Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19--Bagi bagi Brosur, Dan Calon Pelanggan sultan
Setelah mengantar Siska pulang dan dia mendapati gadis itu terpaku di depan pagar rumahnya sambil memeluk tas belanjaan mewah dengan agak kaku dan malu-malu.
“lo serius kasih ginian ke gue? Gak ada cicilan bunganya kan?”
“anjir dikira gue sebelas dua belas sama rengga sales HCI .. kagak, ambil aja. Itu ucapan terima kasih karena udah bantu milih pakaian.”
“Kalau gitu …” siska menundukkan kepala. “Makasih, ya.”
Jarang-jarang dia bisa jujur kaya gitu sampai naufal terkekeh. “Oke, gue balik dulu ya.”
Dan naufal pun langsung kembali ke rumah. Sesampainya di rumah itu sudah sore hari, dia melihat sang adik Rara sudah pulang dari sekolah dengan seragam SMP milik dia dan tas yang masih berada di pundak.
“kak naufal sudah pulang, selamat datang kak—” sambutan hangat dari Rara terhenti. Mata dia membulat semua. “Kak! Kaka serius belanja baju sebanyak itu?!”
Naufal turun dari Ducati-nya dengan santai, sementara Rara masih berdiri mematung di ambang pintu. Di jok belakang motor sport itu, tumpukan kantong belanjaan mewah bermerek internasional terlihat sangat kontras dengan dinding rumah kontrakan mereka yang sederhana.
"Bukan cuma buat Kamu Rara, ini juga buat kamu sama Ibu," ucap Naufal sambil menenteng kantong-kantong tersebut masuk ke dalam rumah.
"Ibu! Lihat Kak Naufal bawa apa!" seru Rara panik sekaligus girang.
Ibu Sarah keluar dari dapur dengan wajah bingung, namun langkahnya terhenti saat melihat Naufal meletakkan tas-tas belanjaan itu di atas meja kayu mereka.
Naufal kemudian mengeluarkan sebuah kotak berisi blouse sutra elegan untuk Ibunya dan sebuah stel pakaian kekinian yang sangat diidamkan anak-anak SMP seumuran Rara.
"Kak... ini brand yang dipakai artis-artis di mall itu, kan? Harganya pasti berjuta-juta!" Rara menyentuh kainnya dengan ujung jari, seolah takut sentuhannya akan merusak barang mahal itu.
` "Ibu, ini buat Ibu. Biar kalau kita jalan-jalan, Ibu nggak pakai daster terus," canda Naufal sambil menyerahkan kotak tersebut.
Ibu Sarah menatap Naufal dalam-dalam. Ada binar bangga sekaligus rasa tidak percaya. "Naufal, Ibu bersyukur... tapi kamu jangan sampai lupa diri. Simpan uangmu untuk masa depan."
"Tenang Bu, tabungan Naufal masih sangat aman. Anggap saja ini investasi biar kita lebih semangat," jawab Naufal mantap. Naufal bisa melihat betapa bahagianya aura mereka berdua, yang secara otomatis meningkatkan kepuasannya sendiri sebagai seorang kakak dan anak.
Malam harinya, setelah makan malam mewah sisa bungkus dari sore tadi, Naufal duduk sendirian di teras rumah. Ia memandangi motor sport-nya di kegelapan.
Naufal melihat ke arah rumah tetangga-tetangganya, lalu ke arah pusat kota. Di matanya, kini muncul angka-angka transparan yang menunjukkan nilai tanah dan potensi bisnis di setiap jengkal tanah yang ia lihat.
Jadi ini kemampuan sistem analisis nilai miliknya. Tidak hanya melihat psikologis dari manusia, namun nila-nilai dari barang mati pun bisa.
"Gue nggak bisa selamanya tinggal di tempat kaya gini. Ibu butuh udara yang lebih bersih, dan Rara butuh kamar yang lebih luas buat belajar," batin Naufal.
Ia meraih ponselnya. Bukan untuk melihat sosial media, tapi untuk mencari informasi tentang pameran teknologi dan pabrik perakitan komponen elektronik di sekitar Indonesia. Targetnya sudah jelas:
Membangun brand HP sendiri.
Paling tidak itu rencana terakhir, untuk langkah awal dia perlu menyelesaikan misi menjad sales terbaik penjualan nomor satu dari sistem mendapatkan hadiah 1 miliar, mencari pengalaman sebentar di sales OMNI, resign, membentuk toko hp barulah dia berani terjun ke dunia pembuatan HP.
"Kalau gue mau bikin brand sendiri, gue harus kuasai pasarnya dulu dari dalam," gumam Naufal.
***
Paginya sebelum Naufal menuju toko karena dia shift pagi, dia melakukan aktivitas tertentu di lapangan yang cukup ramai.
Flyering alias melakukan pembagian brosur. Dijaman yang serba modern ini, tindakan tersebut cuma semacam formalitas bagi para sales.
Kadang cuma digunakan sebagai ajang foto dan dokumentasi sebab tindak pembagian brosur itu cukup gak ngaruh efeknya—harus Diakui.
Kemungkinan pelanggan tertarik dibawah 30% maksudnya siapa yang akan tertarik ketika tiba tiba anda diberikan sebuah brosur? Terlebih untuk alat teknologi mahal demikian.
Maka dari itu teknik pembagian brosur dinilai cuma berfungsi untuk mencari nomor calon klien, melakukan penawaran secara bertahap.
Pagi ini diagendakan acara pembagian brosur bagi sales OMNI. Dan Naufal tentu saja ikut.
Bagi semua orang ini tindakan percuma. Namun hal itu tidak berpengaruh bagi Naufal, dengan kemampuan sistem. Dia bisa melihat dan melakukan analisis semua orang di lapangan ini.
Di sekelilingnya, beberapa sales dari b tampak malas-malasan, sesekali melempar brosur ke keranjang motor atau hanya sekedar memotret diri sendiri untuk laporan di grup WhatsApp.
Namun, di mata Naufal, lapangan ini bukan sekadar tempat bagi-bagi kertas. Ini adalah papan catur digital.
[Ding!]
[Kemampuan Analisis Nilai: Target Market Aktif!]
Seketika, setiap orang yang lewat di depan Naufal memiliki panel transparan di atas kepala mereka.
Pria paruh baya, Kaos oblong: [Potensi Beli: 5%] - Kebutuhan: Tidak ada.
Mahasiswi, memegang HP layar retak: [Potensi Beli: 45%] - Kebutuhan: Upgrade Kamera & Layar.
Wanita karir, langkah terburu-buru: [Potensi Beli: 55%] - Kebutuhan: Status Sosial & Memori Besar.
Naufal tidak bergerak sembarangan. Ia mengabaikan puluhan orang yang lewat begitu saja, membuat sales di sebelahnya mencibir.
"Woi, Fal! Bengong aja lo? Foto gih, biar dianggap kerjasama koordinator," celetuk seorang sales OMNI bernama Bimo.
Naufal hanya tersenyum tipis. Matanya tertuju pada seorang pria yang sedang duduk di bangku taman, penampilannya sangat sederhana—hanya memakai sandal jepit dan kaos partai yang sudah pudar. Orang-orang akan mengiranya sebagai pengangguran atau tukang kebun.
Namun di mata Naufal:
[Target Terdeteksi!]
[Nama: Pak Hendro]
[Pekerjaan: Tuan Tanah / Juragan Kost]
[Potensi Beli: 99% - Kebutuhan: Hadiah untuk 3 cucunya]
[Kebutuhan mencari handphone dengan memori, kapasitas baterai, dan awet digunakan untuk jangka panjang]
[Nilai Analisis: Sangat Tinggi]
Naufal melangkah mantap, melewati kerumunan dan langsung menghampiri Pak Hendro.
Bimo tertawa melihatnya. "Gila si Naufal, orang kayak gitu ditawarin? Buat makan aja susah kayaknya!”
Naufal mengabaikan tawa Bimo yang menggema di belakangnya. Ia melangkah dengan tenang,
Ia berhenti tepat dua langkah di depan Pak Hendro.
Naufal tidak langsung menyodorkan kertas brosur itu seperti sales amatir.
Ia sedikit membungkuk, menyetarakan tinggi matanya dengan pria tua yang sedang asyik memperhatikan burung-burung di dahan pohon itu. Bagi semua orang mungkin ini cuma diabaikan saja, tapi bagi Naufal yang memiliki kemampuan sistem cuma dia seorang yang tahu bahwa ini adalah calon pelanggan paling potensial!
"Permisi, Pak. Maaf ganggu waktunya!”
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN