NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:609
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^02

Hal yang paling diinginkan saat seperti ini adalah bisa melakukan apapun sendiri tanpa adanya campur tangan dari orang lain. Tetapi, bantuan itu selalu  datang dari arah mana pun, tanpa ia minta. Membuat diri hanya bisa membuang napas pelan dan tersenyum untuk membalas menyapa. Karena menolak pun akan melukai hati sang lawan.

"Hai manis, berhentilah melamun. Itu tidak baik untuk kesehatan mu."

Sebentar melihat ke sisi kanan untuk melihat siapa pemilik suara yang telah memenuhi pendengarannya saat ini, tanpa menghentikan kedua kakinya yang tengah mengayuh pedal sepeda city bike dengan pelan. Karena Anna harus terus berhati-hati saat berada di jalan. Jika pun jalan yang di lintasi bukan jalan raya.

"Jika kau butuh bantuan, seharusnya kau langsung menghubungi ku. Karena, sang ksatria akan meluncur tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya."

Sudah cukup telinga Anna mendengar kalimat-kalimat yang membuat perutnya merasa mual. Dengan kesal Anna menghentikan laju sepedanya hanya ingin memukul kepala pemuda jahil di sampingnya itu. Dan pemuda itu pun juga turut menghentikan sepeda motor yang dia kendarai.

"Berhentilah tersenyum, kau membuat ku ingin mengeluarkan semua isi perutku." Tega Anna yang seketika membuat lengkungan milik sang pemuda lenyap di telan bumi, walau hanya sesaat.

"Aku hanya menawari mu sebuah bantuan_" bukannya tidak ingin menuntaskan perkataannya. Pemuda itu mau tidak mau harus menutup rapat mulutnya, saat suara Anna menyela tanpa permisi.

"Terima kasih atas tawaran mu. Aku bisa mengantarkan pesanan ini sendiri." Menolak lebih baik, dari pada harus terlibat dalam omongan tanpa adanya fakta dari banyak orang yang melihat. Itu akan semakin menyulitkan hidup Tessa.

"Kau yakin?" Ragu sang pemuda.

Dia, Aldino Aldebaran. Yang kerap di panggil Aldi oleh siapapun. Dia berada di angkatan yang sama dengan Anna, walau usia Aldi sedikit jauh lebih dewasa dari pada Anna. Karena Aldi lebih dulu lahir di dunia yang kejam ini. Dan pemuda itu juga berada di kelas yang sama dengan Anna. Entah apa alasannya Aldi telat sekolah di usianya. Tapi, hal itu tidak membuat Aldi merasa minder ataupun insecure dengan keadannya hal itu. Satu lagi, bukan berarti Aldi tidak pandai dalam pendidikan. Dia pemuda tampan nan baik hati, yang sanggup masuk kedalam tiga besar di sekolahnya.

"Tidak hanya menarik dan rendah hati. Kau juga senang sekali membuat orang berhenti melangkah ke arah mu." Rendah Aldi dengan senyum masamnya.

"Tapi, itu semakin membuat ku ingin mengenalmu." Imbuh Aldi yang ampuh membuat napas pelan terselip kegusaran berhembus begitu saja dari indera penciuman Anna.

"Jika kau ingin mengenalku sebagai teman itu tidak masalah. Tapi jika lebih dari itu, aku akan memasang pilar untuk menghalangi mu menerobos masuk." Balas Anna yang berusaha untuk menahan tawanya agar tidak pecah, karena berhasil mengikuti cara bicara seperti Aldi.

"Bagaimana jika pilar itu dapat ku robohkan? Apa kau akan menerimaku?" Alis tidak begitu tebal milik Aldi, sekilas terangkat ke atas. Bukan berarti niat Aldi ingin menggoda gadis di depan matanya saat ini. Anna.

"Kau yakin bisa menghancurkan pilar itu?" Anna tidak menantang Aldi. Hanya saja, jika Anna terus bersikap biasa saat berhadapan dengan Aldi .. itu akan membuat Aldi semakin merasa, jika Anna memberi rute untuk masuk ke dalam labyrinth kehidupannya.

Aldi tersenyum kecil dengan sorot mata yang perlahan berubah menjadi sendu penuh kekhawatiran. "Posisiku akan kalah dengan orang yang kau kagumi saat ini, bukan?"

"Ternyata kau mudah menyerah." Sangat rendah, benar-benar pelan, hingga Aldi sulit mendengar perkataan dari Anna.

"Apa yang kau katakan?" Tidak begitu cepat Aldi melontarkan perkataannya.

"Memangnya apa yang kau dengar?" Sahut Anna dengan senyuman.

"Hal yang mungkin membuat ku, terkesima?" Jawab Aldi sembari menaikan sekilas alisnya.

Anna yang mendengar hanya bisa membuang napas lelah, dan menipiskan bibirnya. "Kau harus pulang, ayah mu menunggumu di rumah. Aku harus mengantarkan bunga-bunga ini lebih dulu."

"Baiklah jika itu yang kau mau." Kepala Aldi mengangguk kecil. "Kau hati-hati di jalan. Jika terjadi sesuatu, hubungi aku secepat mungkin."

Anna yang mendengar hanya bisa berguman tanpa membuka suara. Berniat kembali melakukan sepeda yang menjadi kendaraannya saat ini. Akan tetapi, kedua kakinya terurung akan kalimat Aldi yang membuat Anna diam.

"Anna, berhentilah mengharapkannya, karena posisi mu akan kalah dengan seseorang yang sangat dia sayangi." Akhir Aldi tidak melunturkan senyumannya, sebelum memutar balik arah laju motornya, tanpa menunggu respon dari Anna.

Dan bukan berarti Aldi ingin menjadi pengaruh negatif dalam pikiran Anna. Hanya saja, Aldi tidak ingin melihat Anna menjadi gila karena seseorang yang sangat mustahil gadis itu miliki.

...ʚɞ...

"Bangunlah, ini sudah pagi." Pinta seorang wanita setengah paruh baya, sembari membuka tirai yang menjadi penghalang sinar matahari.

Ampuh menbuat seorang gadis cantik yang berada di balik selimut mengalihkan arah kepalanya untuk tidak menghadap ke jendela, karena itu sangat mengganggu.

"Kau tidak ingin bangun dari tidur mu?" Geram wanita itu yang melihat putri semata wayangnya.

"Aku harus manfaatkan hari liburku." Balas sang gadis dengan suara seraknya, tanpa membuka kedua matanya ataupun merubah sedikit saja posisi tidurnya yang terkurap.

Jika pun hari ini bukan hari sabtu ataupun minggu, tapi pihak sekolah memberi para waktu muridnya dalam waktu sehari untuk belajar di rumah. Dikarenakan, para guru di wajibkan ikut serta hadir dalam rapat yang telah disetujui oleh kepala sekolah. Di mana mereka akan membahas, soal ujian yang akan diikuti seluruh murid didik kelas tiga.

"Manfaatkan hari libur mu dengan kegiatan yang bermanfaat." Tidak begitu cepat wanita itu membuka kembali suaranya.

"Tidur pun juga hal yang bermanfaat." Jawabnya dengan asal. Semakin membuat wanita itu tidak lagi bisa menahan diri untuk tidak menyeret putrinya turun dari tempat tidur itu.

Akan tetapi, gadis itu dengan spontan mendudukkan tubuhnya. Dan membuat sang wanita refleks menghentikan langkah kakinya tepat di samping tempat tidur. Sedikit terkejut melihat tingkah putrinya yang di luar dugaan.

"Ada apa dengan mu?" Cetus sang wanita yang terlihat masih tidak percaya dengan gadis di depan matanya.

"Aku harus menemui seseorang." Jawab gadis itu. Kini turun dan berjalan ke arah kamar mandi. Tanpa peduli akan kebingungan ibundanya.

"Ada apa dengan anak itu?" Herannya yang kini memilih melangkah keluar kamar untuk menemui sang suami tercinta. Karena, hanya pria itu yang dengan sukarela memberinya uang tanpa harus meminta terlebih dahulu.

Melangkah dengan sangat anggun untuk mendekati sosok pria yang tengah menikmati secangkir kopi di meja makan.

"Tidak bisakah kau memakan sarapan mu terlebih dahulu?"

Pria itu hanya bergumam mendengar perkataan dari sang wanita.

"Apa koran itu lebih penting?" Sambung wanita itu dengan sedikit kesal. Ampuh membuat sang pria melipat dengan asal koran di tangannya yang kini di letakkan di atas meja.

Tersenyum ke arah sang wanita yang duduk di sisi kanannya. "Kau yang jauh lebih penting dari koran itu."

Entah itu sebuah rayuan atau hanya sebuah kalimat manis yang di jadikan sebagai obat penenang, agar sang wanita tidak melontarkan kalimat panjang penuh peringatan pada pria itu.

"Bagaimana dengan_"

"Ahh, di mana Yuna? Apa dia belum bangun?" Cepat sang pria yang akan terus mengalihkan topik pembicaraan, jika sang wanita menyangkut pautkan dengan masalalu.

"Kenapa kau senang sekali mengalihkan pembicaraan?"

1
Alya Senja
bagus kak karyanya lanjut tetap semangat
aytysz: terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini-- kamu juga harus semangat yaa^^
total 1 replies
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!