Bab 2

Yang Sabina tau Bumi adalah pria konyol, tengil, humoris, ceroboh dan gak pernah serius tentang apapun. 

Kadang kala dia sering merasa pusing dengan tingkah lakunya. 

Sejak awal mereka bertemu, Bumi terlalu sokab padanya. mengikuti kemanapun dia pergi, menempel padanya sampai membuat dia risih dan setiap perkataannya mampu membuat dia darah tinggi. 

Namun seiring berjalannya waktu Sabina mulai terbiasa dengan tambahan ekor di belakang selain adiknya. 

Dan sekarang untuk pertama kalinya Sabina merasakan amarah seorang Bumi yang berhasil membuat dia sedikit takut. 

Ingat SE-DI-KIT! 

"Lo ngapain sih, hah?! Lo ngapain ikutan kaya gitu?! Mau jadi jagoan lo?! Mau ngebuktiin ke orang-orang kalau lo lebih kuat?! Gitu?! Lo haus validasi, hah?! Atau lo butuh duit? Berapa? Sejuta? Dua juta? Gue kasih!" 

Sabina tak percaya perkataan seperti itu akan keluar dari mulut sahabatnya. Hati Sabina sedikit tersentil mendengar ucapan tak menyenangkan itu dan sedikit melukai harga dirinya. Tak tahukah Bumi kalau perkataannya sudah merendahkan dirinya. 

Dibandingkan rasa sakit Sabina lebih merasa kecewa. 

"Brengsek! Kalau iya kenapa, hah?! Anjing lo! Minggir! Gak usah ketemu gue lagi!" 

Sabina mendorong kasar tubuh Bumi lalu pergi meninggalkan pria yang mematung kaku. 

"Arrgghh!! Bangsat! Bumi bego!" Bumi mengacak-acak kasar rambutnya frustasi lalu buru-buru menyusul Sabina sebelum kehilangan jejak. 

Penampilannya yang kacau membuat orang yang berlalu lalang memperhatikannya, namun Bumi tak memperdulikannya saat ini prioritas utamanya  adalah mencari Sabina  dan meminta maaf.

Setelah mencari sepanjang jalan Bumi tak kunjung juga menemukan Sabina. Pria itu memilih menyerah mungkin saja Sabina sudah kembali ke rumah. 

Dan sialnya motor yang ia tumpangi mogok di tengah jalan. Bumi terpaksa harus mendorong motornya ke bengkel. 

"Bangsatlah sial banget gue hari ini. Mana ada bengkel yang buka jam segini harusnya gue bawa si Becky biar gak apes gini." 

Setelah perjalanan yang melelahkan akhirnya Bumi menemukan bengkel yang buka 24 jam dan syukurnya bisa pulang dengan selamat. 

°°°°

Keesokan paginya Sabina merasa terganggu oleh suara bising dari dapur. Dia dengan kesal bangun dan berjalan keluar. 

"Dek ah berisik tau kakak lagi tidur, bisa gak gak usah ribut ini masih pagi,"omel Sabina kesal, matanya setengah terbuka setengah terpejam. 

Dia benar-benar lelah, kemarin malam setelah ribut dengan Bumi Sabina tidak langsung pulang melainkan nangkring dulu di supermarket untuk menenangkan pikiran sambil mengobati luka-lukanya. 

"Itu udah bangun. Lagian gak baik anak cewe bangun siang  kakak harusnya lebih rajin bukan malah malas-malasan. Sekarang bantuin adek bikin sarapan."

Sabina langsung menolak keras usulan adiknya. "Ogah mending kakak lanjut tidur."

"Aku aduin ayah ya kalau kakak malas-malasan, "ancam Bian yang berhasil membuat Sabina merengut kesal. 

"Aduan lu! Awas entar malam lo tidur sendiri."

"Ih kok gitu! Gak mau ah kakak udah gak sayang aku lagi, ya?" Wajah manis Bian terkulai lesu dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca siap jatuh kapan saja. 

Bian bisa dibilang sangat bergantung kepadanya  karena sejak kecil pemuda itu lebih dekat dengannya dibanding orang tua mereka sendiri. Alasannya karena orang tua mereka sibuk, ayah sibuk bekerja dan ibu tidak peduli. 

Tapi meski begitu ayah akan sesekali menyempatkan waktu untuk bermain bersama mereka. 

Seringkali Sabina yang sering mengurus adiknya sendiri padahal usia mereka terpaut satu tahun. Dan karena keadaan itu Alexa sudah dewasa sebelum waktunya. 

Karena dia anak pertama dan kakak bagi adiknya. Sebagai seorang kakak Alexa harus menjaga, memberi contoh yang baik dan membimbing adik kecilnya. 

"Iya-iya nggak. Cengeng lu udah gede juga. Makanya kalau malem tuh tidur bukan nonton film horor,"ejek Sabina mengusap surai adiknya yang terasa lembut. 

"Gak papa sama kakak ini cengeng nya. Wlee…" Bian memeluk sayang kakak tercintanya. Jika orang lain bertanya siapa yang paling dia sayang Bian akan menjawab dengan lantang nama Kak Sabina. 

Bian, atau nama aslinya adalah Sabian dirgantara. 

"Kakak kemarin malam pergi ke sana kan?"

"E-enggak!" 

Bian memicingkan matanya curiga, "Bohong! Kakak kan udah janji sama aku gak bakal ke sana lagi."

Sabina menghela nafas pasrah, baiklah dia akui tidak bisa berbohong kepada adiknya. 

"Iya kakak ke sana, maaf ya Kakak udah ingkar janji."

"Oke aku maafin."

Sabina tersenyum gemas lalu mengacak-acak rambut adiknya. "Terima kasih kakak janji yang kemarin itu terakhir."

"Hmmm...."

°°° 

Sedangkan disisi lain ada Bumi yang sedang mencabut rerumputan liar untuk memberi makan domba-domba kesayangan abahnya dengan wajah yang ditekuk kesal.

Bagaimana tidak, pagi-pagi sekali dia sudah diseret dari kasur empuk hanya untuk mencari rumput, ditambah lagi dengan masalah kemarin yang belum selesai. 

Cukup sudah kekesalannya semakin bertambah.

"Kenapa sih  dari tadi cemberut mulu gak ikhlas bantuin abah?"tanya Bara mendekat lalu duduk di atas rumput. Sebagai kakek yang baik Bara selalu peduli terhadap cucu-cucunya meski kelakuan cucunya diluar akal sehat manusia. 

Contohnya seperti ini Bara peka terhadap mood cucunya yang kurang baik. 

"Yap betul sekali 100 buat abah."

"Dasar bocah edan." Bara melempar sejumput rumput liar ke arah Bumi dengan kesal. 

"Hah.... sebenarnya Bumi lagi galau." Bumi ikut mendudukkan pantatnya di sebelah Bara, menatap hamparan langit biru yang terlihat sangat cerah. Semilir angin sejuk menerbangkan helaian rambut di dahinya. 

"Gegayaan lu galau kayak punya pacar aja. Galau kenapa? Ditolak? Putus cinta?"

"Ini lebih dari ditolak dan putus cinta, abah gak bakal ngerti ini urusan anak muda." 

"Lu ngatain gua tua hah?! Ck punya cucu gini amat, lagian gini-gini  juga gua pernah muda kali. Buruan kenapa?"

Samuel menghela nafas panjang, terlihat pemuda itu sangat frustasi.

"Bumi sama Sabina lagi berantem. Kemarin Bumi ngeluarin kata-kata yang nyakitin Sabina dan Sabina  gak mau ketemu Bumi lagi."

"Terus lu nyerah gitu aja?"

Bumi menggelengkan kepalanya, "Bumi nggak nyerah tapi kata Sabina, Sabina gak mau ketemu Bumi."

"Lu nurut?"

Samuel mengangguk polos. 

"Astaga punya cucu kok bego amat!" Bara menepuk jidatnya frustasi, rasanya dia ingin menjual Bumi ke tukang loak.

"Bumi kan gak mau bikin Sabina tambah marah,"ucap Bumi sedikit ngegas karena tak terima dikatain bego. 

"Ya gak gitu juga, lu samperin lah Bumi minta maaf yang bener sambil bawa buah tangan buat sogokan."

"Kalau Sabina gak mau maafin Bumi gimana?"

"Ya itu derita lu."

Bumi merengut kesal. "Ih abah yang bener aja lah."

"Ya lu dicoba aja belum udah pesimis."

"Kalau Sabina gak maafin Bumi itu semua salah Abah."

"Lah ngapa jadi nyalahin gua? Masalah-masalah lu kenapa jadi gua yang nanggung?"

"Karena Abah cocok jadi kambing hitam."

"Udah ah Bumi mau nyamperin Sabina dulu abah lanjutin kerjanya bye,"ucap Bumi tanpa dosa. 

Pemuda itu langsung melempar parang di tangannya lalu melenggang pergi meninggalkan kakeknya sendirian untuk mencabut rumput. 

"Kerjaan lu selesai in  dulu bocah!"

"Nanti! Urusan Bumi lebih penting!"

"Dasar bocah gembleng! Awas lu nanti balik gua getok kepala lu ya!" Teriak Bara kesal. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!