Senin, 15 November 2021
Hujan turun begitu lebat, membasahi bumi dengan tirai air tak berkesudahan. Angin bertiup kencang, menggoyangkan pepohonan hingga dahan-dahan berderak. Sejak pagi tadi, rintik air tak henti-hentinya jatuh, menciptakan simfoni alam yang syahdu namun juga menghadirkan dilema bagi sebagian orang. Di tengah gemuruh hujan, seorang gadis baru saja menuntaskan mata kuliah terakhirnya sore itu.
Hanindya Cakraningsih, mahasiswa baru jurusan Psikologi, menghela napas lega. Satu hari penuh, dari pagi hingga sore, ia mengikuti kelas yang sangat padat. Tubuhnya terasa remuk redam, otaknya pun seolah berasap setelah menerima begitu banyak informasi baru. Ia tak menyangka, masa kuliah akan se-"capek" ini. Sebagai seorang maba, ia masih dalam proses beradaptasi dengan sistem perkuliahan yang menurutnya aneh: sekilas terlihat senggang, namun nyatanya sangat padat dan menuntut.
Dulu, saat SMA, ia terbiasa seharian penuh berada di dalam satu kelas yang sama. Namun, di bangku kuliah, setiap mata kuliah berarti berpindah kelas, terkadang melintasi gedung yang berbeda. Hal ini sedikit merepotkan, apalagi ditambah dengan “tanggungan” tugas yang seolah menjadi menu wajib di setiap pertemuan. Awalnya, Hanin sedikit kewalahan dengan ritme baru ini. Mencari kelas, beradaptasi dengan dosen yang berbeda-beda, dan dikejar tenggat waktu tugas, semua terasa seperti maraton tanpa henti. Namun, setelah menjalani dua bulan lebih masa perkuliahan, ia mulai terbiasa. Pola pikirnya berubah, dan ia mulai menemukan celah-celah kecil untuk beradaptasi, bahkan menikmati dinamika perkuliahan.
"Aduh, aku nggak bawa payung lagi," gumam Hanin, meratapi nasibnya yang kurang beruntung sore itu. Matanya menyusuri kerumunan mahasiswa yang berbondong-bondong keluar dari gedung kuliah, terbuka, nekat menerobos hujan tanpa peduli basah kuyup. Kampus memang luas, dan jadwal kuliah Hanin hari itu kebetulan penuh di gedung-gedung luar fakultas. Meskipun sedikit jauh dari fakultas asalnya, Hanin justru merasa senang. Jarak gedung-gedung tersebut ternyata lebih dekat dengan kosannya. Selain itu, fasilitas di gedung-gedung terpadu itu jauh lebih modern dan nyaman dibandingkan dengan fasilitas di gedung fakultasnya yang cenderung lebih tua.
Hanin melihat sekelilingnya, menimbang-nimbang. Sebuah ide gila terlintas di benaknya: ikut menerobos hujan seperti yang dilakukan banyak mahasiswa lain.
"Terobos saja ya?" gumamnya lagi, matanya menatap genangan air yang sudah mencapai mata kaki, menciptakan riak-riak kecil setiap kali ada yang melangkah melewatinya.
Beberapa minggu belakangan ini, hujan memang sering turun di kota tempat Hanin berkuliah. Wajar saja, ini sudah memasuki bulan November, di mana musim hujan sedang gencar-gencarnya. Biasanya, Hanin selalu membawa payung, terutama jika ada kelas sore, sebagai antisipasi. Namun, entah mengapa sore itu ia lupa total. Payungnya tertinggal di kos. Sebuah kelalaian kecil yang kini berakibat fatal.
Hujan kali ini benar-benar lebat. Sejak pagi hari, bahkan hingga sore menjelang malam, rintiknya tak kunjung berhenti. Dalam kondisi seperti ini, seharusnya setiap orang selalu siap sedia membawa payung atau jas hujan. Namun, seringkali manusia alpa, lupa mempersiapkan diri, dan akhirnya harus pasrah menghadapi basah. Ah, tak apalah, biarkan saja hal ini menjadi pelajaran berharga untuk di kemudian hari, pikir Hanin.
"Hanin! Hanin!" sebuah suara terdengar samar-samar di tengah deru hujan dan keramaian. Hanin menoleh, mencari sumber suara itu. Ia menyipitkan matanya, berusaha menebak siapa yang memanggilnya. Matanya yang minus membuat pandangannya buram dari kejauhan, sehingga sulit baginya untuk mengidentifikasi sosok di balik suara tersebut.
Seiring langkah kaki yang mendekat, sosok itu semakin jelas. Seorang perempuan yang familiar melambaikan tangan padanya.
"Hai Nin, baru selesai kelas ya? Ayo pulang bareng," tawar perempuan itu ramah.
"Oh, hai Kansa," jawab Hanin, sedikit terkejut sekaligus senang.
"Iya nih, baru selesai kelas, tapi ini masih deras banget, loh."
Perempuan yang memanggil Hanin itu adalah Kansa Baikha. Kansa bukan hanya teman kos Hanindya, melainkan juga teman akrab sejak masa orientasi mahasiswa baru. Mereka berdua bahkan ditempatkan dalam kelompok yang sama saat ospek, sebuah kebetulan yang mempererat ikatan pertemanan mereka.
Kansa tersenyum simpul, menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Sudah ayo, nggak apa-apa. Kalau nunggu reda, nanti keburu malam," ajak Kansa, seolah tak peduli dengan lebatnya hujan.
Mendengar ajakan Kansa, Hanin merasa sedikit lega. Setidaknya ada teman yang menemaninya menerobos hujan. Tanpa berpikir panjang, mereka berdua akhirnya nekat. Mereka melangkah maju, menerobos tirai air tanpa payung ataupun jas hujan. Mereka tak memedulikan bagaimana respon tubuh mereka saat diguyur hujan lebat itu. Yang penting, mereka bisa segera sampai di kos, mengeringkan diri, dan menghangatkan tubuh setelah seharian penuh berkutat dengan perkuliahan. Hujan deras mungkin merepotkan, namun ditemani teman baik, beban itu terasa sedikit lebih ringan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments