Bab 2 - Akhir Perang Suci

Beberapa jam kemudian, waktu tengah malam...

Sekitar tujuh jam telah berlalu, tapi pertarungan mereka masih terus berlanjut hingga belum ada tanda berhenti.

Setiap kali pedang mereka bertemu, suara gemuruh dan ombak muncul hingga memecah kesunyian malam hari.

Bunyi ledakan bergema dengan keras, pilar yang hancur dan nyala sihir yang terang benderang membuat malam itu seolah-olah hidup. Darah dan keringat dingin mengalir di setiap bagian tubuh mereka seperti tetesan air hujan.

Luna mengambil napas dan menghunuskan pedang suci ke arah Ratu Iblis di depannya. "Tidak diragukan lagi, kau adalah salah satu penyihir terkuat tingkat 10–star Nova."

Pujian itu diberikan, namun dengan tatapan yang dingin.

"Tapi ..." Luna melirik pedang es yang dipegang oleh Ratu Iblis dan bertanya, "Mengapa kau menggunakan sebuah pedang alih-alih sihir? Apa kau sudah kehabisan Mana?"

Ratu Iblis diam dan membuat suasana jadi lebih tegang.

"Aku sedikit kecewa padamu, pahlawan manusia."

Luna menurunkan alisnya, tidak mengerti ucapannya.

"Apa kau sudah lupa dengan kekuatanku?" kata Ratu Iblis sambil memasang kuda-kuda dari seni beladiri ortodoks, yang membuat Luna tersentak dan melebarkan matanya.

"Selain dipanggil Ratu Es, aku punya satu julukan lagi."

'G-gawat!' batin Luna setelah melihat kuda-kudanya.

Luna panik dan segera menyilangkan pedang sucinya.

Ratu Iblis mengambil nafas panjang sambil mengangkat pedangnya ke langit. "Aku adalah iblis yang menciptakan sihir «Demonic Eyes», Ratu Iblis Primordial, Alexia Floral."

【 Axia Sword Technique, 1st Form : Falling Moonlight 】

Ratu Iblis pun mengayunkan pedangnya secara vertikal.

Ayunan dasar itu terlihat biasa saja, namun sebuah aura yang padat dan berat berwarna putih muncul karenanya.

Garis putih melintang yang tampak seperti cahaya bulan melesat jatuh tepat di atas kepala Luna. Serangan yang mengandung sedikit esensi niat pedang membuat Luna lumayan kesulitan untuk menghindar maupun bertahan.

Tekanannya saja membuat Luna tidak dapat bergerak.

'Ini buruk! Jika aku tidak menahan serangan ini, aku pasti akan mati.' pikirnya sambil menggenggam erat pedang suci. 'Bagaimanapun caranya, aku harus bertahan hidup!'

Dengan kekuatan yang tersisa, Luna mengalirkan semua Aura ke seluruh tubuhnya. Akibat tindakan yang ia ambil dengan gegabah, tubuhnya menerima banyak kerusakan.

'Aku... aku tidak boleh mati sebelum semua iblis mati!'

Tekadnya yang kuat membuat Luna tidak menyerah.

Darah mengalir keluar dari sela-sela bibirnya, namun dia masih tetap teguh dan memegang pedangnya. Luna tak punya pilihan selain memaksakan dirinya lebih jauh lagi.

"Jangan meremehkanku!" teriaknya dengan lantang.

【 Axia Sword Technique, 2nd Form : Moon Reflection 】

Slash!

Dengan kekuatan penuhnya, Luna melakukan tebasan ke langit. Garis putih yang sama muncul dengan kecepatan cahaya dan bertabrakan dengan serangan dari Ratu Iblis.

Pertemuan serangan mereka memicu gelombang angin kencang yang menerbangkan segala hal di sekitar sana.

Whooshh

Seluruh kastil bergetar dan ubin batu pun beterbangan.

Angin perlahan berhenti dan Luna yang telah menerima serangan itu masih berdiri di sana, tampak tidak terluka.

Meski berhasil menahan serangan itu, tapi dampak yang diberikan bukan main-main. Luna tiba-tiba muntah darah dan menancapkan pedang suci untuk menopang dirinya.

Cough!

Wajahnya semakin pucat dan tubuhnya sempoyongan.

"Seperti yang diharapkan dari pahlawan suci." kata Alexia, dan memuji Luna dengan tatapan yang dingin. "Kau tidak mungkin kalah dari teknik pedang yang kau buat sendiri."

Luna meludahkan darah di mulutnya dan menatap sinis.

"Aku tidak butuh pujian yang keluar dari mulut peniru."

Seperti yang dikatakan oleh Luna, Alexia barusan meniru dan menyerangnya menggunakan seni pedang miliknya sendiri. Meski ada banyak yang diubah, namun esensi di dalamnya masih sama dan mempertahankan fungsinya.

Luna yang tadi diunggulkan karena mempunyai elemen cahaya, saat ini disudutkan akibat dikendalikan sesaat oleh amarah. Itulah alasan mengapa dia sekarang kalah.

Sementara itu, di sisi lain...

Alexia menatap Luna dalam keheningan.

Dalam tatapan matanya, Alexia dapat melihat kesedihan dan kesepian. Semakin dalam dia melihat, Alexia sedikit memahami dirinya dan mengerti rasa sakit yang ia alami.

Dia sama sepertiku.

Itulah yang dipikirkan oleh Alexia saat melihatnya.

Ingatan buruk pada hari itu tiba-tiba muncul di kepalanya dan membuat Alexia merasa sedikit emosional. Karena kenangan tidak menyenangkan itu, dia mulai kehilangan semangat bertarung dan tidak ingin melanjutkannya lagi.

"Menyerahlah, pahlawan Luna."

Perkataan tiba-tiba itu membuat Luna menjadi bingung.

"O-omong kosong apa itu?! Apa kau merasa iba padaku?"

Luna mengerutkan keningnya dan berkata, "Lupakan itu dan ayo kita lanjutkan. Aku masih bisa bertarung dan... ?"

Luna pun berhenti bicara saat melihat tatapan Alexia.

"Ada apa dengan tatapan matamu yang aneh itu?"

Tidak ada permusuhan atau kebencian pada tatapannya.

Tidak ada pandangan iba maupun merendahkan juga.

Dia menatap lurus ke arahnya, bukan sebagai pahlawan, melainkan wanita normal dan biasa yang bernama Luna.

Keteguhan hatinya mulai goyah ketika ia melihat tatapan Alexia yang tampak seperti mengerti dirinya, tapi Luna langsung sadar setelah melihat potongan tangan Miya.

"Berhenti menatapku seperti itu!" teriaknya, kesal.

Ratu Iblis Alexia menyarungkan pedangnya dan berkata,

"Sebagai sesama orang yang tahu arti sebenarnya dari rasa sakit, aku akan melepaskanmu. Pergilah, aku tidak ingin melawanmu yang sudah tidak bisa bergerak lagi."

Perkataannya membuat harga diri Luna terluka.

"Aku tidak butuh belas kasihanmu! Lagipula, apa yang kau tahu? Kau bahkan tidak tahu apapun tentang diriku!"

Teriakannya bergema sesaat dan berhenti ketika Alexia menatapnya dengan ramah. Luna menjadi makin kesal dan tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Ratu Iblis.

Luna mengertakkan gigi dan berteriak dengan lantang.

"Jika kau sudah tahu artinya rasa sakit, lalu kenapa kau memulai perang yang tidak berguna dan penuh dengan penderitaan ini?!" tanya Luna dengan nada yang tinggi.

Luna kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.

"Jika kau tidak memulai perang ini, pertemuan kita tidak mungkin seperti ini. Kenapa kau memulai perang suci?"

Alexia terdiam dan pandangan matanya berubah.

Sekali lagi, ingatan buruk itu kembali menghantuinya.

"Aku... yang memulai perang tidak berguna ini?"

Alexia tertawa lirih dan berteriak balik. "Kau bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah menceburkan diri ke neraka ini!? Dan kau menyebut dirimu pahlawan?!"

Amarahnya membuat Luna terkejut dan diam membisu.

"Aku pikir kita punya rasa sakit yang sama, tapi ternyata kau hanya gadis polos yang bahkan tidak tahu apa-apa."

Kata-katanya membuat Luna heran dan kebingungan.

'Apa yang sebenarnya tidak aku ketahui?'

Luna sampai berpikir seperti itu setelah mendengarnya.

Dan dalam kebingungannya, seorang iblis tiba-tiba saja menerobos masuk ke aula dengan raut wajah khawatir.

"Yang Mulia, apa anda baik-baik saja?"

Alexia menoleh ke belakang dan berkata,

"Ursula, kah ...? Aku tidak apa-apa." Alexia menatap Luna yang kebingungan dan berbalik pergi. "Kenapa kau ada di sini? Apakah garis pertahanan timur telah dihancurkan?"

"Belum." jawab Ursula dengan percaya diri.

"Kalau masih belum hancur, kenapa kau mundur ke sini?"

Ursula menarik belati dari sakunya dan mendekati Alexia.

"Itu karena anda masih hidup, Yang Mulia."

Jawabannya membuat Alexia mulai kebingungan.

"Apa maksudmu mengatakan hal—"

Jleb!

Suara tusukan yang tiba-tiba membuat Luna tersadar.

Di depannya, dia melihat sesuatu yang sangat tidak bisa dipercaya. Iblis yang seharusnya mematuhi perintahnya, tiba-tiba berkhianat dan menusuk Ratu Iblis dari depan.

"Kenapa... cough!"

Alexia batuk dan buru-buru mengayunkan sikunya untuk menjauh dari Ursula. Dengan kekuatan yang tersisa, dia berusaha untuk menetralisir lukanya, tapi hal itu sia-sia.

"Tindakan anda sia-sia, Yang Mulia. Belati ini sudah saya lapisi dengan racun mematikan yang sulit disembuhkan."

Luna memandang mereka dalam ketegangan.

"K-kenapa kau mengkhianatiku, Ursula?"

Ursula diam saja dan tatapannya menjadi kosong. Tak lama setelah itu, dia sempoyongan dan jatuh pingsan.

'Apa dia dikendalikan ...?' pikir Alexia, hanya menebak.

Sebelum mengetahui apa yang terjadi, racun yang Ursula katakan makin menyebar ke tubuhnya. Buktinya, semua inderanya perlahan menumpul. Tubuhnya tidak mampu bertahan lebih lama akibat racun, dan dia jatuh ke tanah.

'Ini adalah racun monster basilik.' batin Alexia, setelah ia memeriksa kondisi tubuhnya sendiri. 'Penawar racun ini sangat langka, jadi sulit untuk menemukannya sekarang.'

Alexia pun menyerah karena tidak diberikan pilihan lain.

Dalam pandangannya yang kabur, Alexia melihat samar Luna mendekatinya dengan menyeret tubuhnya sendiri.

'Apa yang dia lakukan? Kenapa dia tidak lari dan malah mendekatiku ...? Apa dia ingin melihat kematianku lebih dekat? Dan apa yang ingin dikatakan olehnya dari tadi?'

Mulutnya bergerak seperti mengatakan sesuatu, namun Alexia tidak bisa mendengarnya karena inderanya sudah tidak berfungsi. Apalagi, dia pikir itu sudah tidak penting.

Alexia menghela napas dan menutup kedua matanya.

Dan saat itulah akhir hidup dari Ratu Iblis, Alexia Floral.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!