Mana adalah sumber energi tak kasat mata yang sering digunakan sebagai bahan bakar dalam mewujudkan dan menggunakan sihir. Mana diproduksi secara alami oleh alam, tapi sangat sulit dirasakan oleh kebanyakan orang.
Dan seseorang yang berhasil merasakan kehadiran dari Mana, kemungkinan besar ia bisa membuka Mana Hall.
Mana Hall ialah tempat unik yang berada di alam bawah sadar manusia, dan dibuat secara otomatis dalam tubuh manusia setelah menyerap sejumlah besar energi alam.
Setelah berhasil membuka Mana Hall, batasan manusia biasa pada tubuh akan hancur dan membuka peluang bagi mereka untuk berkembang tanpa batasan apapun.
Itulah kenapa banyak orang yang ingin menjadi penyihir.
Sayangnya, kesulitan membuka Mana Hall lima kali lipat lebih sulit daripada mempelajari beberapa inti buku sihir.
Meski begitu, standar dari pembukaan Mana Hall setiap orang itu berbeda. Ada yang butuh setengah tahun, ada juga yang membutuhkan dua tahun penuh agar berhasil.
Namun batasan itu tidak berlaku pada Alexia, karena dia adalah mantan dari penyihir tingkat 10 star Nova puncak.
"Sudah 3 hari, ya ..." gumam Alexia setelah meludahkan darah beracun ke atas kain yang telah ia siapkan. "Waktu bergerak begitu cepat. Dalam tiga hari ini, aku berhasil mengeluarkan sebagian besar racun di dalam tubuhku."
Alexia duduk bersila di lantai sambil mengatur nafasnya.
Dengan bantuan metode pernapasan Mana yang dulu ia ciptakan, Alexia secara perlahan membuang racun yang ada di tubuhnya. Walau menyakitkan dan butuh waktu lama, tapi Alexia berhasil membuang hampir seluruhnya.
Alexia tidak bisa mengeluarkannya sekaligus, karena itu dapat merusak organ tubuhnya. Apalagi racunnya sudah merambat dan mengendap cukup lama dalam tubuhnya.
Salah mengambil langkah bisa menyebabkan kematian instan. Alexia tidak ingin mati lagi untuk kedua kalinya.
"Seharusnya tidak akan jadi masalah membiarkan racun yang tersisa." kata Alexia sambil menarik napas panjang dan bersiap membuka Mana Hall. "Aku tidak tahu apakah cara membuka Mana Hall ras iblis dulu sama dengan ras manusia. Setidaknya, aku perlu mencobanya lebih dulu."
Untuk membuka Mana Hall, Alexia terlebih dahulu harus merasakan keberadaan dari Mana. Itu adalah syarat yang sangat mudah, jadi dia langsung bisa menyelesaikannya.
Untuk langkah kedua, Alexia perlu menuntun Mana yang sudah diserap tubuhnya menuju ke wadah di jantungnya.
Setelah langkah kedua berhasil, Alexia tinggal membuat lingkaran sihir di sekitar jantung sebagai intinya. Walau langkah terakhir terdengar mudah untuk diucapkan, tapi itu lebih sulit untuk dilakukan dalam kondisinya saat ini.
Langkah ini sangat krusial dalam hal esensi. Kalau salah dalam proporsi perputaran energi sihir, Mana yang dapat dikendalikan dengan sangat mudah bisa mengamuk dan menjadi liar. Oleh karena itu, dia harus ekstra berhati-hati.
'Bagaimanapun caranya, aku harus bertahan!' pikirnya.
Beberapa jam kemudian...
Keringat bercucuran hingga membasahi tubuh dan baju yang dia kenakan. Tak lama, aura kebiruan terpancar di sekitarnya, yang menjadi pertanda baik bahwa dia telah berhasil membuka Mana Hall dan jadi seorang penyihir.
Alexia membuka kedua matanya dan tersenyum, merasa begitu nostalgia ketika lingkaran sihirnya baru terbentuk.
"Akhirnya, aku kembali lagi menjadi penyihir tingkat satu star." kata Alexia sambil menghela napas ringan. "Meski aku harus memulai lagi dari awal, setidaknya belum ada halangan yang berat. Aku melaluinya dengan sempurna."
Alexia mengulurkan tangannya ke depan dan muncul api yang berkobar di atas telapak tangannya. Nyala api yang panas, tapi tidak terlalu membakar. Itu adalah sihir level satu, yang memiliki daya hancur sangat kecil dan lemah.
【 Fire Magic 1–star : Fireball 】
Duarr!
Tembakan apinya bahkan tidak membuat ledakan besar, tapi jejak yang ditinggalkan terasa berbeda dari biasanya.
'Ada yang aneh dengan sihirku.'
Itulah yang dipikirkan oleh Alexia.
"Padahal aku membuka satu lingkaran sihir, tapi kenapa daya hancurnya sedikit lebih besar dari yang aku ketahui sebelumnya ...?" kata Alexia sambil memeriksa lingkaran sihir di sekitar jantung untuk mencari tahu penyebabnya.
Dan setelah dia menemukan penyebab dari perubahan tersebut, Alexia tersenyum tipis, tidak mempercayainya.
"Ada lingkaran sihir yang terbentuk di hatiku ...?!"
Selain ras naga yang kuat, tidak mungkin ada orang yang berani membuat lingkaran sihir di sekitar hati. Itu adalah keistimewaan yang hanya bisa dimiliki oleh seekor naga.
Dengan membuat lingkaran sihir di hatinya, mereka bisa memakai sihir dengan lebih efisien. Bukan hanya itu, tapi daya hancur, bahkan ledakannya juga meningkat drastis.
Meski demikian, resiko untuk membuat lingkaran sihir di hati sangat tinggi. Banyak manusia yang mencoba untuk menirunya, tapi mereka berakhir mati atau cacat seumur hidupnya. Namun, hasil yang akan diperoleh jika berhasil bisa sepadan dengan pengorbanan yang telah dilakukan.
"Kalau begini, bukankah aku sama saja berada di tingkat 2 star meski aku masih berada di tingkat 1 star?" Alexia pun menunduk dan menghela napas. "Lagipula, kenapa lingkaran sihir ini bisa terbentuk di hati tubuh gadis ini?"
Alexia tidak mempunyai ingatan tentang hal itu. Apalagi, lingkaran sihirnya tampak terasa sempurna tanpa cacat.
'Jika aku tidak salah, apakah ini yang biasa mereka sebut sebagai «Dragon Heart». Aku masih tidak terbiasa.' batin Alexia dan mengepalkan tangannya. 'Lupakan saja, lebih baik aku mandi dan segera melatih metode pernapas—!"
Alexia tiba-tiba terdiam dan menoleh ke pintu kamarnya.
Berkat terbukanya Mana Hall, panca indera Alexia yang tumpul semakin tajam dan diperkuat. Secara halus, dia bisa merasakan ada seseorang mendekat ke kamarnya.
Alexia buru-buru membungkus kain yang terdapat darah beracun dan membakarnya dengan sihir api agar tidak ketahuan. Selain itu, dia juga menggunakan sihir angin untuk menghilangkan semua bau dari darahnya di udara.
Untuk tembok yang hancur, Alexia menutupnya dengan lukisan dan membuang puing-puing yang ada di lantai.
Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar.
Tok tok tok
"Nona Alexia, ini sudah waktunya anda minum obat."
'Pelayan itu lagi ...' batin Alexia, merasa tidak senang.
Alexia menoleh dan membalas, "Ya, masuklah."
Pelayan itu pun masuk dan melihat Alexia sedang duduk di tepi kasur, sedang memandang keluar jendela. Tanpa menaruh rasa curiga, pelayan itu berjalan mendekatinya.
"Kesehatan anda makin membaik dari hari ke hari." ucap pelayan itu sambil mendorong troli makanan ke arahnya.
Alexia memandangnya dengan tatapan penuh curiga.
"Beberapa hari lagi mungkin anda akan sembuh dan bisa berlatih kembali. Saya berharap yang terbaik untuk anda."
"Ya," Alexia mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih."
Setelah obrolan singkat itu, pelayan tersebut mengambil secangkir teh di atas trolinya dan memberikannya pada Alexia. Aroma dan warna teh tersebut sama seperti yang sebelumnya, namun aromanya beberapa kali lebih kuat.
"Ini, silahkan diminum." kata pelayan itu dengan ramah.
Alexia langsung terdiam sambil menatap cangkir teh itu.
'Sepertinya aku tidak perlu berpura-pura lagi.' pikir Alexia.
Tak lama kemudian, dia membuka mulutnya dan bicara.
"Sudah saatnya kau berhenti sekarang juga." kata Alexia tiba-tiba, yang membuat pelayan itu bingung. "Biar aku tanya padamu, siapa yang menyuruhmu melakukan ini?"
"Apa maksud anda?" balasnya, terlihat tidak mengerti.
Alexia berjalan ke arah jendela dan membelakanginya.
"Maksudku, siapa yang menyuruhmu meracuniku?"
Pelayan itu tiba-tiba tertegun dan alisnya berkerut sambil menatap punggung Alexia. Dia tidak menyangka bahwa Alexia sudah tahu tentang racun yang ada dalam tehnya.
"A-apa? Tidak mungkin saya meracuni anda—"
"Jangan mengelak, aku sudah tahu semuanya." ujarnya dengan nada ditekan, seperti sedang marah. "Aku tidak akan melakukan apapun padamu, jadi cepat beritahu—!"
"Perubahan rencana!" gumamnya dengan wajah datar.
Belum menyelesaikan kata-katanya, pelayan itu tiba-tiba menendang lantai sambil menodongkan pisau dapur ke arahnya. Ia menyerang dari titik buta Alexia dan berharap serangan mendadak ini dapat menembus ke jantungnya.
"Maafkan saya, tapi anda harus mati setelah rencana ini terbongkar!" seru pelayan itu dengan raut wajah ditekuk.
Sayangnya, perkiraan pelayan itu sudah salah dari awal.
"Ini sangat mengejutkan." kata Alexia setelah berbalik ke belakang dan menangkap tangan pelayan itu. "Kau tidak punya Mana, tapi memiliki kecepatan dan keterampilan yang tidak biasa. Apakah kau seorang assassin terlatih?"
"B-bagaimana ..." pelayan itu melebarkan mata, terkejut.
Alexia memutar pergelangan tangannya dan pisau yang dipegang pelayan itu pun jatuh ke lantai. Setelah itu, dia menekuk lengan pelayannya dan memaksanya berlutut.
"Aku akan bertanya sekali lagi," Alexia mendorong lengan pelayan itu hingga tulangnya bergesekan dan mulutnya pun merintih kesakitan. "Siapa orang yang menyuruhmu meracuniku? Apa yang sedang dia rencanakan saat ini?!"
Situasinya pun berubah dan berpihak pada Alexia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments