NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#24

​Lampu-lampu gantung kristal yang melingkar megah di langit-langit mansion keluarga Valerio mulai berpijar keemasan, memantulkan kemewahan mutlak pada pilar-pilar marmer yang kokoh.

Kediaman utama dinasti Valerio di Los Angeles ini selalu memancarkan atmosfer yang kontras—antara kemegahan aristokrat yang kaku dan kehangatan yang dinamis dari para penghuninya.

​Di area ruang tengah yang luas, beralaskan karpet bulu domba impor yang tebal, suasana sore itu tampak begitu hidup. Audrey Valerio, sang mommy yang masih terlihat sangat anggun dan memesona di usianya yang matang, sedang duduk di sofa panjang dengan beberapa lembar dokumen di tangannya.

Di hadapannya, berdiri Ray Murphy Valerio, adik laki-laki paling kecil di keluarga itu. Bocah laki-laki berusia belasan tahun itu sedang berdiri tegak, merapikan setelan jas sekolahnya sembari melakukan latihan debat tiruan dengan sang mommy sebagai persiapan kompetisi antar-sekolah.

​Sementara itu, di sofa tunggal tak jauh dari mereka, Emmeline Valerio duduk sembari menyilangkan kakinya yang jenjang.

Jubah laboratorium kedokterannya sudah dilepas, menyisakan pakaian kasual yang mahal. Sepasang mata tajamnya yang laksana elang tidak lepas memperhatikan sang adik kecil yang sedang berorasi dengan penuh percaya diri.

​"Argumentasimu tentang regulasi ekonomi digital sudah cukup kuat, Ray," Audrey memberikan masukan dengan suara lembut namun sarat akan ketegasan seorang ibu yang cerdas. "Namun, kau kehilangan fokus pada bagian analisis dampaknya di urutan ketiga."

​Sebelum Ray sempat membela diri, Emmeline sudah menyela dengan kekehan rendah yang sarat akan ejekan khas seorang kakak perempuan.

"Dan kau salah melafalkan istilah sosiologis di menit keempat tadi, Ray. Jika kau melakukan kesalahan sekonyol itu lagi di depan dewan juri besok, aku pastikan perwakilan dari sekolah lawan akan menertawakanmu sampai menangis."

​"Kak Emme! Aku tidak salah pelafalan, aku hanya terburu-buru!" protes Ray dengan wajah yang merona kesal, membuat Audrey tertawa kecil melihat interaksi kedua anaknya.

​Tepat saat Ray hendak memulai kembali baris argumennya, ketukan langkah kaki yang berat dan teratur dari arah pintu masuk utama mengalihkan perhatian ketiga orang di ruangan tersebut.

Siluet tinggi tegap seorang pemuda dengan kaos dalam hitam dan jaket denim yang tersampir di bahunya melangkah masuk.

Struktur wajahnya yang tegas, rambut hitamnya yang sedikit acuh tak acuh, serta aura dingin yang menguar darinya langsung menegaskan siapa dia.

​Maximilian Valerio telah pulang.

​"Max..." panggil Emmeline, suaranya mendadak berubah menjadi lebih serius dari biasanya. Sepasang mata gelapnya langsung terkunci pada sosok saudara kembar laki-lakinya itu.

​Sejak jam makan siang tadi, setelah konfrontasi tajamnya dengan Cinmocha Walker di kafetaria Fakultas Kedokteran, isi kepala Emmeline tidak bisa tenang.

Dia telah menahan diri sepanjang hari untuk tidak menelepon atau mengacaukan jadwal Max, menunggu dengan sabar hingga saudaranya itu menginjakkan kaki di rumah.

Emmeline tahu betul watak liar Max, dan dia sangat takut jika malam ini kakaknya itu kembali memilih untuk menghilang dan menginap di apartemen pribadinya tanpa memberikan kejelasan tentang badai rumor yang kini sedang mengguncang seisi kampus.

​Max menghentikan langkahnya di dekat pilar, menatap tiga orang terdekatnya bergantian sebelum pandangannya berlabuh pada Emmeline. "Ada apa?" tanya Max, suara bariton nya rendahnya terdengar sedikit lelah namun tetap tenang.

​"Aku ingin bicara denganmu. Di atas. Sekarang," ucap Emmeline tanpa basa-basi, langsung berdiri dari kursi beludrunya dengan tatapan mata yang tidak menerima penolakan.

​Audrey Valerio yang melihat ketegangan samar di antara sepasang anak kembarnya hanya menyunggingkan senyuman tipis yang bijaksana.

Sebagai seorang ibu, Audrey tahu kapan harus mengintervensi dan kapan harus membiarkan anak-anaknya menyelesaikan urusan mereka sendiri.

Sementara itu, Ray tampak memicingkan matanya penasaran, mencoba menebak drama apa lagi yang sedang melibatkan kakak pertamanya yang terkenal urakan itu.

​"Ray, fokus kembali pada kertas argumenmu. Jangan biarkan perhatianmu teralih," tegur Audrey lembut, menepuk pundak anak bungsunya untuk mengembalikan fokus latihan mereka.

Ray mengembuskan napas pendek, lalu terpaksa kembali membaca catatannya bersama sang mommy, mengabaikan rasa kepo yang membumbung di benaknya.

​Di lantai dua, di dalam kamar pribadi Maximilian yang luas bernuansa maskulin gelap, keheningan langsung menyergap begitu pintu kayu jati ditutup rapat oleh Max.

Pemuda itu melempar jaket denimnya ke atas kursi kerja, lalu berbalik menghadapi adik perempuannya yang kini berdiri di tengah ruangan dengan melipat kedua tangan di depan dada.

​Emmeline tidak ingin membuang waktu untuk berbasa-basi. Dia menatap lurus ke dalam manik mata saudara kembarnya dan langsung menusuk tepat pada inti masalah.

​"Apa benar kau berpacaran dengan asisten dosen itu, Max?" tanya Emmeline, suaranya tenang namun memiliki ketajaman yang menuntut kejujuran mutlak.

​Maximilian yang sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini sama sekali tidak tampak terkejut.

Dia tahu betul bahwa dengan status Emmeline sebagai salah satu penguasa sirkel sosial kampus, rumor murahan di Fakultas Bisnis dan Hukum dipastikan sudah sampai ke telinga adiknya dalam waktu singkat.

Max melangkah menuju dispenser, menuangkan segelas air dingin sebelum menjawab dengan nada suara yang teramat sangat tegas tanpa ada keraguan sedikit pun.

​"Dia memang kekasihku, Emme. Amieyara Walker adalah wanitaku," jawab Max, meneguk airnya hingga tandas, lalu meletakkan gelas kaca itu dengan ketukan pelan di atas meja.

​Emmeline menaikkan sebelah alisnya tajam, gurat tidak percaya sempat melintas di wajah cantiknya. "Kau benar-benar bercinta dengannya di atas ranjang UKS seperti yang dikatakan semua orang di forum? Kau sudah gila, hm? Sejak kapan seorang Maximilian Valerio kehilangan kendali dirinya hingga berbuat murahan di tempat umum dengan seorang staf pengajar?"

​Max mengeluarkan kekehan rendah yang terdengar begitu tenang dari tenggorokannya. Dia berjalan mendekati Emmeline, menatap adik kembar perempuannya itu dengan pandangan mata yang melembut.

"Kau belum tahu saja, Emme... terkadang cinta memang bisa membuat seseorang bertindak di luar akal sehatnya, membuat orang terlihat gila di mata dunia."

​Seringai tipis Max kembali muncul saat dia menyambung kalimatnya. "Tapi rumor mesum di UKS itu hanya sampah, Emme. Kau jangan pernah memercayainya sedikit pun. Kejadian tadi siang itu hanya sandiwara spontan untuk menyingkirkan Bella Moon yang mendadak datang menggangguku. Yara... namanya Yara. Dia sama sekali tidak seperti wanita kotor yang dirumorkan orang-orang di luar sana. Dia wanita yang terhormat, dan aku tahu itu dengan pasti."

​Emmeline menatap Max lekat-lekat selama beberapa detik, mencari kebohongan di dalam mata saudaranya. Namun, yang dia temukan hanyalah sebuah binar protektif yang teramat sangat pekat—sebuah binar yang belum pernah dia lihat dari Max untuk wanita mana pun, bahkan tidak untuk Bella Moon di masa lalu.

Emmeline mengangguk samar, menerima penjelasan tersebut. Sebagai seorang Valerio, dia memiliki prinsip untuk tidak ikut campur terlalu dalam pada persoalan asmara saudaranya, semasih hal itu tidak menghancurkan fondasi utama keluarga mereka.

​"Baiklah, jika itu pilihanmu, aku tidak akan melarang," ucap Emmeline, menurunkan kedua tangannya ke sisi tubuh. Namun, ekspresi wajahnya kembali menegang saat mengingat kejadian di kafetaria Waktu itu.

"Tapi kau harus berhati-hati, Max. Masalah ini tidak sesederhana yang kau pikirkan."

​Emmeline memiringkan kepalanya, menatap Max serius. "Si Mocha Mochi itu... adik tiri dari wanitamu, Cinmocha Walker. Dia datang jauh-jauh ke Fakultas Kedokteran siang itu hanya untuk menemuiku dan menumpahkan seluruh rumor busuk itu di hadapanku. Gadis menjilat itu jelas-jelas sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan kekasihmu."

​Mendengar nama 'Cinmocha Walker' disebut oleh Emmeline, sepasang mata gelap Maximilian seketika menyipit tajam, berkilat oleh aura dingin yang mematikan. Dia tahu betul bahwa Caca adalah salah satu sumber racun di dalam hidup Yara.

​Max melangkah maju, lalu dengan gemas mengacak-acak rambut hitam Emmeline yang tertata rapi, menghancurkan tatanan rambut adiknya sebagai bentuk apresiasi atas informasi berharga tersebut.

"Baiklah, terima kasih atas informasinya, Adik Kecil," ucap Max dengan nada suara yang kembali santai namun sarat akan ancaman terselubung untuk orang-orang yang mencoba mengusik Yara.

​"Hei! Kau merusak rambutku, Max!" protes Emmeline ketus, menepis tangan kakaknya dengan wajah cemberut sembari merapikan kembali helai rambutnya yang berantakan.

​Max tersenyum tipis, menatap adiknya dengan pandangan penuh perlindungan khas seorang kakak laki-laki pertama.

"Kau juga harus berhati-hati di kampus, Emme. Kurang-kurangi juga kebiasaanmu yang suka memerintah dan merundung teman-temanmu itu. Ingat, kau sudah berada di Fakultas Kedokteran sekarang, bukan lagi ratu high school yang bisa bertindak semena-mena tanpa pengawasan."

​Emmeline hanya mendengus manja mendengar nasihat itu, membalikkan badannya untuk keluar dari kamar Max sembari menggumamkan kata-kata tidak peduli.

Namun, di balik pintu kamar yang kembali tertutup, Maximilian berdiri diam dengan rahang yang mengancing rapat.

Rencana pembalasan Caca dan Bella Moon mungkin sudah mulai merayap di lorong kampus, namun sang predator Boston kini telah siap memasang jaring-jaring pelindung untuk memastikan tidak ada satu pun serangga kotor yang bisa menyentuh Amieyara Walker-nya.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!