NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kartu Undangan

Aku bersandar pada kepala ranjang kamarku. Air mataku terus berderai tanpa bisa kutahan. Hidungku sudah memerah sejak tadi, dadaku terasa sesak—sakit yang begitu dalam hingga napasku pun terasa berat. Tanganku bergetar saat memegang kartu undangan itu. Nama Satya dan Raisya tertulis jelas di sana, seolah menertawakanku dalam diam.

“Sakit…” ucapku lirih sambil mengusap dadaku sendiri.

Tubuhku terasa rapuh. Seolah semua harapan yang pernah kupupuk kini runtuh tak bersisa, berganti dengan rasa perih yang tak sanggup kujelaskan. Aku benar-benar mengira perasaanku pada Satya akan terbalas. Nyatanya tidak. Satya tidak mencintaiku—ia mencintai sahabatku sendiri, Raisya.

Tok tok tok.

“Sandra, ibu boleh masuk, Nak?” suara ibu terdengar pelan dari balik pintu kamarku yang terkunci.

“Masuk aja, Bu,” jawabku lirih.

Ibu melangkah pelan menghampiriku. Tangannya langsung memelukku erat, mengusap punggungku dengan lembut. Aku tahu, ibu ikut merasakan luka yang kini bersarang di dadaku.

“Kalau nggak kuat, nggak usah datang besok,” ucap ibu lembut. “Biar ibu saja yang salamin pada Satya dan Raisya. Bilang kalau kamu lagi sakit.”

Aku menggeleng pelan, meski air mataku kembali jatuh. Tanganku menggenggam tangan ibu, mencoba menunjukkan bahwa aku masih bisa berdiri—meski sebenarnya hampir runtuh.

“Sandra kuat, Bu,” ucapku pelan. “Asal ibu sama ayah temanin Sandra ke sana.”

Aku menarik napas, menahan isak.

“Raisya sama Kak Satya itu sahabat Sandra, Bu. Masa Sandra nggak datang? Nanti mereka sedih.” Dadaku kembali sesak. “Yang salah itu Sandra. Sandra yang terlalu berharap. Sandra yang salah mengartikan perhatian Kak Satya.”

Suaraku bergetar.

“Ternyata perhatian itu cuma sebatas sahabat… dan aku hanya adik kelas baginya.”

Aku jatuh hati pada Satya sejak kami duduk di semester empat. Aku mengagumi caranya bersikap—tenang, berwibawa, cerdas. Sebenarnya aku sudah mengenalnya sejak SMA. Ia kakak kelas sekaligus ketua OSIS yang selalu dikelilingi banyak pengagum di kalangan wanita.

Tak kusangka, takdir mempertemukan kami lagi di bangku kuliah. Kami berada di kelas yang sama, Program Studi Manajemen Bisnis. Satya bergabung lebih lambat karena mengambil program double degree—lebih dulu menempuh jurusan teknik sebelum melanjutkan ke Manajemen Bisnis.

Kedekatan kami dimulai dari sebuah acara amal untuk korban banjir. Kerja sama sederhana, obrolan ringan, kepedulian yang sama terhadap orang lain—perlahan jarak itu menghilang. Dan sejak saat itu, aku tak lagi bisa menyangkal perasaanku sendiri.

Di waktu yang sama, Raisya—sahabatku sedekat nadi sejak SMP—ikut bergabung dalam lingkaran itu.

Kami melewati begitu banyak momen bersama. Mengerjakan laporan, nongkrong tanpa tujuan, tertawa tanpa beban. Aku terlalu larut hingga tak pernah curiga bahwa hati Satya justru tertambat pada Raisya—wanita anggun dan agamis itu.

Kenangan itu membuat napasku tersengal. Aku meraih buku diary-ku, membuka lembar demi lembar hingga tanganku berhenti pada satu halaman. Sebuah foto—aku, digendong Satya.

Dadaku kembali nyeri.

Aku membaca tulisanku sendiri.

Diary-ku, Sandra Anindita

Laki-laki berbahu kokoh itu menggendongku dengan tegap di punggungnya. Satya Mahesa.

Malam itu Raisya mengabarinya—asmaku kambuh saat kami mengerjakan tugas di kontrakannya. Beberapa jam sebelumnya aku sudah merasakan gejalanya, tapi kuabaikan. Hingga akhirnya aku hampir tak sadarkan diri karena sulit bernapas.

Kontrakan Raisya sepi. Ayah dan ibu tak bisa dihubungi. Raisya panik, lalu meminta bantuan Satya yang sedang magang. Ia datang dengan wajah cemas, tanpa banyak bicara langsung menggendongku menuju IGD. Di dalam mobil, tangan kirinya menggenggam tanganku erat—seolah menyalurkan kekuatan agar aku bertahan.

Aku menutup buku diary itu. Dadaku semakin sesak. Semua kenangan ini harus kukubur. Semua perasaan ini harus kuakhiri.

Siang tadi.

Raisya tersenyum manis padaku. Ia memelukku erat, lalu dengan wajah berbinar memamerkan cincin di jari manisnya. Aku terkejut—sangat. Namun aku tetap memeluknya, mengucapkan selamat berkali-kali, meski hatiku hancur perlahan.

“Maaf ya, Dra,” ucapnya lembut. “Aku baru ngabarin kamu. Bulan lalu Kak Satya melamarku.”

Deg.

Dunia seakan berhenti berputar. Dadaku terasa kosong, napasku tercekat.

Di situlah aku sadar—bukan Satya yang kehilangan aku.

Akulah yang harus belajar merelakan, meski hatiku belum siap.

1
roses
sipp di tunggu ya kak
Aimee Aiko
lanjut seru
Buku Matcha
Bagus
roses
kok jadi ikut deg degan ya ndra
roses
sabar ya sandra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!