Bab 5

Waktu berjalan begitu cepat sudah seminggu lebih sejak kepulangan Bumi ke Ibu kota. Hari-hari terus berjalan seperti biasa dan Sabina sesekali akan merindukan pemuda yang sering merecokinya. 

"Kak menurut kakak ayah bakal nepatin janjinya gak?"tanya Sabian sedikit lesu sambil membantu mencuci sayur yang akan mereka pasak untuk sarapan. 

Sabina sedikit mengernyit, " Kenapa nanya gitu?"

"Soalnya ini sudah 5 tahun tapi ayah belum juga jemput kita. Apa ayah bakal ninggalin kita sama seperti ibu?"

Sabina menghela nafas berat, dia tau kekhawatiran yang dirasakan adiknya. Meski terlihat dewasa sabian tetap anak kecil yang rapuh. 

Sabina mengangkat tangannya untuk mengusap surai lembut pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya. Entah sejak kapan adiknya bertambah tinggi lagi, padahal dulu masih sebahunya. 

"Bian dengerin kakak ayah gak mungkin ninggalin kita, ayah pasti bakalan nepatin janjinya. Percaya sama ayah oke? Jangan pikirin macam-macam,"ucap Sabina lembut disertai senyuman yang mampu membuat Sabian tenang. 

"Emm…." Sabian mengangguk paham kemudian melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. 

"Kalaupun iya ayah pergi ninggalin kita, kamu masih ada kakak. Kakak gak akan ninggalin kamu kita akan tetap bersama, kakak akan selalu berada disampingmu,"lirih Sabina dalam hati. 

Dirinya sendiri pun sempat ragu karena beberapa bulan kebelakang sang ayah tidak pernah mengirim pesan lagi untuk menanyakan kabar mereka, ditambah lagi nomer sang ayah tidak lagi aktif. 

"Ayah tolong jangan buat kita kecewa."

Di saat mereka tengah menyajikan makanan ke meja makan terdengar suara ketukan di pintu menyela aktivitas mereka. 

"Siapa yang datang pagi-pagi gini? Bian sana buka pintu." 

"Iya…."

Setelah Sabina selesai menata semua makanan di meja ia pun segera keluar untuk mengecek situasi karena Sabina tidak mendengar suara Sabian lagi. . 

"Bian siapa yang da-" Ucapan Sabina terpotong kala pandangannya terpaku pada orang di depan mereka. 

Mata yang penuh keterkejutan itu mulai berkaca-kaca dengan perasaan yang campur aduk antara sedih, senang, rindu, marah.

"Ayah!!" 

Kedua saudara itu bergegas berhambur ke pelukan hangat yang selama ini mereka rindukan. Menangis kencang melampiaskan semua emosi yang selama ini tak terbendung. 

Jarrel memeluk erat kedua anaknya, mengecup pucuk kepala mereka masing-masing disertai air mata kerinduan. 

Sudah lama ia tidak bertemu dengan anak-anaknya dan sekarang kedua anaknya sudah tumbuh dewasa.

"Maaf…."

"Maaf, ayah baru jemput kalian."

Jarrel berulang kali mengucapkan kata maaf pada kedua anaknya dengan penuh penyesalan dan rasa sakit.

Jika bukan karena keadaan yang mengharuskan, Jarrel tidak ingin jauh dengan kedua anaknya.

•••

Setelah suasana mengharukan tadi selesai kini mereka berkumpul di meja makan. Untungnya Sabina memasak lumayan banyak jadi sepertinya cukup untuk mereka makan. 

"Ayah siapa paman ini?"tanya Sabian penasaran pada orang asing yang duduk bersama mereka. 

Jarrel Arkatama, ayah dari dua bersaudara itu melirik pria di sebelahnya. " Oh kenalin ini temen ayah namanya uncle Sagara panggil aja uncle Gara. Uncle Gara yang selama ini membantu Ayah jadi kalian harus bersikap baik padanya mengerti?"

Kedua kakak beradik itu mengangguk paham. 

"Terima kasih uncle udah jaga Ayah, oh ya namaku Sabina Raquella Kahyana, panggil aja Bina."

"Dan aku Sabian Dirgantara panggil aja Bian."

Sagara tersenyum ramah," Halo Bina, Bian."

"Uncle Gara untuk sementara ini akan tinggal bersama kita, gak papa kan?"tanya Jarrel. 

"Ya gak papa dong, tapi Ayah kamar di rumah nenek cuma ada dua. Jadi mungkin Ayah sama uncle harus tidur berdesakan."

"Kamu jangan khawatir sekarang kan ayah sudah menjemput kalian jadi hari ini kita akan kembali ke Jakarta."

Tubuh Sabina membeku, ia dengan hati-hati menatap sang ayah. "Emang gak bisa ya kita tinggal di sini? Sabina udah nyaman di sini,"ucap Sabina dengan nada lirih. 

Jarrel menghela nafas lembut, dia mengerti apa yang dirasakan putrinya. 

"Sayang kitakan gak bisa terus tinggal di sini gimana dengan sekolah kalian. Lagipula ayah sudah membeli rumah baru untuk kita tempati, kita gak akan kembali ke rumah itu lagi. Kamu mau kan?"tanya Jarrel sambil mengelus tangan putrinya. 

Sabina menatap adiknya yang juga tengah menatapnya. Bian memberi anggukan kecil seakan memberitahu kakaknya bahwa semuanya akan baik-baik saja. 

Sabina menarik nafas panjang lalu mengangguk pelan, "Baiklah kita akan kembali ke Jakarta."

Jarrel tersenyum puas lalu mereka pun melanjutkan sarapan yang sempat tertunda. 

Sagara yang melihat interaksi manis diantara mereka tersenyum iri. Andai saja kedua anaknya masih ada mungkin mereka seumuran gadis cantik di depannya. 

Setelah selesai sarapan Jarrel membantu kedua anaknya untuk packing barang-barang mereka. 

"Ayah kalau kita pergi seperti ini siapa yang akan  urus rumah nenek?" Tanya Sabian. 

Tangan yang hendak menutup resleting koper terhenti. Jarrel menunduk menyembunyikan senyum pahit, di saat-saat terakhir ibunya pergi dia  tidak ada di samping sang ibu dan itu adalah penyesalan terbesarnya. 

"Ayah akan menyewa seseorang untuk membersihkan rumah nenek."

"Tapi ayah sebelum kita pergi bolehkan kita jiarah ke makan kakek sama nenek untuk terakhir kali?"

Jarrel mengusap lembut surai putrinya, "Tentu saja sayang."

Kini mereka berempat berada di kuburan kedua orang tua Jarrel. Sabina dan Sabian berjongkok di depan kuburan kakek neneknya sambil menaburkan bunga di atas kuburan mereka begitupun dengan Jarrel. 

Sedangkan Sagara hanya berdiri di belakang mereka, memperhatikan ketiga orang di hadapannya. 

"Halo Kakek, Nenek tebak Sabina bawa siapa? Benar Sabina bawa ayah. Hari ini ayah jemput kita, ayah menepati janjinya dan gak bohong sama kita. Nenek, sekarang nenek gak perlu khawatir lagi karena ada ayah yang akan menjaga kita. Nenek sama kakek yang tenang ya di sana."  Tanpa terasa setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Sabina, ternyata meski sudah lama kakek neneknya pergi kesedihan itu masih ada. 

Sabian meremas bahu kakaknya lalu menuntun Sabina ke sisi uncle Sagara memberi sang ayah ruang. 

"Ayah, ibu maaf, maaf baru datang sekarang dan maaf karena tidak hadir di detik-detik kematian kalian. Ibu terima kasih sudah merawat anak-anakku sekarang kondisi ku sudah jauh lebih baik. Aku akan bawa anak-anak pulang dan menjalani kehidupan bahagia sesuai permintaan ibu."

Sabina dan Sabian merengkuh bahu ayahnya yang bergetar. 

"Ayo kita pergi sebelum ketinggalan pesawat,"ucap Sagara memecah keheningan. Dia tidak bermaksud mengganggu mereka yang sedang berduka, ini karena keadaan yang mendesaknya. 

"Uncle, Bina belum pamitan sama satu orang lagi, Bina boleh pamitan dulu gak? Masih ada waktu kan?"

Sagara melihat waktu di pergelangan tangannya sebelum mengangguk, "Oke, memangnya siapa?"

"Kakek Bara,"sahut Sabian tanpa menyadari kalau tubuh Sagara mematung kaku. 

"O-oh Oke kalau gitu uncle tunggu di mobil ya."

Sabina membuat isyarat oke menggunakan jarinya. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!