Malam hari, kamar Elara. Setelah pertemuan canggung tapi jujur dengan Reyhan, Elara duduk di ranjangnya, laptop terbuka, catatan wawancara belum disentuh. Matanya malah terpaku pada folder lama berisi foto dan jurnal SMA.
Elara Nadhira
(Orang bilang masa lalu nggak bisa diulang. Tapi kenangan? Mereka keras kepala. Mereka datang di saat yang paling nggak diundang. Seperti Reyhan. Seperti hari itu—saat kami pertama kali benar-benar saling tahu.)
Flashback – SMA, 10 tahun lalu. Taman belakang sekolah. Reyhan duduk di bangku kayu, membaca cerpen yang Elara tulis untuk majalah dinding.
Reyhan Alvaro
Lo nulis ini buat siapa?
//Tanpa mengangkat kepala.
Elara Nadhira
//Bingung.
Elara Nadhira
Maksudnya?
Reyhan Alvaro
Karakter cowoknya suka senyap, nggak banyak bicara, tapi tiba - tiba tahu semua hal tentang ceweknya.
Elara Nadhira
Fiksi, Rey.
//Pura - pura cuek.
Elara Nadhira
Nggak semua tulisan itu personal.
//Menatap lurus.
Reyhan Alvaro
//Menutup kertas, lalu beralih menatap Elara.
Reyhan Alvaro
Tapi lo nulisnya pakai perasan
Elara terdiam. Reyhan terlalu tepat. Terlalu tahu, ia selalu begitu.
Reyhan Alvaro
Kalau suatu hari gue ngilang tiba - tiba, lo bakal nyari ga?
Elara Nadhira
Gue bukan penulis drama, tapi ya.... maybe.
Reyhan Alvaro
Bagus, karna kalo gue pergi, gue harap lo ngga pernah lupa kalo gue pernah ada di tulisan lo
Flashback selesai. Elara mengusap wajahnya, lalu membuka dokumen kosong. Ia mulai mengetik artikel tentang Reyhan. Tapi suatu paragraf berhenti di tengah kalimat.
Elara Nadhira
(Bagaimana caranya menulis seseorang yang pernah menjadi inspirasi dalam hidup mu.... dan sekarang muncul lagi sebagai kenangan hidup?)
Ting
Ponsel nya bergetar. Satu pesan masuk dari Reyhan :
"Besok kita lanjut sesi wawancara, ya. Kalau bisa di taman kota yang pernah kamu sebut waktu SMA. Aku ingat"
Comments