MERENUNG

Malam ini, Luz duduk di kafe, di ruangan terbuka. Melihat gemerlap bintang dan lampu kota. Gedung tinggi, kendaraan berlalu lalang dari kejauhan.

Ada rasa sesak, menyesal dan kecewa. Tapi kalau di pikir masuk akal.

“Apa gue susul Zaren ke Banten? Siapa tau dia emang pulang ke sana.” Luz bertanya kepada diri sendiri.

Luz juga yang memberikan jawaban. “Gue gak bisa buang-buang waktu lagi, apalagi cuman buat ngemis pertanggung jawaban.”

“Tapi untuk saat ini gue gak bisa kalo harus ambil resiko.”

Mata Luz mulai memanas, dingin malam memeluk raganya. Merinding. Kini kepalanya menunduk. Ini salahnya, sepenuhnya akan menjadi tanggung jawabnya juga.

Baginya nanti sulit di akui negara, sulit membuat dokumen identitas. Tapi terlalu jahat juga kalau Luz harus membunuh buah hatinya lagi.

Dulu saat masih terlalu muda dan awal, Luz pernah melakukan kesalahan yang sama dengan orang yang sama, Zaren.

Namun, saat itu ada peran Zaren yang membantu dan mendampinginya melewati fase itu. Membuatnya cukup tenang menghadapinya. Dan sekarang? Zaren benar-benar pergi.

Kalau Luz pergi aborsi, atau minum obat. Belum tentu juga berhasil, mungkin yang maha kuasa akan menegurnya, dengan cara langsung meninggal?

Kali ini Luz jera, takut dan ingin bertobat. Tapi bagaimana caranya? Ia ingin menata kehidupan yang lebih baik, kalau bisa ia ingin hidup yang layak.

Tapi dengan menjadi ibu tunggal tanpa suami, apakah dapat membuat anak ya cukup? Atau mengulang dirinya yang baru.

Luz menghembuskan nafas berat. Ia hanya mengaduk segelas kopi dingin lalu menyeruputnya. Lalu melirik sekitar, mereka memiliki teman. Sedangkan dirinya? Kehilangan teman baik, sisanya hanya kenalan.

Kalau Luz cerita ke mereka dan meminta solusi, sama saja bunuh diri. Karena tidak ada yang bisa di percaya di dunia ini.

Di cek notifikasi, tidak ada. Yang Luz tunggu, tidak pernah notice lagi.

Seorang perempuan memiringkan kepalanya dan tersenyum lebar. Ia menepuk pundak Luz.

“Ini lu Luz?!”

Mata Luz terbelalak. “OMG Mirae, ini beneran lo?” Ia langsung berdiri dan menatap takjub perempuan cantik di hadapannya.

Kemudian mereka berpelukan dan berbincang berdua. Keduanya adalah sahabat dari lama yang terpisah karna masa depan. Luz memilih tetap di Indonesia sedangkan Mireya pergi ke Korea untuk menyelesaikan pendidikan.

“Sumpah gue kangen banget sama lo, dan kabar baiknya gue udah ketemu sama bebeb Qian Kun! Dia ganteng banget sama---“

Ucapan Mireya terhenti saat Luz meletakkan telunjuk di bibirnya. Keduanya sama persis, sebelas dua belas katanya bahkan hampir mirip. Cuman sekarang kulit Mireya lebih putih dari Luz bahkan rambutnya di semir warna putih.

“Gue kangen lo Alaia Luz Valerie, makin cakep aja senggg!” Mireya sangat menyayangi Luz dan kembali memeluknya.

Hangat, Luz tidak lagi kesepian malam ini dan menghabiskan waktu bersama Mireya hingga membuat janji untuk hangout.

Luz terdiam, ingin bercerita. Tapi mungkin lain waktu, ini terlalu sensitif.

...--✿✿✿--...

Bagi Karel, Luz cukup berbahaya. Di tengah padatnya pekerjaan yang tengah ia handle. Dirinya terdiam memikirkan dia. Bagaimana kalau Luz tidak menepati janji dan membuat semuanya kacau?

Nasib Karel sudah di ujung tanduk. Kepalanya jadi pusing, ia langsung minum pil agar pusingnya mereda.

Karel sangat gelisah, sangat takut aib nya terbongkar. Apa ia coba memastikan kalau Luz benar-benar bisa di percaya?

“Gua gak bisa diem aja.” Karel bersandar di sofa dan mencari nomor Luz lewat data yang tercatat di perusahaan.

Usai di temukan, Karel langsung menghubunginya.

Karel tidak tahu kalau saat itu Luz tengah mengendap-endap masuk ke dalam rumah. Dan saat itu juga Luz ketahuan! Dia memaki nomor itu bahkan memblokirnya.

Sehingga Karel heran, mengapa di panggilan kedua nomornya tidak dapat di hubungi. “Salah gua apa?” Wajah Karel berubah murung setelahnya. Ia merasa kalau Luz akan kurang ajar nantinya.

Wajah Karel tertekuk lelah. Hampir sepanjang hari hanya bergelut dengan laptop. Jari tangannya sampai pegal, tapi salahnya juga malah menunda pekerjaan kemarin.

“Suaminya tau kali ya gua telepon makanya di block?”

“Eh tapi emang dia udah punya suami?”

“Tapi kalo gua terus coba hubungi dia, kesannya gua ngemis dan dia malah keenakan nanti gimana?”

Mama: Mama punya kenalan, cantik banget dia lulusan kecantikan Korea so nice pokoknya. Cantik banget, cocok sama kamu.

^^^Karel: Punya pacar gak dia? Aku gamau sama pacar orang

^^^

Mama: Gapapa tikung aja

^^^Karel: Ga^^^

Karel meletakkan handphone nya dan mendongakkan kepala sambil mengusap wajah. Satu kata yang ingin ia teriak, mumet!

Mama: umur kamu sudah tua! Gak muda lagi

Mama: 37 bukan lagi remaja SMA yang di mabuk cinta MONYET

Mata Karel terbelalak dan menghela nafas.

^^^Karel: Sabar dulu, aku masih sehat kok^^^

Mama: Gak bisa. Harus cepet dapet jodoh.

Mama: Apa bener, jangan-jangan kamu penyuka sejenis?

Mama: Amit-amit ya tuhan! Amit-amit

Mama: Terkutuk kamu Rel kalo iya

Mama: Gak Sudi Mama ngakuin kamu anak Mama

Mama: Mama bakalan coret kamu dari KK dan ahli waris

Mama: Inget itu! Kamu bakalan jadi gembel

“Gapapa, pacar aku kaya kok Ma,” ucap Karel dalam hati. Tapi malah ia ketik di laut kendali, langsung ia hapus sebelum di kirim.

Bisa repot kalau iya.

Karel: Ngga mama, percaya deh

Mama: Awas aja kalo bener, hina hidup kamu selamanya Rel

Mama: Gak bakalan Mama maafin sampe kapanpun!

Mama: Ingat sudah di takdirkan laki-laki dan perempuan itu berpasang-pasangan bukan laki sama pria, wanita sama cewek, sinting itu gak boleh inget! Melawan hukum alam semesta dan norma, gak boleh

Mama: Merinding Mama dengernya, serem banget

Membaca pesan itu membuat Karel semakin takut. Merasa bersalah dan berdosa. Tapi terlalu sulit meninggalkan hal yang sudah bersamanya sejak lama.

Usai menenangkan sang mama kalau Karel normal. Ia menghubungi James untuk menanyakan kabarnya, hari ini dia tidak mengirimkannya pesan. Bisa di bilang, kangen.

Lewat panggilan video, mereka berbincang. James baru tiba di apartemen tampak sangat lelah. Dia mengatakan kalau dirinya tidak bisa datang karena ada kendala.

Karel mengerti hal itu, kemarin juga mereka baru saja bertemu. Mungkin nanti, saat ada waktu luang, pasti bertemu.

Karel membeberkan gertakan sang mama ke James. Berharap mendapatkan solusi.

“Kenapa kamu gak jawab kalo kamu gamau nikah? Karna suatu alasan, misalkan trauma.”

“Pernah, aku di suruh konsultasi. Cuman aku nolak,” kata Karel yang merasa bingung.

“Kayaknya orang-orang udah pada curiga deh.”

“Alasan di suruh nikah kenapa emangnya, karna biar punya anak?” James tampaknya sewot. Untung orang tuanya tidak peduli dengan hidupnya, jadi bebas.

Karel mengangguk. “Ya apalagi? Aku kan anak tunggal. Mereka butuh penerus.”

“Cari ibu pengganti aja kalo gitu.”

Dahi Karel mengerut. “Apa misalnya?”

“Cari cewek yang mau nikah kontrak dan tugasnya cuman lahirin anak kamu. Abis itu udah cerai dan hak asuh buat kamu, kasih dia uang.”

Ide yang masuk akal. “Tapi cari dimana, siapa yang mau?”

“Kalo enggak gitu, cari pacar boongan aja tapi jangan jujur kalo kamu belok. Atau jujur aja dari awal dan bikin perjanjian.”

Karel berpikir lagi, ide dari James cukup membantu. “Terus cara pembuahannya gimana? Males soalnya kalo sama cewek.”

“Bayi tabung aja.”

Karel mengangguk. “Aku kan bukan sepenuhnya gak bisa berdiri, bisa tapi susah. “And maybe i can only get turned on when we’re together .” Ia tertawa di akhir kalimat.

James menyunggingkan senyuman. “Kalo kata aku, kamu cari perempuan yang polos dan gampang di bodohin. Biar dia gak nanya lebih, setelah urusannya selesai tinggal cerai. Jangan cari yang binal, kamu bisa abis di goyang mulu sama dia nanti.”

“Iya. Tapi pertanyaannya cari kemana? Siapa yang mau sama aku?”

James melotot dengan pernyataan Karel. Dia terlihat sangat tidak percaya diri. Padahal meskipun menyimpang, Karel tetap terlihat gagah dan tampan terawat. “Hey, i’m here for you. I want you all the time. Don’t say stuff like that, okay?”

“Aku cuman bingung. Gimana jelasin nya, kalo gak di jelasin makin repot. Apalagi curhat di sosmed soal penipuan ini, yang ada makin kacau.”

“Sekarang tidur, istirahat dan matiin hape nya, good night!” James mengakhiri panggilan begitu saja.

Karel pun berdiri dan menjatuhkan dirinya di kasur. Lalu meraung-raung dan merutuki dirinya sendiri. “Pengen mah pengen normal lagi, tapi sakit hatinya masih kerasa sampe sekarang!”

...--To Be Continued--

...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!