Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan untuk Mengulang
Matahari siang itu mulai bergeser ke arah barat, namun sinarnya masih terasa hangat menyentuh kulit.
Langkah kaki mereka tidak tergesa‑gesa, seolah ingin memperlambat waktu agar momen kebersamaan itu terasa lebih lama.
Sepanjang jalan, mereka hanya sesekali bertukar pandang dan senyum kecil, tanpa banyak bicara, namun keheningan itu justru terasa nyaman, tidak lagi terasa kaku atau terlilit rasa ragu seperti pertemuan‑pertemuan sebelumnya.
Sesampainya di depan pintu utama gedung tempat Alesha bekerja, mereka berhenti sejenak.
Di sinilah mereka harus berpisah untuk sementara waktu, melanjutkan kembali ke kesibukan masing‑masing.
Namun, sebelum Alesha melangkah masuk, Zehar memanggilnya dengan nada yang lebih lembut dan serius dari biasanya, langkah wanita itu dibuat terhenti begitu saja.
“Alesha, tunggu sebentar. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan sebelum kita melanjutkan kesibukan kita hari ini,” ujar Zehar, bahasanya tidak lagi formal, matanya menatap lurus ke dalam mata Alesha dengan ketulusan yang tak terbantahkan.
Alesha berbalik menghadapnya, merasakan ada perubahan nada bicara pria itu. Jantungnya berdebar sedikit lebih kencang, namun ia tetap berdiri tenang, memberi isyarat agar Zehar melanjutkan ucapannya.
“Silakan, aku mendengarkan,” jawabnya lembut.
Zehar menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang tiba‑tiba berpacu lebih cepat.
Ia telah memikirkan kata‑kata ini berulang kali dalam benaknya selama beberapa hari terakhir, namun saat tiba waktunya untuk mengucapkannya secara langsung, rasanya tetap terasa berat dan menegangkan.
“Selama tujuh tahun perpisahan kita, di mana pun aku bertugas, di mana pun aku berada, ada satu hal yang tidak pernah berubah,” katanya perlahan namun tegas.
“Aku tidak pernah melupakanmu. Tidak pernah sekalipun. Meskipun jarak memisahkan kita, meski komunikasi terputus, meski aku mencoba menyibukkan diri dengan tugas dan tanggung jawab, namamu dan bayanganmu selalu ada di dalam pikiranku. Kamu tidak pernah benar‑benar pergi dari hatiku, Alesha.”
Mendengar ucapan itu, napas Alesha terasa tertahan. Matanya melebar sedikit, lalu perlahan terasa berembun.
Selama ini ia menyangka hanya dirinya yang masih menyimpan perasaan itu, menyangka Zehar sudah melupakan segalanya dan melanjutkan hidup dengan tenang.
Namun kenyataannya, perasaan yang sama juga terpendam di hati pria itu.
Zehar melanjutkan ucapannya dengan suara yang lebih dalam dan penuh harapan.
“Sekarang kita sudah bertemu lagi, sudah saling mengenal kembali, dan aku melihat bahwa sifat serta hatimu masih sama seperti yang aku kenal dulu. Oleh karena itu… aku ingin meminta kesempatan. Aku ingin hubungan kita yang dulu terputus karena keadaan, bisa kita resmikan kembali. Aku ingin mendekatimu lagi, menjagamu lagi, dan membangun kebersamaan ini dari awal dengan lebih baik. Maukah kamu memberiku kesempatan itu?”
Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Suara kendaraan yang melintas di jalan raya terasa samar, seolah menjadi latar belakang yang jauh dari percakapan yang paling penting ini.
Alesha menunduk sebentar, membiarkan perasaannya meluap perlahan.
Selama ini ia berusaha keras mengubur rasa rindu dan cintanya, meyakinkan dirinya bahwa masa lalu sudah selesai dan harus dibiarkan begitu saja.
Namun, setiap kali melihat Zehar, setiap kali berbicara dengannya, semua usaha itu seolah lenyap begitu saja.
Ia mengangkat wajahnya kembali, matanya yang berkaca‑kaca kini menatap Zehar dengan pandangan yang jujur dan tulus.
Bibirnya bergerak perlahan mengungkapkan apa yang selama ini ia sembunyikan rapat‑rapat.
“Zehar… sebenarnya, selama ini aku juga tidak pernah benar‑benar melupakanmu,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar menahan emosi.
“Aku berusaha, sungguh berusaha keras untuk mengubur semua kenangan dan perasaan itu. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu sudah pergi, bahwa hidup kita sudah berbeda jalan, dan bahwa aku harus melangkah maju sendirian. Tapi kenyataannya, aku tidak pernah berhasil. Setiap sudut kota, setiap hal kecil yang aku lihat, selalu mengingatkanku padamu. Cintaku padamu tidak pernah mati, hanya tertidur karena rasa sakit dan ketidakpastian.”
Air mata bahagia akhirnya menetes di sudut matanya, namun senyum terukir lebar di bibirnya.
Ia melanjutkan ucapannya dengan keyakinan yang semakin kuat.
“Dan sekarang, setelah mendengar apa yang baru saja kau katakan… aku menyadari bahwa tidak ada gunanya lagi menyembunyikan perasaan ini. Jika kau juga masih menyimpan rasa yang sama, dan benar‑benar ingin memulai lagi… maka aku menerimanya. Aku bersedia. Aku ingin kita melanjutkan apa yang sempat terputus, dan kali ini aku berjanji akan berusaha lebih jujur dan terbuka, apa pun masalah yang nanti akan kita hadapi.”
Mendengar jawaban itu, seolah beban terberat yang selama ini membebani hati Zehar terangkat seketika.
Sebuah senyum lebar dan tulus terukir di wajahnya, senyum yang belum pernah terlihat selama bertahun‑tahun terakhir.
Matanya juga terasa berkaca‑kaca, campuran antara rasa lega, bahagia, dan rasa syukur yang tak terhingga.
“Terima kasih, Alesha… terima kasih telah memberiku kesempatan ini,” ucap Zehar dengan suara yang lembut namun tidak biaa menyembunyikan rasa bahagianya.
“Aku berjanji kali ini tidak akan membiarkan jarak atau keadaan memisahkan kita lagi. Aku akan menjagamu, mendengarkanmu, dan berusaha menjadi orang yang lebih baik untukmu.”
Tanpa ragu lagi, Zehar meraih tangan Alesha dengan lembut namun mantap. Jemarinya menggenggam tangan wanita itu dengan hangat, seolah ingin memastikan bahwa momen ini nyata dan bukan sekadar khayalan belaka.
Alesha membalas genggaman itu, merasakan kehangatan yang sudah lama ia rindukan, dan membuat seluruh rasa ragu di dalam hatinya perlahan menghilang.
Di tengah hiruk‑pikuk kota yang terus bergerak, di depan gedung tinggi tempat Alesha bekerja, keduanya akhirnya mengambil keputusan yang telah lama ditunggu oleh hati mereka masing‑masing.
Hubungan yang sempat terputus tujuh tahun silam kini secara resmi kembali terjalin, dengan dasar perasaan yang lebih matang, pengertian yang lebih dalam, dan harapan yang lebih besar untuk masa depan.
Mereka berdua tahu, perjalanan ke depan mungkin tidak akan selalu mudah. Masih ada rahasia yang belum terungkap, masih ada tantangan yang mungkin akan datang menghadang.
Namun setidaknya untuk saat ini, mereka tidak lagi berjalan sendirian. Mereka memiliki satu sama lain, dan itu sudah cukup untuk memberi kekuatan guna menghadapi apa pun yang akan datang.
“Jadi mulai hari ini… kita resmi kembali berpacaran?” tanya Zehar dengan nada yang sedikit bercanda, namun ingin memastikan sekali lagi.
Alesha mengangguk mantap, senyumnya terlihat lebih cerah dari biasanya.
“Ya, mulai hari ini. Kita resmi berpacaran lagi.”
Mereka masih berdiri di tempat itu selama beberapa menit, saling menatap dan tersenyum, menikmati kebahagiaan yang baru saja mereka dapatkan.
Tangan mereka tetap tergenggam erat, menjadi tanda awal dari babak baru yang akan mereka lalui bersama.
Akhirnya, setelah cukup lama menikmati momen itu, Alesha perlahan melepaskan genggamannya dengan berat hati.
“Aku harus masuk ke dalam sekarang, ada rapat yang harus dipimpin sebentar lagi,” katanya dengan nada enggan berpisah.
“Baiklah, pergilah. Tapi jangan terlalu lelah bekerja,” jawab Zehar lembut.
“Nanti malam aku akan menghubungimu lagi, ya?”
“Tentu saja! Itu harus. Aku akan menunggunya,” balas Alesha sambil melangkah mundur sedikit, tidak ingin langsung memalingkan wajah.
Zehar berdiri menatapnya hingga sosok Alesha benar‑benar menghilang di balik pintu kaca gedung itu.
Hingga saat itu, senyumnya tidak pernah luntur dari wajahnya.
Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragam, merasakan kebahagiaan yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
Hari ini bukan hanya sekadar pertemuan biasa, melainkan hari di mana masa lalu yang indah kembali terjalin, dan masa depan yang lebih cerah mulai terbentang di hadapan mereka berdua.
kalah saing kmu erhan
real sahabat ini mah😍
kalau bisa up banyak y. plis 🙏