Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Pagi sayang ." sapa Laras sat melihat suaminya sudah rapi.
"Pagi juga. Sarapan yuk." Laras mengangguk dan mengandeng suaminya keluar menuju meja makan. Di meja sudah tertata rapi sarapan seperti apa yang mereka inginkan.
"Sayang, jadikan temani aku bertemu nenek?" tanya Laras di sela sarapannya.
"Jadi tapi jangan sekarang ya! Sore aja kita kesana. Aku mau nengokin mama dulu."ujar Dafa lembut.
"Tumben yang pagi - pagi mau ketemu nyonya besar? Apa nyonya besar meminta untuk datang segera memenuhi isi perjanjian." tebak Ĺaras dengan wajah sendu karna kembali teringat kenyataanya yang akhirnya harus terjadi.
"Bukan, Laras. Jangan berpikiran aneh - aneh lagi. Ga ada yang yang kaya gitu, aku mau temui mama yang jatuh dini hari tadi di kamar mandi. Dan mama sekarang tengah berada di rumah sakit." jelas Dafa nampak tak ada beban saat mengetahui mamanya sakit. Ia terlihat begitu santai.
"Astaqfirullah kok bisa, sayang? Lalu bagaimana keadaan nyonya besar sekarang? Apa aku boleh ikut menemui nyonya besar di rumah sakit?" justru Laras yang nampak panik dan kwatir mendapat kabar nyonya Veronica mengalami musibah.
"Untuk saat ini biar aku saja dulu yang menemui mama, kamu di rumah aja." titah Dafa.
" Kenapa ga boleh?" tanya Laras.
" Kamu tau mama aku seperti apa? Lebih baik jangan dulu, belim saatnya kalian bertemu."
"Baiklah kalau begitu." jawab Laras kecewa, wanita itu meneguk habis susu yang tinggal setengah hingga habis hanya dalam sekali tegur dan menyisakan roti bakar yang baru setengah ia makan.
"Kok rotinya ga di habiskan sayang?" tanya Dafa melihat istrinya tak menghabiskan sarapannya.
"Kenyang." jawab Laras singkat.
"Ingat jangan keluar rumah, kalau mau sesuatu tinggal bilang bu Siti. Kamu harus lebih berhati - hati karna banyak orang berniat jahat berkeliaran di sekitar kamu." pesan Dafa sebelum pergi pada istri polisinya.
"Hmm....." angguk Laras patuh.
"Bik Siti jagain Laras baik - baik, ingat jangan teledor lagi. " titah Dafa.
"Baik tuan." jawab bik Siti hormat.
"Laras, aku berangkat dulu." Dafa mencium kening istrinya lalu berpindah ke pipi kanan dan kiri dan berakhir di bibir yang selalu membuatnya tergoda.
"Salam buat nyonya besar, sayang. Moga nyonya besar cepat sembuh." ucap Laras tulus.
""Iya, nanti aku sampaikan." Dafa lalu masuk kesal mobil lalu berlalu meninggalkan rumah menuju rumah sakit dimana mamanya di rawat.
"Gimana dengan Alex?" tanya Dafa pada asistennya.
"Beres bos."
"Kita harus jauhkan lelaki itu dari mama, pengaruhnya cukup besar. Yang jahat sebenarnya adalah dia, mama hanya jadi alat bagi dia untuk berkuasa. Untung mama dulu tak menikah dengannya." ujar Dafa ada nada kelegaan di sana.
"Pagi, tuan." sapa perawat yang bertugas merawat sang mama.
"Gimana keadaan mama?" tanya Dafa sambil menatap mamanya yang tengah terbaring di ranjang..
"Nyinya besar mengalami beriringan tuan, hanya sebagian tubuh sebelah kiri aja yang tak bisa digerakkan." jelas suster.
"Kalian semua boleh keluar, aku mau ngomong sama mama berdua." Dafa melihat mamanya sudah membuka matanya mungkin karna mendengar suaranya.
"Mama, apa kabar?" Dafa duduk di kursi sebelah kiri ranjang mamanya.
"Kamu senang liat mama kaya gini? Mama yakin ini pasti ulah kamu." tuduh wanita itu.
"Mama, makanya jadi orang gitu harus baik. Jangan kotori hati mama dengan hal - hal buruk terus. Ini teguran dari Allah agar mama itu sadar dan kembali kejalan yang benar." Dafa mengabaikan tuduhan mamanya dan berusaha menyadarkan mamanya.
"Dasar anak durhaka kamu, begini balasan kamu pada malalayang sudah membesarkan kamu." umpat mama.
"Mama tenang, jangan emosi. Kalau mama emosi bukanya sembuh tanya ada malah salurannya akan bertambah parah dan tak akan ada obat untuk menyembuhkannya." Dafa tertawa ringan setelah mengatakan itu.
"Ooh iya samapi lupa, menantu mama kirim salam dan mendoakan mama cepat sembuh."
"Tak sudi aku bermenantukan orang rendahan kaya gitu."
"Terserah mama, yang pasti Laras itu istri aki dan calon dari anak - anakku sekaligus menantu mama. Mau mama akui atau tidak, tidak akan merubah kenyataan yang ada. " Kembali Dafa tertawa ringan. Berpasangan dirinya saat menghadapi mamanya yang nampak emosi.
"Aku juga bukan orang baik, tapi aku sudah berusah untuk berubah. Aku harap mama juga begitu. Aku sayang mama." Sejahat - jahatnya mamanya Dafa tidak akan melakukan hal yang melukai mamanya. Dafa tidak berlama - lama disana sarananya bisa beristirahat agar kesehatannya segera pulih dan juga demi kewarasan kepalanya yang selalu di buat emosi oleh mulut tajam mamanya.
...**************** ...
Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 🙏😘💪