NovelToon NovelToon
TIDAK ADA MAAF

TIDAK ADA MAAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis Ringkas

Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.

Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.

Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.

Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.

Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.

Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.

Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita yang Dulu Bersinar

Pagi itu langit di luar jendela terlihat kelabu, tertutup awan mendung yang tebal, seolah siap menumpahkan hujan kapan saja. Udara terasa sedikit dingin, menembus celah-celah jendela apartemen yang tertutup rapat. Di depan cermin besar di kamar, Kayla berdiri diam cukup lama. Matanya menatap pantulan dirinya sendiri, namun pikirannya melayang ke mana-mana. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan ia berdiri di sana, hanya saja ada dorongan aneh yang membuatnya enggan beranjak.

Mungkin karena ucapan dan sikap Adrian semalam masih terngiang jelas di telinganya, meninggalkan bekas perih yang belum sepenuhnya hilang. Atau mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama tenggelam dalam peran sebagai istri, ia benar-benar berani menatap dan memperhatikan dirinya sendiri dengan saksama.

Wajahnya masih cantik. Setidaknya, begitulah yang sering dikatakan orang-orang saat melihatnya sekilas. Garis wajahnya masih halus, bentuk matanya masih indah, dan senyumnya masih terlihat manis. Namun, ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang penting, yang dulu menjadi ciri khas dirinya.

Matanya kini terlihat lelah, ada lingkaran gelap samar di bawahnya sisa malam-malam panjang yang sering kali ia lalui dengan susah tidur. Kulitnya terlihat jauh lebih pucat dibanding dulu, kehilangan rona sehat yang dulu selalu ia jaga. Rambut panjangnya yang dulu selalu ditata rapi dan berkilau, kini hanya tergerai asal-asalan, jarang disisir atau dirawat dengan baik. Dan tubuhnya… terasa jauh lebih kurus, tulang-tulangnya mulai terasa menonjol di balik pakaian longgar yang selalu ia kenakan.

Kayla menghela napas panjang, lalu perlahan membuka laci meja rias yang sudah lama tertutup rapat. Di dalamnya tersimpan kotak-kotak riasan lama yang sudah lama tak tersentuh. Lapisan debu tipis kini menempel di atas tutup kotak bedak, lipstik, dan alat-alat rias lainnya. Ia tersenyum kecil, senyum yang terasa begitu miris dan pahit.

Dulu, ia sangat suka sekali berdandan. Bukan karena ingin dipuji orang lain atau ingin terlihat sempurna di mata semua orang, tapi semata-mata karena ia senang melihat dirinya rapi, bersih, dan cantik. Bagi Kayla, berdandan adalah cara sederhana menyayangi diri sendiri. Waktu masih kuliah dulu, banyak teman-temannya yang sering datang meminta tips dan trik merawat diri atau memadukan warna riasan padanya. Ia ingat betul, dululah yang selalu menjadi pusat perhatian, selalu terlihat rapi dan cerah ke mana pun ia pergi.

Sekarang…

Ia mencoba mengingat-ingat, namun rasanya sulit sekali. Entah kapan tepatnya terakhir kali ia memakai lipstik atau sekadar merapikan alisnya sendiri. Semua hal itu perlahan hilang, tergerus oleh waktu, oleh kesibukan mengurus rumah, dan oleh perasaan bahwa tak ada lagi orang yang benar-benar memperhatikannya.

Pikiran Kayla terputus saat ponselnya di atas meja bergetar pelan, diikuti suara notifikasi pesan masuk. Ia mengambilnya, dan melihat nama ibunya terpampang di layar.

(ibu)

"Ibu mau ke rumah nanti sore. Kamu ada?"

Jari-jarinya bergerak cepat membalas pesan itu, menambahkan gambar wajah tersenyum di akhir kalimatnya, berusaha terlihat baik-baik saja.

(Kayla)

"Ada, Bu" 😊

Ia sengaja menambahkan emoji itu, supaya ibunya tidak perlu khawatir atau mencium ada sesuatu yang salah dengannya. Ia tak ingin menambah beban pikiran orang tuanya.

 

Siang harinya, Kayla berjalan keluar menuju supermarket yang letaknya tak jauh dari apartemennya. Langkah kakinya pelan, santai, sambil mendorong troli kecil beroda empat yang bunyinya berirama di lantai keramik. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong rak, mengambil barang-barang kebutuhan rumah tangga yang mulai menipis.

Sebungkus kopi bubuk merek kesukaan Adrian, sabun cuci piring, deterjen, dan beberapa bahan makanan untuk persediaan di kulkas. Tangannya bergerak secara otomatis, hafal betul apa saja yang dibutuhkan rumah ini dan apa saja yang disukai suaminya. Kebiasaan sebagai istri yang patuh dan penuh perhatian sudah mendarah daging dalam dirinya, meski akhir-akhir ini ia sadar Adrian semakin jarang makan di rumah, semakin jarang ada di rumah.

Saat sedang berhenti di bagian buah-buahan, di dekat rak pendingin berisi apel dan pir segar, tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya dengan nada tak percaya.

“Kayla?”

Kayla menoleh kaget. Di sebelahnya berdiri seorang wanita dengan rambut pendek sebahu yang dipotong bergaya modis, sedang menatapnya dengan mata terbelalak lebar.

“Ya ampun… serius ini kamu?!” seru wanita itu lagi, mendekat sambil menatap Kayla dari ujung kepala sampai kaki.

Kayla tersenyum kecil, berusaha mengenali wajah yang terasa familiar itu. “Nina?”

Benar, itu Nina. Teman satu fakultasnya dulu saat masa kuliah. Mereka tidak pernah terlalu dekat atau sering bertemu di luar kegiatan akademik, tapi cukup sering berpapasan dan mengobrol di kelas atau saat acara kampus. Dan seperti kebanyakan orang lain di kampus mereka dulu, Nina pasti masih mengingat Kayla sebagai wanita yang nyaris sempurna. Cantik, pintar, aktif di organisasi, dan selalu menjadi pusat perhatian meski ia tak pernah berusaha mencarinya.

“Astaga, aku hampir nggak ngenalin kamu lho,” kata Nina lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala, ekspresi tak percaya masih terlihat jelas di wajahnya.

“Memangnya aku berubah banget ya?” tanya Kayla pelan, sambil merapikan ujung bajunya.

“Iya banget! Soalnya dulu kamu tuh…” Nina berhenti sejenak, seolah mencari kata yang paling pas, lalu tertawa kecil. “…bersinar banget. Kayak ada cahayanya gitu lho kalau jalan.”

Kalimat sederhana itu membuat Kayla terdiam beberapa detik. Jantungnya berdenyut pelan.

Bersinar.

Sudah lama sekali… sangat lama, tidak ada satu pun orang yang menggambarkan dirinya seperti itu. Kata itu terasa asing, namun sekaligus begitu akrab, mengingatkannya pada sosok diri sendiri yang sudah lama ia tinggalkan.

Nina rupanya masih terus berbicara dengan antusias, matanya berbinar senang bisa bertemu teman lama.

“Aku masih ingat banget lho, waktu dosen mata kuliah Statistik pernah bilang kalau nilai kamu bikin satu kelas merasa minder. Susah payah kita belajar, eh kamu dapet nilai sempurna terus,” kenang Nina sambil tertawa renyah.

Kayla ikut tersenyum, untuk pertama kalinya hari itu senyumnya terasa sedikit lebih tulus dan ringan. “Ah, itu lebay banget sih ceritanya.”

“Nggak lebay sama sekali! Bahkan kakak-kakak senior dulu banyak yang naksir sama kamu, tahu? Cuma pada takut deketin karena kamu kelihatan pinter dan mandiri banget,” tambah Nina lagi.

Kayla hanya bisa menggeleng pelan, tersenyum tipis mendengar cerita masa lalu yang terasa begitu jauh. Obrolan ringan ini, pembicaraan tentang masa kuliah yang sudah berlalu, terasa begitu hangat dan nyaman. Seolah ia sedang diajak berkeliling kembali ke dunia yang dulu menjadi miliknya, dunia yang penuh warna, yang kini sudah lama ia tinggalkan demi satu nama: Adrian.

“Ngomong-ngomong, kamu sekarang kerja di mana, Kay? Masih di bidang akademik atau pindah ke perusahaan swasta?” tanya Nina kemudian, penasaran.

Pertanyaan sederhana itu seketika membuat senyum di bibir Kayla sedikit memudar. Tangannya yang memegang pegangan troli perlahan menggenggam erat, kuku hampir menancap ke telapak tangan.

“Aku… nggak kerja, Nin,” jawabnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Nina tampak bingung, dahinya berkerut. “Hah? Kok nggak kerja? Bukannya dulu kamu semangat banget pengen lanjut S2 bahkan sampai rencana mau kuliah ke luar negeri?”

Kayla mengangguk samar, menatap buah-buahan di rak tanpa benar-benar melihatnya. “Iya… tapi udah berubah rencana. Hidup kan nggak ada yang pasti ya.”

Saat itulah Nina melihat kilau cincin sederhana yang melingkar di jari manis tangan kanan Kayla. Matanya berbinar mengerti.

“Oalah, iya iya! Kamu udah nikah kan? Dulu sempat dengar kabarnya sih.”

“Iya, udah dua tahun lebih,” jawab Kayla pelan.

“Wah, pantas saja. Pasti suami kamu bangga banget ya punya istri kayak kamu. Pintar, cantik, sabar pula. Pasti dia manjain kamu banget ya sampai kamu nggak perlu kerja,” ucap Nina riang, penuh dengan asumsi indah yang biasa orang lain bayangkan.

Entah kenapa, kalimat itu justru membuat dada Kayla terasa nyeri, perih seolah tertusuk jarum halus.

Bangga?

Kayla sendiri bahkan sudah tidak yakin lagi, apakah Adrian masih merasa bangga memilikinya. Apakah Adrian masih melihat segala kelebihan yang dulu pernah ada padanya, atau ia hanya melihat Kayla sebagai sosok yang ada di rumah, yang mengurus keperluannya, dan yang selalu ada saat dibutuhkan saja.

Setelah saling bertukar kabar singkat dan berpamitan, Kayla berjalan keluar menuju tempat parkir sambil membawa kantong-kantong belanjaan yang cukup berat. Langkah kakinya melambat saat melewati deretan kaca besar etalase sebuah toko pakaian. Pantulan dirinya terlihat jelas di permukaan kaca yang bening itu.

Ia melihat sosok wanita yang mengenakan switer sederhana warna kusam, celana panjang longgar, rambut tergerai berantakan, dan wajah polos tanpa sedikit pun riasan. Sosok itu berjalan sendirian, menunduk lesu, tampak tak ada semangatnya.

Dan tiba-tiba, bayangan dirinya di masa lalu melintas cepat di kepalanya.

Ia teringat Kayla yang dulu tertawa lepas bersama teman-temannya di halaman kampus. Kayla yang sibuk berlari mengejar nilai tertinggi dan tenggelam dalam buku-buku tebal. Kayla yang selalu berjalan tegak dan penuh percaya diri di lorong fakultas, seolah dunia ini adalah miliknya.

Dulu, hidupnya terasa begitu penuh, begitu berwarna, dan begitu cerah.

Sekarang…

Ia berhenti sejenak di depan pantulan itu, menatap dirinya sendiri dengan tatapan kosong. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia melakukan sesuatu hanya untuk dirinya sendiri. Semua waktunya, tenaganya, dan pikirannya kini hanya berputar mengelilingi Adrian dan rumah tangga ini.

Sesampainya kembali di apartemen, Kayla mulai membereskan barang belanjaan satu per satu ke dalam lemari dan kulkas. Saat ia sedang menyimpan dompet dan kunci ke dalam laci meja rias, sebuah benda kecil berlapis plastik jatuh terguling ke lantai.

Sebuah foto kecil.

Foto lama, sepertinya diambil saat masa kuliah dulu. Kayla membungkuk perlahan untuk mengambilnya. Di dalam bingkai foto itu, ia melihat dirinya yang sedang tersenyum lebar, sangat lebar hingga matanya menyipit bahagia. Di tangannya, ia memegang sebuah sertifikat penghargaan juara lomba akademik tingkat universitas.

Wanita di dalam foto itu memiliki mata yang hidup, berbinar penuh semangat, penuh dengan mimpi-mimpi besar dan harapan tinggi untuk masa depannya. Kulitnya cerah, rambutnya indah tertata, dan senyumnya memancarkan kebahagiaan yang murni.

Kayla menatap foto itu cukup lama, diam, tak berkedip. Jemarinya perlahan terangkat, mengusap lembut bagian wajahnya sendiri di dalam foto itu, seolah sedang menyentuh sosok sahabat lama yang sudah lama tak ditemuinya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama terkurung dalam kesunyian rumah tangga ini…

Di dalam hatinya yang paling dalam, Kayla merasakan satu rasa yang begitu kuat, begitu menyakitkan namun nyata.

Ia merindukan dirinya yang dulu.

Ia sangat merindukan wanita yang dulu bersinar itu.

1
falea sezi
laki serakah dikira pusat dunia istrimu cm. kamu🤣 wahai tukang selingkuh
Agus Tina
Baru sadar kau Adrian, memang orang akan selalu menggebu2 ketika mengejar sesuatu tapi akan lupa setelah mendapatkannya, bahkan terkadang malah menyia2kan yg sudah m3njadi miliknya bahkan ada yg berusaha untuk menggapai lagi sesuatu yg berbeda ...
Agus Tina
Ceritanya bagus ...
Titien Prawiro
Tinggal kabur sono k Luar Negri biar suamimu klabakkan. apa mungkin tambah senang klo kamu tinggal.
wiwi: sabar sabar🤭
total 1 replies
Titien Prawiro
Balas omongan Suamimu Kayla, kamu juga jgn dekat2 sama Bianca
wiwi: iya kak🤣
total 1 replies
Uthie
Penasaran bagaimana keputusan Kayla . apakah akan tetap mempertahankan.... atau kah.. melepaskan 😏😏😏😏
wiwi: ikuti terus yah Kak, ini update tiap hari kok
total 1 replies
Uthie
Laki egois 😡
harus nya lebih banyak lagi tadi di balikin kata-kata soal kedekatan antara laki dan perempuan kepada si Adrian yg kemarin dia lebih parah deketnya sama si ulet Bianca itu 😡😡👍
Titien Prawiro
Kasih gebrak kan untuk Kayla thor, melawan Adrian gitu atau diemin jgn diajak bicara. meremehkan istri penurut.
Titien Prawiro
Kamu masih muda Kayla, sebelum terlambat mending selidiki suamimu, kalau dia selingkuh lepaskan, dan raihlah cita2mu. jgn mengharap suami gk jujur.
Titien Prawiro
Lelaki klo sdh berubah pasti ada sesuatu. gercep gitu lho.
wiwi: iya kak🤭
total 1 replies
Titien Prawiro
Selidiki jgn lemot gitu, nanti menyesal.
wiwi: makasih udah mampir🙏
total 1 replies
Titien Prawiro
Kalau aku suami seperti itu diemin saja, jgn diladeni apapun itu sarapan minum bahkan jgn diajak bicara, diamkan saja. pengumuman tahu reaksinya.
Titien Prawiro: pengin tahu kok jadi tulisan bisa pengumuman.
total 1 replies
Titien Prawiro
coba selidiki, cobalah intai di kantornya, atau sewa detektif swasta, biar lekas tahu kelakuan suamimu. punya perempuan lagi.
falea sezi
bukti uda ada ss sebagai bukti cerai🤣
falea sezi
cerai aja kay laki mu paleng jg selingkuh
wiwi: iya nih kak🤭
total 1 replies
Agus Tina
Mampir dan di awal cerita bagus ... lanjjut
Uthie
lanjuuttttt lagiiiii Thor 🔥🔥🔥
wiwi: iya kak🤭
total 1 replies
Uthie
Kadang seseorang itu gak nyadar, kalau diri nya juga melakukan hal yg sama😡

dan saat hal tsb di lakukan oleh pasangan nya, dia gak terima..dan merasa sakit!!
tapi sebenarnya jauhh sebelumnya, dia sendiri melakukan hal tsb jauhhh lebih menyakitkan 😡😡
wiwi: betul banget itu kak😄
total 1 replies
Santi Seminar
kesuwen
wiwi: makasih udah mampir kak😍
total 1 replies
Uthie
Ayooo Kayyy... lebih tegas ambil langkah mu 💪😡

biar si Adrian benar2 sadar dia...bahwa telah menyia-nyiakan cinta tulus dan pengabdian kamu selama menjadi istrinya 💪😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!