Dewi terkejut, apa yang Arumi katakan?
Ingin sekali Dewi menjawab ya dan mengatakan yang sebenarnya. Tapi Dewi merasa kasihan pada Arumi. Arumi memang tidak pernah tau tentang dia dan Yan. Arumi hanya tau Randi adalah ayah kandung mereka karena tidak ada yang pernah mengatakan itu.
"Bu..bener ya Arumi bukan anak ayah?"
"Arumi itu anak ayah, kalau bukan anak ayah anak siapa dong ? Sayang... jangan di pikirkan lagi ya. ibu menyayangi Arumi dan kakak, senyum dong "
Arumi tersenyum manis mendengar kata ibunya.
Dewi memeluk Arumi erat " ayo ajak kakak makan siang ya sayang, ibu siapkan makanan di meja"
Entah kenapa Arumi tiba tiba saja bertanya seperti itu. Ada apa ?
Dewi menemani kedua anaknya makan, dia menatap kedua anaknya.
"Ibu.. Coba lihat kakak, dari tadi kakak gangguin saya terus"
"Yan.. biarkan adik kamu makan dulu "
"Ihh siapa yang gangguin bayi besar ini Bu "
"Bayi besar?"
"Iya, adek itu bayi besar. Sukanya mengadu sama ibu "
"Biarin, dari pada kakak, nggak satu cewek pun yang berani deketin kakak karena wajah kakak itu kayak es. Kakak Vio aja mana berani ngomong sama kakak "
"Hahaha.. Emang Kaka Vio pernah ngomong begitu sayang ?" Tanya Dewi
"Iya Bu, kata kak Vio muka kak Yan itu serem. Kak Vio nggak berani deketin kakak "
Suara tawa Dewi terdengar sampai di luar, Randi masuk dengan wajah dingin. Kening Dewi berkerut. Cepat sekali mereka pulang.
"Kak.. Udah beres ya ?"
"Ya udah" Jawab Randi.
"Ayah ayo makan " Kata Arumi
"Iya sayang, Ayah udah lapar sekali" Sahut Randi kembali dengan wajah cerianya, Randi mengambil tempat di tengah antara Dewi dan Arumi.
Arumi bercerita sambil makan pada Randi.memang Randi tidak pernah mengatakan kalau kedua anak Dewi bukan anak kandungnya. Dia selalu mengatakan kalau dia Ayahnya Yan dan Arumi. Dan jika ditanya sudah memiliki berapa orang anak. Randi akan menjawab 2 orang anak.
Di awal pernikahan mereka, Randi dan Yan memiliki hubungan yang baik. Yan sangat menghargai Randi. Kadang jika mereka sedang mengerjakan sesuatu di rumah. mereka akan lakukan bersama sama.
Kalau Randi memiliki sedikit rejeki dia akan memberikan uang jajan kepada Yan dan Arumi. Randi tidak pelit dengan anak anaknya.
Namun semenjak Yan melihat Randi hampir menyiram air panas ke tubuh Dewi, Yan hampir saja memukul ayah tirinya. Sejak saat itu Yan menghindari Randi. Kalau Randi di rumah, Yan Lebih banyak diam dalam kamar atau duduk bersama anak anak seusianya di lopo tempat mereka berkumpul.
Kadang beberapa hal baik yang Randi lakukan membuat Dewi melupakan perlakukan kasar Randi pada nya dan hal seperti itu yang membuat Dewi menyayangi Randi. walaupun akhir akhirnya Randi sering menggunakan kekerasan pada Dewi.
Setelah makan, sebelum diam dalam kamar lagi Yan membantu Dewi membereskan rumah. Arumi ikut membantu.
Pukul 2 Dewi masuk kamar ingin beristirahat setelah itu di susul Randi juga.
Dewi melihat Randi berganti pakaian, Dewi bangun mengambil baju untuk Randi dan memberikan baju ganti pada Randi, Dewi naik ke ranjangnya kembali.
"Kak.. Hari sabtu sama minggu. Bisa tolong antar barang pesanan orang nggak?"
"Besok saya nggak bisa, nggak ada waktu. Saya ada keperluan ke rumah kak Rani"
"Sabtu-Minggu, biasanya kak Rani kerumah orang tua kak Johan "
Randi menatap Dewi, dia tidak suka jika Dewi memaksa dan menjawab jika dia sudah mengatakan alasannya.
"Kamu itu kenapa sih Dewi, suka sekali memaksa atau menjawab saya ngomong? kalau saya sudah katakan nggak bisa ya berarti nggak bisa. kamu ngerti nggak ?"
"Lagian besok kak Rani dan kak Johan di rumah aja nggak kemana mana, ngeyel banget kamu kalau di bilangin " Sambung Randi menggerus
"Saya nggak memaksa kak, biasanya kan memang seperti itu. Kakak selalu mau bantu mengantarkan barang pesanan orang dan setahu saya kalau hari Sabtu-Minggu Kak Johan dan kak Rani wajib ke orang tua kak Johan "
"Kamu pemaksa tau nggak, kamu itu beda sekali sama Mariam. Dia kayaknya lebih penurut dan lebih bersikap dewasa dari pada kamu "
Kening Dewi berkerut " Mariam penurut dan bersikap dewasa?"
"Ya, nggak kayak kamu, ngeyel kalau di bilang"
Dewi memilih diam karena tidak ingin memperpanjang keributan ini. Dewi menghela nafas panjang.
"Baiklah kak, nanti saya antar sendiri aja "
"Harus begitu, belajar mandiri, jangan apa apa suami yang kerjain, kamu padahal bisa sendri."
Dewi tidak menjawab lagi, dia menutup mata tapi dia tidak bisa tidur, dia berpura pura tidur untuk menghindari perdebatan dengan Randi. Dewi merasa tidak nyaman dengan kata-kata Randi. Perasaan Dewi tidak tenang, entah apa.
Seperti itulah bentuk rumah tangga Dewi, lebih banyak keributan dari pada berdamai. Dewi selalu berusaha menahan perasaan emosinya jika Randi memarahi nya. Dewi malu jika orang orang mendengar pertengkaran mereka. Apalagi kedua anaknya, Dewi tidak ingin mereka tau.
Setelah selesai makan malam, Dewi duduk di ruang tamu. Dewi sedang mengetik pesan dari pelanggannya di laptop. Dewi menjalankan bisnis online, ini adalah kerja sampingannya. Bisnis online sudah lama Dewi kerjakan. Sebelum menikah dengan Randi. Pelanggannya sangat banyak. Bahkan ada sampai ke luar kota.
Hari Sabtu dan minggu biasanya Dewi akan mengantar barang barang pesanan, kadang Randi yang membantunya mengantar kan barang barang itu.
Randi duduk di ruang tengah, Dewi bisa melihat dari depan. Randi sibuk dengan ponselnya. Kadang Randi tersenyum. Entah apa yang di lihatnya.
Tidak lama kemudian terdengar suara panggilan masuk dari ponsel Randi.
"Ya hallo kak"
"Oh baiklah saya ke sana sekarang.."
Panggilan di matikan Randi berlalu pergi masuk dalam kamar. Beberapa menit kemudian Randi keluar dengan tampilan yang sangat rapi, kening Dewi berkerut. Dewi merasa Randi tidak seperti biasanya kalau ke rumah kakaknya.
Biasanya Randi hanya mengambil dompet, ponsel, jaket dan helem. Di rumah Randi selalu menjaga kebersihan jadi kalau hanya sekedar pergi saja kerumah kakaknya dia akan pergi tanpa tampilan seperti ini.
Beberapa hari ini Dewi melihat perubahan pada Randi, jika ke rumah kakaknya dia akan selalu tampil rapi dan wangi.
"Saya ke rumah kak Rani "
"Ya kak"
"Pintunya di kunci aja, saya lama di sana. mau keluar sama Kak Johan" Kata Randi dan berlalu pergi, tak ada pelukan dan belaian di kepala Dewi seperti biasanya.
Dewi hanya mengangguk dan menatap Randi sampai suara motor Randi menghilang.
Kembali Dewi melanjutkan mencacat barang barang pesanan orang sampai pukul 02.31 pagi.
"Apa kak Randi nginap di rumah kak Rani? Kok tumben"
Dewi mengambil ponselnya
Kak.. Kakak nginap di rumah kak Rani?".
Terkirim
Dewi melihat pesannya sudah di baca dan sedang mengetik artinya Randi juga belum tidur. Ini sudah mau jam 3 pagi.
"Ya saya nginap, kak Rani dan kak Johan nggak di rumah , lagi ke rumah orang tua kak Johan"
Kening Dewi berkerut" Bukannya tadi kakak bilang mereka nggak ke sana hari ini ?"
Dewi menunggu balasan namun sampai matahari pagi sudah terbit juga Randi tidak membalas pesan dari Dewi.
Dewi mengecek ponselnya, melihat siapa tau ada balasan pesan dari Randi namun tidak ada sama sekali. Dewi memilih menyimpan ponselnya tanpa penasaran lagi.
Dia menyiapkan sarapan pagi untuk kedua anaknya, Mereka belum bangun. Hari Sabtu Arumi ke sekolah jam 9 hanya latihan drumband. Arumi mengikuti kegiatan grup drumband.
Setelah selesai Dewi membangun kan kedua anaknya. Mereka sarapan bersama. Kemudian Arumi ke sekolah di antar oleh Yan..Yan akan menunggu Arumi latihan sampai jam 11.
Selama kedua anaknya tidak di rumah dan memberi pekerjaan rumah. Dewi mengisi waktu dengan menulis novel. Ini juga salah satu hobby Dewi. Selain itu Dewi bekerja di homestay bersama Deni teman seangkatannya waktu SMA dan beberapa karyawan lainnya.
Dewi memiliki jabatan sebagai sales dan marketing di tempatnya bekerja. Kelebihannya dalam bekerja online membuat Dewi kadang harus membuat konten, video dalam mempromosikan hotel tempatnya bekerja.
pemilik hotel itu adalah teman Deni dan mereka melakukan kerja sama, jadi kalau seandainya Dewi membuat konten di rumah mereka tidak memaksa Dewi harus masuk kerja. Dewi akan ke tempat kerjanya kalau dia betul-betul di haruskan masuk.
Dewi mendengar suara motor Randi, Dewi menghentikan kegiatan menulis novel.
Dewi membukakan pintu untuk Randi. Randi tiba-tiba memeluk Dewi.
"Kak....kakak ganti parfum ya?"
" Nggak sayang, Kenapa?"
"Aroma parfum kakak, baunya wangi. Aroma bunga "
Randi tiba-tiba diam, Dewi menatap Randi..
"Oh.. Ini tadi pas mau pulang ke sini saya pakai parfum kak Rani, di suruh coba karena kak Rani beli parfum baru"
"Loh kak Rani di rumah? Bukannya semalam kakak bilang mereka di rumah orang tua kak Johan?"
terlihat Randi terkejut namun dengan sangat cepat Randi kembali bersikap biasa lagi.
"Iya, mereka udah pulang karena kakak mau pulang juga "
"Oh ya udah kakak ganti baju dulu "
Randi segera berlalu masuk ke dalam kamar, di susul kemudian dengan suara motor Yan yang memasuki halaman rumah Dewi.
"Selamat siang Bu " Suara teriakan Arumi.
"Selamat siang sayang, adek lansung ganti baju ya "
Arumi mengangguk di ikut Yan yang langsung masuk kamar.
Satu jam kemudian Arumi yang sedang menonton televisi bersama Dewi dan Yan melihat ayahnya yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah mengantuk.
"Ayah.. Tadi ayah nggak melihat Arumi lagi latihan ya?"
"Ayah nggak lihat sayang, Adek latihannya di mana ? "
"Depan sekolah kakak, ayah sama tante Mariam "
Dewi terkejut mendengar nama adiknya di sebut. Randi lebih terkejut lagi mendengar Arumi menyebut nama adik iparnya itu.
"Jadi dia belum kampung? Kok ke rumah ini cuman sekali aja " Batin Dewi
Yan melihat kedua orang tuanya bergantian, tatapan tajam Yan pada ayah tirinya tidak di sadari oleh Dewi. Yan segera pergi dan tak lama kemudian terdengar suara motor Yan menghilang.
"Iya sayang, tadi ayah anterin Tante Mariam beli ponselnya baru "
"Loh emangnya Mariam belum pulang ya kak?"
.
.
.
.
Bersambung
Terimakasih ya yang udah setia membaca, jangan lupa tinggalkan jejak ya readers 😘 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments