“Gue gak bisa keluar sekarang. Lagi di rumah mama,” kata Luz bicara di telepon.
Luz duduk di atas kasur memangku guling, hanya menggunakan celana pendek dan tank top. Sedangkan rambut tebalnya diikat asal.
“Temenin gua dugem, kalo gak bisa yaudah.”
Luz melihat jam, tidak terlalu malam. Mungkin bisa saja dia kabur sekarang, walaupun bukan ide yang bagus. “Yaudah gue ke sana, tunggu.”
Usai mengakhiri panggilan, Luz langsung bersiap. Menyisir rambut, mengganti pakaian dan mengendap-endap keluar lewat jendela. Sayangnya dia di kejar anjing peliharaan milik ayahnya. Untungnya bisa kabur.
Dia langsung pergi naik ojek online, ke tempat yang seseorang di telepon tadi minta.
Setelah sampai, Luz melepas jaketnya dan masuk, menghampiri seorang laki-laki yang duduk sendiri dengan segelas wine di tangannya.
“Sumpah gue deg-deg-an banget, Zaren Takut ketauan tadi.” Luz langsung duduk dan mengatur nafas.
Zaren menyunggingkan senyuman dan membuka mata. Ia memesan minuman untuk Luz. Lalu mengajaknya ngobrol. “Gua gamau basa-basi, malam ini bisa?”
Tangan Luz terhenti bergerak. Ia melirik Zaren dan bersandar sambil meneguk minuman.
“Gue masih mens.”
“Hari ke berapa?”
Luz menghela nafas dan meletakkan gelas. “Ke delapan. Gak deres, udah tinggal nunggu bersih dikit lagi.”
“Udah gapapa ayo. Terakhiran, gua janji.” Mata Zaren menatap serius perempuan di sampingnya.
Luz memiliki kulit tan skin, yang bersih mengkilap. Aroma tubuhnya candu. Rambut panjang yang indah, bola mata yang teduh dan bibir yang ranum.
Zaren menyukai setiap inci tubuh yang Luz miliki, tanpa sisa. Ingat itu! Satu yang tidak bisa ia dapatkan, hatinya.
Begitu pula Luz, dia tidak bisa mendapatkan hati Zaren apalagi mengisi hatinya.
“Stop liatin gue kayak lapar gitu.”
Senyuman Zaren manis, lesung pipinya bagus. Giginya rapih dan putih bersih. Selain itu keringat dia juga memiliki wangi yang khas.
“Tapi gak disini juga kan kita mainnya? Mau di tonton banyak orang, terus senggol meja sampe wine tumpah? Hahaha.”
Kadang Zaren ikut tersipu malu melihat tawa kencang Luz. Dia... dia itu definisi cantik sekali.
Otak Zaren mulai berpikir gencar dan ingin sekali menyentuh kulit Luz sekarang juga.
Tapi Zaren perlu menahan diri untuk menjaga reputasi.
“Jadi gimana, mau kagak?”
Senyum Luz adalah jawaban, senyum itu jarang di tunjukan tapi Zaren akan selalu tahu artinya. Dia setuju, mau tanpa paksaan.
Keduanya pun langsung pergi chek-in ke hotel yang berbeda dari sebelumnya. Berharap tidak ada yang mengenali.
“Nah gitu dong, terakhir ini gua janji gak lagi,” kata Zaren sambil menutup pintu dan memastikan sudah terkunci.
Luz melepas sepatunya. “Halah pret boong banget, paling minggu depan minta lagi. Ah kelamaan, besok juga pasti ngajak lagi.”
“Gua serius.” Matanya menatap Luz lurus, nada bicaranya juga datar.
“Boong, gue gak percaya.”
“Lo liat aja nanti, gua janji.” Zaren berkata seolah iya, dia menatap wajah Luz cukup lama.
Tanpa berlama-lama Luz memulai pemanasan, lalu ia tersadar dan bertanya akan suatu hal.
“Lo gak beli k*ndom?”
“Lupa, udahlah gausah pake itu, gua keluarin di luar, promise.”
Luz memutar bola matanya, Zaren dapat melihatnya dari pantulan cermin. Barulah melanjutkan permainan lagi.
...--✿✿✿--...
Nada dering berbunyi sangat nyaring. Membangunkan seorang pria yang tengah terlelap nyenyak.
Tangannya meraba nakas, mengambil handphone-nya dan melotot kaget saat nama sang mama tertera.
“Mama?!” Dia langsung bangun dari tidurnya dan duduk sambil mengucek mata.
Panik? Oh jelas, saat ini dia tengah tidur di hotel bersama seorang pria sebaya.
Matanya mengerjap pelan sambil menerima panggilan itu, hingga suara nyaring mamanya terdengar menggelegar seperti petir menyambar.
“Kamu dimana Karel? Mama di depan apartemen kamu, kok kamu gak nyaut-nyaut sih, jangan bilang kamu gak pulang! Kamu nginep dimana? Sama siapa? Ngapain aja?”
Sekarang Karel merasa sangat segar dari sebelumnya. Kantuknya hilang seketika. Cuman bingung mau jawab apa, mamanya terlalu bawel dan posesif.
“Jawab! Kamu dimana sekarang, shareloc gak? Mama udah masak banyak ini, mau sarapan sama kamu. Udah jam tujuh pagi, mana mungkin kamu masih tidur.”
Karel menggigit bibir bawahnya sambil berpikir, alasan apa yang masuk akal dan tidak membuat mamanya tantrum. “Iya Ma---“
“Oh udah di kantor? Tapi masa suaranya kayak orang baru bangun tidur. Serak-serak berserakan gitu, minum dulu.”
Karel pun minum dulu. “Sabar, Ma, satu-satu dong. Aku bingung jawab yang mana dulu.”
“Oke cepet, Mama pegel berdiri disini udah setengah jam. Mama kan gatau akses apartemen kamu gimana, password nya di ganti ya? Tega kamu sama Mama!”
“Siapa sih berisik?” tanya pria di samping Karel yang merasa terganggu dengan suara berisik.
Mata Karel melotot, mamanya pasti mendengar ucapan dia barusan. Lantas langsung ia bekap mulutnya.
“James diem dulu, mama aku telepon!” bisik Karel hingga dirinya jatuh di atas muka James.
James mengangguk dan kembali memejamkan mata. “Oke deh.”
“Arel itu suara siapa? Kok kayak cowok, kamu lagi dimana sih?”
Karel susah payah menelan ludahnya, ia tidak akan membiarkan mamanya mengetahui hal ini. Segeralah ia berpikir, mencari alasan agar Elena diam.
“Oh ini, Ma, aku lagi nginep di rumah temen, semalem abis ada party, pulang pagi, capek jadi nginep aja deh tanggung juga kan? Takut kenapa-kenapa di jalan, bahaya.”
Karel harap Elena percaya.
“Tidur sekamar?”
Duar! Pertanyaan itu membuat Karel membeku dan saling lihat dengan James yang sama kagetnya.
“Oh eng-enggak, kan kamar di rumahnya banyak. Ma-mas-masa sekamar sih, itu dia barusan lewat ngecek aku udah bangun apa belum, Ma, hehe iya bener.” Karel cengengesan berharap Elena tidak curiga.
“Oh oke cepet pulang ya sayang, Mama kangen banget mau ketemu. Mama tunggu di apart ya, jangan lama-lama takut keburu dingin masakan Mama. Be healthy, boy!” Elena mengakhiri panggilan.
Membuat Karel bisa bernafas dengan lega.
“Gimana aman?” tanya James.
“Pake banget!” Karel berseru histeris dan turun dari kasur, merapihkan penampilan dan segera pergi sebelum kena amukan.
James hanya tertawa, Karel sangat lucu dan menggemaskan. “Dasar anak mami, sini kiss dulu.”
Langkah Karel terhenti. Dia tidak jadi membuka pintu dan balik lagi, melompat ke atas kasur dan mencium bibir James lalu berpelukan dan pergi. “I’ll miss you again.”
James tersenyum dan melambaikan tangan. “Me too.”
Punggung Karel pun tidak terlihat lagi, dia berjalan sangat cepat hingga menabrak seorang perempuan yang baru keluar dari kamar hingga handphone yang Karel gunakan jatuh.
“Oh im sorry, lagi buru-buru soalnya,” kata Karel lalu pergi usai menyenggol dia.
Luz pun hanya kesal dan memendam amarah. “Udah tau gue juga buru-buru malah di tabrak lagi dasar.” Tapi penasaran sama orangnya, ia pun kejar dan melihatnya dari jauh.
“Oh orang itu lagi! Kok bisa sih kebetulan mulu selalu nginep di hotel yang sama? Kita jodoh kali ya."
...--To Be Continued--...
Wajah suntuk Elena berubah jadi sumringah melihat anaknya berlari kencang menghampirinya.
“Akhirnya kamu datang juga!” Elena melebarkan kedua tangannya.
Karel langsung menerima pelukan itu, pelukan yang telah lama ia rindukan. Elena baru pulang dari luar negeri setelah satu tahun tidak kunjung kembali.
“Cepet buka, mama pegel berdiri lama pake heels disini.” Elena mengerucutkan bibirnya merajuk.
Karel meminta maaf dan terkekeh lalu membuka akses masuk ke apartment nya. Sambil mamanya menyiapkan sarapan, ia mandi dan bersiap.
“Hickey alert! Who’s the one you got it from? You finally hook up with someone, she’s your bae? Since when? Mama doesn’t know, LOL?!”
Elena tertawa, menertawakan Karel lebih tepatnya. Dari tadi katanya hanya fokus ke tanda merah di leher dan bahu Karel. “Ternyata anak Mama sudah sangat nakal. Baiklah, itu dapat menepis pikiran buruk yang sudah Mama pikirkan sejak lama.”
Dahi Karel mengerut. Sialan, dia lupa menyamarkan bekasnya. Untungnya Elena mengira itu bekas perempuan bukan sejenis. Tapi gimana kalau Elena meminta mengenalkan wanita itu padanya?
“Ahaha, so sorry. Apa Mama marah?” tanya Karel hati-hati.
Elena mengambil lauk ke dalam piring. “Lumayan. Sebenarnya ada yang ingin Mama bicarakan, tapi melihat tanda itu, tidak jadi.”
“Memangnya apa?”
Elena terdiam, merasa takut bertanya. “Ada yang bilang sama Mama kalo kamu penyuka sejenis. Melihat kamu memang tidak pernah lagi mengenalkan perempuan setelah dia Mama jadi khawatir. Kalo memang iya, kita ke psikolog, tapi syukurlah pikiran buruk itu sudah hilang.”
“Sebelumnya Mama cukup khawatir. Dulu kamu ngenalin cewek ke Mama pas umur 16, udah 20 tahun juga kamu gak ada kabar kencan ataupun menyukai seseorang. Mama takut, tapi kapan kamu kenalin dia ke Mama?” Dahi Elena mengerut dengan tatapan menginterogasi.
Karel tersedak. Bagaimana ini? Karel harus mengelak dan berbohong apalagi?
Usia minum dan berpikir lagi. Karel jadi asal menjawab. “Sejauh ini aku memang tidak punya pacar, tapi aku punya banyak skandal.”
“What? Skandal?!” Mata Elena melotot.
“Iya seperti hubungan tanpa status, atau cuman deket lalu asing sebelum jadian dan terus berputar disana,” kata Karel sangat terlihat bingung.
Elena menggeleng. “Astaga, Mama akan carikan kamu jodoh segera, biar kamu segera punya pasangan dan punya anak. Mama betul-betul tidak kuat lagi sama rumor jelek tentang kamu, masa anak ganteng Mama penyuka sejenis, kan kacau!”
Kalau ternyata Elena tahu yang sebenarnya gimana? Apa mungkin Karel akan di kutuk jadi ayam atau di coret dari kartu keluarga?
“Euh gausah Ma, aku bisa cari sendiri, doakan saja dengan yang sekarang jadi. Kalau iya aku pasti kenalin ke Mama, oke?”
Elena tersenyum. “Oke! Gitu dong.”
...--✿✿✿--...
Luz datang ke rumah kesiangan dia langsung di interogasi oleh Devan yang sudah berkacak pinggang di depan pintu rumah dengan tatapan mautnya.
“Abis dari mana?”
Luz menahan emosi agar tidak meledak. “Aduh gue abis joging dong, abis beli bubur.”
“Kapan lo keluarnya?”
“Ya tadi pagi lah, kapan lagi. Pagi buta gue keluar karna di rumah sumpek!”
Devan terkekeh. “Lo pikir aing bodoh? Bisa di boongin gitu? Gue dari semalem gak tidur ada di depan benerin mobil. Lo boong.”
“Aroma lo aneh, ekspresi lo juga. Dan jendela kamar lo ada yang gak di kunci, sedangkan pintunya di kunci rapat, gue cek yap bener lo kabur. Pergi kemana?”
Tidak suka di gertak seperti ini, Luz mending mengabaikannya. Terlebih ia sudah telat pergi kerja.
“Ngelonte kemana lo semalem? Abis jual diri kan?”
Langkah Luz terhenti, ia langsung berbalik badan dan berjalan cepat menghampiri Devan dan menoyor kepalanya.
“Kalo punya lambe di jaga omongannya ya. Gue tau lo selalu nyari kesalahan gue, kebaikan? Gak pernah lo liat.”
“Emang.” Devan membalas menyentil dahi Luz.
Devan menertawakan Luz. “Heh anak kecil, gue cowok. Gue tau lu kemana, paling dugem. Mulut lo bau alk*hol.”
Luz langsung menunduk sambil menelan ludah, ia menghembuskan nafas ke telapak tangan. “Ah enggak, lo aja yang ngarang. Dasar jomblo!”
“Oke kita liat, dua bulan ke depan lo bakalan hamil apa enggak,” kata Devan lalu pergi.
Luz benar-benar murka. Dia langsung bersiap ke kantor, lalu turun membawa barang-barangnya.
“Lho mau kemana sayang? Kok bawa koper?!” tanya Minawari menahan tangan Luz.
Luz ngotot pengen pergi karna gak betah dengan sikap Devan. Minawari berusaha agar putrinya tidak kabur lagi.
“Disini aja, jangan ngekost bahaya. Mama takut.”
“Pengen ngekost aja capek disini, gak bebas. Mau cari tempat yang deket sama kantor biar cepet sampe.”
Devan menyahut. “Udah biarin aja pergi, udah di buntingin terus di tinggal cowoknya paling balik lagi nangis-nangis minta tolong.”
“Hus Devan!” sentak Minawari.
“Gue juga ogah gak sudi minta tolong sama lo.”
Devan meletakkan selang air. “Bodo amat, gue juga gak akan ikut campur kalo lo kena masalah.”
“Oh oke! Itu tandanya lo ngedoain gue yang enggak-enggak! Awas lu gue sumpahin jomblo seumur hidup.”
Luz langsung berkacak pinggang. “Oke Ma, aku gak akan pergi tapi jangan kekang aku ya bye!”
...--✿✿✿--...
Luz datang ke kantor sudah mepet dengan jam masuk. Dia datang paling heboh dan langsung mendapatkan spot light. Seluruh orang di kantor mengetahui keberadaan dan suaranya yang melengking kencang. Apalagi dia memang cantik, perempuan keturunan Jepang dengan kelopak mata khasnya.
Dia bukan hanya terkenal kerja profesional tapi juga pedangdut yang di gemari teman sekantor. Kalau ada cara hiburan, seperti lomba agustusan dia bakalan paling heboh menyumbang lagu.
Luz ramah ke semua orang, dia asik dan menyenangkan. Tapi frekuensi untuk di benci cukup tinggi. Baginya itu tetap oke, di bilang sok cantik, ya emang dia cantik dengan kulit internasional yang mahal.
Sebenarnya kulit aslinya itu putih bening. Tapi sengaja ia rubah dengan berjemur di pantai sambil menggunakan bikini. Karna merasa lebih cantik dengan tan skin.
Dia terbilang baru disini, tapi siapa sih yang gak kenal dia? Dia cukup di senangi tapi sering ingin di jadikan kambing hitam atau cuci tangan seseorang yang berbuat tidak baik.
Untungnya yang maha kuasa masih melindunginya hingga masih di posisi aman sampai kini.
“Good morning everyone, ada yang kangen gue?!” sapa Luz sambil berjalan seperti model papan atas yang tengah catwalk.
Luz langsung jadi pusat perhatian. Tubuhnya tinggi dan sekarang cukup berisi. Masalah di hidupnya hanya menghadapi Devan yang bawel gak ketulungan.
“Lagi dan lagi kamu datang terlambat tapi bisa-bisanya santai menyapa karyawan lain, kamu sehat?” tegur manager kantor yang sudah jengkel.
Luz langsung sungkem. “Maafkan hamba wahai ibu manager.”
“Luz kamu ini ke sekian kalinya datang terlambat. Saya perlu tahu apa yang menyebabkan keterlambatan mu dan bagaimana kamu akan memperbaikinya. Jika tidak, saya harus mempertimbangkan tindakan lebih lanjut atau melapor ke CEO.”
Luz dengan santai menanggapi. “Hanya terlambat 5 menit dan itu karena saya kesulitan parkir motor. Harusnya parkirannya bisa lebih luas dan nyaman, biar gausah parkir sendiri. Rempong. Oh ya maaf lagi untuk keterlambatan saya bu, tapi kayaknya ibu perlu menegur hal ini ke saudara saya karna dia selalu dan gemar sekali untuk merecoki saya di pagi hari. Terima kasih.” Ia langsung melengos ke tempat kerjanya.
...--To Be Continued--...
Entah kenapa feeling Luz benar-benar kuat kali ini kalau dirinya tengah mengandung. Dari mulai hormon yang tidak stabil, kepala pusing dan sensitif terhadap bau. Cuman bedanya tidak morning sickness.
Tidak ingin lebih dahulu di ketahui oleh orang lain. Saat tepat dua bulan telat menstruasi. Luz langsung membeli testpack dan mengeceknya di pagi akhir pekan.
Menunggu konfirmasi dari Zaren sama sekali belum ada jawaban, saat itu terakhir mereka bertemu dan katanya sedang sibuk.
Dengan wajah gusarnya, Luz menunggu sampai akhirnya jantung berdetak kencang. Nafasnya memburu saat dua garis merah terlihat jelas.
“Ck, i’m pregnant again with Zaren?” gumam Luz terlihat sangat frustasi.
Luz langsung mengambil foto testpack itu untuk memberitahu ke Zaren. Untuk konfirmasi juga waktu itu ejakulasi di dalam ulah siapa. Dirinya yang mengunci pergerakan Zaren atau memang Zaren sengaja?
Tak lama kemudian Zaren membalas.
Zaren: pantesan gua mabok parah, lu hamil.
...Luz: harus gimana? Siapa yang salah zar
...
Zaren: mana gua tau, salah lu ege, imbang keknya, lu tahan di awal, terakhir gua sengaja.
^^^Luz: tai lo
^^^
Zaren: semuanya sama-sama berisiko, itu tubuh lu sepenuhnya hak lu
Zaren: mau lu lahirin mau lu gugurin lagi, itu sama-sama bertarung nyawa
^^^Luz: please temenin gue bingung gue gamau aborsi lagi, sakit banget
^^^
Zaren: terus mau lo pertahanin?
Luz: maybe
Zaren: gua gabisa tanggung jawab kali ini sorry, tapi pengen nya sih aborsi lagi aja gue cape muntah terus ganggu banget
Mata Luz terbelalak kaget. “Maksudnya apa?”
Zaren bakalan kabur kali ini?
^^^Luz: jangan gitu, gue gak akan maksa lo nikah sama gue tapi bantu gue cari solusi tepat
^^^
^^^Luz: gue bingung
^^^
^^^Luz: gue takut zar gimana nasib gue
^^^
^^^Luz: lo gimana? Bisa ketemu?
^^^
Sayangnya Zaren tidak lagi membalas membuat Luz benar-benar ingin berteriak. Pikirannya kacau. Luz tidak ingin berpikir terlalu lama dia segera bersiap dan pergi sepagi ini.
Luz masih ingat dimana kontrakan Zaren, meskipun jarang banget ke sana kecuali kalo penting. Ternyata lampunya menyala, lantainya sudah berdebu dan banyak daun kering. Seperti tidak berpenghuni. Apakah Zaren sudah meninggalkan tempat ini cukup lama?
Kenapa hal seperti ini saja Luz tidak tahu, seasing itukah dirinya bagi Zaren yang sudah ia anggap seseorang yang spesial walau tak lebih sekedar kenalan? Lutut Luz benar-benar lemas. Tenggorokannya kering. Nafasnya tersengal-sengal. Kepalanya mulai pening dan wajahnya pucat.
Luz berusaha menghubungi Zaren, tapi bodoh. Ia sepakat untuk tidak bertukar nomor telepon dan cukup dengan salah satu sosial media saja. Dimana tidak lagi di balas atau call di jawab. Rasanya nelangsa, ingin menangis. Kabut masih tebal, cahaya matahari mulai naik. Keringat dingin melanda. Gusar dan bingung. Harusnya ia tidak sesedih sekarang tetap saja tidak rela.
Dirinya seperti sampah, atau barang sekali pakai. Ia tahu dari awal salah, harusnya tidak sekecewa ini bila memang Zaren telah pergi meninggalkannya.
Salah dirinya juga tidak pernah bertanya lebih dari sekedar teman bicara atau curhat sesuatu yang penting.
Luz teringat, ia akan bertanya siapa pemilik kost ini. Berharap menemukan jawaban. Saat bertemu dengan wanita pemilik rumah yang tak jauh dari sini. Dia mengatakan kalau Zaren telah pergi sebulan yang lalu tanpa memberitahu kemana dia singgah setelah dari sini.
Hal itu membuat Luz frustasi, dia tidak punya akses lebih dari itu. Apalagi mengenal teman Zaren. Dia sangat tertutup soal identitas. Luz tidak tahu nama lengkap, alamat atau apapun itu selain nama panggilan dia Zaren.
Zaren juga tidak tahu tentang Luz karna mereka berhubungan sebatas partner tidur.
Luz duduk di atas motor sambil berpikir. Kepalanya terasa mau meledak. “Kalo gue pertahanin, gue gak punya cukup biaya. Kalo gue aborsi, gue gatau bakalan selamat lagi atau enggak. Mungkin Tuhan bakalan marah, gimana kalau cabut nyawa gue sebelum gue sempet tobat?”
“Tapi gue juga gak mungkin melahirkan gak punya suami. Emang oon lo Luz.”
Saat Luz hendak menyalakan mesin motor. Ada notifikasi masuk. Luz senang itu balasan dari Zaren.
Zaren: lo garis dua, gua udah di bandara.
Sesingkat itu dan tidak pernah ada balasan apapun darinya. Dan dia juga tidak pernah muncul di hadapan Luz lagi walau Luz sangat menantikannya.
...--✿✿✿--...
“Gimana perkembangan hubungan kamu sama dia?” tanya Elena sepagi ini karna ingin sekali bertemu dengan kekasih Karel.
Thomas mengelus bahu istrinya. “Sudah jangan di tanyakan terus. Setiap hari Mama tanpa absen bertanya hal itu terus.”
“One day, gak ada perkembangan apapun, kayaknya asing lagi. Mama yang sabar ya hehe,” kata Karel yang sudah muak tapi di tahan.
Elena merajuk. “Yah padahal Mama udah cariin vendor, butik, bahkan desain undangan. Berharap cepet gelar pesta. Mama iri banget sama temen Mama yang udah pamer kedekatan sama menantu mereka. Apalagi Mama gak punya anak cewe, pasti seru shopping bareng.”
“Andai aja waktu itu Mama enggak keguguran, Mama punya anak gadis sekarang hm.”
Karel jadi merasa bersalah. Ia tahu pasti mamanya kesepian. “Maaf, Ma.”
“It’s okey, Mama akan carikan jodoh buat kamu oke!”
Ini lebih gawat dari sebelumnya. Karel harus apalagi?
Mana ada cewek yang mau sama Karel kalau tahu yang sebenarnya. Tapi ya sudah, paling mamanya tak akan dapet.
“Kalo gitu aku ke kantor dulu ya Ma, Pa, see you.” Pamit Karel, padahal cuman pengen kabur dari pertanyaan absurd.
Datang ke kantor Karel melihat manager dan seorang perempuan bertengkar.
“Ada apa?”
“Dia selalu datang terlambat dan tidak menunjukkan perubahan apapun. Dia berperilaku seenaknya makanya saya memberhentikan dia kerja. Tapi dia terus memohon.”
Luz kehabisan energi. Dia belum sarapan harus di terpa badai lagi. “Meskipun saya terlambat tapi semua pekerjaan selalu selesai tepat waktu, tolong maafkan saya. Jangan pecat saya.”
Apalagi sekarang Luz beneran butuh uang buat hidup. Meskipun akhir-akhir ini konsentrasi berkurang dan juga suka terlambat.
“Baiklah berikan dia kesempatan satu kali lagi, kalau terulang pecat saja,” kata Karel singkat.
Membuat Luz semakin lunglai. Dia semakin kurang fokus, masalah kesehatan mulai menurun. Di hari yang berbeda lagi dan lagi kena tegur manager saat ketiduran pas kerja dan di berhentikan saat itu juga.
Luz tidak terima tapi akhirnya berkenan, dia langsung pergi mencari ruangan pria waktu itu. Tapi tidak ketemu, karna tidak ada yang mau memberitahu. Akibat ulah manager itu yang sepertinya punya dendam pribadi.
Akhirnya Luz berkenan duduk di sekitar kantor untuk menunggu pria itu turun. Lalu menemuinya.
Saat terlihat berjalan keluar Luz langsung menghampirinya. “Pak izinin saya bicara sebentar saja, saya tau bapak punya status tinggi dan penting disini. Intinya saya gamau di pecat!”
“Kenapa gamau?”
Gak mungkin juga kan Luz bilang dia lagi hamil? Dan butuh biaya. Bisa makin di pecat. “Mmm saya butuh biaya buat hidup, iya itu! Please....” Luz memohon sambil mengedipkan mata tapi tak di hiraukan.
Luz pun teringat wajah itu, wajah yang familiar. Langsung saja ia kejar Karel sebelum masuk ke dalam mobil, ia tahan, tapi gagal, ia masuk ke dalam.
“Ngapain masuk?”
“Mau tanya, wajah bapak kayak familiar gitu. Saya sering liat di hotel, iya gak sih? Dua bulan lalu kalo gak salah, bapak nabrak saya sampe HP bapak jatoh, dan bener itu retak!” Luz berseru menunjuk handphone Karel yang memang retak belum sempat di ganti.
Karel kelimpungan dia dalam situasi berbahaya. “Apa buktinya?”
“Hotel A di kamar nomor 487 kan? Saya di sebelahnya gak jauh.”
Karel lagi-lagi menelan ludahnya. “Apa yang kamu pikirkan?”
Luz tersenyum miring dengan mata menyipit. Ia mencondongkan wajahnya membuat Karel takut. “Bapak gay ya?”
Oh shit!
“Enggak!”
“Boong.”
Luz menunjuk leher Karel yang ada bekas merah memudar. “Ini kissmark, di buat sama pacar ganteng bapak ya?” Ia tertawa membuat Karel takut.
“Bagus ini buat jadi rumor di kantor.”
Karel menggeleng. “Apa sih, security!"
Luz suka permainan ini, ia langsung mengirimkan voice note di grup kantor. “Eh guys tau gak? CEO kita seorang penyuka sesama jenis tau, gue tau karna sering gak sengaja berpapasan woi.”
Karel merebut handphone nya, tapi ternyata akibat ulahnya justru voice note itu malah terkirim. Ada beberapa orang mungkin yang sudah mendengarnya. Dengan cepat ia langsung hapus dan mengembalikan handphone Luz.
“Mau kamu apa? Jangan gegabah dalam bicara, itu merusak nama baik saya. Kamu mau berurusan dengan hukum?!”
Luz tertawa memperhatikan mimik wajah Karel yang memang gampang di tebak baginya. “Gausah panik gitu kalo bukan. Pedang kok makan pedang ciah.”
“Tapi seru juga sih, wah banyak yang reply,” ujar Luz.
Membuat Karel kelimpungan. “Apapun caranya kamu harus membersihkan nama baik saya bilang itu candaan atau apalah, intinya tidak benar.”
“Gamau.”
“Kenapa?”
“Jangan pecat aku, baru deh mau bilang itu boongan.”
Sosmed zaman sekarang ngeri, berita miring gampang naik. Demi nama baik, oke Karel setuju.
“Mulai besok balik kerja lagi dan bilang itu candaan. Sekarang turun, saya masih ada urusan, jangan kurang ajar lagi.”
Luz terkekeh. “Oke udah aku rekam. Sebagai bukti. Bye-bye yang mau check in sama mas pacarnya.”
“Stop it!”
...--To Be Continued--
...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!