Sehari sebelum kepulangannya Bumi menghabiskan waktu bersama Sabina. Bersepeda menjelajahi desa, mencoba semua jajanan kaki lima, menangkap ikan di sungai bersama anak-anak lain, dan terakhir pergi ke padang rumput yang ia temukan secara tidak sengaja.
"Ahh…." Bumi menjatuhkan seluruh tubuhnya di hamparan rumput dengan satu tangan menumpu di belakang kepalanya dan tangan lainnya ia rentangkan agar Sabina bisa tiduran menggunakan tangannya sebagai bantalan.
Sabina menyesuaikan posisi tubuhnya agar nyaman berbaring, lalu mereka sama-sama menatap langit sore yang diwarnai cahaya orange sambil menikmati semilir angin sore.
Matahari perlahan mulai terbenam di ufuk barat menandakan bahwa sebentar lagi langit akan berganti malam dan bulan akan muncul mengganti tugas matahari.
"Rasanya sedih deh gue harus ninggalin lo di sini. Baru kemarin kita baikan tapi gue harus balik ke Jakarta. Kenapa waktu berjalan begitu cepat? Gue pengen waktu tuh berjalan lambat sampai gue puas berduaan sama lo. Gue belum siap jauh dari lo, kemarin lo jauhin gue aja gak sanggup apalagi sekarang. Gimana kalau lo ikut gue ke Jakarta?"
Bumi menoleh ke arah Sabina dengan pandangan berbinar seolah solusi dari permasalahannya adalah jalan terbaik.
"Ngadi-ngadi lo. Nih denger ya Bum setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan ini adalah waktunya kita berpisah. Dan gue yakin kita akan bertemu lagi di waktu yang tepat jika takdir menghendaki. Lagian lo kan bisa ke sini kalau lo kangen gue,"jelas Sabina panjang lebar berusaha memberi Bumi pengertian.
"Tapi tetep aja gue gak mau jauh dari lo, emang gak bisa lo ikut gue balik? Kalau lo ke sana gue bakal ajak lo ke tempat-tempat yang menyenangkan dan makan- makanan kuliner di sana,"ucap Bumi berusaha membujuk Sabina.
Sabina terdiam sejenak pikirannya melayang jauh ke masa lalu yang mana membuat ia tersenyum kecut. Kota itu yang ia hindari dan jika bisa Sabina tidak ingin menginjakkan kakinya lagi di sana.
Sekarang dia sudah nyaman berada di sini, tenang, damai, tentram dan Sabina bisa menikmati udara sejuk tanpa polusi.
"Terus adek gue? Lo mau gue ninggalin adek gue disini?"tanya Sabin sewot.
"Ya nggaklah lo berdua ikut gue ke Jakarta."
"Terus kita tinggal dimana? Kolong jembatan? Lo kalau gak punya otak jangan terlalu kentara nunjukinnya."
"Bum jangan gini dong, gue kan jadi ikut sedih. Kita masih bisa ketemu lagi, gue masih di sini kok gak kemana-mana, lo bisa ke sini lagi kalau kangen gue. Emang lo gak kangen sama temen-temen lo di sana?"
Sabina menoleh ke samping, menatap Bumi dengan pandangan teduh begitupun Bumi.
Kedua mata mereka saling beradu menyalurkan perasaan masing-masing.
Sabina merasa detak jantungnya berdegup kencang saat dirinya terhanyut oleh tatapan lembut dan teduh pria di sampingnya. Sebelum Bumi menyadari kelainanya Sabina buru-buru memutuskan kontak mata mereka.
"Udahlah pokoknya gitu! Lo jangan bertingkah lagi!" Ujar Sabina menutupi kegugupannya dengan kabur meninggalkan Bumi sendiri.
"Hah!? Woi lo mau kemana? Tungguin gue!" Bumi buru-buru bangun untuk mengejar Sabina.
Jika Bumi berhasil menyusul Sabina pria itu akan melihat wajah merah Sabina yang tersipu malu.
"Duh nih jantung kenapa sih. Apa jangan-jangan gue punya penyakit? Gak, gak bisa ini mah gue harus periksa."
"Bina!Tungguin gue!"
Sabina melotot sempurna melihat Bumi hampir menyusulnya. Gadis itu semakin mempercepat langkah kakinya.
°°°°
Tepat hari kepulangan Bumi halaman rumah pak bara diisi suara rengekan Bumi yang tak henti-henti.
Bara, kakek Bumi ingin sekali rasanya melempar cucunya ke sungai. Badan aja besar tapi tingkahnya seperti anak kecil, malu-maluin pria macho aja.
"Bum, lu ngerengek sekali lagi kakek timpuk ya pake sendal. Lu cuma balik ke rumah bukan ke akhirat, gak usah lebay!"
Bumi mendengus sebal sambil mempererat pelukannya dengan Sabina.
"Cih bilang aja iri dasar orang tua,"ledek Bumi tak lupa dengan juluran lidahnya agar maksimal membuat sang kakek marah.
"Sab gue ada satu permintaan tapi lo jangan marah, ya?"
Sabina menaikan sebelah alisnya, sedikit penasaran. "Apaan?"
"Tuh belum apa-apa ngomongnya udah sewot,"keluh Bumi sedikit memajukan bibirnya.
"Huft… iya apa Bumi."
Bumi tersenyum malu-malu wajahnya ia dekatkan hingga berjarak beberapa senti. Sabina berusaha menahan kegugupannya dan jantungnya pun mulai berdetak kencang kala wajah tampan pemuda itu sangat dekat dengannya.
"Mau cium boleh?" Suara bernada rendah itu mampu membuat Sabina melotot sempurna. Belum sempat dirinya protes sesuatu yang kenyal menempel di pipinya.
Cup.
"Oke Terima kasih! Sampai jumpa jangan kangenin gue." Bumi mengacak-acak surai gadis itu lalu pergi meninggalkan tkp sebelum Sabina sadar dan berakhir menendangnya.
"Bangsat! Woi kurang ajar pipi kakak gue jadi gak suci lagi!"teriak Sabian tak terima lalu berlari ke sisi kakaknya, mengelap pipinya menggunakan lengan kemeja.
Bumi hanya menjulurkan lidahnya di balik jendela mobil. Sedangkan sang korban hanya mematung kaku dengan detak jantung yang semakin cepat.
°°°
Setelah kejadian tak terduga tadi Sabina kembali menjalani aktivitas seperti biasa meski di sela-sela itu Sabina masih terbayang kecupan singkat yang mampu membuat jantungnya berdetak lebih kuat.
Hari-hari mereka jalani seperti biasa, makan, berkebun, tidur siang, dan sesekali Sabina akan pergi ke kota untuk menjalankan misinya secara diam-diam.
Jika Sabian tau dia sudah mengingkari janjinya mungkin anak itu akan marah besar, tapi apa boleh buat keadaan membuatnya seperti ini.
Dia ingin meringankan sedikit beban ayahnya, meski setiap bulan ayah sering mengirim mereka uang saku tapi uang itu selalu ia tabung untuk berjaga-jaga jika ada keadaan darurat.
Lima tahun lalu keluarga beranggotakan empat orang hancur berantakan. Perusahaan yang dibangun oleh kerja keras sang ayah bangkrut total, ibu pergi melarikan diri meninggalkan mereka, dan kakek meninggal karena serangan jantung.
Masalah yang terus menerus berdatangan membuat ayah hampir gila dan berniat mengakhiri hidupnya.
Masa itu adalah trauma terburuk mereka.
Mereka tidak ingin merasakan kehilangan lagi. Sudah cukup dengan kepergian kakek dan ibu mereka.
Dan mungkin karena rasa tanggung jawab dan semangat dari anak-anaknya sang ayah mampu bangkit kembali.
Karena tidak ingin melibatkan anak-anaknya ayah mengirim mereka ke rumah nenek untuk menemani sang nenek yang saat itu juga ditinggalkan oleh kakek.
Setelah mengirim kami ayah pergi entah kemana. Tapi sesekali ayah akan mengirim pesan dan uang pada mereka.
Dan karena kejadian itu juga mereka terpaksa putus sekolah, tapi berkat sang nenek yang menyewa tutor dengan uang pensiunannya mereka bisa belajar lagi.
Dalam keadaan apapun nenek tidak ingin anak cucunya putus sekolah karena pendidikan adalah yang terpenting.
Namun sayang kebersamaan mereka tak berlangsung lama setahun lalu nenek meninggal dunia menyusul sang kakek.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments