[Subject: Konfirmasi Meeting dengan Reyhan Alvaro – Jumat, 10.00 AM]
Lokasi: Rooftop Café, Blok M.
Catatan: Narasumber akan menunggu di meja luar. Katanya dia lebih suka bicara di tempat yang ada langit.
Elara Nadhira
//Tersenyum tipis.
-----------------------------
Rooftop Café, Jumat pagi. Jakarta mendung tipis. Elara menaiki tangga menuju lantai atas dengan ransel berisi alat rekam dan catatan. Napasnya sedikit tak teratur—antara gugup dan marah yang dipendam terlalu lama.
Elara Nadhira
(Tujuh tahun, tidak ada kabar, tidak ada satu pesan, tidak ada satu penjelasan.)
Elara Nadhira
//Menghela napas.
Elara Nadhira
(Sekarang dia duduk di meja paling pojok, menikmati kopi seolah semua baik - baik saja.)
Reyhan duduk dengan laptop terbuka. Ia mengenakan kemeja linen warna pasir, rambut sedikit acak. Begitu melihat Elara datang, ia berdiri dan tersenyum pelan—seolah mereka baru tak bertemu kemarin sore.
Reyhan Alvaro
Elara Nadhira, masih tepat waktu ya?
Reyhan Alvaro
//Tersenyum miring.
Elara Nadhira
//Datang tanpa tersenyum.
Professionalisme nggak ikut hilang kayak yang lain.
Reyhan Alvaro
//Tertawa kecil.
Reyhan Alvaro
Lo masih tajam, kurasa aku kangen yang itu
Elara Nadhira
//Duduk dan mengeluarkan alat perekam.
Elara Nadhira
Gue nggak di sini buat nostalgia, kita mulai aja
Reyhan menatapnya sejenak. Tatapan yang dulu terasa hangat, sekarang lebih tenang tapi menyimpan sesuatu.
Reyhan Alvaro
Kalau gue minta maaf lima menit sebelum kita kerja, kamu izinkan?
Elara Nadhira
Buat apa?
Reyhan Alvaro
Buat bilang.... maaf.
Elara terdiam. Kata itu tidak cukup. Tidak untuk tujuh tahun yang . Tapi anehnya, ia tidak marah seperti dulu. Ia hanya ingin tahu ---- kenapa.
Elara Nadhira
Kenapa lo pergi, Rey?
//Suara lirih.
Elara Nadhira
Kita teman, atau dulu gue pikir gitu.
//Gumam.
Reyhan Alvaro
Ayah gue bangkrut, malam sebelum kelulusan kita harus pergi ke Jerman.
Reyhan Alvaro
Gue cuman bawa satu koper dan satu janji ke diri sendiri "nggak akan narik lo ke dalam kekacauan keluarga gue"
Elara Nadhira
Lo nggak perlu narik, lo juga nggak perlu hiang, Rey.
Diam. Bunyi angin pelan menerpa kanopi Cafe.
Reyhan Alvaro
Lo marah?
Elara Nadhira
Dulu, iya.
//menatap lurus.
Elara Nadhira
Sekarang? gue cuman penasaran kenapa hidup selalu bercanda pakai orang yang sama.
//lirih.
Reyhan Alvaro
//Tersenyum kecil.
Reyhan Alvaro
Mungkin karna orang itu belum selesai di hidup lo.
Elara tak menjawab, ia menekan tombol alat rekam. Lampu merah menyala.
Elara Nadhira
Oke, sekarang kita kerja.
//Ucapnya tegas.
Elara Nadhira
Artikel ini tentang Jakarta dan lo, bukan tentang kita.
Elara Nadhira
(Tapi kata ‘kita’ tiba-tiba terasa aneh di lidahku. Seperti kata asing yang dulunya akrab—dan sekarang kembali untuk minta diterjemahkan.)
Comments