Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Di Jalur Hijau
Gedung pusat Feng Group menjulang tinggi menembus awan di jantung kota, sebuah monumen kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan absolut di atas penderitaan rival-rivalnya.
Namun, di lantai paling atas, di dalam ruangan kantor sang CEO yang luasnya setara lapangan basket, atmosfernya terasa sedingin es yang membeku di puncak gunung tertinggi. Tidak ada kehangatan di sini, hanya aroma parfum mahal yang beradu dengan bau kertas dokumen yang kaku.
Feng Yan, pria berusia 27 tahun dengan setelan jas hitam yang dijahit sempurna mengikuti lekuk tubuhnya yang atletis, berdiri mematung di depan jendela kaca setinggi langit-langit.
Dia menatap hamparan lampu kota yang berkelap-kelip di bawahnya seperti ribuan permata yang berserakan, namun pikirannya jauh melampaui gemerlap itu. Wajahnya yang tegas, dengan rahang yang kokoh dan mata yang sedalam samudra di musim dingin, terpantul jelas di kaca.
Bagi dunia luar, Feng Yan adalah definisi sukses yang sempurna. Seorang jenius bisnis yang membawa Feng Group ke puncak kejayaan dalam waktu singkat, melibas semua kompetisi dengan tangan besi.
Namun, di balik topeng kesempurnaan itu, Feng Yan merasa hampa. Hidupnya hanyalah deretan angka yang membosankan, grafik saham yang naik turun, dan yang paling menyakitkan: rangkaian pengkhianatan dari kakaknya sendiri, Feng Yao, yang haus akan harta dan kedudukan hingga tega menjual nuraninya sendiri.
"Tuan Muda, mobil sudah siap di lobi bawah. Pertemuan dengan dewan direksi untuk penandatanganan akuisisi Mandala Group akan dimulai sepuluh menit lagi," suara Chen Lian terdengar datar namun penuh kepatuhan di belakangnya. Chen Lian adalah satu-satunya orang yang masih dipercaya Feng Yan di tengah lautan pengkhianat ini.
Feng Yan tidak langsung berbalik. Dia hanya mengangguk pelan, jemarinya yang panjang merapikan kancing lengan kemeja emasnya dengan gerakan mekanis. "Lian, apakah kau merasa malam ini udara terasa terlalu tenang? Seolah-olah langit sedang menahan napasnya sebelum badai besar datang?"
Chen Lian, pria yang selalu setia berada di bayangan Feng Yan, mengerutkan kening tipis. Dia merasakan firasat yang sama, namun profesionalismenya menang. "Mungkin hanya kelelahan Anda, Tuan Muda. Jadwal kita sangat padat hari ini, dan tekanan dari dewan direksi memang sedang tinggi-tingginya."
Feng Yan menghela napas panjang, sebuah embun tipis terbentuk di kaca di depannya. Dia tidak tahu bahwa malam itu, takdir sedang menyiapkan sebuah lelucon besar—sebuah tragedi yang sudah dirancang dengan rapi oleh darah dagingnya sendiri.
Feng Yao tidak ingin dia sampai di ruang rapat itu. Kakaknya ingin dia menghilang selamanya dari silsilah keluarga Feng.
Iring-iringan dua mobil mewah itu meluncur membelah jalanan pinggiran kota yang mulai sepi. Lampu jalan yang remang-remang di area industri tua itu seolah memberikan isyarat akan datangnya maut yang mengintai di balik bayangan pabrik-pabrik tua.
Feng Yan duduk di kursi belakang, mencoba memejamkan mata sejenak, sementara Chen Lian duduk di samping supir, matanya tetap waspada menatap spion setiap detik.
Tiba-tiba, dari arah jalan tikus di sebelah kanan yang gelap gulita, sebuah truk kontainer raksasa melaju kencang tanpa menyalakan lampu peringatan. Mesinnya menderu seperti monster kelaparan yang sedang mengejar mangsanya.
"TUAN MUDA, AWAS! ADA PENYELUSUP!" teriak Chen Lian dengan suara parau.
Semuanya terjadi begitu cepat, seolah waktu melambat hanya untuk memperlihatkan kengerian itu. Supir Feng Yan mencoba membanting setir ke kiri sekuat tenaga hingga ban mobil berdecit memekakkan telinga, namun moncong baja truk itu sudah menghantam bagian samping mobil dengan kekuatan ribuan ton.
BRAKKKKKK!
Dentuman logam yang beradu menghancurkan kesunyian malam dengan suara yang memekakkan gendang telinga. Ledakan hebat terjadi saat tangki bahan bakar mobil pengawal di belakang mereka tersambar percikan api.
Mobil yang ditumpangi Feng Yan terpental hebat, berguling berkali-kali di aspal yang kasar, menciptakan percikan api yang menyambar kegelapan, hingga berakhir dalam posisi terbalik di pinggir parit yang berlumpur.
Kaca pecah berserakan seperti kristal maut di jalanan. Asap hitam mengepul tebal ke langit malam, berbaur dengan aroma bensin yang tajam dan bau karat darah yang mulai merembes perlahan ke tanah kering.
Tak jauh dari lokasi kejadian, seorang polisi lalu lintas bertubuh gagah sedang berpatroli dengan motor besarnya. Mendengar ledakan dahsyat yang menggetarkan aspal di bawah rodanya, dia langsung memutar arah tanpa ragu. Polisi itu bernama Reyhan.
Reyhan adalah tipe polisi yang tidak banyak bicara namun memiliki insting setajam silet. Sebagai bagian dari kepolisian yang sering menangani kasus-kasus pelik—yang namanya juga diam-diam tercatat dalam berkas misterius Benang Merah Takdir Berdarah—dia tahu bahwa ledakan di area sesepi ini bukanlah kecelakaan biasa karena rem blong.
Reyhan menghentikan motornya dengan gaya drift yang sempurna, menyalakan lampu rotator merah-biru yang membelah kegelapan seperti pedang cahaya.
Dia segera menghubungi markas dan ambulans melalui radio di bahunya. "Pusat, ada kecelakaan hebat di Jalur Hijau Sektor 7. Butuh ambulans segera! Kode Merah, ada potensi sabotase dan korban jiwa kelas atas."
Tanpa menunggu balasan dari pusat, Reyhan melompati pembatas jalan dengan gerakan lincah. Dia melihat mobil mewah yang ringsek itu. Kondisinya mengerikan, hampir tidak menyerupai bentuk mobil lagi.
Reyhan segera mengeluarkan garis polisi dari kotak motornya dan memasangnya dengan sigap untuk mengamankan lokasi dari warga atau antek-antek musuh yang mungkin datang untuk memastikan kematian korban.
"Menjauh! Ini area terlarang! Beri ruang untuk petugas jika kalian tidak ingin berurusan dengan hukum!" teriak Reyhan dengan suara baritonnya yang berwibawa, membuat beberapa warga yang baru saja ingin mendekat langsung menciut.
Dia kemudian merangkak mendekati bangkai mobil yang masih panas. Di sana, di dalam kabin yang hancur, dia melihat dua pria bersimbah darah.
Pria yang mengenakan jas mahal itu terjepit di kursi belakang dalam posisi yang menyakitkan, napasnya tersengal-segal dengan luka robek besar di perutnya yang terus memuntahkan darah segar.
Sementara pria di depan, Chen Lian, tampak tidak sadarkan diri dengan luka hantaman keras di kepala yang mengeluarkan cairan bening bercampur darah.
Reyhan mencoba memeriksa denyut nadi pria berbaju jas itu—Feng Yan. Tangannya yang kasar namun cekatan menyentuh leher Feng Yan. Nadinya sangat lemah, nyaris tak terasa, seperti lilin yang ditiup angin kencang.
"Tahan, Bung. Jangan menyerah sekarang jika kau masih ingin membalas dendam. Ambulans sebentar lagi sampai," gumam Reyhan. Matanya menyipit melihat ban truk yang meninggalkan bekas rem paksa yang sangat aneh di aspal.
Sudut hantamannya terlalu presisi. "Truk ini sengaja menabrak untuk membunuh, bukan karena kehilangan kendali," batinnya dengan geram yang tertahan di tenggorokan.
Darah terus mengucur, membasahi tangan Reyhan hingga terasa hangat dan lengket. Di tengah keheningan mencekam dan suara sirine ambulans yang mulai terdengar meraung-raung di kejauhan, Reyhan merasakan sesuatu yang aneh secara tiba-tiba.
Angin malam mendadak berhenti berembus secara total. Langit di atas lokasi kecelakaan seolah bergetar hebat, memberikan aura mistis yang membuat bulu kuduk polisi gagah itu berdiri tegak.
Reyhan menatap wajah Feng Yan yang pucat pasi bak mayat hidup. Dia tidak tahu bahwa di saat kritis itu, garis takdir pria ini sudah benar-benar putus sebagai manusia biasa. Namun, di dimensi lain yang tak kasat mata, sesuatu yang jauh lebih besar, lebih kuno, dan lebih narsis sedang bersiap untuk mengambil alih raga yang hancur itu.
"Siapa pun kau yang ada di dalam sana, bertahanlah," bisik Reyhan untuk terakhir kalinya, sesaat sebelum paramedis datang dengan tandu dan oksigen, mengangkat tubuh Feng Yan yang sudah mulai mendingin ke atas ambulans yang melesat menembus kegelapan malam.
Malam itu, di bawah pengawasan Polisi Reyhan yang bermata tajam, dua nyawa secara medis dinyatakan hampir berakhir di atas kertas laporan.
Namun bagi dunia mistis yang tersembunyi, ini hanyalah awal dari sebuah legenda baru: kebangkitan sang Rubah Ekor Sembilan dan Tuan Muda Ling Chen di puncak tahta dunia modern yang jauh lebih kejam daripada medan perang kuno mana pun.