Di padang rumput yang sangat besar, sebuah pertikaian sedang terjadi. Teriakan putus asa bergema tanpa henti, dan bau darah menyebar seperti bangkai di mana-mana.
Ratusan nyawa yang berharga melayang setiap detiknya.
Ketakutan serta kebencian kini jadi makanan sehari-hari bagi mereka yang selalu berjuang untuk bertahan hidup.
Bukan hanya ras yang disebut manusia, tapi berbagai ras campuran seperti elf, spirit, naga, dan manusia setengah binatang juga sedang mempertaruhkan masa depannya.
Langit bergemuruh setiap kali bola api besar melayang di udara. Ledakannya mengguncang langit dan bumi, serta menghancurkan dan membakar semua hal yang tersisa.
Keputusasaan menyebar ke seluruh benua selatan bagai penyakit menular yang sangat sulit untuk disembuhkan.
Tidak perlu dikatakan lagi untuk memperjelasnya. Sebab, yang terjadi sekarang adalah sebuah perang yang besar.
Tidak ada yang tahu bagaimana perang ini bisa terjadi.
Mereka hanya diberitahu bahwa ada sebuah ras superior yang ingin menempati dan menguasai seluruh dunia ini.
Dan ras superior yang dimaksud adalah ras "Iblis".
Perang ini berlangsung begitu lama hingga dendam dan kebencian menumpuk. Kehancuran ras iblis kini menjadi keinginan setiap orang demi mencari perdamaian sejati.
****
Sementara itu, di sisi lain...
"Apa ini jalan yang benar?" tanya seorang gadis manusia sambil memperhatikan situasi yang terjadi di sekitarnya.
"Tentu saja," jawab orang yang berlari di depannya.
Seorang gadis bertelinga panjang tiba-tiba saja berhenti setelah telinganya menangkap suatu bunyi yang sangat mencurigakan. Sebuah bunyi dentingan besi yang keras.
"Tunggu," ucapnya sambil mengangkat tangan.
Orang-orang yang bergerak bersamanya pun berhenti.
"Ada apa? Apa ada musuh di sekitar sini?"
Gadis bertelinga panjang, Miya, terdiam sesaat.
"Aku belum tahu apakah mereka musuh atau bukan, tapi aku mendengar suara pertarungan sengit di depan sana."
Semua orang mengikuti arah yang ditunjuk oleh Miya.
Suasana yang tenang tiba-tiba menjadi menegangkan.
"Alisha, bagaimana pendapatmu tentang ini?"
"Aku mencium bau menjijikan dari iblis." ujarnya dengan mengibaskan ekornya yang bersisik, tidak menyukainya.
Setelah mendengar jawaban Alisha, Miya terdiam.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" Miya bertanya sambil memandang ke arah gadis berambut emas di depannya.
Gadis berambut emas itu pun menjadi bimbang.
"Luna, penciuman Alisha tidak mungkin salah."
Seorang gadis yang punya empat pasang sayap tembus pandang di balik punggungnya menjamin kebenarannya.
"Aku juga bisa melihat Mana hitam yang sangat pekat di depan sana. Dengan jumlah Mana yang jauh lebih besar dari kita semua, aku rasa iblis itu merupakan salah satu dari 4 Jenderal Raja Iblis. Jadi apa keputusanmu, Luna?"
"Tentu saja kita harus menghadapi iblis itu!" sahut gadis manusia tersebut dengan penuh tekad. "Jika penciuman Alisha itu benar, maka kita tidak boleh tinggal diam saja!"
Mereka saling bertatap mata dan mengangguk setuju.
"Jika itu keputusanmu, maka kita akan mengikutimu."
Setelah mengambil keputusan untuk menyerang, mereka langsung bergerak ke lokasinya. Suara pertarungan pun terdengar semakin keras ketika mereka makin mendekat.
Dan tibalah mereka di suatu ruangan yang begitu luas.
Di tempat yang besar seperti aula, mereka menemukan seorang iblis dengan tanduk yang mencuat di kepalanya.
Dia berdiri di sana dengan tubuh yang penuh luka.
Iblis itu segera menyeka darah di pipinya dan menoleh.
"Setelah membunuh satu, datang lagi yang lainnya."
Luna tiba-tiba tertegun saat matanya menangkap sosok pria berpakaian putih sedang berbaring di bawah iblis itu.
"T-tunggu... bukankah itu Saint Nero?!"
Orang yang sedang diinjak oleh iblis itu batuk darah dan menoleh ke arah sumber suara yang tadi memanggilnya.
"Jadi kau sudah sampai di sini, pahlawan Luna."
Suaranya terdengar begitu serak, dan terdapat rasa sakit di dalamnya. Matanya bahkan perlahan mulai kehilangan cahaya dan energi kehidupannya kini semakin memudar.
"Maaf, aku tidak bisa menemanimu lebih jauh lagi."
Pria terkuat yang dikenal sebagai Saint Pedang Kerajaan, Nero Ed Kairis sekarang berada dalam kondisi terburuk.
"Lepaskan Saint Nero sekarang juga!" teriak Luna sambil menghunuskan pedang suci yang bercahaya ke arahnya.
'Kalau terus dibiarkan seperti itu, dia akan mati!' pikirnya.
"Jadi kau masih hidup setelah menerima serangan yang melukai jiwa... aku pikir kau sudah mati." kata iblis itu dan tanpa pikir panjang mengangkat pedangnya lebih tinggi.
Gerakan iblis itu membuat Luna menjadi sangat panik.
"T-tidak... jangan! Berhenti!" teriak Luna, histeris.
"Kalau begitu, selamat tinggal."
Jleb!
Pedang dijatuhkan dan langsung menusuk jantungnya.
Tak lama kemudian, sosok terkuat yang dikenal sebagai Sword Saint mengembuskan napas terakhirnya di sana.
Melihat kematiannya membuat Luna menjadi putus asa dan merasa hampa. Pedang suci yang tergenggam erat di tangannya pun terlepas dan jatuh menancap di tanah.
Kenapa semua ini terjadi? Apakah ini hanya mimpi?
Luna ingin bertanya, tapi tidak ada seorangpun yang bisa menjawabnya. Tidak ada orang yang ingin berbicara dan memberitahu kebenarannya. Semua tampak tidak nyata, tetapi akal sehatnya kian pulih dan menyadarkan dirinya.
Luna yang putus asa pun berpikir,
'Seharusnya dia tidak ditakdirkan mati di sini kalau aku lebih cepat datang ke sini. A-apakah semua ini salahku?'
Melihat rekan sekaligus guru pengajar yang selalu sabar dalam membimbingnya berlatih pedang, mati di depan matanya, hal itu membuat mental Luna jadi terguncang.
Dia kehilangan harapannya untuk sesaat, tapi...
Plakkk!
"Sadarlah, Luna!" teriak Miya sambil menampar pipinya.
Luna yang terkejut pun menoleh ke arah Miya.
"Ini bukan saatnya merasa bersalah! Jika kamu berhenti sampai di sini, maka perjuangan semua orang termasuk Saint Pedang Nero akan menjadi sia-sia! Jadi, sadarlah!"
Teriakannya sangat menusuk sampai ke telinga, namun berkat itu, Luna sadar dan mulai bisa berpikir jernih lagi.
'Miya benar. Ini bukan saatnya merasa bersalah karena kematian Saint Nero.' batin Luna sambil menarik napas panjang. 'Aku tidak boleh menyerah di sini! Aku punya tugas yang sangat penting untuk mengakhiri perang ini!'
"Terima kasih." ucap Luna sambil tersenyum ramah, dan dia mengusap pipi kanannya yang terasa sakit. "Tapi aku akan membalas ini nanti. Jadi persiapkan dirimu, Miya."
Miya tersenyum canggung dan mengulurkan tangannya.
"T-tolong jangan terlalu keras pada elf yang lemah ini."
"Itu tergantung suasana hatiku." sahutnya, bercanda.
Luna menggapai tangan Miya dan hendak berdiri, namun firasat buruk yang tidak menyenangkan tiba-tiba muncul.
Energi sihir dengan jumlah yang sangat tidak masuk akal tiba-tiba berkumpul di satu titik. Luna merasa aneh pada awalnya karena iblis itu terlihat tidak melakukan apapun.
Tapi setelah merasakan energi sihir yang kuat dari suatu tempat, Luna pun menyadari keanehan itu dan berteriak.
"Cepat pergi dari sini sekarang juga!"
Semua orang terkejut saat mendengar teriakannya.
"A-ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba berte... riak ...?"
Namun, peringatannya sudah terlalu terlambat.
Duarr!
Sinar merah yang sangat kuat meledak dari balik pintu di belakang iblis itu. Sinar merah melenyapkan semua yang dilaluinya tanpa pandang bulu dan membakar segalanya.
Semuanya hangus hingga tidak meninggalkan apapun.
Dan yang tersisa di sana hanya Luna sendirian, dengan sepotong tangan yang masih menggenggam tangannya.
Dalam momen itu, dia melihat teman-temannya terbakar oleh sinar itu hingga menjadi abu. Luna berhasil selamat berkat baju besi anti sihir dan perlindungan pedang suci.
"K-kenapa... kenapa kejadian ini terulang kembali ...?"
Matanya yang bercahaya kini mulai memudar. Dan untuk mengetahui apa yang barusan terjadi, Luna mengalihkan pandangannya ke sumber sinar itu pertama kali muncul.
Dan di sana, Luna melihat sosok yang mempesona.
Dengan sepasang tanduk hitam di kepalanya, dia terlihat lebih berwibawa dan berkarisma dari berbagai iblis yang pernah Luna temui. Memakai gaun hitam yang berkilau seperti langit malam, sosok itu berjalan keluar dari aula.
Aneh untuk menyebutnya spirit dengan tiara hitam yang melayang di atas kepalanya, terlalu kejam menyebutnya malaikat dengan wajahnya yang menawan, dan terlalu aman menyebutnya iblis dengan tubuhnya yang remaja.
Meski begitu, sekali lihat Luna bisa mengetahuinya.
Bahwa wanita itu tidak lain adalah "Raja Iblis".
Keheningan sesaat jatuh, tapi...
"Raja Iblis—tidak... jadi ini ulahmu, Ratu Iblis!"
Amarahnya meledak dan matanya penuh kebencian.
Luna berdiri dan mencabut pedang suci yang menancap di tanah. Ia tanpa pikir panjang langsung berlari kencang dan menghampiri orang yang memulai mimpi buruk ini.
"Matilah!" teriak Luna dengan putus asa.
Beberapa jam kemudian, waktu tengah malam...
Sekitar tujuh jam telah berlalu, tapi pertarungan mereka masih terus berlanjut hingga belum ada tanda berhenti.
Setiap kali pedang mereka bertemu, suara gemuruh dan ombak muncul hingga memecah kesunyian malam hari.
Bunyi ledakan bergema dengan keras, pilar yang hancur dan nyala sihir yang terang benderang membuat malam itu seolah-olah hidup. Darah dan keringat dingin mengalir di setiap bagian tubuh mereka seperti tetesan air hujan.
Luna mengambil napas dan menghunuskan pedang suci ke arah Ratu Iblis di depannya. "Tidak diragukan lagi, kau adalah salah satu penyihir terkuat tingkat 10–star Nova."
Pujian itu diberikan, namun dengan tatapan yang dingin.
"Tapi ..." Luna melirik pedang es yang dipegang oleh Ratu Iblis dan bertanya, "Mengapa kau menggunakan sebuah pedang alih-alih sihir? Apa kau sudah kehabisan Mana?"
Ratu Iblis diam dan membuat suasana jadi lebih tegang.
"Aku sedikit kecewa padamu, pahlawan manusia."
Luna menurunkan alisnya, tidak mengerti ucapannya.
"Apa kau sudah lupa dengan kekuatanku?" kata Ratu Iblis sambil memasang kuda-kuda dari seni beladiri ortodoks, yang membuat Luna tersentak dan melebarkan matanya.
"Selain dipanggil Ratu Es, aku punya satu julukan lagi."
'G-gawat!' batin Luna setelah melihat kuda-kudanya.
Luna panik dan segera menyilangkan pedang sucinya.
Ratu Iblis mengambil nafas panjang sambil mengangkat pedangnya ke langit. "Aku adalah iblis yang menciptakan sihir «Demonic Eyes», Ratu Iblis Primordial, Alexia Floral."
【 Axia Sword Technique, 1st Form : Falling Moonlight 】
Ratu Iblis pun mengayunkan pedangnya secara vertikal.
Ayunan dasar itu terlihat biasa saja, namun sebuah aura yang padat dan berat berwarna putih muncul karenanya.
Garis putih melintang yang tampak seperti cahaya bulan melesat jatuh tepat di atas kepala Luna. Serangan yang mengandung sedikit esensi niat pedang membuat Luna lumayan kesulitan untuk menghindar maupun bertahan.
Tekanannya saja membuat Luna tidak dapat bergerak.
'Ini buruk! Jika aku tidak menahan serangan ini, aku pasti akan mati.' pikirnya sambil menggenggam erat pedang suci. 'Bagaimanapun caranya, aku harus bertahan hidup!'
Dengan kekuatan yang tersisa, Luna mengalirkan semua Aura ke seluruh tubuhnya. Akibat tindakan yang ia ambil dengan gegabah, tubuhnya menerima banyak kerusakan.
'Aku... aku tidak boleh mati sebelum semua iblis mati!'
Tekadnya yang kuat membuat Luna tidak menyerah.
Darah mengalir keluar dari sela-sela bibirnya, namun dia masih tetap teguh dan memegang pedangnya. Luna tak punya pilihan selain memaksakan dirinya lebih jauh lagi.
"Jangan meremehkanku!" teriaknya dengan lantang.
【 Axia Sword Technique, 2nd Form : Moon Reflection 】
Slash!
Dengan kekuatan penuhnya, Luna melakukan tebasan ke langit. Garis putih yang sama muncul dengan kecepatan cahaya dan bertabrakan dengan serangan dari Ratu Iblis.
Pertemuan serangan mereka memicu gelombang angin kencang yang menerbangkan segala hal di sekitar sana.
Whooshh
Seluruh kastil bergetar dan ubin batu pun beterbangan.
Angin perlahan berhenti dan Luna yang telah menerima serangan itu masih berdiri di sana, tampak tidak terluka.
Meski berhasil menahan serangan itu, tapi dampak yang diberikan bukan main-main. Luna tiba-tiba muntah darah dan menancapkan pedang suci untuk menopang dirinya.
Cough!
Wajahnya semakin pucat dan tubuhnya sempoyongan.
"Seperti yang diharapkan dari pahlawan suci." kata Alexia, dan memuji Luna dengan tatapan yang dingin. "Kau tidak mungkin kalah dari teknik pedang yang kau buat sendiri."
Luna meludahkan darah di mulutnya dan menatap sinis.
"Aku tidak butuh pujian yang keluar dari mulut peniru."
Seperti yang dikatakan oleh Luna, Alexia barusan meniru dan menyerangnya menggunakan seni pedang miliknya sendiri. Meski ada banyak yang diubah, namun esensi di dalamnya masih sama dan mempertahankan fungsinya.
Luna yang tadi diunggulkan karena mempunyai elemen cahaya, saat ini disudutkan akibat dikendalikan sesaat oleh amarah. Itulah alasan mengapa dia sekarang kalah.
Sementara itu, di sisi lain...
Alexia menatap Luna dalam keheningan.
Dalam tatapan matanya, Alexia dapat melihat kesedihan dan kesepian. Semakin dalam dia melihat, Alexia sedikit memahami dirinya dan mengerti rasa sakit yang ia alami.
Dia sama sepertiku.
Itulah yang dipikirkan oleh Alexia saat melihatnya.
Ingatan buruk pada hari itu tiba-tiba muncul di kepalanya dan membuat Alexia merasa sedikit emosional. Karena kenangan tidak menyenangkan itu, dia mulai kehilangan semangat bertarung dan tidak ingin melanjutkannya lagi.
"Menyerahlah, pahlawan Luna."
Perkataan tiba-tiba itu membuat Luna menjadi bingung.
"O-omong kosong apa itu?! Apa kau merasa iba padaku?"
Luna mengerutkan keningnya dan berkata, "Lupakan itu dan ayo kita lanjutkan. Aku masih bisa bertarung dan... ?"
Luna pun berhenti bicara saat melihat tatapan Alexia.
"Ada apa dengan tatapan matamu yang aneh itu?"
Tidak ada permusuhan atau kebencian pada tatapannya.
Tidak ada pandangan iba maupun merendahkan juga.
Dia menatap lurus ke arahnya, bukan sebagai pahlawan, melainkan wanita normal dan biasa yang bernama Luna.
Keteguhan hatinya mulai goyah ketika ia melihat tatapan Alexia yang tampak seperti mengerti dirinya, tapi Luna langsung sadar setelah melihat potongan tangan Miya.
"Berhenti menatapku seperti itu!" teriaknya, kesal.
Ratu Iblis Alexia menyarungkan pedangnya dan berkata,
"Sebagai sesama orang yang tahu arti sebenarnya dari rasa sakit, aku akan melepaskanmu. Pergilah, aku tidak ingin melawanmu yang sudah tidak bisa bergerak lagi."
Perkataannya membuat harga diri Luna terluka.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu! Lagipula, apa yang kau tahu? Kau bahkan tidak tahu apapun tentang diriku!"
Teriakannya bergema sesaat dan berhenti ketika Alexia menatapnya dengan ramah. Luna menjadi makin kesal dan tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Ratu Iblis.
Luna mengertakkan gigi dan berteriak dengan lantang.
"Jika kau sudah tahu artinya rasa sakit, lalu kenapa kau memulai perang yang tidak berguna dan penuh dengan penderitaan ini?!" tanya Luna dengan nada yang tinggi.
Luna kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.
"Jika kau tidak memulai perang ini, pertemuan kita tidak mungkin seperti ini. Kenapa kau memulai perang suci?"
Alexia terdiam dan pandangan matanya berubah.
Sekali lagi, ingatan buruk itu kembali menghantuinya.
"Aku... yang memulai perang tidak berguna ini?"
Alexia tertawa lirih dan berteriak balik. "Kau bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah menceburkan diri ke neraka ini!? Dan kau menyebut dirimu pahlawan?!"
Amarahnya membuat Luna terkejut dan diam membisu.
"Aku pikir kita punya rasa sakit yang sama, tapi ternyata kau hanya gadis polos yang bahkan tidak tahu apa-apa."
Kata-katanya membuat Luna heran dan kebingungan.
'Apa yang sebenarnya tidak aku ketahui?'
Luna sampai berpikir seperti itu setelah mendengarnya.
Dan dalam kebingungannya, seorang iblis tiba-tiba saja menerobos masuk ke aula dengan raut wajah khawatir.
"Yang Mulia, apa anda baik-baik saja?"
Alexia menoleh ke belakang dan berkata,
"Ursula, kah ...? Aku tidak apa-apa." Alexia menatap Luna yang kebingungan dan berbalik pergi. "Kenapa kau ada di sini? Apakah garis pertahanan timur telah dihancurkan?"
"Belum." jawab Ursula dengan percaya diri.
"Kalau masih belum hancur, kenapa kau mundur ke sini?"
Ursula menarik belati dari sakunya dan mendekati Alexia.
"Itu karena anda masih hidup, Yang Mulia."
Jawabannya membuat Alexia mulai kebingungan.
"Apa maksudmu mengatakan hal—"
Jleb!
Suara tusukan yang tiba-tiba membuat Luna tersadar.
Di depannya, dia melihat sesuatu yang sangat tidak bisa dipercaya. Iblis yang seharusnya mematuhi perintahnya, tiba-tiba berkhianat dan menusuk Ratu Iblis dari depan.
"Kenapa... cough!"
Alexia batuk dan buru-buru mengayunkan sikunya untuk menjauh dari Ursula. Dengan kekuatan yang tersisa, dia berusaha untuk menetralisir lukanya, tapi hal itu sia-sia.
"Tindakan anda sia-sia, Yang Mulia. Belati ini sudah saya lapisi dengan racun mematikan yang sulit disembuhkan."
Luna memandang mereka dalam ketegangan.
"K-kenapa kau mengkhianatiku, Ursula?"
Ursula diam saja dan tatapannya menjadi kosong. Tak lama setelah itu, dia sempoyongan dan jatuh pingsan.
'Apa dia dikendalikan ...?' pikir Alexia, hanya menebak.
Sebelum mengetahui apa yang terjadi, racun yang Ursula katakan makin menyebar ke tubuhnya. Buktinya, semua inderanya perlahan menumpul. Tubuhnya tidak mampu bertahan lebih lama akibat racun, dan dia jatuh ke tanah.
'Ini adalah racun monster basilik.' batin Alexia, setelah ia memeriksa kondisi tubuhnya sendiri. 'Penawar racun ini sangat langka, jadi sulit untuk menemukannya sekarang.'
Alexia pun menyerah karena tidak diberikan pilihan lain.
Dalam pandangannya yang kabur, Alexia melihat samar Luna mendekatinya dengan menyeret tubuhnya sendiri.
'Apa yang dia lakukan? Kenapa dia tidak lari dan malah mendekatiku ...? Apa dia ingin melihat kematianku lebih dekat? Dan apa yang ingin dikatakan olehnya dari tadi?'
Mulutnya bergerak seperti mengatakan sesuatu, namun Alexia tidak bisa mendengarnya karena inderanya sudah tidak berfungsi. Apalagi, dia pikir itu sudah tidak penting.
Alexia menghela napas dan menutup kedua matanya.
Dan saat itulah akhir hidup dari Ratu Iblis, Alexia Floral.
Lima ratus tahun kemudian...
Di sebuah kamar besar dengan interior yang mewah dan tertata rapi, tampak seorang gadis dengan rambut perak yang terurai sedang tertidur sambil mendekap tubuhnya.
Kepalanya diperban kain putih, sementara itu wajahnya pucat pasi seperti orang mati yang dihidupkan kembali.
Napasnya yang tidak beraturan menandakan bahwa dia sedang menderita. Beberapa kali gadis itu merintih dan mengeluarkan suara erangan seperti tupai yang terluka.
Dalam kegelapan, gadis itu yang sendirian pun akhirnya terbangun. Matanya yang terpejam cukup rapat perlahan terbuka, memperlihatkan mata merah delima yang indah.
Cahaya matanya juga perlahan mulai kembali bersinar.
Ketika sebuah ingatan mengenai belati yang menusuk ke jantungnya muncul, dia langsung bangun dan bernapas dengan terengah-engah. Keringat pun bercucuran keluar.
Gadis itu meraba tubuhnya, tapi tidak menemukan bekas luka tusuk maupun bekas luka lain yang diingat olehnya.
"Aku masih hidup?"
Begitulah ujar gadis tersebut.
Dia merasakan rasa hangat setelah mengepalkan kedua tangannya, apalagi embusan napasnya juga lebih terasa.
"Bagaimana aku bisa—cough!"
Sebelum memproses apa yang terjadi padanya, gadis itu tiba-tiba batuk darah. Jantungnya terasa sakit dan organ tubuh yang lain juga terasa tak berfungsi dengan normal.
Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
Gadis itu ingin bertanya, tapi tidak ada seorangpun yang bisa menjawabnya. Dia hanya bisa melihat ke sekitarnya untuk mencari informasi dan petunjuk di mana ia berada.
'Di mana ini? Siapa yang membawaku ke tempat ini?'
Itulah yang dipikirkan olehnya setelah melihat berbagai interior asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Sampai suatu ketika, gadis itu melihat ke arah jendela di sebelah kanan tempat tidurnya. Dengan rasa penasaran, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela.
Dan saat ia membuka gorden, matanya terbuka lebar.
"Sebenarnya aku sedang berada di mana ...?!"
Pemandangan yang gadis itu lihat sampai membuatnya terkejut adalah sebuah kota besar yang damai. Menilai sudut pandang saat gadis itu melihat kota, sepertinya ia tinggal di dataran yang lebih tinggi dari rumah penduduk.
Matanya menyipit dan menatap pahit ke arah kota itu.
"Kedamaian, ya ..."
Gadis itu bergumam sambil mengingat kejadian hari itu.
'Kenapa dia menusukku dari belakang ...?' pikirnya.
Pasti ada alasan mengapa dia melakukan hal tersebut.
Itulah yang diyakini oleh gadis itu.
Beberapa saat setelah mengenang masa lalu, rasa sakit di dadanya muncul lagi. Rasanya seperti seluruh tulang di tubuhnya berderit kesakitan, seakan perlahan hancur oleh sebuah hantaman. Apalagi, dia kesulitan bernapas.
"A-apa yang terjadi pada tubuhku?" kata gadis itu seraya mencoba mengalirkan energi sihirnya ke seluruh tubuh, berharap ia dapat menemukan sumber dari masalahnya.
Namun, reaksi yang dia dapatkan tidak sesuai harapan.
Energi sihir atau Mana, tidak merespon keinginannya.
"K-kenapa aku tidak bisa menggunakan Mana?"
Dia pun mulai panik setelah gagal berulang kali.
Gadis itu mencoba sekali lagi, tapi tetap saja Mana tidak menjawabnya. Bukannya memperoleh respon dari Mana, tapi dia justru mendapatkan rasa sakit yang lebih parah.
Tak lama kemudian, bunyi pintu diketuk dan suara gadis dengan nada yang lembut memanggil namanya muncul.
"Alexia, apa kamu sudah bangun? Aku masuk, ya?"
Gadis yang berlutut di lantai sambil memegang dadanya, yang tidak lain adalah Alexia, menoleh ke arah pintu yang ada di ujung kamarnya. Pintu kamar perlahan dibuka dan menampilkan seseorang yang tadi memanggil namanya.
'Suara siapa itu ...?' batin Alexia dengan kepalanya yang terasa sakit dan pandangan mata yang juga mulai kabur.
"Kenapa kamu tidak menjawab? Apa kamu belum ...!?"
Setelah dia melihat Alexia sedang berlutut dengan darah yang mengalir keluar dari mulut, gadis itu pun tersentak.
"Alexia?!" serunya dan bergegas menghampiri Alexia.
"Apa yang terjadi?! K-kenapa kamu bisa berada di lantai?"
Gadis itu langsung membantu Alexia berdiri dan segera membawanya kembali ke kasur. Dia membaringkannya dengan lemah lembut dan memeriksa kondisi tubuhnya.
"Luna ...? Apa itu kamu?" Alexia memanggil gadis itu saat melihat rambut berwarna emas yang beraroma matahari.
"D-di mana kita berada? Apa yang terjadi padaku?"
Pertanyaan itu membuat gadis di depannya bingung.
"Luna? Siapa itu Luna?" gadis itu menyelimuti Alexia lagi dan berkata, "Aku adalah kakakmu, Aurora. Kenapa kamu seperti orang linglung? Apa kamu tadi bermimpi buruk?"
Pengelihatannya yang buram kembali dan menunjukkan wajah seseorang yang membantunya. Penampilan dan seluruh bagian tubuhnya sangat mirip dengan pahlawan Luna, tapi dia hanya punya sedikit sihir suci di tubuhnya.
"Kakakku ...?" Alexia bingung, tapi rasa sakit di kepalanya kembali dengan membawa ingatan yang bukan miliknya.
'Ingatan macam apa ini?!' batin Alexia sambil memegang erat kepalanya yang terasa pusing seperti ingin meledak.
Sebuah ingatan tentang seorang gadis berusia 15 tahun yang sangat mengagumi keindahan dari dunia sihir. Dia diasingkan dan diabaikan oleh saudara, sepupu, bahkan keluarganya sendiri karena kesukaannya terhadap sihir.
Selain itu, ayahnya yang adalah pengguna Aura tingkat 7 kecewa, karena dia lebih memilih sihir daripada pedang.
Setiap hari, gadis itu terus berlatih dan mengembangkan berbagai jenis sihir walaupun dia tidak berhasil. Namun, hobi dan kesukaannya itu dianggap aib bagi keluarganya.
Dia bahkan dirundung keluarga dan teman-temannya.
Hingga pada akhirnya, gadis itu jatuh dari lantai empat akibat jebakan yang dipasang oleh saudara sepupunya.
Aurora yang mengetahui hal itu pun langsung memarahi mereka, tapi dia tidak dapat melakukan apapun padanya.
Sepupunya memiliki dukungan dari para tetua, jadi tidak ada yang dapat dilakukan selain memberinya hukuman ringan. Aurora tidak terima dengan hukuman yang telah diberikan, tapi dia tak bisa membantah perkataan tetua.
'Ingatan ini bukan milikku, tapi milik tubuh ini ...'
Itulah yang Alexia tangkap setelah melihat ingatan itu.
Alexia yang telah menyadari kejadian aneh ini berpikir,
'Benar juga, aku seharusnya sudah mati karena tertusuk belati. Apa ini yang orang sebut sebagai reinkarnasi? Ini situasi yang jauh lebih membingungkan daripada isi dari sihir tingkat 10. Apa aku berpikir terlalu jauh tentang ini?'
Alexia benar-benar sangat bingung dengan keadaan ini.
"Alexia, ada apa?" tanya Aurora dengan raut wajah cemas dan khawatir. "Apa kepalamu sakit lagi? Jika masih sakit, aku bisa merawatmu dengan sihir penyembuhan biasa."
Aurora lalu mengulurkan tangannya ke kepala Alexia.
'Sihir penyembuhan?!' batin Alexia, terkejut. 'Tunggu, jika kamu melakukan itu, aku tidak mungkin dapat bertahan!'
"Tunggu, jangan! Jika kamu melakukannya, aku akan ...!"
【 Holy Magic 2–star : Healing Light 】
Alexia berpikir dia akan sangat menderita, tapi tubuhnya justru merasa lebih hangat dan nyaman. Seolah-olah dia sedang berendam di pemandian air panas. Rasa sakit di kepala dan sekujur tubuhnya perlahan semakin mereda.
"Apa kamu merasa sedikit lebih baik?" tanya Aurora.
Alexia mengangguk dan menjawab, "Y-ya, ini lebih baik."
Ras iblis punya tubuh unik yang sangat sensitif terhadap energi suci. Setiap kali mereka terkena sihir suci, organ dalam tubuhnya akan terasa seperti meleleh. Dan tubuh mereka akan hancur dari dalam jika menerima sihir suci.
Alexia yang menikmati kehangatan itu tiba-tiba berpikir.
'Tunggu, kenapa gadis ini bisa menggunakan sihir ...?'
Pertanyaan itu muncul dengan tanda tanya yang besar.
Alexia ingin bertanya, tapi pada akhirnya dia ragu-ragu.
Baru saja merasakan kehangatan, rasa dingin mendadak muncul dan menyerangnya dari dalam. Alexia batuk lagi, dan kali ini lebih parah. Aurora langsung menghentikan tindakannya dan mendadak panik setelah melihat darah.
"A-apa kamu baik-baik saja? Apa aku melakukan sesuatu yang salah sampai kamu muntah darah?" tanya Aurora dan segera mengambil kain untuk mengusap darahnya.
Alexia memandang darah yang ia muntahkan di telapak tangannya dan mengerutkan alis, merasa tidak nyaman.
"K-kakak, apa yang sebenarnya terjadi sampai kondisiku menjadi seperti ini? Apa aku makan sesuatu yang salah sampai membuatku hampir mati keracunan makanan?"
"Tidak, bukan itu."
Aurora menggelengkan kepalanya dan menjelaskan.
"Kamu terjatuh dari lantai empat, jadi mungkin ada organ tubuhmu yang terluka sangat parah. Pendeta dari gereja cahaya juga bilang tubuhmu begitu lemah hingga tidak bisa bertahan dari rasa sakit. Apa kamu sudah lupa itu?"
Penjelasannya menyakinkan dan sama dengan apa yang Alexia ingat. Apalagi, tidak ada kebohongan yang terlihat pada tatapannya. Jadi, dia dapat mempercayai gadis itu.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya mengenai hal itu?"
Aurora penasaran dengan pertanyaan yang diajukan.
"Tidak," Alexia memalingkan wajahnya. "Tidak apa-apa."
'Kalau apa yang kakak katakan itu benar,' batin Alexia dan menatap darahnya. 'Lalu kenapa bisa ada racun dalam tubuhku? Apa ada seseorang yang ingin membunuhku?'
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!