Bab 2

Empat tahun pernikahan, Dewi bahkan sudah tidak mengingat tanggal pernikahannya. Hal yang akan selalu di ingat oleh semua orang. Tapi tidak dengan Dewi.

Empat tahun Dewi berusaha mejadi istri yang baik, mengurus semuanya. Namun semua sia sia. Kenyamanan yang di berikan Randi hanya di awal pernikahan mereka.

Karena kesalahan masa remaja Dewi di anggap sebagai wanita yang tidak baik dan penilaian orang lain Dewi seperti perempuan nakal dalam arti punya pacar banyak, apalagi Dewi memiliki 2 orang anak tanpa ikatan pernikahan.

Ketika ada kesepakatan antara keluarga untuk menikahkan Randi dan Dewi. Tak ada penolakan sama sekali dari Dewi.

Ingin menebus kesalahan pada kedua orangtuanya, itulah alasannya Dewi sebenarnya.

Dewi mungkin tipe wanita yang cepat luluh, cepat merasa kasihan dan memaafkan orang. Ia mudah jatuh cinta jika sudah merasa nyaman pada seseorang. Mungkin itu yang membuat Dewi menerima pernikahannya dulu karena Dewi juga mengenal Randi dan tau seperti apa Randi.

*

Hari ini Dewi bersama ibu ibu di kompleks perumahan mereka sedang membantu tetangga sebelah yang akan mengadakan syukuran, di sela sela canda tawa para ibu ibu yang bekerja tiba-tiba saja ada seorang ibu bertanya kepada Dewi tentang kedua anaknya.

"Ibu Randi....Yan sama Arumi itu satu bapak ya?"

Dewi diam terpaku tidak menjawab sama sekali. Semua terkejut dengan pertanyaan ibu itu yang sangat berlebihan menurut mereka.

"Hus.. Ngapain tanya seperti itu sama ibunya Yan ? Kamu ini nggak bisa menjaga perasaan orang lain " Tegur ibu yang lain pada teman mereka yang bertanya.

"Orang saya cuma tanya"

"Kamu tu aneh, Itu bukan urusan kamu. Bu Randi nggak usah ditanggapi ya " ujar seorang ibu dan Dewi membalas dengan mengangguk.

Mereka semua diam, Mereka merasa temannya ini sangat berlebihan. Tak ada yang tau bagaimana kisah masalalu Dewi, ia tak pernah menceritakan tentang masalalu nya kecuali kepada ayahnya saja.

"Saya nggak akan bertanggung jawab, sebaiknya gugurkan aja kandungan kamu itu "

"Tapi kak.... Ini udah bernyawa "

"Saya nggak peduli, saya nggak mau bertanggungjawab sama bayi kamu "

"Kalau kakak nggak mau bertanggungjawab nggak apa-apa "

"Kamu gugurkan saja "

"Nggak kak, saya akan merawatnya" Jawab Dewi menunduk

"Terserah, saya nggak akan bertanggung jawab sama kandungan kamu. Saya belum siap dan saya nggak mau sampai orang tua saya tau "

Dewi menarik nafas panjang mengingat kembali bagaimana dulu dia lebih mempertahankan kehamilannya, Menyembunyikan kehamilannya dari semua orang. Melahirkan hanya di temani sahabatnya.

"Kak Dewi, jangan di tanggapi omongan tante saya ya "

"Nggak apa-apa " Jawab Dewi tersenyum.

Pukul 7 malam Dewi kembali ke rumah, rumah yang selalu terlihat sepi walaupun di dalam sana ada 4 orang.

Dewi menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya perlahan lahan. Dewi tidak tau apa yang akan terjadi ketika pintu ini terbuka.

"Kamu di sana bantuin orang kerja atau ketemu pria lain, ibu ibu yang lain sudah pulang kenapa kamu terlambat?"

Dewi di sambut dengan suara keras dari suaminya.

"Masih ada beberapa ibu ibu yang kerja kak, malah yang saya cepet pulang"

Dewi berlalu masuk ke dalam kamar di ikuti suaminya. Pintu di tutup, Randi tiba tiba menarik rambut Dewi. Dewi meringis.

"Jawab jujur, kamu hilang kemana tadi?"

"Dia tau dari siapa kalau saya keluar?" Dewi membatin

"Saya ke pasar belanja beberapa bahan sama ibu Ross, setelah itu saya kembali ke rumah duluan. " Dewi tidak berkata kasar atau berteriak ketika Randi menarik rambutnya.

"Awas saja kalau kamu membohongi saya, saya injak kamu "

Setelah rambut nya di lepas Dewi keluar untuk menyiapkan makanan. Sekali lagi Dewi terpaku karena semua sudah tertata rapi di atas meja makan.

Ingin sekali Dewi menangis memeluk kedua anaknya, Dewi tau kedua anaknya tau tentang kehidupannya. Mereka tahu bahwa ibu mereka tidak bahagia. Namun mereka berpura pura tidak tau apapun.

"Sayang makasih ya udah bantu ibu menyiapkan makan malam. Ini siapa yang masak?"

"Tante Mariam Bu "

Mendengar nama adik tirinya di sebut Dewi terdiam.

"Oh ibu kirain kakak sama adek yang masak. Hum.. tadi tante ke sini, tante lama nggak.?"

"Lama sekali, tante juga melipat semua baju baju ayah di kamar " Jawaban polos dari Arumi membuat jantung Dewi berdetak kencang.

Dewi tau sedang ditatap anak sulungnya namun Dewi berpura pura tidak melihat .Dewi berdiri hendak memanggil suaminya makan.

"Kalian makan saja, saya mau keluar sebentar" Dewi hanya melihat ketika suami keluar dari rumah.

Dua tahun ini Dewi tak ingin tahu lagi kemana suami nya pergi, karena percuma saja dia bertanya kalau ujung ujungnya dia di anggap terlalu sibuk dengan urusan suami.

Dewi tau pernikahan ini adalah kesepakatan antara kedua orangtua mereka. Walaupun di mata orang orang Dewi sudah menikah dan bahagia. Pandangan buruk mereka pada Dewi tidak seperti dulu sebelum menikah. Mungkin itu nilai positif dari sebuah pernikahan ini.

Suara motor yang menjauh menandakan Randi sudah pergi.

"Ayo sayang kita makan, Ayah masih kenyang kayaknya. Wah ayam crispy. Hum.. Enak. Kakak cobain "

Yan mengambil makanan, mereka makan dalam diam. Hanya suara piring dan sendok yang bersahutan.

Keesokan harinya Dewi yang sedang mencuci baju dia mendengar suara ramai di depan rumah. Dewi segera menuju ke depan.

Kakak iparnya dan ada adiknya Mariam, Dewi tidak tau apakah kakak iparnya juga sudah tau tentang rencana Randi yang ingin menikah lagi. Anggap saja dia juga tidak tau apapun.

"Loh kak.. Kenapa nggak telpon kalau mau kesini"

"Kakak cuman antar Mariam "

Dewi berbalik menatap adiknya " Kamu mau kemana dek ?"

"Saya mau minta tolong sama kak Randi sama sama saya ke dinas kependudukan kak "

"Ngapain ke sana?"

"Oh ini KTP saya tanggal lahir nya beda yang ada dalam Kartu keluarga "

"Oh ya udah, ntar saya panggilkan Randi"

Belum juga Dewi berbalik, Dewi sudah melihat Randi bersiap siap untuk pergi.

"Ayo dek "

"Sayang, saya antar adik kamu dulu ya."

"Iya hati hati di jalan Kak"

Randi mengelus kepala Dewi setelah itu mereka pergi. Dewi terus menatap kedua orang itu dengan pandangan yang berbeda.

Setelah itu tinggallah Dewi dan kakak iparnya, "Kakak mau ngomong sesuatu sama saya ?"

Dewi tau kalau kakak iparnya itu ingin bicara dengannya. Karena kakak iparnya terus menatap Dewi.

"Kamu beneran nggak kasih ijin kalau Randi menikah lagi?"

"Kak Rani tau dari mana?"

"Randi yang cerita semalam"

"Iya saya nggak kasih ijin kak "

"Kenapa ?"

"Kak....kakak rela nggak suami kakak menikah lagi ?"

"Nggak dan suami saya nggak akan menikah. Karena saya bisa memberikan dia keturunan"

Dewi terdiam mendengar kata kata kakak iparnya. Dewi menarik nafas panjang.

"Saya belum siap kak, saya udah ngomong sama Randi kok kak."

Dewi hanya memberikan jawaban itu, Dewi ingin sekali mengatakan alasan sebenarnya namun entah kenapa Dewi berat mengatakan itu pada Randi dan sekarang pada kakak iparnya. Hingga saat ini, Dewi memilih diam saja itu juga salah satu alasannya kenapa Randi selalu mudah naik tangan pada Dewi

"Ya udah sekarang kakak pulang "

Dewi mengangguk, Rani kakak sulung Randi adalah orang yang suka sekali ikut campur dalam urusan rumah tangga Dewi.

Mungkin dia merasa karena dia adalah kakak sulung , jadi semua hal bisa dia campuri.

Kembali melanjutkan mencuci baju hingga selesai, kemudian Dewi membuka salah satu sosial medianya

"Tak ingin hari ini berakhir"

Satu unggahan video jalan dengan caption seperti itu dari Mariam adiknya,

Dewi hanya memberikan like tanpa komentar, Dewi juga melihat postingan kakak iparnya

"Semoga berjodoh"

Dewi membalas komentar " Amin "

"Amin, semoga ya kak...udah nggak sabar menunggu"

Satu komentar dari adik perempuan Randi, dia adalah Reni.

Dewi mengabaikan tidak ingin ikut bertanya, Dewi hanya melihat lihat postingan teman teman media sosialnya.

Satu notifikasi masuk di postingan kakak iparnya tadi.

Komentar dari akun MariamRd itu adalah akun baru adiknya Mariam.

"Makasih kak ya support nya "

Kening Dewi berkerut menatap komentar Mariam.

Mariam adik tirinya, mereka satu ayah beda ibu, Ayah Dewi memiliki 3 istri. Dewi sebenarnya memiliki keluarga besar. Dari semua saudara nya hanya Dewi yang memiliki nasip yang tidak baik dalam hubungan asmaranya.

Dewi adalah anak dari istri pertama dan dia lahir tunggal, ibu Dewi sudah meninggal saat usia Dewi 8 tahun. Sementara kedua ibu tirinya memiliki anak 7 untuk istri kedua ayahnya dan 6 untuk istri ketiga. Di kampung halaman Dewi dulu itu adalah hal yang biasa jika memiliki istri lebih dari 2.

"Sama sama dek, semoga cepat di iyakan ya "

Dewi sedikit penasaran sama percakapan mereka di komentar. Apa yang dia tidak tahu ?

Memilih mengabaikan semua itu, Dewi mencari Arumi. Seperti nya dia tidak melihat Arumi keluar dari kamarnya hari ini.

Tok.. tok.. tok

Dewi mengetuk pintu kamar anaknya tak lama kemudian Dewi melihat Arumi membuka pintu kamar.

"Sayang, kamu kok diam aja dalam kamar. Ada apa, Adek sakit ya ?"

Arumi menggeleng sambil menunduk..

"Nggak apa-apa Bu, saya cuman pengen dalam kamar aja. mumpung liburan Bu"

"Sayang, kamu nggak menyembunyikan sesuatu dari ibu kan ?"

Tiba-tiba Arumi memeluk Dewi sambil terisak-isak.

"Bu... Apa bener Arumi bukan anak ayah ?"

.

.

.

.

Bersambung.....

Hai readers kesayangan ku.... sudah Up lagi ya " Aku bukan wanita mandul " semoga suka ceritanya ☺️ ☺️ 🙏🙏

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!