Di benua Azure, kekuatan adalah segalanya. Namun, ada satu profesi yang paling dihormati dan ditakuti: Alkemis. Mereka yang bisa menciptakan pil roh, obat mujarab, dan racun mematikan.
Raymond adalah cucu dari Alkemis Legendaris yang pernah menyelamatkan dunia, Dewa Alkemis Zhuo Yi. Namun, sejak kakeknya menghilang secara misterius dan klan keluarga mereka dihancurkan oleh aliansi kekuatan jahat, Raymond hidup sebagai orang buangan yang menderita dan dipandang rendah.
Suatu hari, saat hampir dibunuh oleh musuh bebuyutannya, Raymond menemukan sebuah cincin batu giok peninggalan kakeknya. Di dalamnya tersembunyi jiwa sang Dewa Alkemis dan sebuah kitab suci "Formula Penciptaan Semesta".
Dengan warisan ilahi itu, Raymond bangkit dari lumpur. Ia mulai mencium bau bahan-bahan, meramu pil tingkat dewa, dan menumbuhkan kekuatan yang mengguncang langit. Ia berjanji pada dirinya sendiri: Semua yang pernah menginjak-injak martabatnya, semua yang membunuh keluarganya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: MISTERI HILANGNYA MUSUH
Saat pintu terbuka lebar, Raymond siap bertarung kapan saja. Ia mengira Ye Ming dan pasukannya sudah bersiap menyergapnya di luar.
Namun...
Luar biasa sepi.
Lorong-lorong batu yang tadinya gelap dan mencekam, kini hanya diterangi cahaya remang dari kristal di dinding. Tidak ada orang. Tidak ada jejak kaki baru. Tidak ada aura dingin milik Ye Ming.
"Hah? Mereka pergi?" Raymond mengerutkan kening. Ia mengendus udara. Bau darah dan bau es yang menyengat sudah hilang digantikan oleh debu kuno.
"Aneh... Sangat aneh. Dengan sifat Ye Ming yang sombong dan pendendam, dia tidak akan mungkin pergi begitu saja sebelum melihat mayatmu. Dia pasti menunggu sampai pintu ini terbuka," batin Zhuo Yi juga bingung.
Raymond berjalan pelan menyusuri lorong. Ia menemukan mayat-mayat pembunuh yang ia bunuh sebelumnya masih tergeletak di sana, tapi sudah mulai kering.
Tiba-tiba, ia melihat sesuatu yang aneh di dinding. Ada goresan pedang yang baru dibuat, seolah pesan tergesa.
Raymond mendekat dan membaca tulisan energi yang tertinggal di batu itu:
"Kawanan Naga Emas datang. Kami ditarik mundur mendadak. Kita bertemu di Kota Kekaisaran. - Y.M."
Mata Raymond menyipit. "Naga Emas? Pasukan khusus kekaisaran? Jadi mereka dipancing keluar atau ada serangan besar di luar?"
"Sepertinya ada kekacauan besar di luar pintu masuk reruntuhan. Mungkin pasukan akademi atau pasukan kerajaan menyerbu masuk dan memaksa mereka mundur. Untunglah, itu memberimu waktu berharga," kata Zhuo Yi.
"Baguslah. Lebih baik begitu. Aku tidak ingin membunuhnya sekarang juga. Aku ingin dia hidup dan melihat bagaimana aku akan mengambil segalanya darinya."
Raymond terus berjalan menuju jalan keluar. Sepanjang perjalanan, ia melihat banyak jejak pertempuran baru. Dinding hancur, darah kering, dan senjata terbuang. Tampaknya selama Raymond berlatih di dalam, terjadi pertempuran besar di luar sana antara berbagai kekuatan.
Akhirnya, ia sampai di gerbang utama reruntuhan yang luas itu.
Cahaya matahari menyapa matanya. Di luar, pemandangan sangat berbeda dari sebelumnya.
Berkumpul ribuan pasukan berseragam emas dengan lambang naga, mengelilingi seluruh area. Mereka adalah Pasukan Pengawal Kekaisaran. Di sana juga terlihat para guru dan tetua dari Akademi Roh Surgawi yang sedang mengatur situasi.
"Lihat! Ada orang keluar dari dalam!" teriak seorang penjaga.
Semua mata tertuju pada Raymond.
"ITU RAYMOND!"
"Dia hidup! Dia benar-benar keluar!"
Elder Qing yang sedang berdiri di atas panggung langsung melompat turun dan menghampirinya dengan wajah penuh kekhawatiran yang bercampur haru.
"Anak baik! Kau selamat! Kami sudah mengira kau..." Elder Qing memeriksa Raymond, lalu matanya terbelalak. Ia bisa merasakan aura Raymond yang sekarang jauh lebih dalam dan menakutkan. "Kau... kau sudah menembus ke Alam Roh?!"
Suasana langsung gempar.
"APA?! Alam Roh?! Dia masih remaja lho!"
"Monster! Benar-benar monster jenius!"
Raymond tersenyum hormat. "Aku berhutang banyak, Elder. Tapi di dalam sana, aku bertemu dengan orang-orang dari Istana Kematian. Mereka dipimpin oleh Tuan Muda Hitam, Ye Ming."
Wajah para tetua dan komandan pasukan kekaisaran berubah serius mendengar nama itu.
"Kami tahu. Mereka menyerang kelompok murid lain dan mencuri banyak artefak," kata Komandan Pasukan Kekaisaran yang bernama Jenderal Hu. "Tapi pasukan kami datang terlambat, mereka sudah lari masuk ke hutan belantara."
Jenderal Hu menatap Raymond dengan pandangan menilai. "Kau anak yang luar biasa. Karena jasa-jasamu dan kekuatan barumu, Kaisar secara khusus mengirimkan undangan untukmu."
Jenderal Hu menyerahkan sebuah gulungan sutra berwarna emas dengan segel kerajaan.
"Sebulan lagi akan diadakan Turnamen Jenius Se-Benua di Ibukota Kekaisaran. Semua sekte besar dan keluarga bangsawan akan mengirimkan wakil terbaik mereka. Pemenangnya akan mendapatkan gelar 'Jenius Nomor Satu' dan hadiah tanah serta jabatan dari Kaisar sendiri."
Mata Raymond berbinar. "Turnamen Jenius? Di sana pasti ada Ye Ming dan orang-orang Istana Kematian bukan?"
"Tentu saja. Itu adalah panggung di mana semua kekuatan berkumpul," jawab Jenderal Hu. "Kau mau ikut?"
Raymond menggenggam gulungan sutra itu erat-erat. Matanya menyala penuh semangat bertarung.
"Tentu saja aku ikut. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu teman-teman lamaku lagi."