Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.
Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: KDRT
Kantor LPPA
Setelah misi penyelamatan sukses dilaksanakan, Eric dan Anqi kembali ke kantor. Begitu masuk ke ruangan utama, Eric meminta perhatian seluruh staf yang sedang bekerja. Wajahnya memancarkan rasa bangga dan kepuasan.
“Rekan-rekan sekalian, Mohon Perhatiannya. Saya punya kabar yang sangat baik dan menggembirakan untuk kita semua. Operasi penyelamatan anak-anak korban eksploitasi telah berhasil dilakukan! Kita tidak hanya menyelamatkan lima belas orang anak, tapi juga berhasil menangkap bos utama serta seluruh anak buahnya yang menjadi otak kejahatan ini,” ucap Eric dengan suara lantang dan penuh semangat. Ia lalu menoleh ke arah Anqi di sampingnya. “Dan keberhasilan besar ini adalah hasil dari keberanian luar biasa serta kemampuan hebat yang dimiliki asisten baru kita, Yu Anqi. Dia yang menjadi kunci keberhasilan yang baru kami lakukan ini.”
Tepuk tangan meriah dan sorakan kegembiraan langsung meledak di ruangan itu. Semua anggota tim berdiri dan memberi hormat kepada Anqi dengan pandangan penuh kekaguman dan rasa hormat yang tulus. Keraguan yang sempat ada di hati mereka kini berubah menjadi kekaguman.
“Untuk merayakan keberhasilan ini, malam ini saya akan traktir makan malam untuk semuanya!” seru Eric disambut sorak sorai kegembiraan seluruh anggota tim. Anqi pun tersenyum tipis, hatinya merasa hangat melihat kebersamaan dan kebahagiaan rekan-rekan barunya itu.
Di Restoran "IGA"
Malam pun tiba. Mereka berkumpul di sebuah restoran yang menyajikan beragam hidangan lezat dari berbagai jenis masakan. Suasana sangat meriah, disertai gelak tawa dan obrolan akrab. Beberapa rekan tim memesan minuman beralkohol sebagai teman makan dan perayaan, namun saat gelas minuman keras disodorkan ke hadapan Anqi, ia menggelengkan kepalanya dengan sopan namun tegas.
“Terima kasih, aku tidak minum ini”. Tolak Anqi halus. Ia tetap bersikap tenang dan waspada di tengah suasana yang riuh itu.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, terdengar suara bentakan keras diikuti suara hantaman benda keras. Di sudut ruangan lain, seorang pria yang tampak terhuyung-huyung karena mabuk berat, dengan kasar melayangkan tangannya menampar dan memukul seorang wanita yang duduk di hadapannya.
PLAK!!
“Diam kau! Berani sekali kau membantahku!” teriak pria itu dengan suara serak, wajahnya merah karena pengaruh alkohol dan amarah.
Wanita itu terhuyung ke belakang, pipinya langsung memerah dan membengkak. Ia meringis kesakitan, air matanya segera menetes deras. Di sekitarnya, banyak pengunjung lain yang melihat kejadian itu, namun tidak ada satu pun yang berani maju menolong, hanya diam terpaku.
Melihat pemandangan itu, Eric segera berdiri dan berjalan cepat menghampiri pasangan itu untuk melerai. Sementara itu, Anqi bergerak lebih cepat, langsung mendekati wanita yang sedang terjatuh itu untuk membantunya duduk kembali.
Wanita itu langsung mendekati Anqi, tangannya gemetar memegang ujung baju gadis itu.
“Tolong aku, Nona... Tolong aku!” isak wanita itu histeris, matanya penuh ketakutan menatap suaminya yang masih mengamuk. “Dia akan memukulku... Dia akan membunuhku... Tolong aku!”
Pria mabuk itu melihat Eric berdiri di hadapannya menghalangi jalan. Ia langsung membentak kasar, “Heh! Minggir kau! Ini urusanku dengan istriku! Tidak perlu kau ikut campur urusan rumah tangga orang lain!”
“Itu bukan urusan rumah tangga, tapi tindak kekerasan! Kau sudah keterlaluan menyakiti wanita ini,” jawab Eric tegas, berusaha menahan pria itu agar tidak mendekat lagi.
Namun pria itu sama sekali tidak peduli. Ia mendorong tubuh Eric kasar lalu berusaha meraih lengan istrinya untuk menyeretnya pulang. “Pulang kau! Aku akan menghabisimu di rumah nanti!”
Belum sempat tangannya menyentuh wanita itu, tangan Anqi sudah lebih dulu mencengkram pergelangan tangan pria mabuk itu dengan kuat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Anqi mengangkat kakinya dan menendang keras tepat di bagian dada pria itu.
Tubuh pria itu terlempar ke belakang, menghantam meja makan hingga jatuh ke lantai sambil mengerang kesakitan.
Anqi perlahan melangkah maju, matanya menatap pria itu dengan tatapan yang sangat dingin, tajam, dan penuh aura membunuh. Aura yang ia pancarkan saat ini bukan lagi seperti gadis muda biasa, melainkan seperti seorang penjahat yang siap mencabut nyawa. Melihat Anqi hendak mendekat lagi untuk memukul pria itu, Eric segera melangkah maju dan menahan bahu Anqi.
“Cukup! Jangan lakukan!” seru Eric.
Namun saat Anqi menoleh, tatapan matanya membuat Eric tertegun sejenak. Itu adalah tatapan kosong namun mengerikan, seolah tidak ada lagi belas kasihan di sana. Eric pun melepaskan pegangannya, tahu betapa marahnya gadis itu saat melihat ketidakadilan dan kekerasan yang terjadi.
Anqi kembali berjalan mendekati pria itu yang sedang mencoba bangkit sambil memaki-maki. Wajah Anqi kini berubah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang sangat mengerikan, persis seperti senyuman iblis yang sedang melihat mangsanya. Ia mengangkat kakinya tinggi-tinggi, lalu menendang lagi dada pria itu dengan kekuatan penuh, kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya.
“Ampun! Ampun!” teriak pria itu, kesakitan luar biasa.
“Sakit? Kau merasakan sakit? Saat kau memukul istrimu itu, dia juga merasakan sakit bahkan berkali-kali lipat dari ini!” ucap Anqi dengan suara rendah dan bergetar karena amarah. “Kau tidak pantas menjadi suaminya, bahkan tidak pantas hidup!”
Melihat Anqi benar-benar kehilangan kendali dan nyaris membunuh pria itu, Eric segera menahan tubuh Anqi dari belakang sekuat tenaga, menahannya agar tidak memukul lagi.
“Anqi! Hentikan! Dia akan mati! Jangan bunuh dia di sini!” seru Eric sambil menahan tubuh Anqi yang terus meronta-ronta ingin lepas dan menghabisi nyawa pria itu. “Kendalikan dirimu, Anqi! Sadarlah. Kita pelindung, bukan pembunuh!”
Sementara itu, rekan-rekan tim lainnya segera menelepon polisi, menyadari bahwa situasi telah berubah menjadi sangat berbahaya. Pengunjung restoran lainnya hanya bisa diam ketakutan, melihat pemandangan mengerikan itu.
Tidak lama kemudian, suara sirine polisi terdengar memecah keheningan malam, disusul kedatangan dua mobil patroli yang berhenti tepat di depan restoran itu. Beberapa petugas segera turun dan mendekat untuk menangkap pria yang baru saja melakukan kekerasan tersebut. Namun, pria itu tidak mau menyerah dengan mudah, ia memberontak keras, berusaha melepaskan diri dari pegangan petugas sambil memandang istrinya dengan tatapan penuh kebencian. Suaranya serak dan mengancam saat ia berteriak, “Tunggu saja sampai aku bebas! Aku pastikan kau menyesal telah membiarkan orang ini mencampuri urusan kita. Aku akan menghabisi nyawamu nanti!”
Melihat ancaman yang dilontarkan secara terang-terangan itu, Eric segera melangkah maju dan menjelaskan seluruh kejadian kepada kepala petugas yang bertugas. Ia menceritakan dengan jelas bagaimana pria itu telah memukuli istrinya tanpa alasan yang jelas, bahkan berulang kali mengancam akan mencelakakan wanita tersebut. “Perbuatan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja,” tegas Eric dengan nada serius. “Ia telah melanggar hukum dan hak asasi orang lain. Ia harus diadili dan menerima hukuman yang setimpal agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.”
Namun, di luar dugaan semua orang, sang istri justru berlutut sambil terisak-isak, memohon kepada petugas agar suaminya tidak jadi ditangkap dan dibawa pergi. Sikap wanita itu membuat Anqi merasa bingung sekaligus marah, dengan suara yang meninggi, Anqi bertanya dengan tegas, “Apakah kau benar-benar mau terus hidup dalam ketakutan? Apakah kau rela dipukul bahkan dibunuh suatu hari nanti hanya karena takut padanya?”
Wanita itu semakin terisak hebat, air matanya mengalir deras membasahi pipi yang sembab dan memar. Tangannya gemetar saat ia berbicara, “Kalian tidak mengerti... Kalau dia ditangkap sekarang, begitu dia bebas nanti, dia pasti akan datang kembali dan membunuhku beserta anakku. Aku takut... aku takut tidak ada yang bisa melindungi kami nanti.”
Anqi mendekat perlahan, menatap wanita itu dengan tatapan lembut namun penuh keyakinan, berusaha menenangkan ketakutan yang mendalam di hatinya. “Dengarkan aku baik-baik,” ucapnya pelan namun tegas. “Tidak akan ada hal buruk yang terjadi padamu dan anakmu lagi. Kau tidak harus terus hidup seperti ini. Langkah terbaik yang bisa kau ambil sekarang adalah bercerai darinya. Setelah itu, kau dan anakmu akan kami bawa ke tempat perlindungan yang aman, di mana kalian akan dijaga dan tidak bisa disentuh oleh siapa pun, termasuk dia.”
Anqi kemudian menoleh ke arah Eric, yang langsung mengangguk setuju dan memberikan dukungan. “Selain itu,” tambah Eric, “agar hukuman yang diterima suamimu setimpal, sangat penting bagimu untuk melakukan pemeriksaan visum di rumah sakit. Hasil visum itu akan menjadi bukti sah yang menunjukkan luka-luka yang kau derita akibat dari kekerasannya, sehingga dapat memberatkan tuntutan hukum dan membuatnya bertanggung jawab penuh atas segala perbuatannya.”
Eric pun mengeluarkan kartu nama dan menuliskan alamat lengkap kantor serta lembaga perlindungan yang mereka kelola. “Ini alamat kami,” katanya sambil menyerahkan secarik kertas itu kepada wanita itu. “Kalau kau dan anakmu sudah siap, datanglah ke sini. Kami akan membantu mengurus segala kebutuhan dan proses hukumnya.”
Wanita itu menerima kertas itu dengan tangan gemetar, matanya memancarkan sedikit haru yang selama ini terkubur. Ia mengucapkan terima kasih berulang kali kepada Anqi dan Eric atas perhatian dan bantuan mereka. Anqi hanya tersenyum tipis, lalu menoleh kembali menatap pria yang masih ditahan petugas dengan tatapan tajam dan penuh peringatan. “Ingat baik-baik kata-kataku,” ucapnya lantang. “jika pria ini berani mendekatimu atau menyakitimu lagi, aku sendiri yang akan mematahkan tangannya. Percayalah janjiku ini."
Mendengar ucapan yang tegas dan meyakinkan itu, hati wanita itu terasa sedikit lebih tenang. Ia mengusap air matanya dan kembali mengangguk sambil berterima kasih, mulai merasa ada secercah harapan bahwa ia dan anaknya akhirnya bisa hidup damai tanpa rasa takut lagi.