NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:860
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Sudah sejak sore Deviana dan ibunya datang bertamu ke rumah Raharja. Tak dapat pungkiri jika Ibu Deviana memang adik kandung dari bagus jadi hal itu sudah biasa.

Sore harinya seperti biasa Deviana mengajak kakaknya jalan-jalan, kecuali Jevan yang dari sore sampai malam ini belum juga pulang. Jadi, gadis ya selalu Nayla juluki sebagai perempuan yang suka mencari perhatian itu hanya pergi berdua dengan Devan.

Malam itu, suasana makan terasa berbeda. Dua sosok tambahan hadir, namun bagi Nayla, mereka ibarat makhluk asing yang menyelinap ke tengah keluarganya manusia jadi-jadian yang tak pernah ia kenali.

Percakapan orang tua dan tantenya berjalan singkat, “Gimana urusan kantor, Mas?” tanya salah satu.

“Baik,” jawab Bagus singkat, tanpa semangat.

Nayla memilih diam, menunduk pada makanan di piringnya yang seolah menjadi satu-satunya hal nyata di hadapannya.

Tiba-tiba, suara langkah kecil terdengar dari dapur, mengoyak keheningan. “Permisi, Pak, ada paket.” Semua mata langsung tertuju pada bi Nani yang membawa sebuah bungkusan misterius.

Bagus mengangguk, mengambil paket itu dengan tangan sedikit gemetar, lalu bi Nani cepat-cepat membungkuk dan melangkah pergi, seperti membawa rahasia yang tak boleh terungkap.

Setelah bi Nani pergi, Vina membuka suara dengan nada penasaran, “Dari siapa, Mas?” Bagus menatap paket tanpa ekspresi. “Entahlah... tak ada nama pengirimnya.” Dengan berat, ia meletakkan paket itu di atas meja makan, seolah menyimpan petaka yang diam-diam mengintai, menunggu untuk membuka luka baru dalam keluarganya malam itu.

"Kenapa gak dibuka sekarang aja, Mas? Siapa tahu penting, kan?" suara Vina terdengar tergesa, seperti menahan gelisah yang perlahan membakar di dalam dadanya.

"Nanti aja, Mas. Gak baik sekarang. Ini waktunya makan," balas Nadia cepat, suaranya bergetar menahan rasa takut akan suasana yang mulai memanas.

"Mbak, gimana sih? Kalau paket itu beneran penting? Siapa tahu dari rekan kerjanya Mas Bagus, itu urusan besar, loh," potong Vina dengan nada setengah memaksa, matanya tak lepas dari ponsel di tangan Bagus.

"Iya, Vina benar. Lagipula kalian masih bisa lanjut makan nanti," tambah suara Nayla, tapi kali ini tak terdengar seperti ajakan biasa melainkan desakan halus yang terselubung kekesalan.

Nayla merasakan tatapan penuh sindiran dari Deviana, sepupunya yang duduk di seberang meja, membuat bulu kuduknya meremang.

Tatapan itu menusuk, menyimpan amarah yang tak perlu disembunyikan. Dia tahu mamahnya pun ikut mengawasi, wajahnya menggambarkan ketidaksenangan yang sama seperti gelombang sunyi yang siap mengamuk sewaktu-waktu. Merasa berat dan terkekang, Nayla mendongak sebentar, beradu mata dengan Deviana yang menyeringai sinis. Ia ingin membalas, tapi memilih untuk menunduk, menekan semua gejolak dalam dadanya, dan meraih sendoknya dengan tangan gemetar. Di balik kepalan tangan itu, ada api yang mulai membara, menunggu waktu untuk meledak.

Namun tiba-tiba, Bagus bangkit dari kursinya dengan amarah membara yang meledak tanpa bisa ditahan. Tubuhnya mengguncang meja makan, denting keras itu membuat seluruh ruangan terdiam dalam ketegangan yang mencekam. "Kurang ajar!" Suaranya pecah, tinjunya terkepal kuat di atas meja sampai buku jarinya memutih, seolah mengekspresikan benci yang menggerogoti dalam hatinya.

Ibu mereka sigap meraih lengan suaminya dengan lembut, berusaha menenangkan badai yang sedang mengamuk. "Kenapa, mas?" tanyanya lembut, namun nada suaranya bergetar menahan kecemasan.

Di sisi lain, Vina melenggang dengan senyum sinis yang menusuk, seolah sedang memegang kartu kemenangan. Perlahan dia meraih kotak paket yang sebelumnya diletakkan oleh Bagus dengan jari-jari gemulai tapi penuh arti.

"Astaga, ya ampun, Mbak..." Gumam Vina, menutup mulutnya dengan tangan seolah pura-pura terkejut, namun matanya berbinar licik.

Nadia yang penasaran tak kuasa menahan diri, sekejap tangannya merebut kotak itu dari genggaman adik iparnya. Matanya melebar, napasnya tercekat oleh ketegangan yang memenuhi ruang itu, bertanya-tanya rahasia gelap apa yang tersembunyi di dalam paket itu sesuatu yang sudah cukup mampu membuat keluarga kecil ini retak berkeping-keping.

Perempuan itu mengambil suatu di dalam sana, beberapa foto dan sebuah testpack dengan dua garis merah. Sama halnya dengan Vina, Nadia juga shock hingga tubuhnya langsung terjatuh diatas kursi karena kehilangan keseimbangan.

"Lihat! Mau sampai kapan kamu membela anak haram itu! Hah?!"

Teriakan Bagus yang begitu keras membuat JDevan ingin bergerak tapi saat mengingat suatu hal laki-laki itu langsung kembali duduk dengan perasaan was-was.

"Semua itu bohong..." Guman Nadia, dia menggelengkan kepalanya bersamaan dengan air matanya yang menetes perlahan. Tatapannya masih menunduk tapi suaminya itu bergerak mencengkram kedua pipinya dan otomatis membuatnya mendongak.

"Pengkhianat murahan!" Bentak Bagus dan langsung menghempas kasar wajah sang istri.

"Cukup pa!" tak lagi tinggal diam, Jevan berdiri. Laki-laki itu menghampiri Nadia dan menarik mamanya masuk ke dalam pelukannya.

"Kenapa papah kasar ke mamah? Mama salah apa?" tanya Devan. Laki-laki itu menatap papanya tidak menyangka.

Selama ini mungkin Devan seringkali mendengar keributan orang tuanya tapi lama-kelamaan ia tidak tahan dengan sikap kasar papanya ke mamahnya. Terlebih kali ini dia menyaksikan secara langsung pertengkaran itu.

"Sudah waktunya kalian semua tau!" Bentak Bagus." Lihat! Lihat ini?" Laki-laki itu menyodorkan beberapa foto yang di ambil dari kotak paket itu, tapi karena putranya tidak kunjung menerima, Bagus memaksa dengan menaruhnya pada tangan Devan.

Devan yang masih setia mendekap mamahnya itu seketika mendelik melihat foto-foto di tangannya. Dia kemudian beralih mengambil sebuah testpack yang masih berada di genggaman mamanya.

"Sudah lihat kan?" tanya bagus, kemudian dia melangkah cepat ke arah Nayla yang masih duduk dengan perasaan bingung. " Dia ini memang anak haram dan bukan bagian dari keluarga Raharja!" Laki-laki itu menarik bahu Nayla hingga gadis itu berdiri.

"Sekarang saatnya kamu pergi dari rumah saya!"

"Pa!" Jevan me jauhkan jangan Bagus dari Nayla. Kedatangan laki-laki itu membuat semua orang terkejut termasuk Nayla.

Dan Nayla sungguh tidak menyangka jika Jevan akan membelanya di depan papahnya sekarang. Dia merasa alega dan terlindungi.

"Van udah, biarin papah bawa dia, " ucap Devan dengan intonasi rendah.

Mata Jevan mana aja dengan kedua tangan yang mengepal erat." Apa maksud lo? Dia adek lo sendiri!" sarkasnya pada Devan. Jevan ingin maju tapi tangannya ditahan cepat oleh Nayla.

"Lo yakin? Gue pikir lo bakal benci dia juga lah lo lihat semua ini." Hidangan mata berkaca-kaca Devan berjalan mendekat ke arah kembarannya setelah menonton mamanya untuk duduk kembali. Laki-laki itu menyerahkan sesuatu yang masih dipegang olehnya kepada Jevan.

Dengan ragu Jevan menerimanya dan hal itu sukses membuat Nayla takut. Dia memang tidak tau apa isi kotak itu tapi melihat kemarahan semua orang jadi membuatnya takut Jevan akan ikut marah padanya.

"Sialan!"

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!