Luz membuka pintu kamar setelah di gebrak berulang kali. Ia masih mengantuk dan sesekali menguap. Sambil mengucek mata ia bertanya ada keperluan apa?
Dengan wajah datarnya, Minawari menyodorkan sesuatu yang membuat Luz berusaha membuka matanya. “Pake, Mama mau tau hasilnya.”
“Apa ini, Ma?” Mata Luz masih perih dan sulit di buka. Ia berusaha melihat lebih jelas walau buram.
Hingga akhirnya matanya membulat saat tahu Minawari memberikan testpack. Untuk apa? Apa Minawari sudah curiga atau ada maksud lain?
Luz menoleh ke Minawari penuh tanya, ia sangat gugup.
“Bukan apa-apa, cuman mau mastiin aja kamu gapapa. Lagian cuman test urine biasa, gapapa kan?” ucapnya santai sambil melirik testpack itu tapi mampu membuat jantung Luz berdebar kencang.
Tidak bisa. Luz harus mencari alasan. Baru saja mau pura-pura kelupaan ada janji dan sudah telat, langsung menahan bahunya.
“Mama gini-gini juga bekas psikolog tau ya walaupun gak lulus dan di DO karna ikut demo dan bikin masalah dulu.” Minawari menahan bahu Luz dan memperhatikan mimik wajahnya. Ada panik, gelisah, cemas dan menyembunyikan sesuatu.
“Mati aku!” gumam Luz.
“Ayo cek, bisa aja garis dua itu karna ada sesuatu di perut kamu, contohnya kista? Kan gatau.” Minawari pun berjalan masuk ke dalam kamar.
Luz tidak bisa tenang, sangat grogi. “Tapi Ma, buat apa sih?”
Minawari sudah banyak mendapatkan berita miring. Banyak hal mengerikan dari pergaulan bebas yang terjadi. “Mama tau kamu pasti udah gak perawan. Iya kan?”
Waduh ulu hati Luz berasa di sayat. “Apaan sih, Ma? Nuduh gitu.”
“Kamu kan sering keluyuran malem, selama ngekost gak bisa Mama awasin. Anak zaman sekarang pada pinter soalnya. Apa mau ngelak apalagi?!” Minawari menekan setiap kata yang ia bicarakan.
Luz berdiri dan menatap mamanya marah. “Jangan samain aku sama mereka dong. Kita beda.”
“Kalo nyatanya sama aja terus gimana?”
Keduanya malah saling melemparkan tatapan menusuk. Luz tersulut emosi dan pergi meninggalkan Minawari ke kamar mandi tanpa menghiraukan permintaannya.
“Luz!”
“Mama cuman mau mantau kesehatan kamu! Kayak yang di lakuin sekolah-sekolah di luar sana kepada anaknya. Kalo terjadi sesuatu sama kamu, siapa lagi yang repot? Kami. Kami yang akan bertanggung jawab penuh atas hidup kamu, bahkan sampai mati sekalipun masih di pertanggung jawab ‘kan. Kamu gak ngerti karna kamu belum jadi orang tua.”
Luz bersandar di pintu kamar mandi dan tubuhnya ambruk. “Bentar lagi aku jadi orang tua, Ma,” ucapnya pelan.
Dari situlah Minawari mulai curiga, kalau memang Luz sudah dalam pergaulan yang salah.
Minawari menuruni anak tangga tergesa-gesa.
“Gimana berhasil gak, Ma?” tanya Devan, semua ide dari dirinya. Ia sangat peduli dengan Luz. Kekhawatiran nya tidak dapat di bendung apalagi Luz sulit di atur, dia keras kepala dan tidak betah di rumah.
Tidak tahu kemana perginya, yang pasti dia suka nongkrong dan entah apalagi yang dia lakukan. Devan bisa memantaunya, tapi tidak bisa selalu ada memperhatikannya 24/7 karna punya kesibukan juga.
Devan sih masih berharap Luz bisa menjaga dirinya.
“Dia malah marah-marah.”
“Fiks ini mencurigakan, jangan sampe dugaan aku bener.”
Minawari memukul bahu Devan. “Sembarangan aja kalo ngomong! Jangan sampe, Mama gak sanggup nanggung malu jadi bahan omongan satu kampung. Udah sana kamu siap-siap kerja, gak mungkin kan cuman mau di rumah aja bengong kalo gak ya... mandiin burung.” Ia pun melengos pergi dengan menghentakkan kakinya.
...--✿✿✿--...
Setiap pagi, bahkan mencium aroma nasi atau makanan tertentu Zaren akan mual parah. Dia sampai sulit berkonsentrasi dan terganggu dengan hal itu.
Zaren sudah pergi ke dokter dan katanya dia tidak mengalami sakit apapun. Ia yakin, ini pengaruh dari kehamilan Luz pastinya. Kalau begini, ia juga ikutan repot.
Mau tidak mau Zaren harus mengirimkan Luz pesan. Agar penderitaannya berakhir.
Zaren: Dah gua bilang gugurin ya gugurin, gitu aja repot nih gua TF buat biaya.
Usai mengirimkan sejumlah uang, Zaren langsung menutup kembali handphone nya. Lanjut kerjain tugas dan kembali mual-mual sampe kedengeran ke luar ruangan.
“Maaf, Pak Zaren gapapa? Akhir-akhir ini sering banget mual. Masuk angin ya apa mau saya bikinin kopi?” tanya office boy yang langsung di tolak.
Zaren pun memakai masker menghindari bau tidak enak. Bahkan tidak memakai parfum karna baunya membuat indra penciumannya jadi sangat sensitif. “Gua gak bisa gini terus, mana bentar lagi mau nikah. Malu dong.”
Tangan Zaren terkepal. Apa yang bisa ia lakukan untuk mengurangi mual itu? Minum obat sudah, melakukan anjuran dokter sudah. Apa ini karma?
“Gua harus bertindak.”
...--✿✿✿--...
Lagi dan lagi suara cempreng itu sayang di waktu tidak tepat. Karel baru saja keluar dari ruang rapat. Suara teriakan melengking Elena menggema di sekitar.
Gaya penampilan, gaya bicara semuanya khas. Dia begitu antusias menemui putranya, untuk memberitahukan... kalau dirinya telah menemukan seorang wanita.
“Ayo ke ruangan kamu.” Elena menarik tangan putranya dengan langkah cepat.
“Dia cantik, baik, berpendidikan, setara sama kamu pokoknya Mama udah kenal baik sama dia. Dia mau kok ketemu sama kamu dulu buat kenal!”
Karel makin mumet di buatnya. Dia gak rela di perlakukan seperti ini kayak gak laku aja. “Siapa, Ma?”
Elena langsung membuka handphone menunjukkan fotonya. “Nih cantik yakan? Masih muda lagi, 29 tahun, berprestasi. Namanya Mireya. Lucu ya namanya? Dia itu anak temen Mama tau, yang nikah sama orang Korea.”
Rempong deh ah. Karel makin males.
“Yaudah Mama kirim fotonya, rencana ketemuan nya kapan?”
Elena langsung berjingkrak kegirangan tidak percaya. “Oh Tuhan akhirnya anakku mau kencan! Mama udah jadwalkan lusa mungkin? Tapi nanti konfirmasi lagi kalo emang kamu gak bisa.”
“Oke kalo gitu aku mau lanjut kerja, Mama bisa pulang.”
Wajah Elena berubah marah. “Ngusir Mama? Gak suka sama Mama disini? Oke fine.”
Merajuk lah dia.
“Ma!” panggil Karel.
Elena pundung, dia langsung keluar dan sedih. “Gak ada. Mama mau ngadu sama papa kamu jahat.”
Karel membiarkan mamanya pergi begitu saja. Lalu teringat soal Luz.
...--✿✿✿--...
“Ngapain kamu masih ada disini? Bukannya sudah jelas saya memberhentikan kamu?!” sentak manager perusahaan marah melihat ada Luz di tempat kerjanya.
Luz merentangkan kedua tangan dan merapihkan mejanya, sebentar lagi istirahat. “Biarin wle.”
“Idih nyebelin banget lo, emangnya siapa yang nyuruh lo tetep ada disini?!”
“Saya,” ungkap Karel singkat. Ia sengaja datang ke ruangan ini untuk menemui Luz.
Luz melirik Karel dan menepuk tangan sambil tersenyum. “Betul, gue adalah karyawan ekslusif, di beri kesempatan ke sekian dan mungkin ini terakhir. Langsung dari owner lho.”
Manager kantor kayaknya langsung cemburu. Apalagi saat Karel memintanya pergi dan tidak lagi bertanya hal yang sama. Karena Luz lantas di beri kesempatan terlepas dari kesalahannya suka telat beberapa menit.
“Oh iya ada keperluan apa Bapak menemukan saya?” ucap Luz sopan dan centil.
Karel berdehem dan melirik sekitar. “Saya ada perlu dengan kamu, bisa bicara sebentar?”
“Sekarang? Boleh ayo, traktir ya.”
Karel menahan tangan Luz yang hendak merapihkan kertas. “Gak sekarang ataupun disini, ini di luar pekerjaan. Jangan sampai kita di curigai.”
Mata Luz melirik sekitar, pasti dirinya akan jadi bahan obrolan atau gunjingan. “Oke deh, boleh minta nomor bapak, buat janjian?”
“Justru nomor gua udah lu block,” ucap Karel berbisik. Lalu ia menegakkan tubuhnya. “Saya tunggu dengan segera ya data itu, penting.”
Luz mengangguk kaku. “Oh oke Pak siap! Laksanakan segera.” Ia segera memastikan apakah benar yang di ucapkan Karel.
Ternyata iya! Kurang ajar sekali dirinya memblokir bos besar, untung gak di pecat lagi.
“Oke unblock.” Luz langsung mengirimkan beberapa pesan salam kenal dan maaf.
Luz sangat heboh dan aneh. Sampai notif di HP Karel berulang kali bergetar.
...--To Be Continued--
...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments