Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Sudah setengah tahun lamanya Abram menderita penyakit kulit misterius yang tak kunjung sembuh. Awalnya hanya muncul sebagai bintik-bintik kemerahan di lengannya, tapi seiring waktu, luka menyebar ke seluruh tubuhnya, dari dahi hingga tumit.
Kulitnya kini penuh dengan nanah kental yang bercampur darah, dan baunya yang menyengat menusuk hidung bahkan dari jarak beberapa meter. Ia sudah tidak bisa menghitung berapa kali ia terbangun di tengah malam karena rasa gatal dan sakit yang menusuk tulang.
Di dapur yang kumuh dan sesak, Abram melihat lemari es yang kosong dan rak makanan yang hanya tersisa roti kering. Ia mengeluarkan tangan yang kulitnya mengelupas, mengambil ember plastik yang sudah lapuk, dan menuangkan sedikit air dari keran.
Air itu tidak akan cukup untuk memasak apa-apa, apalagi sudah tidak ada bahan makanan yang bisa diolah. Hidungnya terasa tersumbat, bukan hanya karena bau dirinya sendiri, tapi juga karena penyakitnya yang membuatnya sering terkena pilek.
"Akhirnya harus keluar juga ya untuk membeli makanan," gumamnya sambil meraih tumpukan baju bekas yang ada di atas kasurnya yang bau.
Ia memakai baju dengan tiga lapis baju agar nanah dan bau busuk tidak terlalu menyebar.
Setelah itu, ia memasang masker kain tebal yang sudah sering ia digunakan, menutupi hidung dan mulutnya hingga hanya mata yang terlihat. Mata Abram yang dulu ceria kini tampak sayup karena nanah juga tumbuh di kelopak matanya.
Di dalam laci meja, ia mengambil sisa uang hasil penjualan tanah terakhir yang ditinggalkan orang tuanya sebelum meninggal dunia.
Saat ia pertama sakit, tanah itu adalah satu-satunya harta yang bisa ia jual untuk biaya pengobatan dan kebutuhan hidup. Sekarang, uang yang tersisa sudah semakin sedikit hanya cukup untuk membeli beras dan lauk sederhana beberapa hari ke depan.
Abram juga tidak bisa bekerja lagi, setiap tempat yang pernah ia datangi untuk mencari pekerjaan langsung menolaknya begitu melihat kondisi kulitnya, bahkan tan yang pernah ia bantu dulu juga menolaknya.
Ia juga sudah berkali-kali berobat ke puskesmas setempat dan bahkan ke dokter swasta yang lebih mahal. Dokter tidak bisa menentukan penyakitnya, beberapa dokter mengatakan itu adalah infeksi jamur yang parah, Dokter yang lain menduga jika penyakit Abram menular.
Obat-obatan yang diberikan tidak pernah memberikan kesembuhan, malah membuat kondisi kulitnya semakin parah, dengan luka yang semakin dalam dan nanah yang semakin banyak keluar.
Beberapa kali Abram merasa ingin menyerah, tapi ingatan akan orang tuanya yang selalu mengajarkannya untuk tidak mudah putus asa membuatnya tetap bertahan.
Setelah siap, Abram membuka pintu rumahnya yang berderit. Ia berjalan dengan langkah lebar agar bisa menghindari bertemu dengan tetangganya. Tapi di kampung yang kecil dan padat penduduk seperti ini, ia pasti bertemu dengan mereka.
Saat ia lewat di depan teras rumah tetangga-tetangganya, suara bisik dan tawa mereka tiba-tiba hilang. Wajah-wajah yang dulu sering tersenyum padanya kini berubah menjadi ekspresi jijik. Beberapa orang langsung menutup hidung dengan tangan atau sapu tangan mereka.
"Ugh! Bau banget! Gimana bisa dia keluar rumah dengan bau seperti itu?" kata seorang ibu muda sambil mengangkat hidungnya tinggi-tinggi.
Abram tetap berjalan dengan yang tenang. Ia tidak sengaja melihat ke arah mereka, dan ketika pandangannya bertemu dengan mata mereka, ia melihat rasa jijik melihatnya.
"Hey Abram, kalau mau pergi ya pergi saja! Ngapain lihat ke arah kami? Muka kamu yang penuh nanah itu menjijikkan, bikin aku mau muntah!" teriak Buk Sri yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan wajah membelalak.
Abram langsung tertegun dengan ucapan buk Sri. Padahal Buk Sri pernah meminjam uang sebesar satu juta rupiah darinya ketika suaminya sakit parah beberapa tahun yang lalu.
Tapi Ketika Abram mencoba untuk memintanya mengembalikan uang tersebut setelah ia mulai kesulitan ekonomi, Buk Sri hanya menjawab dengan nada sombong. "Masa uang segitu aja kamu tagih? Kalau satu ratus juta mungkin iya akan aku kembalikan, dasar pelit!"
Akhirnya, Abram hanya bisa mengikhlaskannya. Tapi sekarang, wanita yang pernah ia bantu justru menjadi orang pertama yang mencaci maki dirinya.
Tanpa berkata apa-apa, Abram mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkahnya. Ia ingin segera sampai di pasar yang ada sekitar dua kilometer dari rumahnya.
Tapi ketika ia hendak menyilang jalan kecil yang menghubungkan kampung dengan jalan raya, sebuah motor yang membawa tumpukan rumput tinggi mendekat ke arahnya dan menabrak Abram membuat pengendara dan Abram sama-sama terjatuh ke tanah.
Brukk!
Suara benturan yang keras membuat beberapa tetangga yang sedang nongkrong di teras rumah berbalik melihat.
Pengendara motor, yang dikenal sebagai Pak Adi terjatuh dengan bokongnya terbentur keras ke tanah yang penuh batu kecil.
"Aduhhh! Sakit banget!" keluh Pak Adi sambil meraih bokongnya yang membengkak.
Abram cepat-cepat berdiri, meskipun tubuhnya terasa sakit karena benturan dan beberapa luka di lengannya mulai mengeluarkan nanah lagi.
"Ah maaf Pak, maafkan saya!" ucapnya lembut, ia mencoba untuk mengulurkan tangan ke arah Pak Adi untuk membantunya berdiri. Tapi tangan itu langsung ditepis dengan keras oleh Pak Adi.
"Jangan sentuh aku dengan tangan busuk kamu itu! Aku tidak mau terjangkit penyakit menular kamu!" Pak Adi berteriak dengan suara keras yang terdengar jelas di seluruh kampung.
Para tetangga yang tadinya hanya melihat dari kejauhan kini mulai berkumpul di sekitar mereka, dengan wajah yang penuh dengan rasa penasaran dan jijik.
"Maafkan saya Pak, saya hanya ingin membantu," kata Abram dengan hati yang tulus.
Pak Adi berusaha berdiri dengan susah payah, wajahnya memerah karena kesakitan dan kemarahan. Ia menatap Abram dengan pandangan yang menyakitkan.
"Membantu? Membantu Gundulmu! Kamu mau aku terjangkit penyakit mu? Dan kamu jalan nggak punya mata ya? Nggak lihat aku membawa beban yang besar, malah kamu menabrakku sembarangan!" Pak Adi semakin marah.
Padahal Pak Adi pernah di bantu oleh mending ayahnya modal untuk peternakan kambing, tapi setelah ayah Abram meninggal, Pak Adi pura-pura tidak tahu dan menganggap peternakan kambing yang kini mencapai 250 ekor adalah usahanya sendiri.
di tunggu kelanjutannya