bukan novel terjemahan!!!
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.
Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?
kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kehidupan keras, apalagi gurunya Lin yan
Pagi itu, langit cerah dengan awan tipis berarak lambat. Matahari pagi menyinari taman mawar kastil, membuat embun di kelopak bunga berkilau seperti berlian. Bibi Li sudah sibuk di dapur, aroma bubur ayam kampung menguar sampai ke lantai tiga.
Tapi di ruang makan, suasana berbeda.
Lin Yan duduk di kursi utama, permen lolipop rasa anggur di mulut, menatap adiknya yang sedang menyantap bubur dengan lahap. Matanya merah delima menyipit, seperti predator yang sedang mengamati mangsa.
"Feng'er."
"Iya, Jie?" Lin Feng mendongak, masih dengan sendok di mulut.
"Hari ini kau ikut Jie."
Lin Feng berhenti mengunyah. "Ikut ke mana?"
"Keluar. Basmi zombie."
Sendok Lin Feng jatuh ke mangkuk dengan suara berdentang. Matanya membelalak, campuran antara kaget dan senang. "JIE! SERIUS?!"
"Jie tidak pernah bercanda soal kerja."
"TAPI SELAMA INI JIE NGGAK PERNAH AJAK AKU!"
"Karena kau belum siap." Lin Yan mengisap permennya. "Sekarang sudah."
Lin Feng hampir melompat dari kursi. Wajah tampannya berseri-seri seperti anak kecil yang baru diberi hadiah. "AKU HARUS PAKAI APA? AKU HARUS SIAPKAN APA? AKU—"
"Diam. Duduk. Kau pikir ini piknik, diam dulu"
Lin Feng langsung duduk, berusaha tenang. Tapi matanya masih berbinar.
Lin Yan menoleh ke dapur. "Bibi Li, siapkan bekal untuk tiga orang."
"Baik, Tuan!" jawab Bibi Li dari dapur. "Tiga orang? Siapa lagi selain Tuan Muda?"
"Li Mei."
Lin Feng mengerutkan kening. "Li Mei? Jie ajak dia juga?"
"Dia perlu latihan. Kekuatan fisik level 2-nya sudah lumayan, tapi belum pernah praktik di lapangan." Lin Yan berdiri. "Sekarang, siapkan diri. 20 menit lagi kita berangkat."
20 menit kemudian, Lin Feng dan Li Mei sudah berdiri di depan kastil, lengkap dengan pakaian tempur.
Lin Feng memakai jaket hitam anti gores yang diberikan Lin Yan beberapa bulan lalu, celana kargo hitam, sepatu bot, dan sarung tangan. Di pinggangnya, pedang Jian hadiah dari kakaknya terhunus rapi. Rambut hitamnya diikat ke belakang, membuat wajah tampannya terlihat lebih tegas.
Li Mei memakai pakaian olahraga ketat berwarna abu-abu, jaket tipis, dan sepatu lari yang kokoh. Tangannya dibalut perban tebal—persiapan untuk pukulan keras. Kekuatan fisik level 2-nya membuat tubuhnya terlihat lebih berisi dari biasanya, berotot tapi tetap proporsional.
"Wah, Lin Feng, kau kelihatan serius," komentar Li Mei, matanya mengamati pedang di pinggang Lin Feng.
"Ini pertama kalinya Jie ajak aku." Lin Feng tersenyum tipis, berusaha tenang. "Aku tidak mau mengecewakan."
"Jie? Maksudmu Tuan Lin Yan?"
"Iya. Panggil Tuan saja kalau kau."
Mereka berdua menunggu. Lima menit kemudian, Lin Yan keluar dari kastil dengan penampilan standarnya: kaos oblong hitam, celana olahraga biru tua, rambut pendek acak-acakan, permen lolipop di mulut. Tidak ada jaket, tidak ada pedang, tidak ada perlengkapan tempur.
"Jie, kau tidak pakai apa-apa?" tanya Lin Feng.
"Buat apa?"
"...Untuk melindungi diri."
"Aku tidak butuh." Lin Yan berjalan melewati mereka menuju garasi. "Ayo. Kau yang nyetir."
Lin Feng terkejut. "AKU?! Jie, aku belum pernah nyetir mobil sebesar ini!"
"Sekarang belajar." Lin Yan melempar kunci ke arah adiknya. Lin Feng menangkapnya dengan refleks yang sudah terlatih. "Mobilnya otomatis. Gak susah."
Mobil militer hitam modifikasi itu menderu saat mesin dinyalakan. Lin Feng duduk di kursi pengemudi, tangan sedikit gemetar di setir. Li Mei di kursi penumpang belakang, berusaha tenang.
Lin Yan di kursi penumpang depan, santai, kaki diangkat ke dashboard, permen di mulut.
"Jie, ke mana?"
"Kota timur. Area industri. Banyak zombie level 2 dan 3 di sana."
"Level 3?!" Li Mei memekik dari belakang. "Tuan, aku masih belum bisa lawan level 3!"
"Makanya latihan." Lin Yan tidak menoleh. "Nanti kau lihat adikku dulu. Tiru caranya."
Mobil melaju meninggalkan gerbang kastil, melewati hutan, menuju kota timur.
Setelah satu jam perjalanan melewati jalanan rusak dan mobil-mobil terbengkalai, mereka tiba di area industri kota timur. Gedung-gedung pabrik menjulang dengan kaca-kaca pecah, cerobong asap yang sudah tidak berfungsi, dan di mana-mana, zombie berkeliaran.
Lin Feng memarkir mobil di belakang sebuah gudang, mematikan mesin. Tangannya masih sedikit gemetar bukan karena takut, tapi karena adrenalin.
"Jie, kita mulai dari mana?"
"Dari sana." Lin Yan menunjuk ke arah sebuah pabrik tekstil tua dengan pintu besi setengah terbuka. "Di dalam, sekitar 20 zombie level 2. Kalian bersihkan."
"KAMI?" Li Mei hampir melompat dari kursi. "TUAN TIDAK IKUT?!"
"Aku di sini. Nonton." Lin Yan sudah turun dari mobil, berjalan ke atas tumpukan peti kemas, duduk, dan mengeluarkan permen baru. "Ayo. Jangan lama-lama."
Lin Feng menelan ludah, lalu menatap Li Mei. "Kita bisa."
"A-aku... aku belum siap..."
"Li Mei, kau sudah latihan berbulan-bulan. Tinjumu bisa menghancurkan pohon. Percaya pada dirimu sendiri." Lin Feng menghunus pedangnya, bilahnya berkilau di bawah sinar matahari. "Aku di depan. Kau di belakang. Jangan terlalu jauh."
Li Mei mengangguk, menggertakkan gigi, dan mengepalkan tangan. Perban di tangannya terasa kencang.
Mereka berjalan menuju pintu pabrik.
Di dalam, gelap. Hanya cahaya dari jendela-jendela pecah yang menerangi lorong-lorong panjang. Bau apek dan darah kering menyengat.
Zombie pertama muncul dari balik tiang beton level 2, mata merah menyala, pakaian bekas karyawan pabrik. Ia langsung menyerang dengan gerakan cepat.
Lin Feng bergerak lebih cepat. Pedangnya berayun, memotong lengan zombie. Zombie itu terhuyung, tapi masih menyerang dengan tangan satunya. Lin Feng menghindar, lalu menusuk tepat di kepala.
"Satu."
Di belakangnya, Li Mei berhadapan dengan dua zombie sekaligus. Ia memukul zombie pertama dengan tinju kanan KRAK! Kepala zombie itu penyok, tapi tidak hancur. Zombie itu masih bergerak.
"Jangan cuma pukul! Hancurkan!" teriak Lin Feng sambil menebas zombie kedua.
Li Mei menggeram, memukul lagi dengan kekuatan penuh. Kali ini, kepala zombie itu pecah seperti buah semangka. Darah hitam memercak ke wajahnya.
"A-aku berhasil..."
"Jangan berhenti! Ada lagi!"
Dari ujung lorong, lima zombie level 2 muncul, berlari ke arah mereka.
Lin Feng maju ke depan, pedangnya berputar seperti angin puyuh. Satu tebasan, dua zombie tumbang. Tendangan, satu zombie terpental. Tebasan lagi, dua zombie kehilangan kepala.
"Wah..." Li Mei terpaku melihat gerakan Lin Feng. "Dia sehebat itu?"
"Li Mei! Jangan ngelamun!"
"I- iya!"
Li Mei berlari ke depan, menghantam zombie yang tersisa dengan pukulan ganda. KRAK! KRAK! Dua zombie roboh, kepala hancur.
"Selesai?" tanyanya, napas tersengal.
"Lantai atas masih ada." Lin Feng mengamati tangga darurat di ujung lorong. "Kita naik."
Di atas tumpukan peti kemas, Lin Yan mengamati pertarungan mereka dengan ekspresi datar. Dari jarak ini, ia bisa melihat semuanya gerakan Lin Feng yang efisien, tebasan yang tepat, dan Li Mei yang mulai percaya diri setelah beberapa pukulan.
【Bagaimana penilaianmu?】
"Lin Feng: B+. Gerakannya masih kaku, tapi sudah efektif. Li Mei: C. Masih ragu-ragu, pukulannya tidak maksimal. Tapi ada kemajuan."
【Kau keras.】
"Realistis."
Dari dalam pabrik, terdengar suara benturan dan teriakan. Lin Yan mengisap permennya, santai.
Setelah satu jam, Lin Feng dan Li Mei keluar dari pabrik. Wajah mereka belepotan darah hitam, pakaian kotor, tapi mata mereka berbinar.
"Jie! 23 zombie! Semua mati!" lapor Lin Feng, sedikit kelelahan.
"Li Mei, berapa banyak yang kau bunuh?" tanya Lin Yan.
Li Mei menghitung. "Mungkin... 8 atau 9? Aku tidak yakin."
"Kurang. Lain kali target minimal 15."
Li Mei menunduk, tapi Lin Feng membelanya. "Jie, ini pertama kalinya dia praktik. Lumayan, kan?"
"Lumayan. Tapi belum cukup." Lin Yan turun dari tumpukan peti kemas. "Sekarang, ke pabrik sebelah. Di sana ada 2 zombie level 3. Kalian berdua hadapi."
"LEVEL 3?!" Li Mei memekik. "TUAN, AKU—"
"Kau Li Mei. Jangan cuma bisa lawan level 2." Lin Yan menatapnya dingin. "Atau kau mau jadi beban terus?"
Li Mei menggigit bibir, lalu mengangguk. "Baik. Aku coba."
semangat kak