk di sofa besar dengan draf dokumen di atas meja marmer. "Ah, Sang CEO muda yang legendaris. Silakan duduk, Erlangga," sapa Mr. Dong dengan tawa yang terdengar palsu di telinga Erlangga.

Erlangga duduk tanpa senyum. Mr. Dong mengulurkan tangannya "Senang bertemu denganmu", terjadi keheningan sebelum beberapa saat baru di balas oleh Langga.

Tanpa basa-basi ia langsung menarik dokumen yang di siapkan dan membacanya dalam diam dan jeli. Ruangan itu seketika menjadi sunyi, hanya terdengar suara lembaran kertas yang dibalik. Tiba-tiba, Erlangga melemparkan berkas itu kembali ke atas meja dengan suara keras.

"Apa maksud dari poin nomor empat ini, Mr. Dong?" tanya Erlangga, suaranya rendah namun tajam seperti silet.

Mr. Dong mengernyit, mencoba mempertahankan wajah tenangnya. "Itu adalah pembagian risiko operasional yang wajar untuk proyek sebesar ini, Erlangga."

"Wajar?" Erlangga tertawa kecil, suara yang sarat akan penghinaan. "Anda meminta Mahardika Group menanggung delapan puluh persen biaya jika terjadi kendala regulasi, sementara keuntungan dibagi rata lima puluh persen? Anda pikir saya sedang menjalankan yayasan amal untuk pengusaha yang tidak kompeten seperti Anda?"

"Dengar dulu, Erlangga. Proyek di pelabuhan ini memiliki kompleksitas tinggi—"

"Dan kompleksitas itu seharusnya membuat Anda bekerja lebih keras, bukan mencari celah untuk mencurangi mitra Anda!" potong Erlangga tegas. Ia memajukan tubuhnya, menatap langsung ke mata Mr. Dong. "Dengar baik-baik. Saya tahu Anda sedang terhimpit utang di bank Singapura. Anda butuh nama Mahardika untuk menyelamatkan reputasi Anda. Jika Anda mencoba menyelipkan klausul sampah seperti ini lagi, saya akan memastikan proyek ini mati sebelum matahari terbit besok."

Suasana ruangan mendadak mencekam. Asisten Mr. Dong yang berdiri di sudut ruangan tampak tegang. Mr. Dong terdiam, keringat dingin mulai terlihat di pelipisnya. Pria tua itu akhirnya menghela napas panjang dan melunak. Ia tahu ia tidak bisa menang melawan insting predator Erlangga.

"Baiklah, baiklah. Anda memang keras kepala, tapi Anda benar," ucap Mr. Dong sembari memberi isyarat pada asistennya. "Ubah poinnya sekarang. Sesuai keinginan Mr. Erlangga."

Setelah dokumen diperbaiki dan ditandatangani, Mr. Dong tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. "Mari kita lupakan ketegangan tadi. Bisnis adalah bisnis, tapi pertemanan adalah hal lain. Mari bersulang untuk kesepakatan ini."

Seorang pelayan masuk membawa nampan berisi dua gelas kristal dengan cairan berwarna amber gelap. Erlangga menatap gelas itu sejenak. Secara formalitas, ia tidak bisa menolak bersulang setelah kesepakatan tercapai. Ia mengangkat gelasnya, menyentuhkannya ke gelas Mr. Dong, dan meminumnya hingga separuh.

Awalnya, rasa hangat menjalar di tenggorokannya. Namun, hanya dalam hitungan menit, rasa hangat itu berubah menjadi bara api yang membakar saraf. Dunianya mulai bergoyang. Napasnya memberat dengan cepat.

"Ada apa, Erlangga? Kamu kelihatan pucat," tanya Mr. Dong dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi sangat santai, terlalu santai.

Erlangga mencoba berdiri, namun kakinya terasa seperti jeli. "Apa... yang kamu berikan padaku?" gumamnya serak.

Pintu ruangan terbuka. Tiga orang wanita dengan pakaian mencolok dan riasan tebal masuk. Mr. Dong bersandar di sofanya, menyesap minumannya dengan puas. "Hanya sedikit bantuan untuk membuatmu rileks, Erlangga. Kamu terlalu tegang. Nikmati malam ini. Jika berita tentang CEO Mahardika yang bersih tertangkap kamera sedang berpesta liar di sini tersebar, bayangkan betapa mudahnya bagiku untuk mengaturmu di masa depan."

Erlangga mengepalkan tangan, mencoba menghalau rasa pening yang luar biasa. Salah satu wanita itu mendekat, mencoba mengelus lengannya.

"Jangan... sentuh!" bentak Erlangga. Ia mengibaskan tangannya dengan kasar hingga wanita itu terjatuh menabrak kursi.

Amarah meledak di dada Erlangga, melampaui rasa panas yang membakar tubuhnya. Ia menerjang maju, mencengkeram kerah kemeja Mr. Dong dan menyeret pria tua itu hingga terangkat dari sofanya.

"Anda... benar-benar... berani," desis Erlangga tepat di wajah Mr. Dong. Matanya memerah, menunjukkan tatapan monster yang sedang terbangun. "Besok pagi, saya akan pastikan seluruh aset Anda dibekukan. Saya akan menghancurkan hidup Anda hingga Anda tidak mampu membeli sepotong roti pun di pinggir jalan. Ini janji seorang Mahardika!"

Erlangga menghempaskan Mr. Dong hingga pria itu jatuh terjungkal ke belakang meja. Ia berbalik untuk keluar, namun asisten Mr. Dong sudah berdiri di depan pintu, menghalangi jalan.

"Anda tidak bisa pergi, Pak. Kondisi Anda berbahaya untuk menyetir," ucap asisten itu sembari mencoba mencengkeram bahu Erlangga.

"Minggir, atau aku bunuh kamu!" ancam Erlangga, suaranya parau namun penuh otoritas.

Asisten itu tidak bergeming. Ia justru mencoba memegangi kedua tangan Erlangga. Dalam kondisi setengah sadar, insting bela diri Erlangga mengambil alih. Ia melayangkan sundulan keras ke hidung pria itu hingga terdengar suara tulang yang retak. Darah muncrat ke kemeja putih Erlangga.

Saat asisten itu terhuyung, Erlangga menghantamkan sikunya ke leher pria itu, lalu menendang perutnya dengan sisa tenaga yang ada. Perkelahian singkat itu terjadi dengan brutal di lorong sempit tersebut. Erlangga tidak peduli lagi pada rasa sakit di tubuhnya. Ia hanya ingin keluar.

Ia berhasil meraih gagang pintu, memutarnya dengan paksa, dan menendang daun pintu hingga terbuka. Erlangga berlari goyah melewati area bar yang riuh. Orang-orang menatapnya dengan bingung, seorang pria berkelas dengan kemeja berantakan dan noda darah, namun tidak ada yang berani menghalangi.

Di luar, ia menyambar kunci mobil dari meja valet dengan kasar, membuat petugas di sana ketakutan. Erlangga masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu, dan menguncinya dari dalam.

"Brengsek...!" ia berteriak, memukul setir dengan tangannya yang berdarah.

Napasnya tersengal, penglihatannya kini benar-benar kabur, hanya menyisakan bayangan lampu-lampu jalan yang memanjang. Panas di tubuhnya semakin menyiksa, namun Erlangga tidak peduli. Ia menginjak gas sedalam-dalamnya. Mobil hitam itu meraung, melesat meninggalkan pelataran café bar dengan kecepatan yang membahayakan nyawanya sendiri.

Ia tidak tahu harus ke mana. Ia tidak memikirkan tujuan. Pikirannya hanya satu, lari. Lari dari pengkhianatan, lari dari tekanan orang tuanya, dan lari dari rasa panas yang mencoba mencuri kesadarannya. Mobil itu terus melaju membelah malam, menembus kegelapan tanpa memedulikan arah, menuju satu takdir yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.

1
Faiz Utama
gws hp
Fatma
Kasian hp nyaa
Nadia Julia
Enaknya punya temen kyk Rian
M. ZENFOX: Author kak💪
total 1 replies
Nadia Julia
Semangat thorr, aku tunggu updatenya ;)
M. ZENFOX: Siapp
total 1 replies
Nadia Julia
Jail amat
Nadia Julia
Perbedaan kael & Erlangga :)
M. ZENFOX: Apatuh?
total 1 replies
Nadia Julia
Jangan pernah pelit untuk memberi intinya, bolee
Nadia Julia
Semangat Thorrr>
M. ZENFOX: Makasih kakkk💪
total 1 replies
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
M. ZENFOX: Makasihh kakk🤩
total 1 replies
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
M. ZENFOX: Tau ya, ngapain diem 😄
total 1 replies
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
M. ZENFOX: hehe🙄😁
total 1 replies
Nessa
gimna nasib zea
M. ZENFOX: Di tunggu ya kakk
total 1 replies
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
M. ZENFOX: Sama kak🥲
total 1 replies
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
M. ZENFOX: Ending tamatnya cepet kak😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!