"Loh, emangnya Mariam belum pulang ya kak?"
Kening Dewi berkerut dalam, apalagi setelah mendengar Randi mengatakan Mariam beli ponsel baru, Bukannya ponsel Mariam baru di beli lima bulan lalu, Dewi masih memberi Mariam tambahan uang untuk membeli ponsel ketika Dewi menerima bonus dari hotel.
"Emang ponsel Mariam yang lama kemana kak? Baru 5 bulan lalu dia beli ponsel itu"
"Ah itu sayang, ponsel Mariam katanya jatuh di air dan nggak bisa hidup lagi. Jadi tadi Kak Rani minta tolong saya antar Mariam beli ponsel baru "
"Ohhh.. Kak Rani baik sekali ya, saya pikir Mariam udah pulang kak, kenapa dia nggak ke sini juga, sekali saja kan Mariam mampir di rumah?"
"Besok baru pulang katanya sayang, dia nggak ke sini karena bantuin kak Rani. Saya nggak tau apa yang mereka kerjakan juga" Jawab Randi.
"Ohhh " Dewi mengangguk, Dewi tidak banyak bertanya lagi. Dewi tidak menyadari sudah banyak perubahan yang terjadi pada Randi. Banyak yang Randi sembunyikan juga.
Waktu terus berlalu, keesokan harinya lagi lagi Randi dengan tampilan yang luar biasa. Kali ini dia mengatakan akan mengantar kakak iparnya ke bandara. Kakak iparnya mau ke luar daerah.
Dewi hanya mengiyakan saja, Dewi juga kembali dengan rutinitas mengantar barang barang pesanan orang. Karena besok Dewi harus bekerja.
Setelah kembali ke rumah, Dewi beristirahat sebentar sambil membuka media sosialnya.
Satu video siaran langsung kakak iparnya lewat di beranda Dewi.
"Sekarang saya lagi antar suami ke bandara,di temani anak anak, adik dan adik ipar saya"
Kamera di arahkan ke kursi belakang, hanya sekilas saja namum Dewi bisa melihat sekilas tangan Randi menghalau kamera itu menjauh darinya. Dewi bisa melihat posisi wanita itu sedang bersandar di bahu Randi. Tapi Dewi tidak bisa melihat wajahnya.
"Hahaha... Oh maaf dek" kata kak Rani karena Randi menghalau kamera itu
"Hati hati di jalan ya sayang"
Video siaran langsung itu berakhir, Dewi penasaran dengan apa yang di lihat nya di bukanya lagi akun kakak iparnya.
Satu lagi postingan kakak iparnya yang menarik dilihat oleh Dewi
"Makan makan bersama keluarga kecilku, nggak kemana mana sih dan nggak perlu mewah. Cukup di rumah saja "
Postingan itu di unggah 24 jam yang lalu, lagi lagi hal yang mengejutkan untuk Dewi, karena setahu Dewi. Kemarin Kakak ipar nya di rumah orang tua suami nya.
Setelah itu Dewi memilih mengabaikan postingan kakak iparnya, seakan akan tidak terjadi apa-apa lagi. Walaupun ia penasaran tapi menurutnya itu tidak perlu dia tanyakan W.
*
Satu bulan berlalu sejak permintaan Randi yang ingin menikah lagi, Randi tidak lagi mengatakan Keinginannya.
Bahkan sikap Randi juga lagi tidak seperti dulu. Dewi merasakan perubahan itu. Dewi senang.
Hari ini Randi mengatakan akan ke kampung halaman mereka bersama dengan kak Rani dan suaminya. Randi sama sekali tidak mengajak Dewi.
Selama 2 hari Randi di kampung halaman mereka, tak ada kabar sama sekali dari Randi. Dewi sempat mengirimkan pesan dua kali tapi hanya di baca.
"Mungkin dia sibuk di sana " Itu pemikiran Dewi.
Hari ini Dewi juga masuk kerja karena harus membuat video tempat kerjanya. Di hotel.
Dewi.. Makan makan yuk, saya yang traktir " Ucap Deni.
"Serius Den... Ok deh, ayok kalau begitu"
Setelah selesai membuat video, mereka segera menuju ke tempat makan siang. Di sela sela makan siang mereka, Dewi minta bantuan Deni.
"Den... uang bonus sama uang lain lain yang saya dapat bisa nggak kamu transfer ke rekening saya yang lain ? Kecuali gaji kamu transfer ke rekening saya yang biasanya"
"Loh kenapa?"
"Nggak tau, pengen aja simpan uang di rekening lain."
Dewi tau bonus dari hotel itu besar, apalagi kalau Dewi mempromosikan kamar dan laku terjual, akan banyak bonus dan uang lain lainnya yang Dewi dapat.
Randi tau gaji Dewi di bawah sepuluh juta apalagi Dewi juga punya bisnis online. Di kampungnya orang tua Randi dan orang tua Dewi serta keluarga yang lain berpikir Randi punya pekerjaan.
"Ok Baiklah"
Setelah selesai makan, Mereka kembali ke kerja, ketika lewat jalan menuju hotel tempat kerja. Seseorang memanggil Dewi.
"Dewi...." Dewi menoleh melihat asal suara itu
Dewi mengenal orang itu, dia adalah saudara jauh ibunya.
"Oh tante, mau ke mana?"
"Eh ini tante mau ke pegadaian dulu. Mau ambil barang yang di gadai "
Dewi mengangguk..
"Dewi kamu nggak ke kampung hari ini?"
"Nggak, saya kerja lagian saya memang jarang sekali ke kampung kecuali ada yang meninggal atau nikah dan Natal saja, ada apa tante?"
"Kemarin di rumah ibu sambung kamu ada kumpul keluarga, sepertinya salah satu adik mau di kamar orang"
Dewi diam "apa karena itu Randi juga pergi ? tapi kenapa dia nggak di kasih tau ?" batin Dewi
"Tante nggak lihat kak Randi di sana?"
"Nggak ada suami kamu di sana, lagian kamu nggak datang masa dia ke sana sendiri?"
"Tante nggak lihat suami kamu"
"Iya tante kak Randi juga sedang ke kampung, mungkin di rumah orang tuanya "
"Sepertinya itu hanya keluarga ibu sambung kamu aja yang tante lihat "
"Oh iya tante, mungkin belum pasti kumpul keluarganya. Jadi semua nggak di beritahu "
"Mungkin memang seperti itu , ya udah.. kalau begitu tante pulang dulu ya"
"Ah iya baik tante "
Dewi kembali masuk ke dalam hotel menuju tempat kerjanya.
*
Pukul 5 sore Dewi kembali ke rumah, Dewi belum melihat motor Randi. Artinya dia masih di kampung orang tuanya.
Ting....
Satu pesan masuk di ponsel Dewi.
Wi.... Kamu dapat insentif dari pelanggan, udah saya transfer ke rekening kamu yang lainnya "
"Makasih ya Den..."
Dewi segera menghapus pesan dari Deni..
Ya tidak ada yang tahu kalau Dewi juga memiliki dua bidang tanah atas namanya. Itu tanah untuk kedua anaknya.
Sebelum hamil anak kedua Dewi juga bekerja di bank, dari hasil kerjanya itu Dewi membeli rumah yang memiliki 3 kamar di luar. Lalu Dewi menambahkan 4 kamar lagi dan sekarang sudah jadi kos kosan.
Sementara di rumah induknya di tempati oleh sahabatnya yang juga mengalami nasip seperti dirinya. Bedanya, sahabatnya itu hamil dari suami orang dan hampir di bunuh oleh istri kekasih nya.
Uang dari hasil kos kosan itu juga msuk ke rekening Dewi yang ia sembunyikan, Bahkan surat tanah milik Dewi ia simpan di rumahnya yang lain.
Hanya dia dan sahabatnya Amalia yang tahu tentang semuanya. Randi mengenal Amalia dan yang Randi tau, rumah yang ditempati Amalia itu adalah milik Amalia.
Dewi baru saja selesai memasak makan malam mereka ketika Dewi mendengar suara motor, itu suara motor Randi.
Dewi segera ke depan, lokasi rumah Dewi sedikit sepi. Kalau jam 7 malam sudah sepi sekali. Jadi Dewi lebih banyak menutup pintu rumahnya l.
"Ayo kak, mari masuk.. " Dewi menyambut suaminya dan kedua kakak iparnya. Rani dan Reni, suami Rani juga ada.
"Huff, Wi.. Tolong buatkan kami minum yang panas ya. Selama perjalanan dingin sekali " Kata Randi
"Baik kak..."
Tak lama kemudian Dewi sudah menyajikan minuman dan beberapa kue di meja. Mereka minum tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dewi hanya melihat mereka.
Tak lama kemudian Yan juga masuk , melihat ada saudara saudara dari ayah tirinya. Yan masuk tanpa menyapa sama sekali.
"Anak kamu itu nggak tau sopan santun sama sekali ya Wi, Masuk tanpa ucap salam atau selamat malam "
Dewi yang mendengar itu dia diam,
"Mungkin itu sifat dari sananya kak, biasanya ya.. Kak Rani tau lah sifat anak itu nurun nya dari siapa?" Sambung Reni adik perempuan Randi.
Mendengar itu Dewi menjadi panas, dia paling tidak suka kalau anaknya di jelek kan seperti itu. Dia akan jika dia tau bagaimana mereka menghina anak anaknya.
" Yan hanya belajar dari tante tantenya, karena mungkin Yan melihat Tante dan om nya masuk ke sini tadi juga tanpa mengucapkan salam atau selamat pada pemilik rumah " Sahut Dewi.
Mereka semua terdiam mendengar jawaban dari Dewi yang mempermalukan diri mereka sendiri.
Randi tidak menanggapi karena dia seperti sangat kelelahan.
Kak, saya ke kamar dulu badan saya lelah sekali "
"Ya udah dek kami langsung pulang juga" Mereka pergi tanpa berpamitan pada Dewi
Dewi tersenyum melihat kepercayaan mereka, ingin mengatakan anak anaknya tidak sopan sedangkan mereka tidak sadar kalau mereka juga jauh lebih tidak sopan.
Selesai makan malam, Dewi masuk ke kamar. Dewi mengambil baju kotor milik Randi. Dewi mencium aroma parfum yang sama di baju Randi. Kali ini aromanya lebih terasa.
Dewi ingat kata kata Randi, kalau kakaknya punya parfum aroma bunga seperti ini. mungkin itu yang di pakai Randi.
"Tapi kak Randi kan punya parfum sendiri, apa dia suka parfum aroma bunga seperti ini ?" Batin Dewi.
Ketika Dewi hendak berbalik, ponsel Randi menyala. Ada pesan masuk.
Randi menggunakan pola pada ponselnya dan hanya Randi yang tau. Dewi melihat sekilas pesan masuk itu.
Tidak ada nama pada pengirim di pesan itu hanya tertera angka 040704.
"Udah sampai ya kak ?"
.
.
.
.
Bersambung...
Huff... Udah bab ke 4 nih...
Readers Jangan lupa tinggalkan jejak ya, jangan lupa juga bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 ya ☺️☺️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments