NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

...~ Sudut Pandang Linda ~...

Matahari pagi di Jakarta menyengat kaca jendela apartemen nomor 404, tetapi panasnya tidak sebanding dengan gejolak energi yang meledak-ledak di dalam rahim ku. Pagi ini, keseimbangan ku hancur total. Aku berdiri di depan cermin besar di kamar tidur, menatap pantulan ku dengan napas tersengal. Gaun tidur sutra ku kini terangkat tinggi di bagian belakang, bukan karena angin, melainkan karena sembilan gundukan bulu putih kemerahan yang lebat sedang menari-nari tanpa kendali.

“Sial,” Keluh ku sembari mencoba memejamkan mata, memusatkan sirkulasi mana ku ke titik saraf di pangkal tulang ekor. “Masuklah! Sembunyi! Kenapa sihir penyamaran ku mendadak tumpul seperti pisau karatan? Elkan, Sayang, tolong bantu Ibu. Jangan tendang segel sihirnya sekarang. Kita harus terlihat seperti manusia normal setidaknya sampai kita sampai di dalam mobil!”

Namun, Elkan tampaknya punya rencana lain. Setiap kali janin kecil itu bergerak, sebuah gelombang kinetik spiritual menghantam dinding rahim ku, dan wush! Sembilan ekor itu mekar kembali seperti bunga raksasa yang haus akan ruang. Mereka mengibas-ngibas dengan liar, menjatuhkan botol parfum di meja rias dan menyapu tumpukan buku koleksi Dimas hingga berhamburan ke lantai.

"Linda? Ada apa? Aku dengar suara barang jatuh—"

Dimas muncul di ambang pintu, masih memegang sikat gigi di mulutnya. Matanya membulat saat melihat pemandangan di depan ku. Ruang tidur kami sekarang lebih mirip kandang rubah raksasa daripada kamar apartemen modern. Sembilan ekor itu memenuhi hampir separuh ruangan, bergerak secara independen dan tampak sangat... bersemangat.

"Dimas... bantu aku," rengek ku, suara ku bergetar antara malu dan frustrasi. "Hormon kehamilan ini benar-benar merusak konsentrasi ku. Aku tidak bisa melipat mereka kembali ke dimensi bayangan. Mereka merasa terlalu nyaman di udara terbuka!"

Dimas menelan ludahnya, ia berkumur cepat di wastafel kamar mandi lalu berlari menghampiri ku. "Oke, oke. Tarik napas, Linda. Kita punya jadwal kontrol ke dokter kandungan manusia jam sepuluh pagi. Kau tidak bisa datang ke rumah sakit dengan sembilan ekor yang menyapu lantai koridor. Orang-orang akan mengira kau sedang mempromosikan film fantasi terbaru."

"Ini tidak lucu, Dimas!" aku memukul bahunya dengan salah satu ujung ekor ku secara tidak sengaja. "Rasanya sangat berat! Seperti aku sedang membawa sembilan bantal guling yang terikat di pinggang ku!"

Dimas segera mengambil kendali. Sebagai seorang manajer, otaknya mulai bekerja mencari solusi teknis untuk masalah supranatural ini. Ia mengacak-acak lemari pakaian, mengeluarkan tumpukan celana olahraga longgar dan rok lebar.

"Kita harus melakukan 'pengepakan' manual," kata Dimas dengan nada serius yang biasanya ia gunakan untuk mengatur rute truk kargo. "Duduklah di tepi tempat tidur. Aku akan mencoba melipat mereka satu per satu ke dalam pakaian mu."

"Kau gila?" aku melotot. "Melipat sembilan ekor ke dalam celana? Itu akan terlihat seperti aku sedang menyembunyikan kasur lipat di balik pantat ku!"

"Kita tidak punya pilihan, Linda! Sihir mu sedang mogok kerja," Dimas menarik sebuah celana baggy milik ku yang paling longgar. "Ayo, duduk. Ini adalah proyek paling menantang dalam hidup ku."

Aku duduk dengan enggan. Dimas berlutut di belakang ku. Tangannya yang hangat mulai menyentuh ekor ku satu per satu. Sentuhannya selalu memiliki efek menenangkan, namun kali ini, sensitivitas ku sedang berada di puncaknya.

“Oh, demi leluhur rubah,” Keluh ku saat tangan Dimas mengelus pangkal ekor ketiga ku. “Rasanya sangat... aneh. Sensasi geli yang menjalar ke seluruh tulang belakang ku. Dia tidak tahu bahwa bagian ini adalah pusat saraf yang sangat peka. Jika dia menekannya terlalu keras, aku bisa saja melolong di tengah apartemen ini.”

"Linda, fokus," bisik Dimas, napasnya terasa hangat di tengkuk ku. "Ekor nomor satu, masuk ke lubang kaki kiri. Ekor nomor dua, melilit ke arah pinggang. Ekor nomor tiga... eh, yang ini kenapa sangat fluktuatif?"

"Itu karena kau menyentuhnya terlalu lembut! Tekan sedikit agar energinya memadat!" perintah ku.

"Kalau aku tekan nanti kau marah! Kalau aku elus nanti kau mendesah! Aku harus bagaimana?" Dimas mulai berkeringat dingin.

Momen komedi rumah tangga ini benar-benar menguji kesabaran kami. Bayangkan saja: seorang pria manusia sedang berjuang memasukkan sembilan ekor bulu yang tebal dan lincah ke dalam satu lubang celana olahraga. Berkali-kali ekor nomor lima mencuat keluar saat Dimas sedang mencoba menjinakkan ekor nomor tujuh.

"Aduh! Linda, ekor nomor delapan mu baru saja menampar wajah ku!"

"Maaf! Itu bukan kemauan ku! Itu refleks perlindungan diri!" aku tertawa kecil di tengah rasa mual ku. "Mungkin kau harus membisikkan sesuatu padanya agar dia tenang."

"Bisik apa? 'Wahai ekor, tolong kooperatif demi masa depan keluarga kita'?" Dimas mendengus, namun ia tetap telaten. Ia mulai melipat ekor-ekor itu dengan pola spiral di sekeliling pinggul ku, mencoba menciptakan volume yang seimbang agar perut buncit ku tidak terlihat janggal dengan 'aset' tambahan ku di belakang.

“Lihatlah dia,” Keluh ku sembari melirik dari bahu. “Pria ini, yang seharusnya sedang sibuk memikirkan rute pengiriman barang ke Sumatra, sekarang sedang bergelut dengan anatomi siluman. Dia tidak terlihat jijik, dia tidak terlihat takut. Dia hanya terlihat seperti seorang ayah yang sedang berjuang memastikan istrinya tidak berakhir di laboratorium penelitian pemerintah.”

"Oke... hampir selesai," gumam Dimas. Ia menarik karet pinggang celana ku dengan hati-hati. Sembilan ekor itu kini tergulung rapat di dalam celana, membuat bagian belakang ku terlihat sangat besar dan bulat seperti aku baru saja melakukan operasi implan bokong yang gagal total.

Aku berdiri dan mencoba berjalan. Rasanya sangat berat dan canggung. "Dimas... aku terlihat seperti bebek yang sedang membawa beban berat."

"Tambahkan jaket oversize yang panjang," Dimas menyampirkan jaket parka besarnya di bahu ku. Jaket itu menutupi bagian belakang ku hingga ke paha. "Nah, sekarang kau hanya terlihat seperti ibu hamil yang sedang kedinginan dan memakai terlalu banyak lapisan pakaian. Masuk akal untuk cuaca Jakarta yang... oke, cuaca Jakarta tidak pernah sedingin ini, tapi kita bisa bilang AC mobil kita sedang rusak."

"Kau cerdik juga untuk ukuran manusia," aku mencium pipinya sebagai tanda terima kasih.

"Aku bukan cerdik, aku hanya terbiasa menangani barang-barang dengan ukuran oversize," balasnya sambil tertawa.

Kami berjalan menuju lift. Setiap langkah terasa seperti ujian keberanian bagi ku. Aku bisa merasakan sembilan ekor itu berdenyut di dalam celana ku, seolah-olah mereka sedang meronta ingin bebas. Setiap kali ada orang lain yang masuk ke dalam lift, aku merapat pada Dimas, menggunakan tubuhnya sebagai perisai.

“Jangan ada yang menyentuh ku,” Keluh ku sembari menatap angka lantai yang turun perlahan. “Jika ada orang yang tidak sengaja menyenggol punggung ku, mereka akan merasakan sesuatu yang empuk tapi berdenyut. Dan jika itu terjadi, aku tidak menjamin rahasia ini akan tetap aman. Elkan, Sayang, tolong jangan menendang dulu. Ibu sedang dalam misi penyamaran tingkat tinggi.”

Seorang wanita paruh baya masuk ke lift di lantai dua. Ia melihat ku dari atas ke bawah, menatap perut ku, lalu menatap bagian belakang ku yang tampak "ekstra".

"Wah, hamil anak pertama ya, Mbak?" tanyanya ramah. "Kelihatannya bayinya besar sekali ya, sampai... eh, pinggulnya juga ikut melebar sekali."

Wajah ku memerah padam. Aku hanya bisa mengangguk kaku.

"Iya, Bu," Dimas segera menimpali dengan senyum profesionalnya. "Istri saya memang sedang masa nesting. Dia suka memakai banyak bantal penyangga di dalam pakaiannya agar punggungnya tidak sakit saat berjalan. Maklum, saran dari dokter."

"Oh... begitu ya? Modern sekali ya zaman sekarang," wanita itu mengangguk-angguk, meski wajahnya tetap menunjukkan keraguan.

Begitu wanita itu keluar, aku langsung menyandarkan kepala ku di bahu Dimas. "Penyangga punggung? Benar-benar alasan yang kreatif, Manajer."

"Itu namanya improvisasi, Sayang," bisiknya di telinga ku.

Sepanjang perjalanan di mobil, aku harus duduk miring karena tumpukan ekor itu mengganjal punggung ku. Rasa panas mulai menjalar. Ekor-ekor ku mulai merasa gerah di dalam kurungan celana olahraga dan jaket parka. Aku bisa merasakan bulu-bulu itu mulai berkeringat, jika rubah memang bisa berkeringat.

"Dimas... panas sekali. Rasanya ekor ku mau meledak," keluh ku.

"Tahan sebentar lagi. Kita sudah hampir sampai di parkiran rumah sakit. Setelah kontrol ini, kita langsung pulang dan kau bisa melepaskan semuanya," Dimas mengusap lutut ku untuk menenangkan ku.

Namun, bencana yang sebenarnya terjadi saat kami tiba di lobi rumah sakit. Saat aku hendak turun dari mobil, Elkan mendadak memberikan tendangan yang sangat kuat, sebuah 'Kekkai Kick' kinetik yang diarahkan tepat ke arah pangkal ekor ku.

BOOM!

Bukan suara ledakan fisik, tapi ledakan energi yang membuat kancing celana ku terlepas. Tekanan dari sembilan ekor yang meronta itu terlalu besar. Dalam hitungan detik, gumpalan bulu itu mulai mencari jalan keluar dari lubang pinggang celana ku.

"Dimas! Darurat! Mereka keluar! Mereka keluar!" aku berbisik panik, tetap duduk di kursi penumpang.

Dimas menoleh dan matanya membelalak. Salah satu ekor ku sudah berhasil menyelinap keluar dari balik jaket, melambai-lambai di udara parkiran yang terbuka. "Astaga! Linda, tarik kembali!"

"Aku tidak bisa! Elkan sedang menahan kendali sihir ku!"

Dimas dengan sigap melepas jas kantornya. Ia berlari ke sisi penumpang, membuka pintu, dan langsung membungkus bagian pinggang ku dengan jasnya sebelum ada satpam parkir yang melihat. Ia memeluk ku erat, seolah-olah kami adalah pasangan yang sedang sangat dimabuk cinta sehingga tidak bisa lepas.

"Dengar, Linda," bisik Dimas tepat di telinga ku, suaranya kini terdengar seperti instruksi komandan perang. "Aku akan menggendong mu. Aku akan menutupi punggung mu dengan jas ini. Kita batalkan kontrol hari ini. Aku akan bilang ke resepsionis kau mendadak mual hebat dan harus pulang."

"Tapi... apa kau kuat menggendong ku dengan beban tambahan sembilan ekor ini?"

"Aku sudah sering mengangkut palet logistik seberat 50 kilo, menggendong ratu rubah dan pangeran kecil kita bukan masalah besar," Dimas mengangkat ku dalam satu gerakan halus.

“Dia melakukannya lagi,” Keluh ku sembari membenamkan wajah di dadanya, menghirup aroma sabun dan parfum kantornya yang kini terasa seperti aroma keamanan paling mutlak di dunia. “Dia melindungi ku dari rasa malu dan bahaya dengan cara yang paling sederhana namun paling berani. Di tengah parkiran yang ramai, dia berjalan dengan tenang, menggendong rahasia besar yang bisa menghancurkan hidupnya jika terbongkar.”

Kami kembali ke mobil dan segera melesat pulang. Begitu sampai di dalam apartemen, aku langsung melepaskan semua pakaian itu di tengah ruang tamu. Sembilan ekor itu mekar dengan bebas, memenuhi ruangan, menyapu semua debu di sudut-sudut lantai dengan kibasan lega.

"Hah... leganya," aku jatuh terduduk di sofa, membiarkan ekor-ekor ku melingkar di sekeliling tubuh ku seperti kepompong.

Dimas terduduk di lantai, bersandar di kaki sofa, terengah-engah dengan kemeja yang sudah basah oleh keringat. "Linda... tolong ingatkan aku untuk membeli celana dengan ukuran sepuluh kali lebih besar besok. Atau mungkin kita harus mulai mempertimbangkan untuk pindah ke desa malam ini juga."

Aku merangkak turun dari sofa, mendekatinya, dan melingkarkan beberapa ekor ku di bahunya. "Maafkan aku, Dimas. Aku benar-benar tidak berguna jika hormon ini sudah mengambil alih."

Dimas menarik ku ke dalam pelukannya, mencium kening ku dengan lembut. "Kau tidak tidak berguna. Kau sedang membawa anak kita. Itu pekerjaan yang jauh lebih berat daripada melipat ekor. Aku hanya... aku hanya perlu lebih banyak latihan kardio agar tidak ngos-ngosan saat harus menggendong mu lari dari kejaran rasa penasaran orang."

Kami tertawa bersama di tengah kekacauan apartemen. Komedi pagi ini berakhir dengan momen hangat yang membuat ku sadar bahwa menjadi siluman di dunia manusia memang sulit, tapi memiliki manusia yang bersedia menjadi "manajer ekor" adalah berkat yang tidak ada duanya.

“Elkan,” bisik ku dalam hati sembari merasakan janin itu mulai tenang kembali di dalam sana, “ayah mu mungkin bukan pendekar pedang atau penyihir hebat, tapi dia punya kesabaran yang melampaui seribu tahun sihir. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kita aman.”

1
Quinncy Lin
semangat kak😍
༺⬙⃟⛅4329moonluv
mampir kak semangattt💪💪
mary dice
lanjut thor
Del Rosa
baguusss bgtt
100000/10
would recommend
Del Rosa
👍👍👍👍😍
Del Rosa
mampir kak
semangat terus up nyaaa👍👍👍😍😍
જ⁀➴‮‮ ➴ OBOB EJEJ
404 not found
જ⁀➴‮‮ ➴ OBOB EJEJ
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
જ⁀➴‮‮ ➴ OBOB EJEJ
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
જ⁀➴‮‮ ➴ OBOB EJEJ
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
જ⁀➴‮‮ ➴ OBOB EJEJ
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
❀ ⃟⃟ˢᵏSang Senja⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!