Mentari pagi menyapa lewat celah jendela kamar kos sederhana. Semalam hujan lebat membersihkan debu jalanan, kini udara terasa sejuk menyegarkan. Namun, ketenangan pagi terusik oleh bising kendaraan yang tak henti-henti di luar sana.
Di balik selimut, seorang perempuan cantik masih terlelap dalam tidurnya yang nyenyak. Suara gemuruh hujan yang reda kini berganti dengan hiruk pikuk kota yang mulai beraktivitas.
Meskipun demikian, kelelahan semalam membuatnya enggan beranjak dari kehangatan tempat tidurnya. Cahaya mentari yang semakin terang perlahan mulai menyinari wajahnya yang damai, kontras dengan kebisingan yang terus menyerbu dari luar. Pagi yang cerah ini seolah menyimpan dua sisi, ketenangan alam pasca hujan dan hiruk pikuk kehidupan kota yang tak pernah benar-benar berhenti. Perempuan itu, di tengah kesederhanaan kamarnya, masih menikmati sisa-sisa mimpi di pagi yang ramai.
Alarm kedua setelah solat subuh berbunyi dan membangunkan perempuan itu. Waktu menunjukan pukul 06.40 WIB yang membuat perempuan itu membelalakan matanya.
"Waduh aku ada kelas pagi jam 07.00 WIB!"
Dengan panik perempuan itu langsung menuju ke kamar mandi dengan kaki yang sempoyongan sembari menggerutu.
Hari ini diawali dengan kelas Statistika dengan bobot 4 sks. Cukup membuat pusing bagi Hanin, seorang mahasiswa dengan otak pas pasan.
Pukul 07.10 WIB dia baru saja sampai di ruang kelas Statistika hari ini. Dengan drama lari naik tangga hingga ke lantai 3 gedung fakultas yang cukup membuat Hanin kapok dan tidak ingin mengulanginya lagi.
"Eh ini lagi membahas apa ya?" Tanya Hanin kepada teman di sebelah nya.
"Regresi linear" Jawab teman Hanin seadanya.
Sungguh, apapun yang di jelaskan oleh dosen di depan sama sekali tidak masuk ke kepalanya. Ia hanya memperhatikan dosen dan pura - pura paham agar tidak menjadi sasaran ditanya dosen.
Hanin berdoa semoga waktu 4 jam ini segera selesai dan ia akan menjalankan misi tugas wawancara dengan kakak tingkat yang berada di kampus Seberang.
"Nin, nanti aku beneran ikut nih? takut ganggu momen heyy." Tanya Kana kepada Hanin.
"Iya ikut aja. Aku ngga bisa kalo cuman berduaan aja, aku malu." Jawab Hanin.
Sungguh ia belum pernah hanya berbicara berdua saja dengan laki - laki itu. Ia tidak bisa membayangkan akan se kaku apa dirinya jika hanya berdua dengan laki - laki itu.
Ketika waktu menunjukan pukul 09.20 WIB kelas Statistika akhirnya selesai juga. Hanin dan Kana langsung bergegas menuju tempat yang sudah Hanin dan Ahmed sepakati untuk bertemu hari ini yaitu di perpustakaan kampus.
Perjalanan dari Fakultas Hanin ke Perpustakaan kampus lumayan dekat hanya memakan waktu 5 menit saja. Berhubung iaa memiliki waktu sebelum jam 11.00 ia menempatkan diri untuk menuju ke toilet terlebih dahulu.
"Kana toilet dulu yuu." Ujar Hanin
Bagi para perempuan pasti tahu apa yang akan di lakukan oleh Hanin di dalam toilet. Ya, dia menyempatkan waktu untuk membenahi make up nya dahulu.
"Ini make up ku masih oke kan? ngga ada yang aneh sama muka ku kan? apa aku perlu make up ulang aja ya?" Ucap Hanin tanpa henti.
"Hai girl make up kamu masih oke, ngga ada yang aneh ko, tinggal tambah parfum aja biar wangi nya tercium dari pintu masuk perpustakaan." Jawab Kana dengan sedikit meledek.
"Bener nih? oke deh aku mau tambah ni parfum sampai habis juga nggak apa - apa." Ucap Hanin dengan senyum lebar.
Setelah selesai dari toilet mereka berdua langsung menuju ke Perpustakaan kampus.
Disana mereka langsung mencari tempat yang cocok untuk melakukan wawancara dan tentu saja tempat yang sepi agar suara mereka tidak mengganggu yang lainnya.
Perpustakaan pada jam - jam seperti ini sangat ramai di kunjungi para mahasiswa entah untuk membaca buku atau hanya sekedar tempat singgah mereka menunggu kelas selanjutnya.
"dia ingat aku ngga ya? takut udah lupa karena udah lama ngga pernah ketemu." Gumam Hanin
Sembari menunggu Ahmed sampai, Hanin mengecek kembali pertanyaan- pertanyaan wawancara. Ia terlalu fokus hingga tidak menyadari ada seseorang yang datang mendekat ke arah meja mereka.
"Hanindya ya?."
Hanin terkejut mendengar suara tersebut. Suara yang sudah lama tidak ia dengar, suara seseorang yang ia kagumi.
"Iya Mas, Hanin." Jawabnya sembari menampilkan senyuman seramah mungkin untuk menutupi kecanggungan yang tiba - tiba datang.
"Silahkan duduk Mas, Hehehe datang sendirian aja?." Tanya Hanin.
"Iya nih, maaf ya Hanin aku datangnya agak telat, tadi ada urusan sebentar." Jawab Ahmed dengan ramah.
"Gimana kabarnya Hanin? udah lama ngga ketemu ya, aku ngga nyangka kamu juga kuliah disini." Tanya Ahmed
"Alhamdulillah baik Mas, Mas sendiri bagaimana? sehat? kemarin ikut demo ngga?." Timpa Hanin
"Alhamdulillah, ngga ikut Nin, niatnya sih mau ikut tapi bangun kesiangan." Jawab Ahmed
"Oh ya Mas, ini teman aku Kana, kita satu kelas. Oh ya, kita langsung aja ya wawancara nya, santai aja Mas, Jawab sebisanya aja ngga apa - apa." Ucap Hanin.
Ahmed menganggukan kepala sembari senyum untuk menyapa teman Hanin, lalu kemudian ia fokus mendengarkan pertanyaan dari Hanin.
Layaknya teman akrab yang sudah lama tidak ketemu, Ahmed dan Hanin dengan leluasa berdiskusi. Hanin yang lebih sering mendengarkan obrolan dan Ahmed yang lebih mendominasi obrolan.
Tidak bisa membohongi diri sendiri, mata Hanin seakan - akan tidak bisa lepas dari sosok Ahmed di depanya. Momen langka yang nggak pernah ia bayangkan. Ia pasti akan mengenang baik - baik hari ini.
"Ada lagi ngga?." Tanya Ahmed sembari menatap Hanin
Hanin langsung tersadar, ia malu karena ketahuan menatap Ahmed dengan mata yang intens.
"Eh? sebenarnya udah cukup banget ini Mas, makasi banget ya." Ungkap Hanin tergagap.
"Beneran? coba cek dulu siapa tau adaa yang belum terjawab." Ucap Ahmed.
"udah Mas ini udah terjawab semua. Oh ya, sebentar, ini ada sedikit insertif Mas, semoga suka ya." Ucap Hanin Sembari memberikan minuman sebagai tanda terima kasih untuk Ahmed.
"Eh ngga usah report - report lah Nin, kaya sama siapa aja, tapi ini makasih ya. Lain kali kalau butuh bantuan bilang aja, kita kan sesama alumni Pondok Pesantren Amanah jadi ngga usah sungkan ya, anggap aja saudara." Ucap Ahmed terdengar tulus.
"Kalau sudah selesai aku pamit dulu ya, ada kelas sebentar lagi." Pamit Ahmed yang tersenyum hangat sembari berdiri."
"Iya Mas, makasi banyak ya, hati - hati di jalan." Jawab Hanin dengan tulus.
Ini yang membuat Hanin dengan mudah nya kagum dengan sosok Ahmed yang cerdas berwawasan luas, bisa di ajak diskusi, ramah dan tentu saja Ahmed adalah sosok yang sangat menawan di mata Hanin. Hanin, dia yang tampak sadar juga menaruhkan hatinya dengan suka rela pada sosok Syrah Ahmed.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments