Bab 5

Tidak ada nama pada pengirim di pesan itu hanya tertera angka 040704.

"Udah sampai ya kak ?"

Kemudian layar ponsel itu kembali menjadi gelap. Dewi melihat Randi tidur lelap sekali. Kenapa Dewi tidak bertanya dengan semua yang dia lihat saat ini, karena Dewi sama sekali tidak curiga dengan semua yang terjadi.

Keesokan paginya, anak anaknya Dewi sudah berangkat ke sekolah. Hari ini Dewi masuk kerja jam 9. Dia masih mampir ke rumah Amalia sahabatnya.

"Kak, saya berangkat kerja dulu. Makanan sudah saya siapkan " Kata Dewi

"Sayang, saya mau ngomong sesuatu. Sini sebentar ".Randi memanggil Dewi

Dewi mendekati Randi "Ada apa?"

"Senin depan saya mulai kerja"

"Kerja di mana ?"

"Di tempat kak Johan, kantor PLN"

"Oh ya udah kak, selamat ya kak" Randi menatap Dewi sangat lama.

"Kak.. Kak...kak Randi ...." Randi terkejut, tatapan nya kosong

"Ya sayang"

"Saya berangkat kerja dulu"

"Ya sayang, hati hati" Dewi hanya tersenyum, Dewi menghilang dari pandangan Randi.

Randi kemudian mengirim kan pesan pada seseorang lalu masuk panggilan video dari seseorang.

"Pagi sayang "

"Pagi juga, kamu cantik sekali pagi ini . Lagi ngapain?'

"Ini lagi bantuin ibu petik daun singkong,.kakak lagi ngapain"

Randi mengangkat cangkir dan mengarahkan ke layar ponselnya.

"Oh lagi ngopi ya, lebih enakan mana kak sama kopi buatan saya?

"Kopi buatanmu jelas lebih nikmat sayang, ini aja ngopi sambil membayangkan kopi buatan kamu "

"Hahaha Makasih sayang, hum... Baru juga semalam di tinggal. Udah kangen banget kak "

"Iya sayang, kamu sabar ya.. Karena nggak hanya istri saya yang harus di yakin kan, masih ada ayah kamu dan saudara kamu lagi yang lain. Mereka kayaknya keberatan sama rencana kita "

"Iya kak,.saya pasti menunggu tapi jangan lama lama ya kak. Saya nggak mau kecewa lagi kak"

"Maaf sayang, nggak apa-apa terlambat yang penting kita bisa bersama sama lagi "

Sementara Dewi yang sudah sampai lampu merah harus kembali ke rumah karena ponselnya ketinggalan.

"Ah malah ketinggalan di rumah lagi " Kata Dewi lirih ketika melihat ponselnya tidak ada dalam tas.

Randi sama sekali tidak mendengar suara motor Dewi. Ketika memasuki rumah, Dewi mendengar Randi sedang bicara dengan seseorang.

"Baiklah, kamu yang sabar ya...ini semua demi kita juga "

"Ya kak... Bye kak.... "

Dewi tertegun depan pintu, suara itu familiar sekali. Randi terkejut melihat Dewi menatapnya. Dewi melangkah mendekati Randi.

"Loh sayang kok balik lagi " Tanya Randi dengan cepat dia menutup panggilan video itu tanpa membalas ucapan yang menelponnya.

"Ponsel saya ketinggalan"

"Oh..."

"Kakak telponan sama siapa?suaranya kayak nggak asing " Tanya Dewi.

"Ini barusan Reni telepon, lagi curhat soal pacarnya"

"Reni ? Pacar Reni? Kenapa ?"

"Kata Reni pacarnya mengajak Reni menikah tapi Reni minta waktu lagi "

"Loh kenapa, kan mereka udah lama pacaran kan kak ?"

"Iya, Reni lagi menunggu lamaran pekerjaan nya diterima apa nggak, Reni pengen bekerja juga kalau mereka menikah nanti"

"Iya itu malah bagus kak, kalau Reni bekerja itu bagus. Jadi dia nggak bosan di rumah dan punya penghasilan sendiri, bisa membantu juga kan kak"

"Iya sayang " Randi menarik nafas lega, Dewi lupa dengan panggilan video barusan. Sejak Dewi menolak mengijinkan Randi menikah lagi, Randi berpikir menggunakan cara lain.

Randi tidak ingin kehilangan Dewi, Randi butuh Dewi. Sebenarnya Dewi adalah sosok yang sempurna jadi istri. Kekurangannya hanya sudah memiliki anak tanpa status dan belum hamil sampai saat ini.

Randi bersikap kasar pada Dewi karena itu salah satu caranya agar Dewi memberinya ijin, tapi berbulan-bulan Dewi tetap tidak mau mengijinkan.

Ting

Satu pesan masuk di ponsel Randi

"Kenapa dia balik lagi?"

Sebelum membalas Randi melirik Dewi, Dewi sedang menatap ponselnya juga.

"Ponselnya ketinggalan "

"Udah tua kak, maklum saja " balas orang itu

Randi tersenyum membaca pesan mengatakan Dewi sudah tua.

"Kak saya pergi dulu "

"Iya sayang"

Randi masuk ke kamar, entah apa yang di carinya. Setelah menemukan apa yang di carinya. Dia juga segera bersiap untuk ke rumah kakaknya.

Lima belas menit Randi tiba di rumah kakaknya, hari ini kakaknya tidak masuk kerja karena kelelahan juga.

"Kak.. Tolong gadaikan kalung ini ?"

"Ini kalung waktu pindahan Dewi kan ?"

"Kenapa di gadai ?"

"Nggak, uangnya mau saya simpan untuk nanti kak. Takutnya kalau Dewi sadar dengan rencana ini. Malah barang barang berharga dalam rumah di jual semua. Kita kan nggak tau pikiran seseorang kak"

"Cerdas juga kamu dek "

Randi tertawa lepas, dia akan menjual satu persatu barang barang milik Dewi yang di berikan orang tuanya ketika acara pindah Dewi.

Setelah bekerja Randi juga sudah berniat akan menyimpan semua penghasilannya. Dia akan biarkan Dewi yang mengurus semua keperluan dalam rumah. Randi berpikir bahwa Dewi memiliki dua anak jadi itu adalah tanggung jawab Dewi. Dia akan lepas tangan.

"Kamu harus memikirkan masa depan kamu nanti dek, ingat tujuan kamu menikah itu apa "

"Baik kak, itu udah pasti "

"Oh iya kak.. Gimana kata ibu untuk acara lamaran Reni nanti?"

"Ini baru awalnya, jadi nanti kasih tau istri kamu untuk makan siang nya di siapkan sama dia. bagaimanapun kamu anak laki-laki satu satunya. Jadi istri kamulah yang ikut bertanggungjawab nanti "

"Hum.. Baik kak, Cuman makan minum aja ya kak?"

"Lamaran di kampung kita kan harus ada balasannya ke pihak laki-laki, istri kamu udah pasti tahu, bilang aja ke dia siapkan juga. Kamu tau kan, ibu sama ayah aja kita yang kasih uang bulanan untuk mereka "

"Ok siap kak"

Padahal sebenarnya, Dewi lah yang lebih banyak mengirimkan uang bulanan pada orang tua Randi, sedang kan untuk kedua ibu sambung dan ayahnya juga Dewi selalu rutin mengirim kan uang bulanan.

Rani bahkan Randi sendiri selalu memanfaatkan kebaikan Dewi, itulah yang mereka lakukan. Mereka tau Dewi tidak akan menolak permintaan mereka. Kalau tidak ada Dewi akan berusaha mencari.

Semua yang Randi lakukan tidak nampak di mata Dewi, karena Dewi berpikir seperti itulah berumah tangga, membantu keluarga suami. Meringankan beban keluarga suami. Dewi melakukan itu.

*

Sementara di tempat lain, di rumah Dewi yang lain. Dewi sedang bicara pada sahabatnya.

"Lia.. Nggak tau kenapa akhir akhir ini saya selalu mimpi ketemu ibu "

"ibu kandung kamu ya ?"

"Iya..."

"Gimana mimpinya?"

"Hum.. Ibu selalu datang terus mengelus kepala saya, sebelum pergi ibu cuman bilang. kamu anak yang kuat "

"Cuman ngomong itu aja ?"

"Iya dan setiap kali mimpi cuman kata itu yang di ulang ulang, kalau nggak elus kepala. Ibu duduk sambil menatap saya dan mengatakan kalimat itu lagi "

"Wi...saya nggak bisa artikan mimpi kamu tapi kalau tebakan saya sih, ibu kamu tau kalau sesuatu akan terjadi sama kamu, dia datang selalu mengingatkan kamu dan menguatkan kamu juga "

"Sesuatu akan terjadi ? Tapi hidup saya baik baik aja kok, ya kalau ada pertengkaran dalam rumah tangga, saya rasa itu wajar ajar karena semua orang yang berumah tangga juga pasti pernah mengalami itu"

"Ya saya nggak tau Wi.. Saya hanya menebak belum tentu itu benar. Intinya kamu banyak berdoa aja ya. Kita nggak tahu kan apa yang akan kita hadapi kedepannya "

"Ya kamu bener, tapi sekarang ini saya merasa semua baik baik aja, dalam pekerjaan juga semua baik baik saja"

"Ya syukur lah kalau seperti itu, mungkin itu juga hanya bunga tidur saja"

"Wi... Uang hasil kos kosan ini sama uang hasil penjualan skincare udah saya transfer ke rekening kamu yang satunya ya "

"Makasih ya Wi.. Saya nggak tau kalau nggak ada kamu. Gimana hidup saya sama anak-anak saya "

"Kita sama sama saling membantu, kalau nggak ada kamu juga saat ini saya nggak tau hidup saya sekarang gimana dan nggak tau mau bawa ke mana anak saya "

Dewi termenung....

"Lia... Saya hamil, Tapi Rama nggak mau tanggung jawab"

"Kamu udah kasih tau dia ?"

"Udah, dia nggak mau,malah suruh saya gugurin kandungan ini"

"Coba ketemu orang tuanya"

Dewi menggeleng kan kepalanya..

"Kenapa?"

"Rama mengaku nggak kenal saya dan nggak mengakui anak ini "

"Malah mereka mengatakan saya pelacur Lia "

Amalia terdiam

"Kamu di sini saja ya.... atau kamu mau pulang kampung?"

"Ayah saya pasti nggak akan menerima saya, apalagi saudara saudara saya. Mereka akan keadaan saya ini sebagai hinaan, ini membuat mereka semakin menyudutkan saya Lia"

"Udah berapa bulan kandungan kamu Wi ?"

"Udah 5 bulan ?"

"5 bulan.... ? Kok nggak keliatan ya"

" Saya pake baju yang besar"

"Lagi 4 bulan, ya udah kamu di sini saja deh. Nanti saya yang akan ngomong sama ibu kos"

Dari sejak kehamilan pertamanya Dewi juga mulai menjalankan bisnis online. Dewi juga kuliah online. Selama kehamilan Dewi tidak pernah ke kampung halamannya. Dia bersembunyi dari keluarga dan orang-orang yang mengenal nya.

Dewi kembali terbayang masa lalunya...

"Wi...kita hanya bisa menjalani hidup ini. kita nggak bisa memilih. Sekuat apapun kita menginginkan yang baik. tapi ya.. Inilah kita sekarang. Bagi saya yang penting kita nggak membuang darah daging kita "

.

.

.

.

Bersambung....

Makasih ya readers yang udah setia membaca novel ku. Semoga suka ya.

Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers kesayangan ku 🫰🏼 🫰🏼 🫰🏼

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!