Hari Senin selalu menjadi tantangan bagi mahasiswa, termasuk Hanin. Setelah menikmati waktu santai di akhir pekan yang panjang, kini ia harus kembali menghadapi jadwal kuliah yang padat.
Mengambil delapan SKS dalam satu hari tentu bukan hal yang mudah. Hanin berusaha melawan rasa kantuk dan kelelahan demi tetap dapat berkonsentrasi dalam perkuliahan. Belum lagi tumpukan tugas yang menunggu untuk diselesaikan. Tak heran jika di hari Senin ini, Hanin merasa kelelahan yang luar biasa. Energi yang terkumpul selama libur terasa lenyap seketika.
Ia pun bertanya-tanya, mengapa hari Senin selalu terasa begitu berat? Apakah ini hanya perasaannya saja, atau ada banyak mahasiswa lain yang merasakan hal serupa?
"Oh my god aku capek banget udah ngga kuat." Bisik teman Hanin yang bernama Kana.
Hanin hanya tersenyum menanggapi keluhan temannya, meskipun sebenarnya ia merasakan hal yang sama. Rasa lelah dan lesu menyelimuti tubuhnya setelah menghabiskan waktu kuliah sejak pagi buta.
Bayangkan saja, dari pukul tujuh pagi hingga sebelas siang, mereka harus menghadapi rangkaian mata kuliah tanpa jeda istirahat.
Perutnya keroncongan dan rasa kantuk makin menyerang, membuat konsentrasi semakin sulit dipertahankan. Hanin merasa tidak lagi mengerti penjelasan dosen yang berbicara di depan kelas.
Pikiran nya melayang ke mana-mana, membayangkan kasur empuk dan makanan lezat yang menunggunya di rumah. Ia pun berharap jam kuliah segera berlalu, agar bisa beristirahat dan mengembalikan tenaganya.
"Saya kasih kalian tugas wawancara mengenai materi hari ini. Tugas dilakukan secara mandiri dan orang yang di wawancara tidak boleh dari fakultas ini." Ungkap pak dosen bagaikan petir di siang bolong, alias mengagetkan.
"Jirr yang bener aja itu bapak - bapak." Geram Kana.
"Waduh mana aku belum punya kenalan dari fakultas lain lagi." Ungkap Hanin yang merasa cemas.
"Pak izin bertanya, untuk format serta pertanyaan wawancara di tentukan bapak atau dari kami?." Tanya salah satu penanggung jawab kelas.
"Untuk itu nanti saya kirim di grup." Jawab pak dosen. Kemudian ia mengakhiri kelas pada siang ini.
Para mahasiswa berhamburan keluar kelas. Tanpa memusingkan apakah materi barusan masuk atau tidak di otak mereka, karena saat ini dipikiran mereka hanya satu, yaitu segera ke kantin dan mengisi perut mereka dengan banyak makanan untuk mengisi tenaga yang telah terkuras banyak.
Hanin dan Kana menjadi salah satu dari banyaknya mahasiswa yang rela dempet - dempetan hanya demi semangkuk nasi dan ayam di kantin yang sangat ramai ini.
Rasa lemas tak berdaya ketika di dalam kelas seketika hilang entah kemana. Kini tubuh mereka menjadi sangat bersemangat untuk menyerbu kantin.
"Kana kita mau duduk di mana ini? ramai banget gila." Ungkap Hanin resah.
"Ayo makan di depan kantin aja, di sini panas banget Nin, ayo di bawa nasinya." Jawab Kana sembari berjalan keluar kantin.
Setelah bersusah payah menerobos keramaian kantin, akhirnya Hanin dan temannya bisa bernapas lega.
Mereka menemukan tempat teduh di bawah pohon rindang. Angin sepoi-sepoi membelai wajah mereka yang lelah. Hanin menghela napas panjang, menikmati ketenangan yang akhirnya ia dapatkan.
Kemudian ia membuka nasi ayam geprek yang ia beli tadi. Aroma sedap memang sudah tercium, membuat perutnya yang keroncongan semakin bersemangat. Tapi Hanin dan temannya masih enggan menyentuh makanannya. Mereka berdua masih asyik mengobrol, membicarakan dosen yang killer dan tugas-tugas yang menumpuk.
"btw Kan, kamu udah ada bayangan belum mau wawancara siapa?." Tanya Hanin.
"Belum Nin, aku ada kenalan anak teknik tapi nggak tau dia mau aku wawancara apa ngga." Jawab Kana lesu.
"Lah kamu udah ada belum Nin?". Tanya Kana bergantian.
"Aku punya kenalan satu, anak Teknik juga, tapi ngga tau, dia itu kakak kelas ku dulu, aku kenal dia tapi aku ngga tau dia kenal aku atau nggak." Ungkap Hanin terlihat lesu.
"loh siapa? kamu baru cerita ada kakak kelas mu di sini." Tanya Kana merasa penasaran.
"itu loh Kan, cowok yang pernah aku ceritain ke kamu." Jawab Hanin.
"loh? dia juga kuliah di sini?." Ungkap Kana terkejut.
Selama enam bulan mereka bersahabat, Hanin hanya sekali bercerita tentang seorang cowok pada Kana. Kana tahu betul cowok itu sangat spesial bagi Hanin. Bagaimana tidak, Hanin adalah tipe orang yang ekspresi wajahnya mudah sekali dibaca.
Kana hanya tahu cowok itu adalah kakak kelas Hanin di SMA. Hanya itu. Kana tidak pernah tahu kalau cowok itu juga kuliah di tempat yang sama dengan mereka.
Hanin memang tidak pernah bercerita banyak. Tapi bagi Kana, cerita sekali itu sudah cukup untuk tahu kalau cowok itu sangat berarti bagi Hanin. Kana bisa melihatnya dari mata Hanin yang berbinar setiap kali nama cowok itu disebut. Atau dari senyum kecil yang selalu menghiasi wajah Hanin ketika Kana menyinggung cowok itu kepada Hanin.
"Iya Kan. Aku pengin dia yang aku wawancarai. Hehehe sekalian ketemu kan?, walau pun satu kampus, udah lama aku ngga lihat dia." Ungkap Hanin lesu.
"Yaudah, chat coba dia mau apa ngga." Saran Kana.
"duh aku malu Kan, kita tuh saling save nomer tapi ngga pernah chattingan gitu lo." Jawab Hanin.
"Yaudah sini aku ketikin biar ngga malu." Tawar Kana.
"Eh ngga usah aku aja." Tolak Hanin.
"Gimana ya." Gumam Hanin.
Sent to Mas Ahmed
"Assalamualaikum, Mas ini Hanin, masih ingat ngga?. Heheh mas aku ada tugas wawancara gitu, tapi ngga boleh yang satu fakultas, nah aku dapat target buat wawancara anak teknik, nah mas mau ngga aku wawancara?."
"kaya gini bener ngga Kan?." Tanya Hanin sembari menyerahkan handphonenya untuk dilihat Kana.
"idih ini bahasanya MAS banget Nin?." Ledek Kana.
"ih ngga gitu, aku kan dari awal emang manggilnya mas, masa tiba tiba manggil kak?." Jawab Hani sembari menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Eh Nin, ini pesannya udah dibaca sama kakaknya." Ungkap Kana dengan semangat.
Mas Ahmed writing
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments
KLOWOR GAMING apa??
Cerdasnya plot twistnya bikin aku kagum!
2025-02-15
0