NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1: Pria Berpayung Hitam

Suara air hujan yang menghantam atap seng kedai terdengar seperti rentetan peluru. Bising, tidak teratur, dan sangat menyebalkan. Senja mengelap meja kayu di depannya dengan gerakan yang terlalu bertenaga, seolah-olah noda kopi membandel itu adalah sumber dari segala kesialannya hari ini.

​Sial, kenapa bocornya makin parah? batin Senja sambil melirik ember plastik di pojok ruangan yang sudah hampir penuh. Kalau hujan tidak berhenti sampai malam, aku bisa-bisa harus berenang di dalam kedaiku sendiri.

Ia menghela napas panjang, menatap laci kasir yang hanya berisi beberapa lembar uang lecek. Tagihan listrik yang belum terbayar seolah sedang melotot ke arahnya dari tumpukan nota di laci bawah. Nenek Selalu bilang tempat ini adalah rumah, tapi belakangan, rumah ini lebih terasa seperti perangkap yang siap menjepitnya kapan saja.

​Lonceng pintu berbunyi, beradu dengan suara hujan dari luar.

​Senja mendongak. Di ambang pintu, seorang pria berdiri tegak. Payung hitam besar di tangannya masih mengucurkan air, menciptakan genangan yang langsung merusak kebersihan lantai yang baru saja ia pel. Pria itu mengenakan kemeja putih yang tampak begitu kaku dan mahal, sangat kontras dengan dinding kayu kedai yang mulai melapuk.

Hebat. Satu lagi orang kaya yang salah masuk alamat, gerutu Senja dalam hati. Ia melempar lapnya ke atas meja. "Kami hampir tutup. Kalau cuma mau numpang berteduh, silakan di kursi pojok."

​Pria itu tidak menyahut. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang sangat terukur, seolah setiap inci lantai ini sudah masuk dalam perhitungannya. Ia duduk di kursi bar, tepat di hadapan Senja. Sorot matanya dingin, tajam, dan sama sekali tidak ramah.​Senja memperhatikan dalam diam. Pria ini jelas bukan target pasar kedainya yang biasanya diisi mahasiswa nugas atau bapak-bapak yang numpang ngudud.

​​"Kopi hitam. Tanpa gula," suaranya berat, dengan nada yang tidak menerima penolakan.

​Senja mendengus, cukup keras untuk menunjukkan bahwa ia tidak terkesan. Ia berbalik, menyiapkan portafilter. Kopi hitam tanpa gula? Klasik. Biasanya orang-orang seperti ini memesan kepahitan karena mereka terlalu muak dengan kepalsuan hidup mereka sendiri, pikir Senja sinis sambil mulai menggiling biji kopi.

Saat mesin espresso tua itu mulai mengerang—suara yang selalu membuat Senja khawatir kalau-kalau itu akan menjadi bunyi terakhir mesin itu sebelum meledak—ia merasakan tatapan pria itu menusuk punggungnya. Suasananya menjadi sangat kaku. Oksigen di dalam kedai mendadak terasa tipis.

​"Namamu Senja?"

​Senja berjengit. Tangannya hampir saja menyentuh bagian mesin yang panas. Ia mematikan mesin, lalu berbalik perlahan sambil membawa cangkir keramik yang pinggirannya sudah sedikit retak.

Tunggu. Bagaimana dia tahu namaku? Aku bahkan tidak memakai tanda pengenal.

"Siapa Anda?" tanya Senja, meletakkan cangkir itu di depan si pria.

​Pria itu tidak menyentuh kopinya. Ia justru mengeluarkan sebuah map cokelat dari tas kulitnya dan meletakkannya di atas meja yang masih sedikit basah. Di pojok map itu tertera logo yang membuat jantung Senja mendadak berhenti berdetak: PT Cipta Megah.

​"Saya Arka Danadyaksa," ucapnya tanpa ekspresi. "Dan saya tidak ke sini untuk kopi. Saya ke sini untuk memberitahumu bahwa gedung ini akan mulai diratakan bulan depan."

​Senja merasa seolah ada sebongkah es yang dijatuhkan ke dalam perutnya. Dingin dan menyakitkan. Arka tidak menunggu jawabannya, ia membuka map itu dan menunjukkan draf pengosongan lahan.

​Jadi ini orangnya. Algojo yang akan menghancurkan satu-satunya harta yang kupunya, batin Senja. Rasa takut mulai merayap, namun ia segera menutupinya dengan kemarahan. Ia menatap Arka tepat di mata. Mata pria itu tidak menunjukkan sedikit pun keraguan, seolah menghancurkan kenangan orang lain hanyalah agenda sarapan pagi baginya.

​"Keluar," desis Senja. Suaranya rendah tapi bergetar karena emosi.

​Arka sedikit mengangkat alisnya, seolah terkejut melihat seekor serangga berani menggigit sepatunya. "Pilihanmu sederhana, Senja. Ambil kompensasi ini dan pindah, atau biarkan hukum yang menyeretmu keluar dengan tangan kosong."

​"Kopinya gratis, Tuan Arka," Senja melangkah maju, tangannya mencengkeram pinggiran bar hingga kuku-kukunya memutih. "Sekarang silakan bawa sampahmu ini dan pergi. Sebelum saya berubah pikiran dan menyiram kemeja mahal Anda dengan kopi pahit yang Anda pesan."

​Arka berdiri dengan perlahan, menutup mapnya tanpa terburu-buru. Ia menatap noda kopi kecil di meja, lalu kembali menatap Senja. Untuk pertama kalinya, Senja melihat ada kilatan emosi di mata pria itu—bukan amarah, melainkan sesuatu yang lebih mirip rasa penasaran yang tersembunyi di balik dinding es.

​Tanpa bicara lagi, Arka mengambil payung hitamnya dan melangkah keluar, menembus tirai hujan yang semakin lebat.

​Senja berdiri gemetar. Ia menatap genangan air berlumpur di lantai kayu peninggalan neneknya. Kenangan tidak bisa dibeli dengan map cokelat, Arka, bisiknya dalam hati, meskipun di dalam lubang terdalam batinnya, ia tahu bahwa kali ini musuhnya bukanlah waktu, melainkan uang yang tak terbatas

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!