Just (Boy) Friend
WARNING❗ Terdapat banyak kata-kata kasar dan menyinggung. Mohon untuk bijak dalam membaca.
...~SELAMAT MEMBACA~...
Malam hari adalah waktu yang tepat bagi sebagian orang untuk beristirahat dari kesibukan yang melelahkan. Bulan cerah menggantung di langit malam yang gelap dan sunyi ditemani ribuan bintang yang bersinar terang.
Di sebuah rumah kecil yang berada di ujung desa seorang gadis cantik terbangun dari tidurnya. Kulitnya yang putih bersih terlihat cerah di bawah cahaya lampu neon, rambut hitam legam terurai panjang.
Wajah cantiknya seperti diukir dengan hati-hati, hidung mancung, mata tajam, dan bibir pink montok.
Tanpa meninggalkan suara gadis itu perlahan berjalan menuju lemari, mengganti pakaiannya menjadi sweater dan celana olahraga panjang.
Sabina melirik jam dinding di kamarnya yang saat ini menunjukkan pukul sebelas malam.
"Mampus tu si beruk pasti lagi misuh-misuh,"gerutu Sabina.
Sebelum meninggalkan kamar Sabina memperbaiki selimut adiknya yang tersingkap.
"Jangan bangun dulu dek tunggu kakak balik."
Sabina buru-buru pergi ke tempat temannya menjemput dirinya.
"Ck lama lo gue udah lumutan nungguin lo," Sembur laki-laki berparas tampan, namanya Bimantara Bumi Laskarmana biasa dipanggil Bima, Bumi, atau Aska terserah enaknya gimana.
Cucunya orang kaya di desa ini. Bumi saat ini sedang berlibur atau singkatnya tuh anak lagi diskors dari sekolahannya.
"Ya maaf lagian lu datangnya gasik amat."
"Yeu upil kuda lu yang minta jemput jam sepuluh ya kocak." Bumi menoyor pelan dahi Sabina lantaran gemas, gemas ingin menendang gadis itu.
"Hehehe udahlah buru keburu malem, nanti adik gue kebangun." Alexa langsung naik ke motor supra yang dibawa Samuel.
"Nih motor punya siapa sih lelet amat kapan mau nyampenya?!" Protes Sabina tidak sabar.
Pasalnya ni motor benar-benar lelet macam siput, mana suka kedat-kedut lagi kayak mau mogok.
"Lo diam deh protes mulu gue turunin nih di sini. Ini motor punya abah gue meski keliatan udah tua nih motor bukan sembarang motor. Asal lo tau dulu abah gue sering balapan pake motor ini dan selalu menang. Jadi, lo harus bersyukur pernah ngerasain naik motor pembalap."
"Bacot Bum! Gue kagak butuh penjelasan lo buruan dah keburu bubar nanti."
"Iye-iye!"
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan sedikit bumbu drama, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, pasar malam.
Eits, tapi ini bukan pasar malam seperti yang kalian pikirkan dengan banyak wahana atau jajanan kaki lima.
Pasar malam ini sangat berbeda dan hanya buka setiap tengah malam, jadi disebut pasar malam atau lebih tepatnya pasar gelap.
Setiap bahu jalan diisi oleh para pedagang kaki lima. Meski kelihatannya seperti pedagang biasa yang menjualkan produk dagangan, nyatanya itu hanya kedok untuk menjalankan bisnis ilegal mereka.
Seperti narkoba, prostitusi, judi, dll. Dan di ujung jalan sana adalah tujuan mereka, kedai teh biasa.
Dan bagaimana Sabina bisa tau? Simpel saja karena dia mencari tahu.
"Anjir ini tempat apa? Kok gue baru tau ada tempat kayak gini mana orang-orangnya pada serem lagi,"ucap Bumi saat merasakan berbagai tatapan tak ramah mengarah pada mereka.
"Udah diem aja, lo cukup ikutin gue gak usah banyak bacot dan tingkah."
Tringg!
Lonceng kedai berbunyi nyaring menandakan jika ada seorang tamu masuk ke dalam.
Seorang pelayan berseragam rapih menyambut kedatangan Sabina dan Bumi dengan senyum ramah.
"Selamat datang di kedai teh kami ada yang bisa saya bantu?"
Sabina mengeluarkan sebuah kartu hitam dari saku jaketnya dan berkata, "Tolong?"
Ekspresi pelayan itu berubah serius. "Mari saya antar Nona, tapi…"
Pelayan itu melirik ragu pria di belakang Sabina yang tengah celingukan menatap sekitar.
Seakan mengerti maksudnya Sabina menyikut perut Bumi dengan sedikit kekuatan lalu tersenyum paksa pada pelayan.
"Ahahaha… jangan khawatirkan dia, dia pacar saya."
"Iyakan sayang?!" Ucap Sabina dengan sedikit penekanan.
"Aduh... Sakit bab-" Ringisan Bumi berhenti saat pandangannya tak sengaja beradu tatap dengan mata Sabina yang seperti pedang.
Bumi meneguk kasar salivanya lalu terkekeh canggung. "Baby… ya baby!"
Tunggu! Apa katanya pa-pacar? PACAR!
Bumi melirik Sabina dengan tampang malu-malu sambil mesem-mesem tak jelas. Tapi hanya sesaat karena suasana hatinya berubah saat pelayan itu memandangnya dengan tatapan tak biasa.
Bumi melotot kesal.
"Apa lo liat-liat! Belum pernah liat cowo ganteng kayak gue? Emang sih siapa yang bisa nolak pesona gue yang sangat tampan nan rupawan ini,"dengusnya sombong seraya menyugarkan rambutnya ke belakang.
Ingatkan Sabina untuk memutus tali persahabatan plastik mereka nanti.
"Mari Nona." Pelayan itu memilih tak menghiraukan jenis anomali gak jelas.
°°°°°
Setelah masuk melalui pintu khusus dan berjalan menuruni tangga sambil melewati lorong gelap, akhirnya mereka sudah sampai di sebuah arena pertarungan bawah tanah.
"Lo tunggu di sini gue masih ada urusan,"perintah Sabina lalu bergegas pergi tanpa menunggu respon sahabatnya.
"Hah.. Woi! Lo mau kemana?!"
"Ck tu bocah maen kabur-kabur aja." Bumi mendudukkan pantatnya di kursi tribun, menonton pertunjukan yang sedang berlangsung, yap pertarungan sengit dua manusia.
"Anjir ini tempat apaan si Sabina tau dari mana ada tempat kayak gini? Ck, pasti tuh bocah bergaul sama orang gak bener."
"Gue serasa nonton sabung ayam cuma bedanya ni objeknya manusia,"cerocos Bumi mencoba mengalihkan perhatiannya dari rasa khawatir.
"Duh kenapa firasat gue jadi gak enak ya?"
Sampai pertandingan akan berakhir Sabina belum juga menampakkan batang hidungnya. Sampai matanya melotot sempurna kala melihat objek yang sedari tadi ia tunggu.
Wajahnya merah padam menahan amarah, urat-urat lehernya menonjol dengan kedua tangan mengepal erat.
"Bangsat!"
Di luar arena Sabina tengah meregangkan otot-ototnya yang kaku. Yah dia akan bertarung dengan petarung terkuat yang konon katanya tidak pernah terkalahkan.
Alasannya? Tidak ada. Dia hanya ingin mencoba melewati batas level maksimal kekuatannya. Selain itu uang yang ditawarkan juga cukup lumayan.
Sorak sorai penonton semakin meriah kala Sabina memasuki arena dan berhadapan langsung dengan lawan. Seorang pria tinggi berbadan besar.
Jika disandingkan, Sabina terlihat seperti semut kecil yang akan diinjak- injak gajah besar.
"Cih ngapain gadis kecil di sini? Cari mati? Mending pulang sana mimi susu ke ibumu hahaha…"
"Lagian apa yang bisa gadis kecil sepertimu lakuin? Orang juga tau siapa yang bakal menang."
Tawa mengejek bergema di seluruh arena seolah menertawakan kemalangan Sabina.
"Bacot lu!" Tanpa basa-basi Sabina langsung melancarkan serangan tajam ke arah lawan setelah lonceng berbunyi.
Mata Bumi memerah melihat pertarungan sengit di arena yang terhalang pagar kawat.
"Anjing! Minggir bangsat!" Bumi mencoba menerobos masuk ke pintu yang dijaga oleh dua pria kekar.
"Sabina!"
"Arghh! Anjing! Bangsat!"
Bugh!
Bugh!
Sabina menunggangi tubuh lawan yang terkunci di bawah kungkungannya, lalu meninju wajahnya dengan brutal.
Bugh!
"Cuih." Sabina meludahkan seteguk darah tua lalu bangkit dengan tubuh sempoyongan setelah lawan mainnya terkapar lemah.
"Jadi, siapa yang menang?" Dengan kekehan sinis Sabina menatap datar lawan di bawahnya yang pingsan.
Teng!
"Pertandingan berakhir!" Suara wasit bergema begitupun dengan teriakan para penonton yang tidak percaya sekaligus takjub.
Namun kegembiraan itu berakhir tenang ketika seorang pemuda berlari masuk menyeret Sabina dengan wajah muram.
"Lo apa-apaan sih! Lepasin gue! Bumi! Anjing! Lo mau bawa gue kemana?! Gue belum bawa duitnya!"
"Persetan sama tuh duit!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Siti Nina
Mampir thor nyimak dulu kya nya menarik ceritanya 😊
2025-08-26
0