“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Memberikan sebuah unit apartemen dengan penjagaan ketat untuk Syafira dan kembar, Khale ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya.
“Bunda, kita akan tinggal di sini? Bagus sekali, lebih bagus dari rumah Om Putra,” ujar Khayra menggemaskan.
Hanya tersenyum, Syafira tak memiliki energi untuk menanggapinya.
“Mulai sekarang, Khayra dan Khanza juga Bunda akan tinggal di sini. Lusa, kalian juga sudah bisa kembali ke sekolah baru yang lebih bagus,” jelas Khale.
“Pindah sekolah lagi? Kenapa harus pindah-pindah terus sekolahnya?” sahut Khanza lugu.
Berjongkok, Khale dengan lembut memegang kedua lengan anak lelakinya itu. “Kali ini tidak akan pindah-pindah lagi. Om janji, sekolah yang baru ini akan lebih seru dan bagus.”
Khale lalu mengatakan bahwa tak hanya itu, tapi kembar juga akan ia antar jemput pergi ke sekolah setiap hari.
Seketika wajah kembar sumringah, karena itu artinya mereka akan diantar jemput naik mobil.
“Aku bisa melakukannya. Kalau mau menjaga kami, cukup anak buahmu saja, tak perlu kamu,” ketus Syafira dingin.
“Kamu di rumah saja, Syaf. Bukannya cita-cita kamu dulu adalah menjadi ibu rumah tangga agar selalu bisa memasakkan anak-anak dan menata rumah?” bisik Khale dengan nada menggoda.
Memalingkan wajahnya, hati Syafira bergetar.
Hingga beberapa hari ini, Khale tak hanya mengantar jemput kembar dengan penjagaan anak buahnya, tapi setiap hari pun selesai mengantar kembar pulang, ia tak langsung pulang ke apartemennya, melainkan bermain bersama mereka di apartemen yang ia berikan.
Setiap Syafira memintanya pulang, kembar malah melarangnya dan meminta Khale bermalam di sana.
“Kenapa tidak langsung pulang saja selesai mengantar mereka? Biar tidak usah ada drama seperti ini!” ketus Syafira.
“Hm, aku ‘kan bukan sopir, Syaf, aku ayahnya,” bisik Khale dengan wajah bercanda.
Saat hari sudah semakin malam, beberapa kali ini pula Khale yang mengantarkan mereka mimpi indah.
Syafira pun kali ini memintanya dengan tegas untuk tak lagi pulang malam demi keamanan mantan suaminya itu.
“Kamu khawatir?” goda Khale.
Tak menjawabnya, Syafira berlalu pergi membukakan pintu agar Khale segera pulang.
Sementara itu, malam ini, Darma menghubungi Syafira, entah mengapa lelaki itu ingin sekali mendengar kabarnya.
“Kalau ada apa-apa, hubungi aku, ya,” ujarnya.
Sedikit berbincang soal kabarnya dan anak-anak, Syafira mengatakan bahwa mereka cukup aman saat ini. Tak lupa ia menitipkan salam dan ucapan terima kasih untuk Bu Tatik. Ia juga turut mendoakan kehidupan yang terbaik untuk Darma.
“Syaf.” Darma seakan mencegah Syafira menutup telepon saat percakapan mereka telah usai.
Teringat akan saran budenya kala itu, Darma memberanikan diri melakukannya.
Beberapa waktu lalu saat Syafira telah kembali ke Jakarta, Darma banyak melamun dan sering menyendiri.
Memperhatikan sikap sang keponakan, Bu Tatik mengajaknya bicara empat mata. “Bude tahu lho, Dar,” candanya.
Dari wajah sendu, ekspresi Darma berubah tersenyum melihat budenya.
Bu Tatik yang merasa dugaannya benar bahwa Darma menyukai Syafira sejak lama, memintanya untuk jujur apapun itu hasilnya. Memendam perasaan baginya hanyalah keputusan yang buruk. Memintanya untuk tidak berharap apapun setelah mengungkapkan perasaan, ia yakin hati Darma akan lebih ikhlas dan jodoh untuknya pun akan segera datang.
Menepuk pundaknya lembut, Bu Tati menguatkannya bahwa jalan hidup seseorang sudah tertulis.
Terdiam, Darma mengangguk dan menghela nafas panjangnya.
“Halo, Dar? Kamu masih di sana ‘kan?” Syafira memanggil-manggil nama teman SMAnya itu sedari tadi tapi tak mendapat sahutan.
“Eh, iya, Syaf, anu.” Darma gelagapan.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Darma memberanikan diri menyatakan apa yang ia rasakan selama ini.
“Syaf, tanpa berharap apapun, aku hanya ingin jujur atas perasaanku. Aku menyukaimu sejak kita masih memakai seragam putih abu-abu. Dari dulu hingga sekarang, lidahku kelu untuk mengatakannya. Itu lah yang membuatku menolak banyak perempuan saat itu, aku hanya menyukaimu. Sampai sudah belasan tahun berlalu, hatiku masih sama. Aku masih menunggumu. Tapi kali ini, aku hanya ingin ikhlas agar jalan hidupku menemukan kebahagiaan, setidaknya aku bisa lega telah jujur padamu. Dengan begitu, aku yakin hatiku bisa terbuka untuk yang lain. Aku selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu juga, saat ini dan selamanya,” aku Darma.
Lelaki itu lalu melanjutkan alasan mengapa dulu ia tak berani menyatakan perasaannya, terlebih setelah tahu Syafira merantau ke Jakarta. Ia yang tak bisa pergi dari kampungnya karena harus meneruskan usaha orang tuanya, pesimis mengajak Syafira hidup kembali ke kampung. Baginya, tentu wanita yang dicintainya itu akan lebih memilih hidup di Jakarta dari pada di desa.
“Aku memang lelai payah, itu yang aku sesalkan dari diriku dan keadaanku.”
***
Hari ini, Khale telah memiliki janji untuk bertemu dengan Benny yang sedang pulang ke Indonesia. Ya, teman baik Khale itu telah menetap di Amsterdam selesai menempuh pendidikan S2nya dulu. Bekerja di sana, Benny tidak setiap tahun pulang ke Indonesia. Ia bahkan bisa 5 tahun sekali berkunjung ke Indonesia, mengingat ia sudah tak memiliki orang tua, jadi seakan tak ada lagi tempat ia berpulang ketika di negara Zamrud Khatulistiwa itu. Namun, sekalinya ia ke tanah air, Benny bisa menghabiskan 1 hingga 2 bulan lamanya.
“Aku masih tidak percaya tentang berita duka yang kamu ceritakan beberapa waktu lalu di telepon. Jujur, aku kaget setelah sekian lama kita tidak berkomunikasi, sekalinya aku meneleponmu tapi malah kabar perceraianmu yang aku dengar. Terlebih lagi, itu semua terjadi karena ucapanku,” sesal Benny.
Mengatakan bahwa ini bukan lah salah temannya itu, Khale mengakui bahwa semua ini salahnya. Andai dulu ia bisa jujur saat akan mengunjungi Karina, tentu Syafira tak akan salah paham seperti ini. Ia juga menyesalkan dirinya yang terlihat lebih mementingkan sang mantan kekasih dan anak semata wayangnya, padahal saat itu istrinya sedang hamil.
“Aku buru-buru bertemu Karina saat itu hanya karena aku ingin meluruskan semuanya dan berusaha menjaga hubungan baik dengannya. Saat aku memutuskannya, aku merasa menjadi orang yang paling jahat. Untuk itu, aku mau kita selesai baik-baik, tapi jalan yang aku pilih salah. Aku tidak seharusnya terburu-buru dan seharusnya pula aku mengajak Syafira untuk menemuinya. Aku memang bodoh. Entah mengapa dulu aku begitu antusias bertemu Karina,” jelas Khale.
Merasa ada andil dirinya yang mengatakan seolah Khale hanya mencintai Karina, Benny meminta maaf. Ia ingin menebus kesalahannya yang sudah lancang berbicara seperti itu, hingga membuat Syafira salah paham dan berpikir macam-macam. “Aku janji akan mengembalikan Syafira padamu.”
Menggeleng, Khale yang pesimis pun tak ingin berharap banyak. Ia hanya akan mencoba, tapi tak berani berekspektasi akan hasilnya. Mengingat, sang mantan istri seperti sudah tak cinta lagi padanya, bahkan membencinya. Belum lagi ada Darma, lelaki yang menurut pandangannya memiliki perasaan lebih pada Syafira.
Meyakinkan temannya itu, Benny akan menggunakan waktu liburnya semaksimal mungkin untuk membantu Khale.
“Apa kamu bisa ceritakan apa saja yang terjadi setelah perceraian kalian?” tanya Benny antusias.
Khale tak luput menceritakan tentang Putra yang juga mendatangkan masalah dalam hidupnya.
“Aku yang dulu mengetahui kabar status perceraian Karina saat itu, aku juga yang akan mencari tahu hal lain tentang dirinya,” ujar Benny mantap.
...****************...
thor double up donk 🙏🙏🙏🙏❤️❤️❤️