Hamil
Beberapa minggu berlalu tapi orang tua mereka belum kembali dan tidak memberikan kabar apapun.
Carla yang selalu menanti mereka sekarang sudah hilang harapan, ia menjalani hari dengan kosong. Harus merasakan takut setiap saat dan selalu berusaha mencari kesibukan setelah pulang sekolah, karna ia tahu bahwa Xander selalu menanti nya pulang.
Austin Wingate
Hei, Car tunggu.
Menarik lengan Carla memaksa untuk melihat nya.
Austin Wingate
Kenapa lo pucat seperti ini, lo sakit?
Carla Avisya
Aku baik, terimakasih sudah memperhatikan ku
Menarik mu semakin dekat sampai mereka hampir bersentuhan
Austin Wingate
Lo sakit dan izinin gue buat bawa lo ke uks
Carla Avisya
Aku bisa sendiri
Carla pasrah ia menurut saat Austin menarik lengannya dengan lembut dan hati-hati
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam tapi Austin bertengkar dengan pikiran nya.
Saat di UKS Carla meminta untuk ditinggalkan sendiri, Austin menolak tapi karna ada nada memohon dari Carla ia menurut dan menunggu diluar ruangan
Carla menjalani pemeriksaan dengan takut apalagi saat dokter sekolah memberinya tes pak.
Dokter yang menjadi guru di ruang UKS ia memberi anggukan, ia memberi perintah agar Carla menggunakannya untuk pemeriksaan. Carla dengan ragu menurut dan pergi ke kamar mandi untuk memeriksa
Tangan Carla bergetar saat melihat garis dua di tes pak. Ia menangis dengan sesenggukan, ia menggenggam erat tes pak itu dengan satu tangannya dan tangan lainya memukul dadanya yang sangat sesak sekarang.
Dokter itu masuk tanpa diminta, ia mencoba memenangkan Carla dan menuntun nya keluar kamar mandi untuk didudukan di sofa panjang.
Tidak ada percakapan antara dokter dan Carla, hanya ada suara karna yang tertahan.
Menatap Arema dengan tatapan serius
Dokter Arema
Baiklah, kau bisa tinggal disini sampai sekolah berakhir
Carla menundukkan kepalanya malu
Dokter Arema
Tidak perlu malu, Carla
Carla Avisya
Saya merepotkan ibuk, maaf
Dokter Arema
Tidak, itu sudah tugas saya sebagai dokter di sekolah ini
Dokter Arema
Dan perlu kau ketahui bahwa bukan cuma kamu yang seperti ini.
Carla Avisya
Bagaimana saya bisa sekolah
Dokter Arema
Saya tidak bisa membantu mu dalam hal itu
Dokter Arema
Tapi saya bisa membantumu keluar dari sekolah tanpa kecurigaan dari para guru dan teman-teman mu.
Carla ingin berbicara tapi tertahan
Dokter Arema
Aku sudah lama bekerja dan aku sudah mendapatkan banyak pasien yang sama seperti mu.
Dokter Arema
Kau bersama teman?
Carla Avisya
Ya dia menunggu di luar
Dokter Arema
Pacar atau yang bertanggung jawab atas ini?
Dokter Arema
Baiklah, aku akan mengatasinya.
Dokter Arema
Kau berpura-pura lah tidur aku selebihnya serahkan semua pada ku
Carla Avisya
Terimakasih buk
Arema mengangguk singkat lalu menuju pintu untuk berbicara dengan teman yang Carla maksud
Austin Wingate
Bagaimana Carla
Dokter Arema
Dia baik dan hanya butuh waktu istirahat
Austin Wingate
Saya boleh melihat nya?
Dokter Arema
Saya rasa tidak, dia sedang tidur karna pengaruh obat.
Austin Wingate
Apakah ada penyakit serius?
Austin mengangguk ragu tapi tidak bisa berbuat apa-apa
Dokter Arema
Kembalilah, Carla saya yang merawatnya
Awalnya Austin menolak tapi saat mendengar bel jam terakhir ia meninggalkan ruang UKS itu dengan tidak rela.
Dokter Arema
;cinta mu besar anak muda;
Katanya dalam hati sebelum ia kembali ke dalam ruangan dan melihat Carla yang tidak tenang
Carla Avisya
'Kak jemput aku di sekolah sekarang'
Xander Novic
'anak sialan, lo mau bolos hah?'
Xander Novic
'tapi gak papa, lo harus nyenengin gue nanti'
Carla hanya membacanya tidak membalasnya
Dokter Arema
Apa yang kau lakukan sekarang?
Dokter Arema
Menghubungi seseorang yang membut mu seperti ini?
Suaranya seperti bisikan, Carla menundukkan kepalanya lagi
Dokter Arema
Itu lebih baik.
Beberapa saat setelah nya ada pesan dari Xander
Xander Novic
'lo dimana bangsat, gue udah di depan gerbang sekolah lo'
Carla Avisya
'iya kak, aku keluar'
Carla pamit dengan Arema lalu berlari ke gerbang sekolah, keadaan sekolah sepi karna sedang dalam jam belajar. Jadi ini memudahkan Carla untuk pergi
Saat pak satpam menahan Carla, Carla dengan cepat memberikan kartu izin pulang karna sakit dari Arema.
Satpam menerima kartu izin itu dan membiarkan Carla pergi dengan membuka gerbang sekolah.
Xander Novic
Lo sengaja ngerjain gue atau gimana, hah?
Malajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi
Setelah memastikan Carla mengenakan sabuk pengaman.
Tidak ada yang memulai percakapan hanya kesunyian yang menemani mereka, dan saat mendekati apotek kecil Carla meminta Xander untuk berhenti
Sedikit kebingungan dan kekhawatiran terlihat di wajah Xander tapi segera ia sembunyikan dengan wajah datarnya.
Tidak butuh waktu lama untuk Carla membeli barang yang ia cari. Setelah masuk kembali ke mobil Xander tidak merasakan keanehan jadi ia kembali melajukan mobilnya dengan cepat.
Saat sampai rumah ingin rasanya Xander menghabiskan waktu dengan Carla tapi ia mendapatkan pesan dari asisten nya untuk kembali lebih cepat karna ada masalah di Hotel miliknya.
Tapi pamit ia tidak turun dari mobil dan langsung pergi meninggalkan Carla.
Carla melihat dari pintu rumah sesaat sebelum ia masuk karna ia tidak sabar dengan hasil ulang yang akan ia lakukan dirumah.
Masuk ke kamarnya dan melemparkan tas nya ke sembarangan arah, ia hanya membawa dua tes pak yang ia beli ke kamar mandi dan segera memeriksa nya.
Hasil tes pak satu dan dua tidak beda dengan hasil yang pemeriksaan pertama di sekolah. Ia ambruk jatuh ke lantai, ia lemas dan tidak mudah untuk nya berdiri sekedar ingin keluar dari kamar mandi.
Dengan tubuh yang gemetar ia berusaha merangkak untuk keluar kamar mandi dan mengambil ponselnya yang ada di dalam tas di atas ranjang.
Menangis dengan suara tersedu-sedu, ia meraih ponselnya dengan kasar dan menelpon Xander
Saat Xander menjawab telpon nya ia dia sesaat dengan suara lirih ia memanggilnya
Xander mengerutkan alisnya bingung dengan suara lemah yang terselip suara tangis yang tersengal
Carla Avisya
Kakak... pulang kak, hiks..
Carla memutuskan sambung telepon dan mengirim pesan
Carla Avisya
'aku hamil kak'
Xander Novic
'gue pulang sekarang!'
Carla menunggu dengan campuran antara takut dan terpaksa tenang meski pikiran nya kacau
Comments