Chapter 002 —Tekad

Air dingin menusuk kulit, rasa perih dan sakit dirasakan disekujur tubuh. Pandangannya mulai kabur, sekaligus tubuhnya yang tenggelam lebih dalam kedasar danau. Tidak ada tenaga untuk berusaha, walau sekedar berontak. Putus asa menghantui pikiran nya.

"Untuk apa aku dihidupkan lagi? Apa cuma untuk merasakan kematian lagi?"tanya zabarin dalam batin nya, matanya mulai tertutup oleh keputusasaan. Kenapa langit begitu kejam kepada nya? Apa dia cuma alat yang dihidupkan dan di matikan sesuka hati?!.

Ia tidak tau siapa dirinya, terbangun ditengah hutan dengan ingatan yang tak jelas. Sekilas ingatan tentang kematian melintas dalam benak nya, ia pikir. Ia cuma kelinci percobaan yang terkurung dalam sangkar.

Swuushhh!

Namun, saat putus asa itu merenggut kesadarannya. Ia teringat ucapan entitas yang tidak ia ketahui sebelumnya. Ia adalah kunci keseimbangan, entitas itu mempercayakan tugas berat ini untuknya. Apa tujuan dari kepercayaan itu?.

Masih terus bertanya walau sudah diujung maut, zabarin kini membuka matanya lagi. Ucapan dan kepercayaan, serta tanggung jawab itu, entah mengapa ada sesuatu yang mendorong dirinya untuk tetap bertahan hidup. Sesuatu yang ia sendiri tidak tau berasal dari apa. Namun itu sebuah dorongan kuat, yang seakan tidak ada kesempatan baginya untuk menolak.

Dengan tekad itu, zabarin berusaha meraih bebatuan didasar danau ini, menjadikan nya penopang untuk kepermukaan air. Batu yang begitu licin membuat nya terpeleset beberapa kali, namun tidak menggoyahkan tekad nya.

Ia menghiraukan rasa sakit dan perih di sekujur tubuh nya, Yang terpenting ia harus hidup dan keluar dari dasar danau. Ada sesuatu yang ingin ia ketahui, sesuatu yang sangat erat. Namun ia sendiri tidak tau kenapa itu bisa ada didalam dirinya.

Byuuurrrr!

"Hah! Hah! Hah!"beberapa menit mencoba berenang kepermukaan danau, akhirnya ia berhasil meraih pinggiran danau. Nafas yang terengah-engah dan sedikit berat, membuat nya sekali lagi ingin pingsan. Tapi, itu tidak menghentikan nya.

Meraih bebatuan lain, ia mencoba keluar dari air. Tenaga yang sisa sedikit membuatnya sulit untuk berpegangan erat, sampai perjuangan itu membuahkan hasil, ia tergeletak diatas batu besar dipinggir danau. Jubah putih agung yang ia kenakan, kini basah, dan sedikit robek dibeberapa sisi.

"Hah!... Tekad ini, bagaimana bisa ada didalam hatiku!, Aku ingin menyerah... Tapi, rasanya itu tidak mungkin!" Gumam Zabarin sambil mengangkat tangan nya keatas, menutupi sinar matahari dari mata nya. Dan mencoba mencari jawaban dari luas nya langit, dan terang nya cahaya kehidupan.

Pertanyaan-pertanyaan yang tentu tidak ada jawaban nya, terus memenuhi kepalanya. Sampai ia berpikir,"aku hidup untuk tugas mulia. Menyerah tidak akan mungkin, mundur juga tidak bisa... Apakah aku hanya bisa menjalankan hidup ini untuk terus maju kedepan?" Ucap nya, ia kini paham situasi yang terjadi. Ia juga tidak bisa menentang. Yang terbaik, adalah terus maju demi tugas yang diberikan.

Beberapa saat terdiam diatas batu, mengistirahatkan tubuh yang lelah. Zabarin menetapkan tekad nya untuk terus maju, sesulit apapun jalan nya. Ia kini berada dititik terendah, namun Kilauan cahaya dari titik tertinggi membangun kan nya. Ia tidak bisa terus diam dan menunggu kematian lagi, ia harus melawan untuk tetap hidup. Demi mendapatkan jawaban dari kehidupan yang ia jalani ini.

Setelah menetapkan tekad hatinya, ia kemudian bangkit dengan sedikit susah untuk berdiri. Rasa sakit masih terasa dimana-mana, namun kali ini, ia melawan rasa sakit itu dengan tekad nya.

Bruk!

Ia melompat kebawah batu, tepat ditumpukkan daun kering membuat nya mendarat dengan aman. Berjalan dengan rasa sakit, ia melihat sebuah jalan yang ditumbuhi pohon kelapa. Tidak tau tujuan nya kemana, terus berjalan tanpa tau arah. Berharap sesuatu ia temui untuk memulai kehidupan baru, serta menjalankan misi mulia yang diberikan langit.

Pepohonan ini menjaga nya dari sinar matahari, sepanjang jalan ia diselimuti oleh bayangan yang menemaninya. Sampai dari ujung jalan ini, ia melihat pintu keluar yang memancarkan cahaya terang. Masuk kedalam rimbunan pohon.

Harapan dan tekad nya untuk hidup semakin besar, pintu keluar ini adalah awal dari semua nya. Perjalanan panjang yang akan ia lalui, sudah ada didepan mata. Mendekat lebih dekat sampai rasa hangat menyentuh kakinya, terus melangkah dengan debaran jantung yang seirama tarikan nafas nya.

"Hah!"zabarin menarik nafas panjang, sebelumnya akhirnya keluar dari hutan gelap ini. Menuju sebuah tempat selayaknya surga.

"Ghooaahh"

"Brak! Brak! Brak!"

Suara besar terdengar dari segala penjuru, gebrakan tanah kecil menyertainya. Membuka mulut dengan lebar dan mata yang terpesona, akan keindahan alam yang luar biasa.

Tanah lapang hijau terbentang luas dengan banyak gundukan seperti bukti kecil, serta banyak sekali mahkluk berbadan besar dalam berbagai rupa. Saling bermain, bersantai dan berlari-larian. Sebuah fatamorgana yang nyata ia lihat.

"Te-tempat apa ini?"tanya zabarin masih begitu takjub, dengan apa yang ia lihat. Pemandangan yang seperti negri dongeng, namun ada didunia nyata. Berjalan perlahan mendekat tanpa rasa takut, ia membaur didalam kelompok mahkluk besar yang disebut dinosaurus.

Tubuh kecil nya tidak sebanding dengan mereka, membuat ia tidak menjadi ancaman. Namun malah menganggap nya layaknya teman. Berjalan disampingnya, diikuti barisan panjang mahkluk itu, zabarin takjub dengan pemandangan ini, Beluk pernah ia melihat sesuatu seperti ini. Seperti ada sebuah ikatan yang membuat mereka seolah melindungi nya.

Para dinosaurus yang berjalan dikedua sisinya, menuntun ia kesebuah tempat yang indah. Dengan gunung yang tidak terlalu tinggi, serta memiliki sebatang pohon besar dikaki gunung ini. Ditempat lain, tepat didepan kaki gunung terdapat aliran sungai yang begitu jernih.

"Untuk apa kalian menuntun ku ke tempat ini?"tanya zabarin kepada salah satu dari dinosaurus yang memiliki kaki empat, Seakan tau apa yang dibicarakan. Dinosaurus itu berjalan kearah pohon besar dengan nuansa agung didepan nya.

Ia patuh mengikuti, setelah dinosaurus itu berhenti. Barulah ia melihat sebuah goa mungil dibalik pohon besar ini. Ia memandang kembali kearah dinosaurus itu sambil mengucapkan terimakasih"terimakasih! Aku tidak tau bagaimana kau mengerti bahasa ku, dan memberikan ku tempat perlindungan ini!"ucap zabarin gembira sambil memeluk dinosaurus itu yang hanya diam.

Seperti nya harapan yang sempat terbersit didalam kepalanya, kini menjadi kenyataan. Dan itu datang secara tidak terduga dari mahkluk aneh, yang sebelumnya ia kira jahat. Mendapatkan goa adalah keberuntungan besar untuk nya, ia bisa tinggal ditempat yang strategis ini.

Berjalan masuk kedalam, ia merasakan hawa lembab dan dingin dari dinding batu."Ini adalah keberuntungan pertama ku! Dengan awal ini, aku jadi semakin semangat untuk terus maju!"ucap zabarin penuh tekad.

Mengedarkan pandangannya, ia menilai ruangan ini tidak terlalu besar. Namun cukup untuknya, setelah itu ia keluar lagi dan mengambil beberapa lembar daun yang gugur. Dari pohon besar didepan goa yang saat ini menjadi milik nya.

Daun yang besar bisa ia jadikan untuk membersihkan debu yang ada, sebelum ia tinggali. Ia harus memastikan goa ini nyaman dan layak untuk nya, dengan membersihkan serta mengumpulkan banyak bahan dari hutan dikaki gunung yang lebih rendah dari tempat nya saat ini.

\*\*\*\*\*\*

Angin sore mengibaskan jubah putih zabarin, mentari mulai tenggelam diujung barat. Memandang dengan terpesona sekaligus bersyukur. Hari pertama yang ia lalui berjalan lancar, walaupun ada beberapa kejadian yang hampir merenggut nyawanya.

Berdiri didepan pohon besar dikaki gunung, ia mulai mempertanyakan lagi. Untuk apa ia diberikan tugas itu, dari apa yang ia lihat. Semuanya damai, keindahan yang luar biasa. Kenyamanan yang membuat betah, semua ketenangan itu bisa ia rasakan. Namun kenapa sosok bercahaya itu mengatakan, bahwa dunia telah menjadi neraka?.

"Huh! Untuk sekarang aku tidak bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan ku! Seperti nya aku harus bersabar menjalani ini semua. Mungkin satu saat nanti, semua pertanyaan ku mendapatkan jawaban nya sendiri! Hanya waktu yang menentukan, kapan jawaban itu seharusnya kuketahui!"ucap zabarin sambil menghembuskan nafas dan terduduk serta bersender dipohon besar dibelakangnya.

Menatap kearah langit dengan tajam, tanpa senyuman sama sekali. Rambut hitam nya tergerai angin sore, dengusan angin terdengar ditelinga nya. Membuat ia rileks dipenuhi ketenangan, sampai melupakan rasa lelah dan sakit yang ia derita sebelumnya.

"Sampai kapan aku menjalani kehidupan ini?"tanya zabarin secara tidak sadar, saat terus menatap langit. Beberapa saat kemudian, ia tersenyum lalu berkata"cih, aku bertanya sendiri lagi!"ucapnya sambil tersenyum konyol, bertanya tanpa ada jawaban. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan nya walau hanya sehari.

Sreeek!

Setelah langit mulai gelap, ia bangkit dari duduk nyaman nya. Mengibaskan bokong dari tanah dan kemudian berjalan perlahan, masuk kedalam goa"yah!, tidak ada gunanya juga bertanya pada sepi... Sedangkan jawaban nya ada didepan sana, kehidupan ini mengatakan aku harus terus maju, untuk mendapatkan semua jawaban nya!"ucap zabarin sambil tertawa, menghibur diri sendiri dengan ucapan penuh semangat dan keras.

Kesepian mulai menghantui nya, dengan berteriak penuh semangat ia bisa menghalau rasa sepi itu. Ia hidup sendiri ditempat ini, tanpa seorangpun yang bersamanya selain kesepian. Namun, kali ini ia memiliki pengelihatan yang lebih terbuka dari sebelumnya, maksud dari kehidupan dan bagaimana ia harus terus maju tanpa kata mundur. Ia juga sadar petualangan ini bukan lah akhir, melainkan awal dari sesuatu yang besar. Karena tenggelam nya matahari bukan lah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan tempat singgah untuk menyambut perjalanan baru yang lebih jauh.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!