"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Gadis berusia 17 tahun itu berjalan menyusuri gang sempit menuju rumahnya dengan langkah ringan, hampir seperti melompat. Di tangan kanannya, ia menggenggam erat map cokelat berisi surat keterangan lulus. Angka-angka di sana hampir sempurna sebuah deretan nilai A yang ia perjuangkan dengan begadang berbulan-bulan, ditemani segelas teh tawar dan suara mesin jahit Ibunya yang menderu pelan di pojok ruangan. Ia membayangkan ini adalah tiket emas yang akan membawanya ke universitas impian sekaligus mengangkat derajat keluarganya dari garis kemiskinan yang mencekik.
"Ibu pasti bangga," gumamnya dengan senyum lebar yang tak kunjung pudar. Ia sudah membayangkan wajah lelah Ibunya akan berubah cerah, kerutan di dahi wanita itu akan menghilang saat melihat hasil perjuangannya. Calista sudah berencana akan memasak makan malam spesial, meski hanya nasi goreng dengan telur dadar ekstra, untuk merayakan kemenangan kecil mereka. Ia bahkan sudah menyiapkan kalimat kejutan tentang beasiswa penuh yang kemungkinan besar akan ia dapatkan.
Namun, kehangatan itu menguap seketika saat ia mendorong pintu kayu rumah yang tidak terkunci. Bau amis obat yang biasanya tersamar, kini menyerbak tajam, bercampur dengan aroma anyir yang tak biasa.
"Ibu? Calista pulang! Lihat, Bu, nilaiku yang terbaik di sekolah!"
Tidak ada sahutan. Hanya suara detak jam dinding tua yang terdengar mendominasi kesunyian yang mencekam. Calista melangkah ke arah dapur, dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Di atas lantai semen yang dingin, Ibunya tergeletak tak berdaya di dekat meja makan yang kosong. Sebuah gelas pecah di dekatnya, airnya membasahi lantai, seolah menggambarkan pertahanan tubuh Ibunya yang juga baru saja hancur. Napasnya tersengal, pendek-pendek, dan wajahnya sepucat kertas, kontras dengan lantai semen yang gelap.
"Ibu! Bangun, Bu!" Calista menjatuhkan map kelulusannya begitu saja. Kertas-kertas berharga itu berserakan di lantai, terinjak oleh kakinya yang gemetar. Ia tidak peduli lagi pada tinta emas di atas kertas itu.
Ia jatuh berlutut, mengguncang bahu Ibunya dengan panik. Tangan Ibu mencengkeram dadanya sendiri dengan sisa tenaga yang ada, seolah mencoba menahan rasa sakit yang luar biasa hebat di dalam sana. Bibir Ibunya membiru, bergerak-gerak tanpa suara seolah ingin membisikkan sesuatu yang penting namun terhalang oleh rasa sesak. Calista tahu apa artinya ini. Penyakit jantung yang selama ini mereka coba jinakkan dengan obat-obatan murah kembali menyerang dengan lebih ganas, merobek ketenangan yang baru saja mereka bangun dengan susah payah.
"Tolong! Siapa saja, tolong!" teriak Calista ke arah pintu, suaranya pecah oleh air mata yang mendadak tumpah. Tetangga mulai berdatangan, namun dalam pandangan Calista yang kabur, semuanya tampak seperti bayangan hitam yang bergerak lambat.
***
Ruang Tunggu yang Dingin
Suara sirine ambulans yang meraung-raung masih terngiang di telinga Calista saat ia duduk mematung di koridor Rumah Sakit Medika. Ia duduk di kursi plastik yang keras, memandangi ujung sepatunya yang kotor terkena debu jalanan dan sedikit noda air dari rumahnya tadi. Aroma karbol yang tajam dan dinginnya hembusan AC rumah sakit menusuk hingga ke tulang, menambah rasa mual akibat kepanikan yang belum juga reda. Setiap kali pintu ruang IGD terbuka, ia melonjak, berharap ada kabar baik namun sekaligus takut akan kenyataan pahit yang mungkin disampaikan oleh pria berjubah putih di sana.
Seorang perawat dengan langkah terburu-buru menghampirinya. "Keluarga Ibu Sarah? Silakan ke bagian administrasi sekarang untuk mengurus biaya deposit dan persetujuan tindakan darurat."
Calista berdiri dengan kaki yang terasa seperti jeli. Di depan loket kaca yang tebal, seorang petugas administrasi menatapnya dengan pandangan datar, seolah penderitaan adalah rutas harian yang membosankan. Petugas itu menyebutkan deretan angka yang membuat dunia Calista seketika runtuh lebih dalam.
"Lima belas juta... untuk deposit saja?" suara Calista tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena bahagia, melainkan karena horor yang nyata. Angka itu setara dengan biaya hidup mereka selama hampir setahun.
"Iya, Dek. Karena kondisi pasien sangat kritis dan membutuhkan observasi ketat di ICU, prosedurnya memang harus ada jaminan deposit di awal. Apakah ada asuransi atau BPJS yang aktif?" tanya petugas itu tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer yang berkedip-kedip, jemarinya terus mengetik dengan irama yang menyiksa pendengaran Calista.
Calista menggeleng lemah. Kepalanya terasa pening, seperti dihantam godam besar. Jaminan kesehatan mereka sedang bermasalah karena tunggakan premi selama tiga bulan terakhir yang tak sanggup mereka bayar sejak Ibu sering jatuh sakit dan tidak bisa lagi menerima jahitan baju. Di dalam tas sekolahnya, hanya ada uang sisa ongkos angkot dan beberapa lembar uang lima puluh ribuan total tabungan yang ia sisihkan dari uang saku untuk membeli buku kuliah nantinya. Bahkan jika tabungan itu ia kalikan sepuluh, tetap tak akan cukup menembus dinding tebal rumah sakit ini.
Ia menoleh ke arah pintu ruang gawat darurat yang tertutup rapat. Di dalam sana, Ibunya satu-satunya keluarga yang ia miliki, satu-satunya orang yang membelanya saat dunia tidak adil sedang bertaruh nyawa di antara kabel-kabel medis yang dingin. Sementara di tangannya yang gemetar, ia meremas map kelulusan yang sempat ia pungut tadi. Nilai-nilai sempurna di kertas itu terasa seperti ejekan yang kejam. Apa gunanya menjadi yang terpintar jika ia bahkan tidak bisa menebus nyawa Ibunya sendiri? Apa gunanya prestasi jika ujung-ujungnya ia hanya bisa menangis di depan loket kaca?
"Tolong, Mbak... beri saya sedikit waktu. Saya akan cari uangnya. Tolong jangan hentikan perawatannya," bisik Calista lirih, suaranya nyaris hilang ditelan kebisingan rumah sakit. Air matanya jatuh tepat di atas stempel sekolah pada lembar kelulusannya, membuat tinta itu sedikit luntur.
Ia melangkah keluar menuju lobi, menatap langit malam yang mulai gelap dan angkuh. Di kota yang sibuk ini, di tengah hilir mudik orang-orang berpakaian mahal yang melintas, ia merasa benar-benar sendirian. Tidak ada kerabat yang bisa ia mintai tolong, tidak ada aset yang bisa dijual dalam semalam. Rumah mereka hanya sewa, dan perhiasan Ibu sudah lama berpindah tangan ke pegadaian demi biaya sekolah Calista. Malam itu, Calista menyadari dengan pedih bahwa masa dewasanya tidak dimulai dengan pesta kelulusan atau hura-hura, melainkan dengan beban raksasa yang siap menghancurkan pundaknya yang masih rapuh. Ia harus memilih: menyerah pada keadaan yang mencekik, atau melakukan apa saja benar-benar apa saja demi melihat Ibunya kembali membuka mata. Ia tahu, waktu sedang berdetak melawannya, dan setiap detik yang terbuang adalah langkah kaki Ibu yang semakin menjauh menuju keabadian.
Bersambung....