NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:57k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Orang yang Disiapkan

“Siapkan semua,” ucap Husain akhirnya.

Nada suaranya kembali datar. Terkontrol. Namun kini… lebih dingin.

“Alamat. Dokter. Semua.”

Ridho mengangguk cepat.

“Iya, Pak.”

Husain menatapnya sekali lagi.

“Kali ini… jangan ada yang disembunyikan lagi.”

Kalimat itu final.

Ridho menunduk.

“Baik, Pak.”

Husain berbalik. Langkahnya tetap tegap. Namun kali ini… bukan karena tenang. Melainkan karena ia tidak punya pilihan lain selain berdiri.

Karena kalau ia berhenti, ia tahu… ia mungkin tidak akan bisa berjalan lagi.

Di ujung lorong, Fahri baru saja keluar dari lift. Langkahnya terhenti saat beberapa meter di depannya… ia melihat seseorang keluar dari ruangan Ridho.

Husain.

Alis Fahri sedikit berkerut. Itu bukan sesuatu yang biasa. Tidak pernah. Tatapannya mengikuti langkah pria itu yang berjalan menjauh. Lalu perlahan… kembali ke pintu ruangan Ridho.

Beberapa detik terasa sunyi. Dan entah kenapa… ada sesuatu yang terasa tidak beres.

Fahri melangkah. Satu langkah. Lalu satu lagi. Menuju pintu itu. Ia berhenti tepat di depan pintu.

Tanpa mengetuk, ia langsung membukanya.

Ridho yang sedang berdiri di balik meja sedikit terkejut. Namun hanya sesaat.

“Pak Fahri," sapanya singkat.

Fahri tidak langsung masuk lebih jauh. Ia hanya berdiri beberapa langkah dari pintu. Tatapannya langsung ke Ridho.

“Pak Husain ke sini?” tanyanya langsung.

Ridho tidak menjawab seketika.

“Beliau baru saja keluar,” jawabnya akhirnya.

Fahri mengangguk kecil. Beberapa detik berlalu… tapi ia tidak pergi.

“Keperluannya?”

Pertanyaan berikutnya. Masih dengan nada tenang. Masih datar. Namun jelas… tidak sekadar bertanya.

Ridho menarik napas pelan.

“Urusan pribadi, Pak.” Jawabannya aman.

Fahri menatapnya lebih dalam.

“Sejak kapan urusan pribadi beliau… dibicarakan di ruang kerja Kak Kaisyaf?”

Satu kalimat itu… cukup menekan.

Ridho tidak langsung menjawab.

Sekarang Fahri melangkah masuk. Pintu tertutup di belakangnya.

“Dari kemarin…” lanjut Fahri pelan, “…banyak hal yang terasa tidak biasa.”

Ia berhenti beberapa langkah dari meja.

“Tender yang terlalu lama. Kontak yang sulit. Jawaban yang terlalu rapi.”

Setiap kalimat turun satu per satu.

“Sekarang… Ayahnya datang ke sini.”

Ia menatap Ridho lurus.

“Dan Bapak masih ingin bilang ini biasa saja?”

Ridho mengencangkan rahangnya sedikit. Namun tetap diam.

Fahri tidak menaikkan suara. Justru sebaliknya.

“…Kak Kaisyaf di mana?”

Pertanyaan itu kembali. Lebih pelan. Lebih berat.

Ridho menunduk sejenak. Lalu kembali menatap Fahri.

“Pak Fahri…”

Nada suaranya tetap hormat.

“Tugas saya adalah menjaga apa yang menjadi tanggung jawab saya.”

Fahri tidak memotong.

Ridho melanjutkan, “Dan untuk saat ini… saya tidak bisa memberikan jawaban yang Anda cari.”

Fahri menatapnya lama. Lalu mengangguk kecil.

“Baik.”

Satu kata. Namun kali ini… bukan menerima. Lebih seperti… mencatat.

Ridho melihat itu. Dan ia merasa ditekan.

Fahri berbalik setengah langkah. Namun sebelum benar-benar pergi—

“Kalau begitu…” ucap Ridho tiba-tiba.

Fahri berhenti.

Ridho menatapnya.

“…kalau Anda ingin tahu.”

Ia diam sebentar. Seolah menimbang. Lalu—

“Silakan tanyakan langsung pada Pak Husain.”

Kalimat itu… sederhana. Namun cukup untuk mengubah arah.

Fahri tidak langsung berbalik. Namun bahunya sedikit menegang. Ia merasa ada sesuatu yang benar-benar tidak beres.

Ia menoleh perlahan. Menatap Ridho. Lebih dalam dari sebelumnya. Namun kali ini… tanpa pertanyaan.

Karena ia sudah mendapat arah. Dan itu… lebih berbahaya daripada jawaban.

Fahri tidak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik. Dan berjalan keluar. Langkahnya tetap tenang.

Namun pikirannya… tidak lagi sama.

Fahri ketemu Husain. Mengatakan semua pekerjaan Kaisyaf diserahkan padanya.

 

Basement kantor terasa lengang, lampu menyala redup. Suara ketukan sepatu menggema pelan di antara deretan mobil.

Husain baru saja membuka pintu mobilnya saat suara itu terdengar.

“Om.”

Ia berhenti, lalu menoleh.

Fahri berdiri beberapa meter di belakangnya. Wajahnya tenang seperti biasa. Tapi tatapannya… tidak.

Husain menutup pintu mobil perlahan.

“Kamu belum pulang?” tanyanya.

“Belum, Om.” Fahri melangkah mendekat. “Kebetulan lihat Om ke atas tadi.”

Husain mengangguk kecil. Tidak kaget.

“Kenapa?”

Fahri tidak langsung menjawab. Ia berhenti di depan Husain. Jarak mereka tidak jauh. Tapi cukup… untuk membuat suasana terasa padat.

“Saya mau tanya sesuatu.” Nada suaranya tetap sopan. Terjaga.

“Tanya saja.”

Sunyi beberapa detik.

Fahri menarik napas pelan.

“Semua pekerjaan Kak Kaisyaf… sekarang diserahkan ke saya.”

Husain tidak menyela.

“Saya tidak keberatan,” lanjut Fahri. “Justru saya senang bisa bantu.”

Nada itu jujur.

“Tapi…” ia berhenti sejenak, “…ini bukan sekadar bantu.” Tatapannya naik. “Ini seperti… saya sedang disiapkan untuk menggantikan dia.”

Kalimat itu jatuh jujur.

Husain tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Fahri. Lama.

Seolah mengukur… seberapa jauh Fahri sudah sampai.

“Dan itu bukan sesuatu yang biasa dilakukan Kak Kaisyaf,” lanjut Fahri pelan. “Tanpa alasan.”

Husain mendengarkan.

“Ditambah…” suaranya sedikit turun, “…hari ini Om datang ke ruang Pak Ridho.”

Ia tidak menuduh. Tidak menekan. Tapi semua arah… jelas.

“Om…” Kali ini ada sedikit tekanan di suaranya. “…sebenarnya apa yang terjadi sama Kak Kaisyaf?”

Husain menghela napas pelan. Tatapannya sempat bergeser. Bukan menghindar. Tapi… menahan sesuatu. Ia kembali menatap Fahri.

Anak ini… Selalu seperti ini. Tenang. Tapi tidak pernah meleset.

“Kamu percaya sama dia?” tanya Husain tiba-tiba.

Fahri sedikit mengernyit. Tapi menjawab tanpa ragu.

“Percaya.”

“Seberapa jauh?”

“Sepenuhnya.”

Jawaban itu tidak goyah.

Husain mengangguk kecil. Lalu—

“Kalau dia melakukan sesuatu… untuk melindungi orang yang dia sayang…” Ia berhenti sejenak. “...kamu akan tetap percaya?”

Fahri diam sebentar. Lalu—

“Iya.”

Satu kata. Namun cukup.

Husain menatapnya lebih dalam. Dan di situ… ia tahu.

Fahri bukan orang yang akan hancur karena kebenaran. Tapi tetap saja, kebenaran itu tidak ringan.

Husain menarik napas panjang. Lebih berat dari sebelumnya.

“Kamu benar.” Kalimat itu pelan. “Ini bukan sekadar kerjaan.”

Husain men-jeda sejenak.

“Dan kamu juga benar… dia memang sedang menyiapkan sesuatu.”

Fahri tidak bergerak. Tapi rahangnya sedikit mengeras.

“Om…” Kali ini suaranya lebih rendah. “…jawaban setengah seperti itu… justru bikin saya makin yakin ada yang tidak beres.”

Husain menutup mata sejenak. Hanya satu detik. Lalu membukanya kembali.

“Fahri.”

 

...🔸🔸🔸...

..."Kadang seseorang tidak benar-benar pergi... ia hanya diam-diam sedang bersiap meninggalkan semuanya."...

..."Yang paling berbahaya bukan rahasia… tapi saat terlalu banyak orang mulai curiga."...

..."Seseorang mulai disiapkan bukan karena dia siap… tapi karena waktu sudah tidak memberi pilihan."...

..."Ada kebenaran yang tidak diucapkan bukan untuk disembunyikan… tapi karena terlalu menyakitkan untuk dibagikan."...

..."Semakin banyak yang tidak masuk akal… semakin dekat kita pada kebenaran."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Ayza sudah mengirim pesan kepada orang-orang terdekat.

tak lama kemudian - Mereka datang, masuk ke ruangan Kaisyaf. Lengkap. Fatima, Husain, Ayza, Alvian, Nara, Fahri, Ridho, juga Dean.

Kaisyaf memberi pesan terakhir - satu persatu dia sebut nama dan bicara semestinya.

Setelah semua yang perlu disampaikan sudah selesai, Wajah Kaisyaf tampak rileks.

Kaisyaf menatap Ayza - jemari mereka saling menggenggam.

Kaisyaf mengucapkan kalimat syahadat....

Ayza....

😢😢😢
Anonim
Reza ini tidak berperasaan blaaaasss - bikin Kaisyaf langsung drop kondisinya sangat memprihatinkan.

Ayza datang, membantu Kaisyaf supaya batuknya reda.

Ayza kalau bisa marah sama Reza pasti sangat marah. Dia tahu Kaisyaf seperti ini karena Reza.
Anitha Ramto
😭😭😭😭kak Nana...ini Prank kaan
Kaisyaf tidak meninggal,atau ini hanya mimpi buruk Ayza....

Sembuhkan Kaisyaf jangan di bikin meninggoy😭😭😭
Siti Jumiati
lanjut kak nana...
Siti Jumiati
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Asih Prawawati
Sumpah..
Kak Nana..sdh mengobrak abrik emosi ku...😭😭😭😭.
LibraGirls
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
LibraGirls
Berengseeekkk si rezza 😤😤😤😤
Ria Ria
tidak kuat bacanya thor/Sob/
banat_helwa
jangaaaaaan.. /Sob//Sob//Sob/
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Selamat tinggal Kaisyaf... Setelah ini, pertarungan akan beralih antara Kakak dan adik kandung, memperebutkan Satu Wanita, yaitu Ayza 😁😁😁 Mari, kita nikmati duel maut antara Kakak dan adik ini, nantinya 😂😂😂 Patut kita nantikan 😂😂😂🙏
abimasta
cepat sekali kamu kaisyaf meninggalkan orang2 yg mengasihimu
Oma Gavin
innalillahi wainnailaihi roji'un kaisyaf semoga kamu husnul khotimah, meninggal dikelilingi semua orang yg mencintaimu dgn tulus, tugas fahri banyak sekali semoga kamu kuat dan bisa menjaga ayza dan alvian
mery harwati
Sad ending kisah Kaysaf & Ayza 💪
Bakal lebih menyala lagi alur cerita season ini setelah Kaysaf tiada 👍
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
ternyata beneran dibikin is dead to..kirain 🤭
asih
/Sob//Sob//Sob//Sob/🤧🤧 part di buat mewek ma kak nana
tse
Ya Allah... jadi keingetan os Almarhumah bapak mau pergi aku pegang tangannya udah dingin banget.. .
ga kuat ngebayangin nya
ngatun Lestari
dadaku kok nyesek banget ya... kenapa jadi begini akhirnya.....kok ninggal sih...
septiana
ini beneran kak Nana kaisyafnya meninggal...?? jadi ikut merinding bacanya..😭😭
Marsiyah Minardi
Kannn Othorrr ,aku buka puasa sambil mewek ini /Cry//Cry//Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!